Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 15


__ADS_3

Perusahaan agensi light Hugo.


Rose yang baru memarkirkan mobilnya di depan pintu lobby perusahaan dan disambut hangat oleh tuan Damon Albarn, yang mengurusi perusahaan sang mommy.


Dengan sigap tuan Damon membukakan pintu mobil Rose dan membungkukkan setengah tubuhnya untuk menghormati, putri dari pemilik agensi terbesar di kota ini.


"Selamat datang, nona muda," sapa tuan Damon ramah, setelah Rose keluar dari mobilnya dan kini berdiri tegak di depan lobby perusahaan dengan tatapan menerawang sekitar perusahaan agensi sang mommy, yang terlihat begitu bersih dan terawat.


Tanpa menjawab sapaan tuan Damon, Rose melangkah memasuki lobby perusahaan dengan wajah datar.


Tuan Damon menarik nafas leganya, saat Rose memasuki lobby, tanpa melayangkan proses kepadanya.


Segera pria berusia 45 tahun itu mengikuti langkah Rose di belakang.


Ia memberikan kode mata kepada para karyawan yang terlihat berwajah masam.


Bagaimana tidak. Di hari di mana mereka akan menikmati awal pekan dan menikmati matahari cerah, harus gagal karena kedatangan, nona boss mereka.


Para karyawan pun hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah, mereka tidak akan berani proses, karena mereka tahu watak keras nona boss mereka yang tidak mengenal penjelasan.


Seluruh karyawan agensi light Hugo berdiri berbaris di lobby perusahaan dengan kepala menunduk.


Rose melangkah dengan perlahan dan menelisik semua penampilan karyawan wanita yang berbaris rapi di kedua sisi kiri dan kanan.


Rose merotasi pandangannya secara bergantian dengan langkah pelan.


Tuan Damon sudah deg-degan di belakang Rose, dengan wajah pias, tuan Damon masih setia di belakang Rose.


Rose menghentikan langkahnya saat ekor matanya menangkap penampilan karyawannya yang melanggar peraturan.


Tuan Damon pun ikut berhenti dengan wajah pucat, saat menyadari tatapan nona boss nya.


Rose melangkah lebih dekat ke arah karyawannya dengan wajah datar dan kedua tangannya dilipat di dada.


Semua karyawan pun merasa was-was, saat Rose mendekat ke arah mereka.


Mereka pun meremas telapak tangan di pakaian mereka dengan mata mengkerut terpejam, karena ketakutan.


Rose berhenti di barisan karyawan wanita dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Tuan Damon pun turun berhenti dan menengok ke depan lewat balik tubuh tinggi Rose.


Ia hanya bisa memejamkan matanya dan berdoa semoga dirinya tidak mendapatkan amukan lagi dari nona boss arogannya ini.


"Kau!" Tunjuk Rose, kepada seorang wanita cantik yang terlihat santai.


"Saya, nona?" Tanyanya sambil menunjuk wajahnya.


"Hm!" Gumam Rose sambil berjalan mengelilingi tubuh wanita, saat karyawannya maju dua langkah.


"Apa tujuan kamu bekerja, disini?" Tanya Rose yang masih dengan sikap arogannya.


"Bekerja, mencari, uang," jawab wanita itu santai.


"Dengan berpenampilan, seperti ini?" Sambung Rose sambil menunjuk penampilan karyawannya yang begitu terbuka.


"Why?" Tanya wanita itu dengan heran.


"Keke!" Pekik tuan Damon.


"Karena, ini perusahaan agensi, bukan rumah pelacuran. Aku mempekerjakan seseorang disini, untuk bekerja menyalurkan kemampuan mereka, bukan untuk menjual diri, dengan kemampuan, JA.LA.NG." Sarkas Rose dengan penuh penekanan ucapan terakhir.


"Jadi, silahkan keluar dari sini dan bekerjalah dengan bakat dan kemampuanmu," ucap Rose dingin.


Ia menatap Rose dengan tatapan tajam penuh permusuhan dan sakit hati, karena dipermalukan.


Semua karyawan lainnya kini bertambah, ketakutan mendengar ucapan pedas dari nona boss mereka.


Mereka hanya bisa berdoa, semoga tidak ada kekurangan dari segi penampilan mereka, yang bisa mengundang kemarahan, sang boss arogan.


"Anda tidak berhak, memecat saya, nona," proses Keke.


Alis indah Rose menukik sebelah ke atas dengan tatapan sinis kepada Keke.


"Kenapa?" Tanya Rose.


"Karena aku kekasih dari, tuan Albert," sahut Keke dengan wajah pongah.


Rose tampak mengkerut bingung dengan ucapan wanita seksi di hadapannya.

__ADS_1


Ia lantas menoleh kebelakang kepada tuan Damon, dengan tatapan penuh pertanyaan.


Dengan gugup dan tubuh gemetaran tuan Damon menjelaskan kepada, Rose.


"D – dia, karyawan b – baru, nona," ujar tuan Damon terbata sambil melirik ke arah Keke.


"Albert!" Ucap Rose dingin.


"D – dia anak dari tuan Leonard, nona. Dia mengganti ayahnya sebagai direktur, nona," ungkap tuan Damon dengan keringat dingin membasahi wajahnya.


Keke tersenyum sinis kepada Rose dan bermaksud kembali ke ruangannya sebagai sekretaris tuan Albert.


Namun langkahnya terhenti, saat Rose mencekal kuat pergelangan tangannya dan menghempaskan tubuh sintal Keke ke lantai.


"Usir dia, dan beri surat pemecatan kepada tuan Albert." Dengan tatapan marah ke arah tuan Damon, Rose mengeluarkan sebuah titah.


"Perusahaan ku, bukan tempat bercinta, tapi untuk mencari kemampuan seluruh karyawan. Aku tidak ingin ada karyawan disini yang berbakat, jaalang dan pria murahan."


"Berikan, aku salinan seluruh cctv di perusahaan ini," perintah Rose.


"Usir dia!" Perintahnya kepada para keamanan.


Keke pun hanya bisa berteriak dan memaki, ia diseret dengan paksa keluar dan dihempaskan begitu saja di depan pintu lobby


Ia pun mencoba masuk kembali ke dalam, namun dua penjaga keamanan dengan bertubuh tinggi besar menghalangi jalannya.


"Brengsek! Dasar wanita, sialan!" Pekik Keke.


Rose kembali menelisik para karyawannya yang kini bergetar di tempat mereka masing-masing.


Rose pun mengalihkan tatapannya kepada para karyawan yang di bagian kebersihan.


Dan manik biru kehijau-hijauan, menangkap sosok mungil di antara puluhan barisan karyawan di bagian kebersihan.


Rose menoleh ke samping, di mana tuan Damon semakin gemetar dan wajahnya memucat.


"Kau ternyata, memiliki banyak kesalahan hari, ini," ucap Rose sinis.


Tuan Damon pun hanya terdiam dengan keringat membasahi tubuhnya dan wajahnya.

__ADS_1


Rose menggerakkan telunjuknya ke arah gadis belia yang sedang memakai pakaian khusus office girl.


Dengan kepala menunduk dengan langkah takut, gadis belia itu pun, berjalan maju mendekat kepada, Rose.


__ADS_2