
Sisil dengan wajah kesal bercampur malu, memasuki lift, setelah masuk wanita itu menekan tombol yang akan membawanya ke lantai yang akan ia tuju.
Sambil menunggu lift bergerak, Sisil, mengeluarkan ponsel dengan hiasan berlian di belakang ponselnya.
Wanita dengan tubuh sintal nan menggoda itu, menarikan jari-jari berkutek merah menyalanya untuk mencari nomor sang kekasih.
Sisil menempelkan ponselnya di telinga saat nomor yang ia panggil tersambung.
Tidak butuh waktu lama, terdengar suara berat dan lembut menyapa Indra pendengaran Sisil yang membuat sesuatu di dalam perutnya menghangat.
Dengan berpura-pura terisak dan bersedih, Sisil mengadu kepada pria di seberang sana.
"Honey!" Lirihnya dengan isakan.
" …
"Aku membutuhkanmu," ucapnya dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin, padahal wanita itu sedang memainkan kuku-kuku panjangnya dengan warna merah menyala itu.
Sedangkan pria di seberang sana terdengar panik dan khawatir, itu terdengar dari suaranya.
"Jemput aku," rengek Sisil dan menjulurkan lidahnya seakan ingin muntah.
" …
"Baiklah, aku menunggumu, honey," lirih Sisil lembut.
" …
Sisil pun mematikan ponselnya, sebelum pria diseberang sana menyelesaikan ucapannya.
Wanita itu mencebikkan bibirnya sambil menatap ponselnya yang terdapat gambar seorang pria tampan.
"Tampan, tapi tidak berguna," cibir Sisil sambil memandangi foto pria yang baru saja ia telepon.
~~
"Ting"
Pintu lift pun akhirnya terbuka, Sisil keluar dengan menghentakkan kakinya dan melangkah ke sebuah ruangan yang berada di paling ujung lantai lima tersebut.
Sisil berhenti di sebuah pintu ruangan yang terdapat tulisan, " Direktur fesyen"
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sisil menerobos masuk kedalam.
Ia menemui seorang pria dewasa berusia 35 tahun sedang duduk di kursi kebesarannya dengan kedua tangan bertumpuk di atas meja sambil menyanggah wajahnya.
Pria itu terlihat panik dan bingung, ia bahkan tidak menyadari kedatangan Sisil, sugar baby nya.
"Sayang!" Seru Sisil, mengejutkan tuan Albert yang sedang memijit pelipisnya.
Tuan Albert mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan ia hanya menarik nafasnya.
"Kenapa, kau kesini, baby," sahut tuan Albert frustasi.
Sisil melangkah mendekat kepada tuan Albert dengan dahi mengerut.
"Kau tahu? Aku sedang dalam masalah," lanjut tuan Albert.
Sisil tidak memperdulikan keluhan tuan Albert, ia segera duduk di pangkuan pria itu dan mencium bibir tuan Albert yang beraroma tembakau.
"Apa karena wanita, sialan itu?" Tebak Sisil.
Tuan Albert menatap Sisil tajam yang seakan tatapannya penuh tanda tanya.
"Aku baru mendapatkan hinaan darinya," lanjut Sisil.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Hm. Dan itu sangat menyebalkan dan aku ingin membunuh wanita itu saat ini," ucap Sisil emosi.
Albert tampak tersenyum mengejek dan menjauhkan Sisil dari pangkuannya.
"Tidak semudah itu menaklukkan, nona Arogan pemilik agensi ini, dia bukan wanita sepertimu, yang licik dan murahan," cibir dan sinis Albert.
"Apa katamu!" Bentak Sisil.
"Cih! Keluarlah, aku sedang pusing dan tidak ingin melihat wajah, jaalang mu," usir tuan Albert.
Sontak saja Sisil membeliakkan bola matanya, mendengar perkataan tuan Albert.
"Kau, mengusirku?" Tanya Sisil dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Hm. Keluarlah!" Pinta tuan Albert sekali lagi.
"Aku, tidak ingin mencari masalah, karena posisiku sedang terancam," ucap tuan Albert dingin.
Dengan perasaan bertambah kesal berkali-kali lipat Sisil melangkah kearah pintu.
Namun ia menghentikan niatnya untuk membuka pintu dan memutar tubuhnya ke belakang.
Ia menghunuskan tatapan tajamnya kepada tuan Albert.
"Aku berjanji akan menghabisi wanita itu dan menghancurkannya," pungkas Sisil dengan wajah yakin.
Tuan Albert hanya menanggapi ucapan Sisil dengan senyum remeh.
Melihat wajah tuan Albert, wanita dengan rambut panjang itu membuka pintu dan membanting pintu ruangan tuan Albert dengan kasar.
"Dasar pria brengsek!" Maki Sisil kembali berjalan ke arah lift.
"Sekarang, waktunya bekerja!" Perintah Sisil.
"Tuan Damon! Anda harus mengawasi mereka, sampai besok. Anggap ini adalah hukuman buat, anda," perintah Rose dengan tegas.
"B – baik nona," jawab tuan Damon lesu.
"Jangan mengeluh, bekerjalah mulai sekarang."
"Baik nona," sahut seluruh bawahan Rose.
Rose lalu meninggalkan tempat ruangan rapat yang berada di lantai tujuh.
Ia memasuki lift khusus untuknya, yang langsung menuju parkiran di mana mobil sport hitam mewahnya terparkir elegan.
Dengan nafas lelahnya, Rose menyandarkan tubuh lesu nya di dinding mengkilap lift tersebut.
__ADS_1
Rose nampak terlihat lelah hari ini, begitu banyak drama yang harus diselesaikan di perusahaan sang mommy.
Sebagai anak pertama, Rose mempunyai tanggung jawab untuk melindungi semua yang dimiliki oleh kedua orang tuanya, meskipun Rose adalah seorang wanita, tapi tanggung jawab itu harus ia lakukan.
Setelah lift terbuka, Rose segera keluar dan berjalan dengan langkah lelah mendekati mobilnya yang terparkir dengan sendirinya.
Ia menekan tombol kunci mobilnya, sehingga terdengar bunyi dari mobil hitam sport mewahnya.
Rose memasuki mobilnya dan melaju secara perlahan.
~~
Davin yang baru tiba di perusahaan agensi light Hugo, pria dengan tubuh tinggi itu, memarkirkan kuda besinya di tengah jalanan di depan pintu lobby perusahaan.
Davin tidak mempedulikan aturan pengendara di perusahaan itu, ia meninggal kuda besinya begitu saja dengan mesin motor yang masih menyala dan ia segera melompat, berlari menaiki beberapa anak tangga untuk memasuki lobby.
Dengan wajah khawatir, Davin berlari bermaksud untuk masuk ke dalam lobby, namun sebuah suara klakson mobil terdengar membengkak telinga.
Para penjaga pun segera menghalangi jalan Davin yang tidak memperdulikan suara klakson tersebut.
Ia lebih mengkhawatirkan keadaan kekasihnya.
"Tuan!" Seru salah satu penjaga lobby menghentikan langkah Davin.
"Menyingkirlah," jawab Davin dingin.
"Motor anda menghalangi, mobil nona boss," ujar penjaga lobby tersebut.
"Aku, tidak peduli," jawab Davin cuek.
Pria itu pun mencoba menerobos masuk, namun niatnya terhenti, saat mendengar suara lembut nan dingin di belakangnya.
"Deg"
__ADS_1