
suara ombak samar-samar terdengar oleh Indra pendengaran Rose yang kini sedang mengerjapkan kedua kelopak matanya.
Wanita itu melenguh halus dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa remuk dan lengket, sisa percintaan panas penuh cinta bersama sang suami.
Kedua kelopak mata indah dengan iris mata biru kehijau-hijauan yang masih terlihat berat untuk terbuka, namun panggilan alam memaksa Rose terbangun dari pembaringannya.
Ia mengarahkan tangannya ke sisi sampingnya di mana pria kesayangannya semalaman, terus memberikan kehangatan.
Dahi Rose mengkerut tajam, saat tidak menemukan sosok kesayangannya di sampingnya.
Rose segera bangkit dan menyingkap selimut putih tebal yang membungkus tubuh polosnya.
Rose meraih kemeja hitam milik suaminya yang tergeletak di lantai.
Rose menghirup sejenak kemeja suaminya yang masih tertinggal wangi maskulin sang suami.
Dengan tersenyum cerah, Rose segera mengenakan kemeja suaminya yang mampu menutupi tubuhnya hingga di atas paha.
Wanita tinggi semampai itu, bergerak ke arah kamar mandi sambil menggulung rambutnya tinggi dan meninggalkan anak-anak rambut halus di bagian tengkuknya.
______
Beberapa menit kemudian, Rose keluar dari kamar mandi dengan wajah terlihat lembab dan juga bagian puncak kepalanya tampak lembab pula.
Rose yang penasaran dengan suara seperti deburan ombak itu, segera saja wanita berwajah cantik tanpa make up itu berjalan ke arah jendela.
Rose menyingkap gorden hitam yang menggantung di sisi atas jendela.
Wajahnya tampak terlihat berbinar takjub melihat pemandangan yang mampu membuat manik biru kehijau-hijauannya, berkilau kagum.
"Laut?" Lirih Rose dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
Rose menoleh ke arah samping, dimana ia melihat sebuah pintu yang Rose yakini adalah, pintu balkon.
Rose membuka pintu tersebut dan ia terlihat semakin kagum dengan pemandangan di hadapannya, wanita itu juga di seguhkan oleh pemandangan di bawah laut, itu terlihat dari tempat kakinya berpijak yang transparan yang bisa melihat pemandangan di bawah sana.
Rose terus merotasi pandangannya kesana-kemari dengan kagum.
"Apa ini miliknya?" Monolog Rose dalam hati, saat memindai sekitarnya, yang sepertinya berada di pulau pribadi terletak di tengah laut lepas dan sebuah resort mewah, yang seluruhnya terbuat dari kaca.
"Indah dan segarnya." Rose bergumam dengan kedua tangannya ia merentangkan ke atas dan memejamkan mata menghirup dalam-dalam udara segar di tengah laut lepas yang khas.
"Priaku, memang yang terbaik." Rose memuji suaminya dengan terus tersenyum cerah, secerah cahaya matahari pagi yang begitu indah.
Rose membalikkan badannya, lantas berjalan kembali masuk ke dalam kamar.
Ia menyusuri setiap sudut kamar yang didominasi warna putih gading dan hitam dan juga beberapa pajangan yang berkaitan dengan kelaki-lakian.
Rose berjalan mendekati pintu keluar, entah mengapa ia begitu merindukan sosok prianya yang begitu manis.
Wajah Rose tampak bersemu merah, mengingat kegiatan panas keduanya semalam yang penuh gairah yang berbeda.
Yang mampu membuat Rose gelap mata dan menginginkan lagi dan lagi.
"Dia begitu legit dan sudah menjadi, canduku." Rose terlihat menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan wajah yang semakin merona.
Rose mengendus hidung mancung ketika mencium wangi masakan, yang membuat perutnya tiba-tiba berdemo.
Istri dari Davin Jones Jackson itu pun berjalan ke arah dapur. Rose menghentikan langkahnya ketika melihat punggung lebar sang suami di depan sana yang sedang memunggunginya.
Memamerkan punggung lebar seksi sang suami yang dipenuhi tato di bagian punggung atasnya.
__ADS_1
Dengan bertelanjang kaki, Rose berjalan pelan tanpa suara mendekati suami tercintanya.
"Morning, baby!" Seru Davin tanpa menoleh ke belakang.
Rose yang berjarak dua langkah dari sang suami, menghentikan langkahnya dengan alis terangkat sebelah.
"Menyebalkan." Rose merenggut kesal.
Davin terkekeh pelan sambil menoleh ke belakang dengan sebelah tangannya sibuk mengaduk masakan.
"Kemarilah!" Pinta Davin lembut yang membalikkan badannya dengan kedua tangannya ia rentangkan.
Dengan wajah kesal Rose kini berganti senyuman manis dan segera masuk kedalam pelukan pria kesayangannya.
"Love you." Davin mengucapkan kata cinta sembari menghadiahi wajah istrinya kecupan.
"Love you too," balas Rose yang masih mengecup bibir manis suaminya.
"Kau terlihat seksi. Apa kau ingin menggodaku, baby?" Ujar Davin yang baru menyadari penampilan istrinya dan juga tangannya kini meremas kedua gundukan kenyal istrinya di bagian belakang.
"Bukankah, aku wajib menggoda mu, honey?" Balas Rose dengan bibir bawahnya yang sengaja ia gigit.
"Kau, mulai nakal," komentar Davin dan kembali mengecup wajah dan kini turun ke leher pun dada atas istrinya.
"Stop, honey! Aku lapar," cegah Rose saat tangan nakal Davin mulai menggoda bagian privasinya.
"Kau tidak menggunakan, kain segitiga?"
"Bagaimana aku bisa memakainya yang sudah terkoyak," cibir Rose.
"Aku lupa. Bukankah kau yang tidak sabaran memintanya masuk, baby?" Goda Davin yang sukses membuat Rose malu.
"Berhentilah, menggodaku." Rose merengek manja sambil menggelayut manja di ceruk leher suaminya.
Davin kembali menyusuri leher panjang Rose hingga bagian bawah, diatas kedua gundukan kembar istrinya.
Mengecup dan menghisap pelan sehingga menambah bekas kecupan di sana.
Tangannya pun kini meremas gemes kedua bongkahan padat dan indah istrinya, yang tidak tertutup sehelai kain segitiga warning.
"Honey!" Seru Rose dengan desahaan tertahan.
"Hm! Gumam Davin yang masih mencumbui tubuh bagian atas istrinya.
"Aku lapar," cicit Rose.
Davin pun menjauhkan wajahnya dari leher istrinya dan menatap Rose dengan lembut.
"Maaf, baby. Aku lupa," ujarnya dan diakhiri kecupan lagi di puncak kepala Rose Lama.
"Melihat tubuhmu, jamur jumbo ajaib kesukaanmu, langsung cepat tangkap," bisik Davin.
"Dasar mesum," balas Rose dengan menghadiahi cubitan hot di pinggang keras Davin.
Pria tampan itu hanya terkekeh dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
Rose dengan setia memeluk pinggang suaminya dari belakang dan menciumi punggung juga leher suaminya.
Sesekali Davin menolehkan wajahnya kesamping dan bibir mereka saling mengecup sekilas.
Rose terus memeluk tubuh Davin dan meletakkan dagunya di pundak sang suami sembari memperhatikan gerak-gerik suaminya yang begitu lihai mengolah masakan.
__ADS_1
Rose pun tidak melepaskan pelukannya dari pinggang suaminya, kemanapun Davin melangkah, Rose akan mengikutinya.
"Love you," bisik Rose di ceruk leher Davin. Yang masih setia membelit pinggang keras suaminya dan mengecup ceruk leher suaminya berkali-kali.
"Love you too," balas Davin dan mencium kening istrinya.
"Tunggu disini," suruh Davin yang mengangkat tubuh Rose naik ke atas pantry dapur.
Davin menuangkan segelas air putih dan menyerahkan kepada sang istri.
"Minumlah," suruhnya lembut.
Dengan patuh Rose meminum air putih pemberian sang suami hingga habis setengah.
"Apa masih, lama?" Tanya Rose dengan binar mata penuh minta kepada masakan suaminya.
"Sebentar lagi, sweetheart," jawab Davin, yang terlihat sibuk mengaduk masakan daging yang dicincang kecil-kecil dan beberapa sayuran segar.
Rose turun dari atas pantry dan kembali mendekati suaminya dan berdiri di samping Davin.
"Bolehkah, aku yang mengaduknya, honey?! Pinta Rose manja.
"No! Tangan mu nanti akan, kepanasan," tolak Davin dengan nada suara lembut yang menghanyutkan.
"Tapi, aku ingin belajar memasak, boleh?"
"Tidak perlu." Jawab Davin.
"Tapi, … kata mommy, aku harus bisa melayani suami di dapur dan di ranjang," ujar Rose polos.
Tangan Davin yang sibuk mengaduk masakan berhenti. Pria itu lantas mematikan kompor dan membalikkan badannya.
Menyadarkan bokongnya dinding dapur kompor dan meriah tubuh istrinya, kini mereka saling berhadapan.
Memeluknya dan kembali memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah sang istri.
"Aku, tidak bisa mengolah masakan apapun, aku juga tidak biasa di dapur." Dengan wajah sendu Rose terdengar mengadu kepada sang suami.
Davin dengan setia mendengarkan ucapan istrinya dengan menggenggam lembut kedua telapak tangan Rose.
"Aku, juga ingin memasak sesuatu untukmu," ucap Rose dengan nada keluhan.
Davin tersenyum yang kini sibuk mengecup kedua telapak tangan istrinya dan sesekali kecupannya berpindah di bibir dan kening sang istri.
Davin terus mendengarkan ucapan keluhan dari istri tercintanya dengan menjadi pendengar setia.
Dengan memberi usapan dan juga ciuman di wajah sang istri atau di leher panjang istrinya.
Sembari menjadi pendengar setia keluhan istrinya, Davin juga menikmati kecantikan alami sang istri yang membuat rasa cinta Davin bertambah.
"Love you."
Maaf telat up, soalnya hp nya ngeblank. Jadi harus keloni dulu hpnya 🤣
ketik lemas jadi lontong.
ketik sama jadi sayur.
ketik tulus jadi telur.
ketik di jadi dua.
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣