Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 17


__ADS_3

Saat Rose ingin memasuki lift khusus untuknya, tiba-tiba dari arah lain, seorang gadis perpenampilan sederhana berjalan dengan tergesa-gesa dan tanpa melihat sekitarnya ia menabrak sosok paling di takuti di perusahaan agensi terkenal itu.


"Brak" seluruh makanan yang ada di tangan wanita itu tumpah dan mengenai sebuah gaun malam yang tersimpan di dalam Tote bag berwarna merah cerah.


Rose menghentikan langkahnya dan begitupun dengan tuan Damon, seketika bola mata pria setengah baya itu membola saja mengetahui siapa yang sudah menghentikan langkah nona Arogan ini, dan ia pun bertambah lemas saat melihat ke bawah lantai yang terdapat berbagai macam makanan cepat saji dan juga gaun malam.


Rose mengalihkan perhatiannya kepada beberapa olahan makanan cepat saji yang terbuat dari daging dan juga mengandung banyak lemak, jangan lupa minum keras yang terselip di lengan wanita berkacamata bulat tersebut.


Tuan Damon hanya bisa menghela nafas pasrah akan menerima, amukan nona boss nya.


"Apa ini?" Tanya Rose dengan telunjuk mengarah ke bawah, tepatnya di makanan yang sudah berserakan di lantai.


"Makanan, nona," jawab wanita yang menabrak Rose tadi dengan cuek.


Tuan Damon mencoba untuk memperingati wanita itu yang merupakan, asisten Sisilia yang merupakan model pendatang baru di agensi light Hugo.


Wanita itu hanya menatap sinis kepada tuan dapat, yang menyalah artikan kedipan mata tuan Damon.


"Bukankah, makanan ini sangat bertentangan dengan prosedur kontrak disini?" Ucap Rose dingin.


Wanita itu yang merupakan asisten Sisilia, menatap Rose dengan sengit sambil mengajak pinggang.


Tuan Damon dan lainnya hanya bisa pasrah dengan semua yang mereka saksikan.


Mereka memaklumi, sikap wanita ini, yang merupakan orang baru, namun sikapnya sangat meresahkan.


"Apa urusanmu," sahut wanita itu dengan nada tidak suka.

__ADS_1


"Kau mengotori perusahaan ini dengan makanan, ini dan, –" ucapan Rose menggantung saat melihat minuman dan juga sebuah gaun.


"Siapa dia?" Tanya Rose dingin.


Tuan Damon yang mendapat pertanyaan, hanya bisa merinding.


"D – dia asisten nona Sisil, nona," jawab tuan Damon.


Rose memandang tuan Damon lekat dan tajam. Tuan Damon yang mengerti tatapan Rose pun, melanjutkan ucapannya.


"Model pendatang baru disini, nona," lanjut tuan Damon.


"Benarkah?" Tanya Rose sambil memandangi wanita di depannya yang nampak terlihat bingung.


"Dimana dia?" Rose mengeluar kembali aura mengerikannya.


"Sedang melakukan, pemotretan, nona,"


"Untuk sebuah produk kecantikan,"


"Apa?! Tanya Rose tidak yakin apa yang ia dengar.


"Seorang, model pendatang baru, menerima kontrak sebesar itu? Kemana model berkualitas kita?" Tanya Rose tajam.


"Hey, nona," sela wanita berkacamata di depan Rose.


"Jaga ucapan, anda. Apa masalah anda, kalau nona saya mendapatkan kontrak kerjasama dengan perusahaan ternama, apa anda iri dengan bakat nona saya," sengit wanita itu.

__ADS_1


Yang membuat tuan Damon ingin mengubur dirinya sendiri kedalam tanah.


"Bakat! Bakat apa maksud, anda nona. Asal anda tahu di sini, di agensi ini tidak mudah untuk bisa masuk menjadi model dan bisa mendapatkan sebuah kontrak kerjasama dengan perusahaan terkenal. Butuh kerja keras dan juga bakat terbaik, tapi – sepertinya, kali ini aku kecelongan," pungkas Rose.


"Bukan begitu tuan, Damon?" Tanya Rose datar.


Tuan Damon hanya bisa mengusap keringat dingin yang menempel di sekitar wajahnya.


Wanita itu ingin melayangkan protes kembali, tapi beberapa karyawan menyeretnya pergi dari hadapan Rose.


Mereka tidak ingin melihat kemarahan sang nona boss yang akan berimbas kepada mereka juga.


"Siapa yang merekomendasikan dia?" Tanya Rose penuh curiga.


"T — tuan Albert," jawab tuan Damon.


Rose hanya bisa tersenyum sinis dan jijik mendengar perkataan tuan Damon.


Ia bisa menangkap ada hal lain di balik ini semua, yang pastinya ini mengenai, tukar menukar.


"Dimana, mereka?"


"Di ruangan, pemotretan, nona."


Tanpa banyak berkata-kata, Rose memasuki lift, untuk menuju lantai paling atas, dimana ruangan pemotretan terletak.


Dengan raut wajah dingin dan datar, Rose berdiri dengan tenangnya di dalam lift.

__ADS_1


namun tidak dengan di dalam dadanya, yang bergejolak amarah.


Entahlah apa yang akan dilakukan, Rose setelah melihat ruangan pemotretan.


__ADS_2