Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 27


__ADS_3

Rose dan Davin masih membeku di tempatnya semula. pun, dengan posisi semula yang begitu intim.


Tatapan keduanya kini beralih ke pintu ruangan, dimana dua orang wanita lanjut usia berdiri dengan raut wajah tidak dimengerti.


Secara refleks Rose berdiri membuat kepalanya membentur hidung mancung Davin yang tidak mengetahui pergerakan tiba-tiba Rose.


"Stt" desis Davin sambil menjauhkan tubuhnya dari Rose dan memegangi hidungnya yang begitu nyeri.


Tanpa memperdulikan ringisan Davin, Rose melangkah mendekati granny nya.


"Granny!" Tegur Rose.


Granny Gabriela melangkahkan Kaki tuanya ke dalam ruangan pemeriksaan di ikuti oleh nyonya Margaretha.


"Apa yang sedang kalian, lakukan?" Tanya granny dengan netra tuanya menelik tajam kepada sang cucu , begitu juga dengan nyonya Margaretha.


"Apa, kalian kehabisan uang, sehingga melakukannya di tempat umum? Tadi di dalam mobil, yang mana membuat dunia mayat gempar," pungkas granny tegas.


"Maaf, nyonya, bukan mayat, tapi Maya. MA-YA." Davin menyela ucapan granny dan mengajari granny Gabriela mengeja.


"Diam!" Sentak granny Gabriela emosi.


"Kau, manusia lukisan berjalan. Apa kau tidak punya rasa malu, mengajak cucuku bercocok tanam di seberang tempat. Dan sekarang kau, ingin melakukannya di sini? Di ruangan ini? Apa kau ingin menirukan adegan film biru yang, ha, hi, hu, he, di dalam penjara?" Imbuh granny panjang lebar.


"Wow! Aku baru tahu, penikmat film biru tidak mengenal usia, ternyata manusia calon bau tanah pun menjadi penikmatnya," seloroh Davin tanpa rasa bersalah.


"Dasar anak kurang dihajar!" Pekik granny dan menepuk kepala Davin kuat.


"Awh" keluh Davin sambil mengusap kepalanya.


"Nenek!" Adu Davin kepada sang nenek.


"Cih! Menggelikan," cibir Rose.


"Ini tidak seperti yang granny pikirkan," timpal Rose yang kini berdiri di dekat granny Gabriela.


"Memangnya, apa yang granny pikirkan?" Sahut granny.


"Granny, pasti mengira kami melakukan –"


"Melakukan apa?" Tanya granny Gabriela dan nyonya Margaretha penasaran.


"Melakukan keintiman," lirih Rose yang menyerupai bisikan.


"Tapi, apa ini!" Tunjuk granny kepada penampilan Rose.

__ADS_1


Rose dan Davin bersama melihat penampilannya dan ia pun baru sadar dengan keadaannya sekarang yang hampir setengah polos.


"Glek"


Lagi-lagi Davin menelan ludahnya kasar saat menatap kembali tubuh seksi Rose.


"Kenapa? Kau tergoda?" Bisik nyonya Margaretha.


Tanpa sadar Davin mengangguk kepalanya dengan tatapan masih ke arah Rose.


"Dia terlihat –"


"Seksi dan hot," sambung Davin, menyela bisikan sang nenek.


"Granny! Ini hanya kesalahpahaman," geram Rose.


"Hey, pria berdaki, jelaskan kepada mereka," pekik Rose yang melayangkan tatapan sengit kepada Davin.


"Yap nenek, ini hanya kesalahpahaman saja, aku baru mulai menciumi bibirnya, tapi, … kalian datang tepat waktu dan menggagalkan aktifitas panas kami. Bukankah kalian menginginkan seorang cicit? Tapi sayang sekali, kepala cicit anda semua gagal cetak," seloroh Davin asal dan menampilkan senyum kurang ajarnya.


Rose membolakan matanya lebar-lebar dan memukuli punggung keras Davin.


"Apa yang kau katakan, SIALAN!" Pekik Rose.


"Bukankah, kita memang saling bercumbu tadi? Dan kau siap untuk mencetak cicit buat para wanita tua ini," pungkas Davin dengan tatapan usil ke arah granny dan nyonya Margaretha.


Tatapan ketiga pasang mata itu pun melirik ke arah bawah Davin dan benar saja, resleting celana pria itu terbuka.


"Dasar pria berdaki, mesum!" Teriak Rose.


"Aku tidak menyangka, sebesar itukah batu ajaib mu, son?" Cicit granny.


"Hus, apa yang kau katakan," sentak nyonya Margaretha.


"Dasar wanita tua, mesum," cibir nyonya Margaretha.


"Aku, hanya ingin menyegarkan mata rabunku," elak granny.


"Jadi kami datang tidak tepat waktu?" Tanya granny.


"Yah! Tepatnya kalian pengganggu," sahut Davin tidak acuh.


"Seharusnya, kita datang terlambat," bisik nyonya Margaretha.


"Iya, kau benar. Seharusnya kita datang terlambat, sesudah mereka mencetak kepala cicit untuk kita," Sahut granny Gabriela.

__ADS_1


"Seharusnya, kita datang saat mereka bercocok benih dan kita punya alasan menikahkan mereka," bisik granny kembali.


"Kau, benar. Apakah kita biarkan mereka melakukan reka adegan ulang?" Tanya nyonya Margaretha.


"Ide bagus." Granny memberikan jari jempolnya kepada nyonya Margaretha.


"Ayo, kita tinggalkan mereka," ajak granny.


"Tunggu!" Sela nyonya Margaretha.


"Apa?"


"Bukankah, sebaiknya kita memesan hotel buat mereka? Apa kata dunia, seorang cicit konglomerat terpandang, dicetak di kantor polisi, tidak. Itu sungguh tidak elegan," celetuk nyonya Margaretha bergedik geli.


"Biarkan saja mereka mencetak kepalanya dulu, nanti mereka bisa mencetak bagian lainnya di tempat elegan dan mewah," sahut granny Gabriela absurd.


"Memangnya, bisa dicicil?" Tanya nyonya Margaretha.


"Bisa. Malam ini setetes, malam berikutnya dua tetes, sesuai anjuran dokter," seloroh granny asal.


Nyonya Margaretha hanya bisa mengangguk bodoh, mendengarkan ucapan konyol granny Gabriela.


Sedangkan kedua tersangka bahan bisikan para nenek-nenek itu, hanya terdiam dengan dahi mengerut bingung dengan kisa-kisut kedua wanita senja di hadapan mereka.


"Apa yang mereka, bicarakan?" Tanya Rose.


"Tentang kita," jawab Davin jengah.


"Tentang apa?"


"Tentang percetakan," jawab Davin asal.


"Percetakan?" Rose membeo.


"Hm! Percetakan cicit buat mereka." Sahut Davin cuek.


"Memang ada?" Tanya Rose yang tiba-tiba merasa konyol.


"Ada!"


"Di mana?"


Alis mata tebal Davin mengkerut ke atas dengan tatapan remeh kepada Rose.


Davin Lantas mendekatkan wajahnya ke telinga Rose dan membisikan sesuatu, yang membuat Rose terpekik.

__ADS_1


"Akh! Dasar pria berdaki, mesum!"


__ADS_2