
"Baiklah, granny."
"Tut"
Rose meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, setelah menerima panggilan dari granny.
Rose kini menyuarakan jari-jarinya di rambut sang suami yang berada di atas gundukan kembarnya.
"Ada apa?" Davin membaringkan tubuh tingginya di samping wanitanya, memeluk dari belakang dan memberikan bertubi-tubi di punggung polos sang istri.
"Granny, meminta kita kembali ke Mansion," jawab Rose yang memainkan rambut suaminya yang berada di pundaknya.
"Pulang?! Sentak Davin yang tangannya mulai kembali mengeriyal tubuh tanpa sehelai benang pun di tubuh sang istri di balik selimut tebal.
"Hm!" Gumam Rose dan menegakkan posisi tidurnya menjadi telentang.
Davin pun masih memposisikan tubuhnya miring dengan sebelah tangan menyangga kepalanya dan tangan yang lain memainkan wajah cantik Rose yang masih terlihat kelelahan.
"Ada acara pertemuan keluarga," sambung Rose yang menautkan jari-jari mereka.
"Bukankah, mereka menyuruh kita membuat cicit yang, banyak?" Ujar Davin dengan nada protes.
"Kita bisa melakukannya dimanapun, honey," sela Rose yang kini menghadapkan tubuhnya ke arah sang suami.
"Baiklah." Sahut Davin mengalah.
Pria itu yang ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, harus gagal karena mereka harus menghadiri acara keluarga.
"Bagaimana, kalau kita melakukannya sekali lagi, baby!" Davin memposisikan tubuhnya berada di atas tubuh istrinya dan tangannya kini sudah berada di dataran tinggi sang istri dan bibir terampilnya sudah berada di ceruk leher Rose.
"Aku, masih lelah, honey," tolak Rose.
"Sebentar saja, baby," sahut Davin dengan wajah memoho
"Apa kau tidak mengasihinya?" Timpal Davin tiba-tiba sambil meraih telapak tangan Rose dan meletakkannya di jamur jumbo ajaibnya yang kini mulai mengembangkan kembali.
"Honey!" Pekik Rose dan menepuk dada bidang sang suami.
"Dasar suami, mesum!" Rose kembali terpekik dan segera bangkit, berlari ke arah kamar mandi.
"BABY!" Erang Davin pun segera menyusul istrinya.
Davin dengan mudah membuka pintu kamar mandi yang berusaha di tutup oleh Rose, canda tawa terdengar di dalam kamar mandi.
Terkadang terdengar teriak kesakitan Davin, berganti lenguhan lembut Rose.
"Honey!" Erangaan terdengar dari mulut Rose. Dan tak lama terdengar suara penyatuan di balik kamar mandi pun suara kecupan yang mendominasi keadaan di dalam kamar mandi tersebut.
________
Sementara di Mansion granny terlihat para pelayan sibuk menyiapkan persiapan pesta keluarga nanti malam.
Tentu saja atas instruksi dari sang nyonya besar yaitu, granny Gabriela dan juga nenek Margaretha.
"Hey, kau letakkan itu di sana!" Granny terdengar sibuk memberikan instruksi kepada pelayannya.
"Kau, juga. Letakkan itu di sana," perintah granny kepada pelayan seorang pria.
"Kau, botak, kemarilah!" Panggil granny saat melihat pelayan pria yang berkepala botak melintas di hadapannya.
__ADS_1
Dengan langkah susah karena di tangan sang pelayan memegang beberapa belanjaan, mendekati granny.
"Iya, nyonya," sahut pelayan berkepala botak tersebut.
"Kapan rambutmu akan, tumbuh?" Tanya granny yang membuat sang pelayan tersebut kebingungan.
"A-apa, nyonya," ucap pelayan tersebut terbata.
"Kepalamu, kenapa belum tumbuh rambut. Aku merasa terganggu dengan kepala berkilau mu, itu," celoteh granny sambil memperhatikan para pelayannya bekerja.
"S-sa-saya tidak tahu, nyonya," sahutnya lagi gugup.
"Gunakan, wing setiap melewati ku!" Perintah granny kesal.
"B-ba-baik, nyonya," jawab pelayan tersebut patuh.
"Pergilah, kau membuat mata rabun ku, berkilau," usir granny kesal.
Segera saja pelayan tersebut meninggal granny sebelum dirinya menjadi bahan olokan granny dan para pelayan lainnya.
"Selamat pagi … my princess!" Seru Nicko dari arah tangga.
Pria yang masih berpakaian rumahan itu dengan kaos hitam polos dan celana pendek menutupi lututnya, menatap sekeliling rumah yang sudah terhias cantik dan terlihat beberapa pelayan sibuk mondar-mandir di hadapannya.
Nicko menghampiri granny, memeluknya dan memberikan ciuman di kedua pipi sang granny.
"Apa granny akan mengadakan, pesta?" Tanya Nicko yang duduk di samping granny.
"Hm! Gumam granny yang terlihat sibuk merangkai beberapa bunga mawar yang berbeda warna.
"Benarkah!" Antusias Nicko saat mendengar kata pesta.
"Dalam rangka apa, granny?" Tanya Nicko dengan raut wajah bahagia.
Granny terlihat menghentikan pergerakan tangannya dan menatap sang cucu dengan kelopak mata tuanya.
"Dalam rangka, merayakan pemotongan alat tempurmu, agar berbentuk sempurna seperti keinginanmu. Berbentuk jamur jumbo ajaib," jawab granny asal yang secara refleks Nicko memegang benda tersembunyi di antara kedua pahanya.
Nicko terlihat bergidik, membayangkan benda kebanggaannya terpotong. Ia menutup rapat kedua pahanya seakan menyembunyikan rapat-rapat benda kebanggaannya.
"Apa kau siap?" Sela granny dengan tersenyum usil.
Nicko terkesiap dengan wajah mulai pias dan keringat dingin mulai terlihat di dahinya.
"T-ti-tidak perlu!" Sentak Nicko gugup.
"Why?" Tanya granny dengan alis terangkat sebelah.
"Karena, bentuknya lain dari yang lain," sahut Nicko segera.
"Bentuk apa?"
"B-ben-bentuk, kaktus langka!" Sahutnya cepat dengan nada gugup.
Nicko tidak bisa membayangkan alat kebanggaannya dipotong dan pasti itu sangat sakit.
"Kaktus langka?! Granny membeo dengan wajah berpikir.
"Hm! Jenis kaktus langka yang mulus tanpa duri dan bentuknya sangat persis milikku dan aku sudah membandingkannya," Seloroh Nicko asal.
__ADS_1
Granny tampak berpikir serius, bagaimana bentuk kaktus langka tanpa duri yang dimaksud Nicko.
"Wanita lanjut ke dunia lain, dilarang berpikir mesum," timpal Nicko menghancurkan imajinasi granny.
"Dasar cucu, minta di gantung!" Pekik granny yang bersiap mengayunkan tongkatnya.
Namun suara yang sangat ia kenali menggelegar di seluruh Mansion.
"Mommy, daddy?" Lirih Nicko yang segera bangkit dan membalikkan badannya ke arah granny, kini posisi Nicko memunggungi pintu masuk Mansion.
"MOMMY TERSAYANG!" Sapa seorang pria setengah baya dengan suara khasnya dengan berjalan mendekati granny.
Granny tersenyum bahagia melihat kedatangan kedua orang tua Nicko dan Natalie.
Granny juga melirik Nicko yang wajahnya berubah kebingungan.
"Kau, kenapa?" Tanya granny heran.
Nicholas Keller tidak menjawab, ia lebih memilih melangkah kembali ke arah tangga, berniat menghindari kedatangan kedua orang tuanya.
"Ada apa dengan anak itu?" Lirih granny yang kini menyambut kedatangan, Nathan dan Jenny, orang tua Nicko dan Natalie.
Jenny mengernyit bingung melihat putranya pergi saat dirinya datang berkunjung. Begitupun dengan Nathan yang merasa curiga dengan tingkah aneh putranya.
"NICHOLAS KELLER!" Sentak Nathan dengan senyum miring.
"Kemarilah, nak. Kau tidak merindukan mommy dan daddy?" Sambung Nathan.
"Kemarilah, nak!" Pinta Jenny lembut.
Nicko masih bergeming di tempatnya dengan tubuh membeku dan wajah terlihat ketakutan.
"Astaga, kenapa mereka datang mendadak," menolog Nicko dalam hati.
"Sebentar, mom, dad, aku ingin mengambil sesuatu di kamar," sahut Nicko yang segera menaiki tangga.
Namun seruan mommynya menghentikan langkahnya dan tetap tidak berani menatap sang mommy.
"Kemarilah, Nicholas Keller!" Pinta sang mommy.
"Astaga, bagaimana ini," gugup Nicko dalam hati.
Nicko pun tidak punya pilihan lain untuk menghadapi amukan mommynya bila melihat wajahnya.
Baru saja ia akan berbalik, sebuah suara cempreng menghentikan niat Nicko.
Ia mendongakkan kepalanya dan melihat sang adik berada di ujung tangga.
"Mommy, daddy!" Teriak Natalie dengan berlari menuruni tangga.
"Hati-hati, Natalie," geram Nicko yang merasa ngilu melihat sang adik menuruni tangga.
"Ini!" Natalie menyelipkan sesuatu di tangan sang kakak dan melanjutkan langkahnya mendekati sang mommy dan daddynya.
Nicholas Keller tersenyum lega dan mengucapkan kata-kata sayang untuk adik kesayangannya.
"OH Tuhan, dia adalah adikku yang paling, baik hati, cantik dan pengertian. Aku menyayangimu adikku sayang." Nicko terus bergumam pelan sembari menggunakan kacamata bulat pemberian adiknya.
"Ok, waktunya bersikap manja dengan berpenampilan culun." Nicko pun membalikkan badannya dengan wajah pura-pura tersenyum bahagia.
__ADS_1