
Rose berjalan elegan untuk mendekati para kerumunan wanita tersebut, yang terdengar tertawa dan bersenda gurau.
Dengan senyum miring dan sebuah gelas di tangan kirinya, Rose semakin mendekat kearah para geng sosialita itu.
"Byurr" dengan gerakan tak terbaca, Rose menyiramkan air yang berada di gelas yang ia pegang kepada wanita yang wajah khas Chinese tersebut.
"Akh! Wanita itu pun tersentak dan langsung berteriak nyaring.
Para wanita lainnya pun terkejut dan no segera mengalihkan perhatian mereka kepada Rose yang hanya menampilkan wajah datarnya.
"Sorry, aku sengaja!" Seru Rose dengan wajah mengejek ke arah wanita yang kini bajunya basah.
Terang saja, wanita tersebut begitu geram dan emosi melihat perbuatan Rose kepadanya.
Apalagi wanita berdarah Chinese itu tak mengenal sosok Rose light Kato.
Namun wanita lainnya seperti tercengang melihat sosok Rose di tengah-tengah mereka.
Para wanita itu pun memundurkan langkah mereka dan berniat ingin pergi, tapi wanita yang disiram Rose tadi menghalangi mereka.
"Dasar wanita, sialan!" Pekik wanita tersebut yang berniat memberikan pelajaran kepada Rose.
Dengan gerakan gesit, Rose mampu menahan telapak tangan wanita tersebut dan kini menggantung di udara.
Rose bahkan menggenggam kuat pergelangan tangan wanita bermata sipit itu, yang membuatnya mendesis kesakitan.
"Argh!" Wanita bertubuh ramping dan berkulit kuning Langsat itu berteriak, saat Rose memelintir pergelangan tangannya ke belakang.
Rose terlihat mendekati wajahnya ke dekat telinga wanita tersebut dan terlihat membisikan sesuatu.
"Kau terlalu percaya diri, nona, untuk mencoba mendekati milikku. Apa kau tahu? Hukuman yang cocok, buat wanita sepertimu agar musnah di muka bumi ini?" Bisik Rose dengan intonasi suara mengerikan.
Wanita dengan dandanan full make up itu terlihat membeku dengan mata hitamnya yang berkaca-kaca.
"Lepas! Lirihnya dengan wajah kesakitan.
Para teman-temannya hanya bisa diam dan menyaksikan teman mereka di sakiti.
Para wanita itu juga sangat mengenal siapa Rose light Kato, sosok wanita arogan dan dingin.
"Melepaskanmu? Setelah membayangkan tubuh dan wajah, pria ku?" Rose terlihat terkekeh mengerikan dan kembali berbisik. " Tidak semudah itu, nona." Dengan nada suara penuh ancaman, Rose sukses membuat wanita itu gemetar dan memucat.
"Hukuman apa yang cocok untuk wanita sepertimu? Haruskah, aku melepaskan kedua iris mata anda nona. Atau, aku harus membuat wajah indah ini sedikit cacat?" Bisik Rose bagaikan predator yang siap menyerang mangsanya.
Jemari sebelah tangan Rose kini menari-nari di sekitar wajah oriental wanita tersebut, dengan senyum miring mengerikan.
"L – lepaskan," pinta wanita tersebut dengan nada gemetar takut.
"Kau, perlu dihukum, nona, sebelum melepaskanmu," bisik Rose lagi, yang kali ini dengan nada suara berat.
"T – tidak. L – lepaskan aku," mohonnya terbata.
"Nikmatilah, Hukumanmu, nona," lirih Rose mengerikan.
" Tidak, lepaskan aku. Aku tidak mengerti apa yang kau katakan dan aku pun tidak, mengenalmu," protes wanita yang kini berusaha lepas dari jerat kedua tangan Rose.
Sekali gerakan saja dan dengan raut wajah dingin yang tak terbaca apa yang dilakukan Rose kepada wanita itu, Rose mematahkan telapak tangan wanita tersebut.
Jelas saja wanita itu berteriak histeris, namun segera Rose menyumpal mulut dan wanita itu dengan sebuah tissue yang sudah ia gulung.
"Selamat menikmati hukumamu, nona," bisik Rose, setelah itu ia pun pergi dengan langkah tanpa bersalah sedikitpun ke arah sang suami yang sibuk mengolah masakan.
Tanpa menoleh ke belakang, di mana wanita itu kini tersungkur di lantai dengan teriakan dan berteriak histeris.
Semua orang pun berkerumunan mendekati wanita tersebut yang berteriak kesakitan.
"Hay, honey!" Seru Rose saat berada di dekat suaminya, Davin.
__ADS_1
Davin menoleh dan tersenyum manis kepada istrinya yang terlihat sangat cantik itu.
"Come on, baby!" Pinta Davin dengan mengulurkan tangannya kepada sang istri.
Dengan perasaan senang, Rose menyambut uluran tangan suaminya dan segera masuk kedalam pelukan sang suami.
"Aku, merindukanmu," bisik Rose sambil menghadiahi kecupan di bibir lembut suaminya.
"Me too," balas Davin yang juga membalas kecupan istrinya.
"Aku merindukanmu, suamiku," lirih Rose yang bertingkah tidak biasanya.
Davin menjauhkan wajahnya dari jarak wajah sang istri dan menatapnya lekat.
"Honey, aku menginginkanmu." Rose berbisik tepat di samping telinga suaminya dan menggigit ujung daun telinga davin.
Kerutan di dahi Davin bertambah, saat mendengar ucapan lirih istrinya.
Sedangkan Rose tidak hentinya mengecup bibir lembut nan manis suaminya dengan kedua tangannya terlilit erat di pinggang kerasnya.
"Kau, baik-baik, saja?" Tanya Davin sambil menyentuh kening sang istri.
"Honey," rengek Rose manja, jangan lupa bibirnya yang nampak terlihat menggemaskan.
Yang sukses membuat Davin mengerang tertahan, tanpa menghiraukan sekitarnya, pria itu, segera menyambar bibir seksi sang istri dan menyesapnya penuh penghayatan.
Pasangan itu terus bercumbu mesra di pantry ballroom dengan disaksikan oleh tamu undangan yang menatap mereka penuh ke irian.
"Emergency Car," bisik Rose yang mana bibir mereka masih menyatu.
Davin melepaskan tautan bibir mereka dengan tatapan tidak percaya ia dilayangkan kepada sang istri.
"R – really?" Davin berujar terbata.
__ADS_1
Rose tak menjawab bertanya terkejut Davin. Ia segera berjalan dengan sesekali menoleh kebelakang di mana Davin masih membeku.
"Astaga, dia bertingkah nakal. Okay tunggu aku, baby," monolog Davin, yang segera menyusul sang istri yang kini mulai mendekati pintu masuk ballroom.
Kedua pasangan suami-istri itu, kini berjalan di koridor hotel yang terlihat sepi yang akan menuju parkiran hotel.
Davin masih berjalan pelan di belakang sang istri yang sengaja berjalan sambil menggodanya.
Itu terlihat, saat Rose berkali-kali menoleh kebelakang dengan menggigit bibirnya atau meraba sendiri tubuh indahnya.
Tentu saja membuat Davin terpancing dan kini tubuhnya terasa kepanasan.
Pria itu terlihat membuka setiap anak kancing kemeja putih yang ia, kenakan sambil tersenyum kepada sang istri.
Rose berhenti sejenak di pintu darurat di bagian jalan pintu bagian belakang hotel.
Dengan sekali tarikan lembut sambil membalikkan tubuhnya, kini Rose sudah berada di pelukan sang suami.
Davin mengecup seluruh wajah sang istri dan menciumi bibir seksi Rose yang nampak terlihat menikmati cumbuan bibir suaminya.
Tangan davin pun kini tak tinggal diam, ia terus menyusuri setiap jengkal tubuh indah istrinya.
Rose pun sama yang memainkan jari-jari lembutnya di dada terbuka Davin.
Mereka pun masih saling bercumbu dengan posisi Davin bersandar di dinding dan Rose berada di pelukannya.
"Kau, sengaja menggodaku, baby," bisik Davin dengan suara berat dan serak.
"Apa aku salah menggoda suamiku, sendiri?" Rose balik bertanya.
"Tidak! Aku suka sikap nakalmu ini, sayang," ucap Davin lirih dengan kening keduanya saling bersentuhan pun hidung mancung keduanya.
Rose hanya bisa memejamkan matanya menikmati hembusan nafas hangat suaminya dan juga sentuhan hidung mancung Davin di seluruh sisi wajahnya.
"Aku tidak suka, wanita lain memandangi mu penuh puja. Apalagi berfantasi liar dengan mu," pungkas Rose dengan nada pelan.
"Cemburu?" Bisik Davin sambil terkekeh pelan yang masih memintai wajah istrinya dengan hidung mancungnya.
"Aku, tidak suka , honey," jawab Rose kesal, segera menatap sang suami jengah.
Davin masih menerbitkan senyumnya dan kini jari-jari tangannya berada di tengkuk Rose, memijatnya pelan dan sesekali merapikan rambut istrinya.
Davin menatap wanitanya penuh cinta dan kasih sayang yang begitu membuncah.
Ia tidak bosan-bosannya menciumi puncak kepala, bibir, wajah dan bahkan pundak terbuka istrinya.
"Love you," bisiknya dengan nada lembut dan penuh keyakinan.
Rose membalas tatapan lembut Davin dengan ekspresi wajah shock.
Wanita itu masih terdiam dengan mulut terbuka dan mata tidak percaya.
"Aku mencintaimu, Rose light Kato, istriku," ungkap Davin sekali lagi dengan nada lembut penuh perasaan.
"Benarkah?! Jawab Rose dengan wajah yang tampak kaget.
Davin mengangguk dan tersenyum manis. Ia terus membelai wajah istrinya.
"Love you," kali ini Davin berbisik pas di atas wajah sang istri.
"Love you too," balas Rose dengan mata berkaca-kaca.
"Aku, juga mencintaimu, Davin Jones Jackson, suamiku." Rose menjawab pertanyaan cinta sang suami dengan wajah bahagia yang di hiasi air mata bahagia pula.
__ADS_1