Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 72


__ADS_3

Seluruh keluarga besar Kato sudah berkumpul di ruangan khusus mengadakan acara keluarga, yang terletak di antara ruangan tamu dan keluarga.


Ruangan luas yang bisa menampung puluhan atau ratusan orang.


Ruangan itu juga sudah dihias semenarik mungkin dan sudah terhidang berbagai jenis menu masakan di meja makan panjang yang terdapat puluhan kursi berbaris di kedua sisi meja makan.


Granny sudah tampak anggun dengan dress merah sederhana bermotif bunga-bunga yang memiliki panjang hingga lutut dan berlengan panjang.


Nenek Margaretha pun tidak jauh berbeda penampilannya dengan granny, rambut sebahunya yang sudah berubah warna putih itu di tata rapi.


Rose dan Davin baru memasuki ruangan khusus menjamu tamu dengan saling bergandengan mesra.


Disusul dengan keluarga kecil Nathan Keller beserta istri dan kedua anaknya, Natalie Keller pun Nicko Keller yang tampak tak bersemangat.


Nicko yang biasanya berpenampilan good looking itu, kini ia harus mengganti penampilannya menjadi pria culun, menjadi sosok anak mommy yang manja.


Sejak dulu Nicko diwajibkan menutupi wajah tampannya dengan


Berpenampilan culun.


Kalau tidak, ia akan dikirim ke sekolah asrama dan setelah ia mulai dewasa sang mommy mengancam akan mengirimkan ke pusat pelatihan militer.


Yah begitulah, Jenny dan Nathan menjauhkan anak-anak mereka dari pergaulan bebas.


Dan Jenny dan Nathan berhasil membuat kedua anaknya terhindar dari pergaulan bebas, karena tidak ada yang ingin berteman dengan kedua anaknya yang culun.


"Aku, seperti mengenalmu, tuan!" Seru Davin sambil mengedipkan matanya ke arah Nicko.


"Kenapa, aku mengenakan benda, ini?" Tanya Davin sambil menunjukkan kacamata bening bundar yang bertengger di hidung mancung Nicko.


"Kau, terlihat aneh. Bukankah, kau biasa memamerkan wajah dan, …." Seruan Davin terhenti saat Nicko membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya.


"Tutup mulutmu, sialan," bisik Nicko pelan.


"Cih! Davin berdecak kesal dengan wajah mencibir.


"Ngomong-ngomong, kenapa tanganmu terasa, asin?" Tanya Davin kembali dengan wajah heran.


Nicko mengendus-endus telapak tangannya dan ia pun memamerkan cengiran khasnya, yang memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi.


"Sorry bro, aku lupa tadi, … aku menggunakan tangan ku ini membersihkan hidung ku yang berair, kental," jawab Nicko dengan tersenyum usil.


Terang saja raut wajah Davin berubah jijik dan ia pun terlihat mual.

__ADS_1


Nicko tertawa lepas sukses mengerjai pria bertato di hadapannya.


"Rasakan, Nicholas Keller di lawan, cih." Nicko pun bergabung dengan keluarganya yang sedang berbincang-bincang di sofa besar di ruangan itu.


Sedangkan Davin kini menuju toilet dengan diikuti sang istri, davin terdengar muntah-muntah, seperti seorang wanita hamil.


Seluruh keluarga yang berbincang-bincang, menghentikan obrolan mereka, yang kini menajamkan pendengaran mereka ke arah toilet.


Nicko hanya bisa tersenyum puas, mendengar suara muntahan Davin.


"Badan boleh macho, tapi merasakan cairan hidung aja sudah ka-o," gumam Nicko sambil cekikikan.


Sedangkan, granny, nenek Margaretha, mom Kim, Jenny, dad Arthur dan dad Nathan mencoba mencuri dengar suara muntahan Davin.


Mereka saling pandang dan tampak ruat wajah bahagia granny dan nenek Margaretha bahagia.


"Akhirnya!" Seru granny dan nenek Margaretha bersamaan dan saling bersorak kegirangan.


"Dia kenapa?" Bisik Arthur kepada Kim.


"Entah!" Jawab Kim cuek.


"Dia mengingatkan ku dengan mu, sayang," timpal Jenny sembari menunjuk sang suami.


"Hm," gumam Jenny.


"H-hamil," sentak Kim dan Arthur pelan.


"Really!" Pekik Arthur dengan wajah gembira.


Kim masih terdiam dengan raut wajah sedang berpikir.


"Hamil? Bukankah, mereka baru menikah satu Minggu?" Gumam Kim yang membuat Arthur menyurutkan raut wajah bahagianya.


"Mungkinkah?" Tanya Kim menatap granny.


"Mungkin saja, kalau mereka, lebih dulu uji coba dan bayar uang muka di depan," Seloroh granny tidak acuh.


"Apa maksud, mommy?" Tanya Arthur.


"Mereka, sudah menggemparkan jalanan kota Los Angeles dengan mobil bergoyang," jawab granny.


"Apa, hubungannya, hamil dan mobil bergoyang?" Lagi dad Arthur bertanya dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Mereka, mencetak cucu untukmu di mobil," kesal granny.


"APA!" Pekik Arthur dan Kim.


"Oh senangnya!" Seru granny.


Tanpa memperdulikan wajah terkejut anak dan menantunya, granny Gabriela dan nenek Margaretha pun berdansa berdua dengan perasaan bahagia.


"Cih! Hamil darimana? Nyatanya dia habis merasakan nikmatnya, air berlendir hidungku ini," gumam Nicko pongah.


Tak lama kemudian pasangan suami-istri itu pun keluar dari toilet dengan tubuh Davin yang terlihat lemas.


Semuanya kini menatap keduanya dengan tatapan berbeda.


Granny dan nenek Margaretha dengan tatapan bahagia, sedang yang lain dengan tatapan tajam penuh pertanyaan, kecuali Nicko yang menampilkan raut wajah geli.


"KAU HAMIL! Sentak Kim lantang.


Rose dan Davin yang ingin kembali duduk di tempatnya semula terhenti. Rose mengerutkan dahinya, begitu pun dengan Davin.


"Kau hamil, baby?" Lirih Davin.


"Tidak," jawab Rose cepat.


"Kita baru melakukannya beberapa kali, apa bisa langsung, hamil?" Tanya Rose konyol.


"Jadi kau tidak, hamil?!


"Tidak, mom, dad. Aku saja sedang datang bulan," tutur Rose.


"Datang bulan?" Davin yang mendengar ucapan istrinya terkejut.


"Jadi, kau tidak hamil?" Tanya granny.


"Hm! Rose menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Berarti, kami gagal punya cicit," lirih granny dan nenek Margaretha lesu.


Granny dan nenek Margaretha pun kembali duduk dengan wajah lesu dan ditekuk.


Kim juga Arthur bisa bernafas lega, karena putrinya bisa menjaga nama baik keluarga.


Apa kata orang-orang, kalau putrinya hamil dia saat pernikahan mereka baru berumur anak jagung.

__ADS_1


__ADS_2