
Rose yang sudah terlalu geram akan tingkah pria yang ia sebut preman, tidak memperdulikan keinginannya untuk menyingkirkan motornya.
Dengan tingkat kesabaran di atas rata-rata dan mencapai ubun-ubun, Rose menginjak pedal gas dengan tekanan full.
Tanpa keraguan, Rose melanjutkan mobilnya dan sengaja menabrak motor besar yang terparkir di tengah jalan menuju gerbang perusahaan.
Motor Davin pun terseret jauh dan membuat motor kesayangan Davin itu lecet di beberapa bagian kap nya.
Sedangkan mobil Rose pun lecet bagian depan, namun wanita Arogan itu merasa puas sudah melampiaskan amarahnya.
Rose tersenyum miring, melihat wajah terkejut Davin lewat spion mobilnya.
Ia pun melanjutkan laju mobil sport mewahnya ke jalan raya, bergabung dengan pengendara lainnya.
Rose membuka beberapa kancing kemejanya dan memperlihatkan bra hitam yang sangat kontras dengan kulit putih mulusnya.
Rose juga melepaskan ikatan rambutnya yang seharian terikat di atas kepalanya, Rose membiarkan rambut di bawah bahunya dengan bagian ujung bergelombang terurai indah dengan warna merah kecoklatan.
Rose terdengar beberapa kali menghela nafas berat, akibat bekerja yang begitu banyak hari ini, pikirannya kini tertuju ke arah pantai lokal yang ada di los Angeles.
Kembali ke agensi light Hugo.
Jangan tanyakan raut wajah Davin sekarang ini, yang jelas pria itu masih dengan rasa terkejutnya.
Bergeming, membeku, dan membatu di tempatnya dengan kedua bola mata membelalakkan dan mulut menganga.
"Oh Tuhan."
"Jeje!" Pekik Davin berlari menghampiri motor kesayangannya yang sedang dalam keadaan lecet parah.
"No! Jeje!" Teriak Davin yang akan histeris.
Pria itu berjongkok di dekat motornya yang terseret jauh dari pintu masuk lobby.
Dengan tangannya yang gemetar, Davin menyentuh bagian body motor besarnya itu.
"Jeje, sayang!" Lirih Davin.
"Motor kesayangan," Lirihnya lagi.
Yah Jeje adalah motor kesayangan davin, cinta pertamanya dan hadiah dari mendiang sang mommy yang terakhir.
Ia mendapatkan pesan dari mommy, agar selalu menjaga motor pemberiannya.
Sekarang apa yang terjadi. Motor yang merupakan cinta pertamanya telah terluka parah, atau bahkan dalam keadaan kritis, apabila dia manusia.
Davin hampir meneteskan air matanya, melihat kondisi motor kesayangannya itu ter lecet parah bagian samping.
Dengan wajah penuh amarah dan dadanya bahkan terlihat naik-turun, saat mengingat sosok wanita arogan yang telah menabrak motornya, tepat di depan matanya langsung.
"Awas kau wanita salju!" Geram Davin dengan tatapan marah.
Davin mencoba mendirikan kuda besinya itu dengan dibantu oleh para penjaga pintu masuk lobby.
__ADS_1
Sedangkan Sisil hanya tersenyum puas melihat motor tua kekasihnya itu.
"Mudah-mudahan, dia menggantinya dengan mobil super mewah!" Batin Sisil bersorak riang.
Davin mencoba menghidupkan motornya dan berhasil, ternyata motornya masih bisa terselamatkan.
Tanpa membuang waktu, Davin menunggangi motornya dan melajukan ke arah jalan raya.
Davin bahkan meninggalkan kekasihnya karena terlalu emosi.
Sisil hanya bisa mengerang kesal, karena motor tua kekasihnya terselamatkan, itu berarti angan-angannya gagal. Dan dengan tidak ketahuannya, Davin tega meninggalkan dirinya sendiri.
"Dasar, pria payah tidak berguna!" Teriak Sisil.
Sementara Davin masih mencoba mengejar mobil hitam sport mewah Rose.
Pria itu bahkan menyalip beberapa pengendara lainnya dan juga para pejalan kaki.
Davin pun menerobos rambu-rambu lalu lintas dan juga peraturan di jalan raya.
Sialnya sekarang terdengar sirine polisi dari arah belakang.
"Sial!" Umpat Davin kesal.
"Ini, semua gara-gara, wanita salju sialan itu," maki Davin.
Pria itu pun menambah laju mobil, ke arah yang di tuju oleh Rose tadi.
Pun mobil dan juga motor kepolisian mengikutinya dari belakang.
"Sial, sial, sial."
__ADS_1
Terdengar panggilan peringatan dari arah belakang Davin yang ditujukan untuknya, namun pria itu tidak menghiraukannya.
Ia tetap melajukan motornya, malah menambah kecepatan untuk terbebas dari para polisi lalu lintas.
"Ciitt"
Davin memberhentikan motornya di pinggir jalan di depan sebuah minimarket.
Davin mencabut kunci motornya dan membuka helm full wajahnya.
Ia berjalan dan bahkan setengah berlari ke arah beberapa mobil terparkir di pinggir jalan.
Karena rasa paniknya, Davin mencoba membuka pintu mobil mewah di samping.
"Clek"
Berhasil. Ternyata pintu mobil itu tidak terkunci, segera saja Davin masuk dan bersembunyi di dalam mobil tersebut.
Davin menundukkan kepalanya, saat beberapa polisi lalu lintas melewati bahkan menengok ke dalam mobil.
Samar-samar, Davin mendengar suara pembicaraan di luar. Dan tidak lama kemudian pintu mobil terbuka dari luar.
Dan ….
"Akhh!"
__ADS_1
"Cup"