Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 16


__ADS_3

"Siapa nama, kamu?" Tanya Rose dengan tatapan lekatnya.


Gadis belia itu masih menundukkan kepalanya dengan meremas kuat ujung pakaian yang ia kenakan.


"Katakan!" Sentak Rose dingin.


Membuat tubuh gadis itu lemas seketika, dengan nada suara bergetar ia menjawab pertanyaan, Rose.


"P – Poppy Gilbert," jawab gadis itu dengan gugup.


"Usia." lanjut Rose bertanya.


Gadis itu nampak gelisah soal pertanyaan Rose, apakah ia harus jujur dengan usia nya?


"BERAPA USIAMU," tanya Rose dengan tegas dan penuh penekanan.


"T – tujuh  b – belas t – tahun," sahutnya terbata.


Rose mengerutkan dahinya tajam, sehingga alis matanya hampir bersentuhan.


Rose kembali menoleh kepada tuan Damon, yang semakin pucat.


"Apa ini?" Ucap Rose dingin.


"Bukankah, disini memiliki batas usia untuk bekerja? Kenapa kalian menerima, anak dibawah umur bekerja disini?" Rose berkata dengan intonasi suara pelan namun terdengar sangat menakutkan.


"KATAKAN! Bentak Rose, yang mana suaranya menggelegar di seluruh lobby, membuat para karyawannya, kembali gemetar.


Dengan wajah emosi, Rose memindai satu persatu para petinggi di agensi sang mommy.


"Kenapa, kau bisa ada disini? Kau tahu kalau anak dibawah umur dilarang bekerja disini." Rose kembali menatap gadis belia di hadapannya yang sudah gemetaran.


"Saya terpaksa, nona," jawab gadis itu.


"Terpaksa?" 


"Iya. Karena saya membutuhkan biaya pengobatan, ibu saya," lanjut gadis itu dengan suara getar dan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Saya, hanya menggantikan, ibu saya,nona," kembali gadis itu melanjutkan ucapannya, yang membuat para HDR da bagian keuangan menjadi gelisah.


"Menggantikan ibumu?" Tanya Rose bingung.


"Iya, nona. Kemarin ibu saya meminjam uang untuk berobat dan meminta cuti. Namun mereka menolak, permintaan ibu saya, nona. Mereka pun meminta ibu saya untuk mencari pengganti, agar pekerjaan ibu saya aman. Jadi dengan terpaksa saya, meminta izin tidak masuk sekolah sampai ibu saya sembuh, nona." Ungkapan gadis remaja itu, membuat mata Rose berubah merah dan raut pun terlihat merah karena menahan amarah.


Rose menatap kepada satu persatu para karyawannya yang memiliki kedudukan tinggi di agensi perusahaan sang mommy.

__ADS_1


Rose menoleh ke belakang dimana tuan Damon terlihat lemas.


"Bukankah, perusahaan ini menyiapkan asuransi kesehatan setiap karyawan?" Pertanyaan Rose membuat para petinggi bagian keuangan semakin gelisah, apalagi tatapan Rose kini menghunus ke arah mereka.


"Iya, nona," jawab tuan Damon gugup.


"Terus, kenapa ada kasus seperti ini, dan sejak kapan peraturan ini berlaku," sentak Rose dengan kedua tangannya berpindah ke pinggangnya.


"BUKANKAH, PERUSAHAAN INI, MENYEDIAKAN ASURANSI KESEHATAN SELURUH KARYAWAN? JADI SIAPA YANG MEMBUAT PERATURAN BARU INI!" Amukan Rose di lobby membuat para karyawan semakin gemetar takut.


"KATAKAN! Teriak Rose.


Dada Rose terlihat begitu kuat naik turun dengan wajah memerah mengerikan.


"Aku, ingin seluruh karyawan yang tidak memiliki jabatan, mencatat seluruh keluhannya dan harus jujur," perintah Rose.


"Serahkan kepadaku langsung," ujarnya lagi.


"Apa, kalian mengerti!" Hardik Rose.


"Mengerti, nona boss," sahut semuanya serentak.


Rose kembali menatap gadis remaja di depannya yang masih setia menundukkan kepalanya.


Ia meraih pundak ringkih gadis tersebut dan menariknya lebih dekat kepadanya.


"Sekarang, pulanglah. Kau tidak perlu kembali ke sini," ucap Rose dengan suara pelan.


Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana, dengan ibuku?" Tanya gadis tersebut dengan sedih.


"Tenanglah, dia akan segera sembuh dan di pindahkan di rumah sakit, khusus pekerja disini. Dan tenanglah pekerjaan ibu aman," imbuh Rose lembut.


"Sekarang, lanjutkan sekolahmu dan agar kau bisa bekerja disini," lanjut Rose.


"Perusahaan ini, menyediakan beasiswa untuk anak pekerja disini sampai perguruan tinggi, bukan begitu tuan Damon?"  Tanya Rose dengan tatapan tajam.


"B – benar nona," sahut tuan Damon gugup.


"Tap — "


"Tapi apa?"


Lagi-lagi perkataan gadis remaja di depan Rose, membuat para petinggi di bagian keuangan ketakutan.

__ADS_1


"Kata ibu, harus potong gaji, 40 persen, agar bisa masuk di perguruan tinggi khusus karyawan agensi light Hugo dan Kato group." Ungkapan Poppy dengan polosnya.


Lagi-lagi, ungkap gadis remaja di depannya membuat Rose naik pitam.


Berarti selama ini begitu banyak penjilat di perusahaan sang mommy dan juga pengkhianat.


"Sekarang, pulanglah!" Perintah Rose kepada Poppy.


"Tuan Damon sudah mengurus semua pengobatan ibumu dan juga sekolah mu," ujar Rose lagi.


"Baik, terima kasih," ucap Poppy bahagia.


"Hm! Gumam Rose dan mengangguk.


"Antar dia pulang, dan urus semua yang aku katakan tadi!" Perintah Rose kepada salah satu karyawannya.


Setelah Poppy keluar dari lobby, Rose kembali menatap satu persatu para petinggi di agensi perusahaan sang mommy.


"Aku, ingin rapat segera dilakukan," ucap Rose dingin.


"Siapkan!" Perintah Rose.


"Baik, nona," sahut para pekerja kebersihan.


"Aku, ingin kalian menyiapkan berkas keuangan hari ini juga, dan pemasukan dari pengeluaran di perusahaan ini.


Aku berharap kalian tidak bermain curang di belakangku," pungkas Rose dengan dingin.


"Tuan Damon, siapkan semuanya, dalam waktu 1 jam harus berkumpul semuanya," titah Rose tak terbantahkan.


"Baik, nona," balas tuan Damon.


Rose pun melangkah kembali ke arah lift, dia akan melakukan pemeriksaan ketat tentang laba perusahaannya.


Begitu banyak penjilat dan pemain belakang di perusahaan sang mommy.


Pantas saja laba perusahaannya tidak berubah sedikitpun.


Dengan langkah pasti Rose berjalan ke arah lift dengan tatapan dingin dan datar.


Amarahnya begitu dipancing hari ini dengan kelakuan para penjilat.


Ia tidak akan pernah melepaskan para penjilat yang sudah membuat perusahaan agensi sang mommy, merugi dan terancam gulung tikar.


"Bugh"

__ADS_1


"Maaf, nona,"



__ADS_2