
Jerry terdengar terkekeh sinis kepada Rose. Wajahnya pun memandang wanita cantik di depannya remeh.
Ia melepaskan genggaman tangannya di tangan Jusy dan melangkah dua langkah di depan Rose.
Ia meletakkan ibu jarinya dan telunjuknya di dagu dengan pandangan mencemooh kepada Rose yang hanya bermuka datar.
Sudut bibir Jerry berkedut sinis kepada Rose dengan tatapan yang mengejek.
Ia memajukan wajahnya ke depan wajah dingin Rose sehingga Jerry bisa mendengar deru nafas Rose yang memburu.
"Kau hanya wanita bodoh, yang sangat menyedihkan." Dengan suara berat Jerry melayangkan hina tepat di wajah Rose dengan bisikan.
"Terimakasih lah, karena aku mau menjadi kekasihmu, meskipun aku harus terpaksa menyentuh dan memperlakukan lembut kepadamu, wanita robot," sarkas Jerry dengan berbisik.
"Wanita kaku seperti mu tidak akan pernah, merasakan sentuhan pria, karena mereka tidak akan mau dengan wanita kaku seperti mu," sinis Jerry dengan terkekeh.
"Semua pria menginginkan, wanita yang hot dan menggoda, tidak seperti, kau!" Jerry menunjukkan penampilan Rose yang mengenakan setelan kantor yang rapi, celana berbahan kain lembut berwarna hitam dan kemeja hitam yang dilapisi blazer putih.
Membuat Rose terlihat berkelas dan terlihat berkarakter tegas.
"Lihatlah!" Jerry menelisik penampilan Rose yang begitu penuh wibawa dan tegas.
"Kau terlihat kaku dan membosankan. Tidak ada yang menarik dari dirimu, selain wajah dan kekayaan mu," seloroh Jerry dan tertawa lepas.
Jusy dan nyonya Loren pun ikut menatap Rose sinis dan remeh.
"Kasihan sekali, wanita kaya dan berkelas sepertinya tidak laku," ejek Jusy.
"Dan dia wanita bodoh yang mudah dimanfaatkan," sela nyonya Loren dengan sinis.
Jerry dan Jusy saling berkecupan mesra di depan Rose dan mereka sengaja memamerkannya.
"Lihatlah, beginilah seorang wanita seharusnya" seru Jerry yang sedang menikmati cumbuan menggoda Jusy di lehernya.
"Wanita, hot dan menggoda," cibir Jerry.
"Kau hanya wanita kaku dan membosankan, jadi jangan salahkan aku kalau memanfaatkan mu," lanjut Jerry dan kembali terkekeh.
Rose hanya terdiam dengan seribu bahasa, ia hanya bisa menahan segala gejolak amarahnya.
Ia berusaha menahannya dan tidak mudah untuk di panas-panasin.
__ADS_1
Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyangsikan pasangan di depannya yang sedang bercumbu.
"Dia sama bodohnya dengan adik culunnya itu." Jusy melepaskan cumbuaan di bibir Jerry tapi pria itu masih mencumbu leher kekasihnya.
"Gadis culun bodoh dan menyedihkan." Jusy tertawa lepas.
"Itulah karma untuk kedua orang tuanya yang sombong dan jahat," timpal nyonya Loren.
"Karena mereka lah, suamiku meninggalkan dengan menyedihkan," ujar nyonya Loren.
"Jadi Karena itu, kalian menipuku dan keluargaku?" Tanya Rose datar.
"Yap, karena perbuatan kedua orang tuamu, aku harus kehilangan, seorang ayah," ungkap Jerry.
"Mereka tega menghabisi ayahku yang sudah mengabdi kepada keluarga, kalian." Dengan tatapan penuh kebencian, Jerry menatap Rose tajam
"Jadi, jangan salahkan kami, salahkan kedua orang tua kalian yang busuk itu,"
"Karena, perbuatan busuk mereka, kau dan adikmu itu terlihat menyedihkan."
"Orang tua yang sangat buruk," timpal nyonya Loren dengan sinis.
"Plak, plak,"
Rose tidak dapat lagi menahan amarahnya, saat mendengar kedua orang tuanya dihina di depan matanya sendiri.
Dengan amarah yang menggebu yang sudah mencapai ubun-ubun, Rose melayangkan tamparan keras di wajah tua nyonya Loren.
Membuat ibu dari Jerry itu, terpekik dan terhuyung ke belakang.
"Apa yang kau lakukan!" Hardik Jerry yang menundukkan tubuhnya dan membantu sang ibu berdiri.
"Dasar wanita murahan, kau sama seperti, ibumu, mu.ra.han." dengan penuh emosi nyonya Loren menghina Rose dan mommy nya.
Rose tidak tinggal diam, ia yang akan melayang tamparan di wajah nyonya Loren, ditahan oleh Jerry dengan mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan coba-coba, melukai, ibuku," geram Jerry.
"Bugh"
Rose menendang perut Jerry yang sudah lancang kepadanya.
__ADS_1
Seorang pria benalu yang bertingkah lancang dan lupa akan dirinya sendiri.
"Bugh"
Rose menginjak perut Jerry dengan kuat, membuat pria itu mengeluh kesakitan.
"Lepaskan, wanita murah — "
"Plak"
Belum selesai ucapan nyonya Loren yang berusaha menolong anaknya, tiba-tiba sebuah tamparan keras didapatkan dari sakura.
Bukan hanya itu, sakura pun menarik rambut rapi nyonya Loren dan menyeretnya ke sofa.
"Manusia sampah seperti kalian tidak berhak, menghina orang tua kami," bisik sakura dingin.
Kini tatapan sakura ia dilayangkan kepada Jusy yang sudah berwajah pucat dan berkeringat dingin.
Tanpa banyak berkata-kata, sakura menghampiri Jusy yang memundurkan tubuhnya yang ketakutan.
Sakura menarik rambut Jusy dan menghempaskannya di sebelah tubuh lemas nyonya, Loren.
Sedangkan Rose masih memberikan pelajaran kepada Jerry yang kini tergeletak tak berdaya dengan beberapa luka di wajahnya dan juga di sekujur tubuhnya.
"Bawa mereka."
"Jual rumah dan fasilitas semua yang ada disini, bagikan hasil penjualannya kepada yayasan panti asuhan dan jompo." Dengan aura tegas dan dingin, Rose memerintahkan anak buahnya.
"Baik, Nona muda," sahut anak buah Rose.
"Bawa mereka dan buang jauh. Jangan biarkan mereka memasuki kota ini," titah Rose kembali.
"Kau tidak bisa melakukan itu padaku," ujar Jerry lirih.
"Kenapa tidak, kalian hanya sampah jadi, tempat kalian adalah, sam.pah." ucap Rose tegas.
"Apa kau lupa, kalau aku sudah tidur dengan adik culunmu?" Kekeh Jerry.
Rose terdiam dengan pandangan datar ke arah Jerry.
"Bagaimana, kalau dia hamil benihku?" Ujarnya.
__ADS_1
"Kami, akan merawatnya," jawab Rose dingin.
"Dan tidak memerlukan sosok ayah brengsek sepertimu," sarkas Rose.