
Sementara di sebuah restoran mewah di tengah kota Los Angeles, tepatnya di dapur restoran tersebut terlihat sibuk, memasak berbagai jenis masakan pesanan para pengunjung restoran.
Terlihat sosok pria tinggi atletis sedang sibuk memotong-motong sayuran dan juga bumbu lainnya untuk digunakan sebagai pelengkap pesanan tamu VVIP di restoran tersebut.
Sosok pria yang di penuhi tato di kedua tangannya. Ia mengenakan baju putih ala chef dan wajahnya terlihat serius dalam mengolah masakan.
Di bantu oleh sang asistennya, yang setia membantunya untuk menyiapkan keperluan yang ia butuhkan.
Dengan cekatan pria tampan itu memotong, bahkan mengolah masakannya dengan sangat lincah dan penuh atraksi.
"Tuan Davin!"seru seorang pria yang mengenakan seragam ala pelayan restoran.
Davin yang sedang menata masakannya yang sudah matang itu pun menoleh ke asal suara.
Ia mendekatkan dirinya ke wastafel dapur khusus para pengunjung VVIP, mencuci tangannya dan meraih selembar tissue dapur untuk digunakan untuk mengeringkan tangannya.
Davin melepaskan celemek khusus chef dan juga pakaian chef nya.
Ia menghampiri pria tadi yang memanggilnya, sedang masakan yang ia olah tadi sudah diantarkan ke pemesan.
"Ada apa?" Tanya Davin sembari berjalan keluar.
__ADS_1
"Nona Sisil menunggu anda, tuan!" Lapor sang pelayan.
"Hm! Gumam Davin cuek.
"Kembalilah, bekerja!" Perintah Davin kepada para pegawai restoran peninggalan sang mommy.
Yah siapa yang menyangka, pria dengan penampilan urakan dan berantakan, adalah seorang chef handal dan juga memiliki restoran mewah dan terkenal.
Bukan hanya satu, Davin pun memiliki beberapa cabang restoran di setiap tempat wisata dan juga di sekitar kota Los Angeles.
Davin keluar dari arah dapur dan berjalan menuju lantai tiga, dimana ruangannya berada.
Ia tersenyum tipis saat para pelayannya menyapa dirinya dengan ramah.
Ia merasa malas bersentuhan dengan sang kekasih dan merasa jengah.
Di pikirannya hanya ada satu bayangan, yaitu wanita yang terlihat tegas dan berkelas, namun oon tentang kemesuman.
Davin menatap lekat wanita yang sudah ia curi ciuman pertamanya, dengan tajam.
Ia dapat melihat wanita itu sedang tersenyum, bahkan tertawa lepas dengan beberapa orang, dua pria dan juga satu wanita berkacamata.
__ADS_1
Davin menyandarkan punggungnya di dinding kaca tebal sambil melipat kedua tangannya di dada.
Pandangannya terus tertuju kepada sosok wanita yang terlihat begitu cantik saat tertawa.
"Dia semakin cantik saat, tertawa," gumam Davin dengan senyum tipis.
"Oh hatiku," lirihnya, sambil memegangi dadanya tepat di jantungnya yang berdetak kencang.
Raut wajah davin kini berubah, ia nampak terlihat tidak suka dengan pemandangan di depannya.
Seorang pria tampan sedang menyuapkan makanan kepada wanita yang ia kagumi dan mengusap rambutnya lembut.
Pria itu bahkan merangkul pundak wanita yang terlihat cantik dan menawan hari ini.
Tangan Davin yang tadinya di dada, kini berada di sampingnya dan saling mengepal.
Rahangnya mengeras dengan gigi yang saling bergesekkan.
Ia menegakkan punggungnya, menghunus tajam ke depan dengan raut wajah berang.
Tanpa sadar, Davin berjalan ke arah meja VVIP yang ditempati wanita yang sudah membuatnya beberapa hari ini menjadi anak baik.
__ADS_1
Yang hanya berdiam diri didalam Mansion besar sang nenek.