
Satu Minggu sudah berlalu, Rose kini kembali beraktivitas seperti biasa.
Menyibukkan dirinya dengan setumpuk berkas dan menatap seharian laptop kesayangannya.
Satu Minggu juga Rose tidak pernah lagi bertemu dengan Davin, pria yang dijuluki dengan pria berdaki.
Meskipun ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, namun Rose, tidak bisa mengartikan perasaan apa yang ia rasakan.
Ia mengabaikan perasaan itu, dengan menyibukkan diri memperbanyak dollarnya.
Granny pun tidak pernah lagi memaksanya untuk menyetujui perjodohan dirinya dengan si pria berdaki tersebut.
Kini granny sedang sibuk memperbanyak tanaman bunga dengan berbagai macam jenis.
Lion sendiri kini mengurus, perusahaan agensi sang mommy dibantu oleh Nicko.
Rose menyerahkan tanggung jawab perusahaan agensi kepada Lion, agar tidak ada lagi yang bermain curang di belakang mereka.
Seperti hari-hari biasa, Rose nampak sibuk di ruangannya, menorehkan tinta di atas berkas yang menumpuk dan juga menatap serius benda persegi yang masih menyala di depannya, memperlihatkan sederet angka-angka.
Rose kadang menggigit bibirnya, atau kukunya. Kadang mengerutkan matanya, dahinya terlipat atau keningnya yang terangkat keatas, memperhatikan layar laptopnya yang menyala.
Beginilah, kegiatan Rose setiap harinya, yang menggilai dunianya sendiri, mengejar berbagai prestasi dari dunia bisnis, namun ia melupakan tentang dunia percintaannya.
Usianya pun kini memasuki usia dewasa, namun dirinya masih enggan memikirkan soal pernikahan.
Entah apa lagi yang akan Rose inginkan, karir yang begitu cemerlang, materi yang tidak akan kekurangan, keluarga yang sangat menyayanginya.
Rose nampak terlihat menghempaskan punggung lelahnya kesadaran kursi kerjanya.
Ia memijat pelipisnya yang terasa nyeri, akibat terlalu lama menatap layar laptopnya.
Rose menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara berat.
Hatinya tiba-tiba saja merasa jenuh, seakan ada sesuatu yang kurang dalam dirinya, tapi apa?
Rose pun hanya terdengar mendengus kasar, meraih gelas yang ada di hadapannya yang berisi air putih, menyesapnya hingga setengah.
Rose berniat kembali menatap laptopnya, namun pergerakan dia terhenti, saat pintu ruangan bercat coklat itu terbuka dengan sedikit kasar.
Rose menolehkan wajahnya dan dia hanya bisa menyalangkan tatapannya kepada tersangka.
"Selamat, pagi …, gadis perawan tua!" Seru Natali, asisten Rose.
Rose terdengar mendesis, mendengar sapaan asistennya.
Ia lalu menajamkan matanya ke arah wanita berpenampilan rapi dengan sebuah kacamata membingkai wajahnya.
Wanita itu mengacuhkan tatapan tajam Rose, ia hanya menampilkan senyum sinis dan wajah jengah.
__ADS_1
"Berhentilah, memperlihatkan wajah mengerikan mu kepada orang-orang, apalagi seorang pria, mereka akan lari sebelum mencoba mendekatimu. Kau, tidak ingin jadi perawan tua abadi, bukan?" Cerotos Natalie dengan wajah kesal.
Rose tidak memperdulikan kicauan Natalie, ia kembali menatap laptopnya.
"Ini!" Natalie menyerahkan sebuah undangan mewah tepat di depan wajah Rose.
Dengan menahan geram, Rose meraih undangan itu dengan kasar dan mendelik ke arah sepupunya itu.
"Undangan pertunangan tuan Will, malam ini di sebuah klub mewah," tutur Natalie.
Rose masih terdiam dan menelisik undangan mewah tersebut dengan lapisan perak di atasnya.
Rose nampak tidak tertarik, ia lantas melemparkan undangan itu kedepannya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kau, akan hadir?" Tanya Natalie yang duduk di depan Rose.
"Tidak!" Jawab Rose singkat.
"Come on, Rose. Sesekali kau harus menikmati pesta dan bersenang-senang, girl," sambung Natalie, yang tidak habis pikir dengan jalan kehidupan Rose yang penuh kejenuhan dan kebosanan.
"Aku tidak tertarik, dengan hal yang membuang-buang waktu ku," sahut Rose dingin.
"Aku tidak perlu, melakukan semua itu. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang," jawab Rose yang menghentikan jarinya di atas keyboard dan menatap Natalie.
"Setidaknya, pikirkan, saudaramu juga Rose, mereka tidak akan mau melakukan pernikahan, sebelum kau menikah," pungkas Natalie, yang masih mencoba untuk mengubah jalan pikiran wanita keras kepala di depannya.
"Aku, tidak pernah menyuruh mereka untuk tidak mendahului ku," sahut Rose tidak acuh.
"Tapi mereka sudah bersumpah, Rose." Desis Natalie.
"Berhentilah, berbicara omong kosong. Lebih baik kembalilah ke ruangan mu!" Perintah Rose mulai jengah.
"Ck! Kau bahkan melupakan, waktu makan siang," cibir Natalie.
Rose yang mendengar perkataan Natalie, sontak melirik jam tangan mewahnya.
Kembali ia menarik nafas dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi kerja miliknya.
"Ck! Natalie hanya berdecak kesal melihat sikap kaku Rose.
__ADS_1
"Clek"
Tiba-tiba kembali lagi pintu ruangan Rose terbuka dan memperlihatkan sosok laki-laki dengan mata sipit dan senyum lembut yang ia berikan kepada Rose.
Diikuti oleh seorang pria tinggi menjulang yang memperlihatkan cengirannya yang khas yaitu, mesum.
"Selamat, malam, girls!" Sapa Nicko.
Rose dan Natalie hanya mendengus mendengar seruan Nicko.
"Hey, adik culunku!" Seru Nicko kepada Natalie dan mencium puncak kepala adiknya.
"Kau terlihat senang sekali!" Ucap Natalie dengan cibiran.
"Ahk! Hari ini aku begitu bahagia, mataku terlihat segar melihat pemandangan yang begitu menghijaukan mataku!" Sahut Nicko dengan senyum mesumnya.
Natalie memicingkan matanya ke arah sang kakak yang penuh rasa curiga.
"Apa?" Tanya Natalie.
"Pemandangan bermacam-macam, pegunungan!" Jawab Nicko.
"Pegunungan?" Cicit Rose dan Natalie.
"Kalian dari traveling?" Sela Rose.
"Hm! Pikirannya yang traveling!" Cibir Lion mendelik ke arah Nicko yang tersenyum penuh arti.
"Apa?" Tanya Rose dan Natalie bersamaan.
"Pegunungan berjalan," Jawab Nicko ambigu.
"Pegunungan yang bermacam-macam, bentuk dan ukuran, oh senangnya. Kenapa tidak dari dulu kita mengambil alih perusahaan, aunty Kim," ujar Nicko dengan senyum miring.
"Ck! Dasar pria brengsek!" Maki Lion.
"Apa maksud pria ini?" Tanya Natalie penasaran.
"Dimana kau melihat pengunungan?"
"Di perusahaan, aunty!"
"Perusahaan, mommy?"
"Hm!"
"Gunung apa?"
"Gunung kembar berjalan!" Jawab Nicko mulia jengah.
"Apa ada gunung bisa berjalan?" Tanya Rose dengan wajah konyolnya.
"Ada!" Sahut Nicko lagi.
"Bukankah, kalian juga membawanya!"
"Dan ukuran kalian berbeda!" Sambung Nicko dengan tatapan menelisik penampilan Rose dan sang adik.
"Pletak"
Lion menepuk kepala Nicko yang sudah berbuat mesum kepada saudaranya dan juga sepupunya yang adiknya sendiri.
"Jaga matamu, brengsek!" Hardik Lion.
"Maaf, mataku refleks!" Cengir Nicko.
"Maksud kamu apa, Nicko!" Geram Natalie yang masih penasaran dengan ucapan ambigo Nicko.
"Gunung kembar, yang dikemas di sebuah wadah kain lembut agar tidak mudah tumpah dan agar tetap terlihat indah dipandang mata, bisa di buka bagi yang mampu!" Sahut Nicko konyol, lalu terbahak.
"Gunung kembar yang kenyal, lembut dan memiliki beraneka bentuk dan warna, yang khusus tercipta untuk kaum Adam," lanjutnya lagi.
"Bisa di lirik dan dipandang, namun tidak bisa di genggam, itulah, gunung kembar namanya!"
"Oh indahnya, apabila bisa merasakan dan menggenggamnya! Ucap mesum Nicko dan memperagakan kedua tangannya, seakan-akan menggenggam benda tersebut dan meremasnya.
Rose dan Natalie yang paham arah ucapan mesum Nicko hanya bisa melongo dan menganga.
"Nickolas!!"
__ADS_1