
"Bisakah, kau bicara sekarang nona!" Seru Sisil dengan sinis dengan duduk angkuh di sofa di ruangan Rose.
Hanya dia berani duduk di sana dengan kaki bertumpu sehingga memperlihatkan dalamnya.
Sedangkan yang lain hanya bisa menahan nafas mereka, melihat kelakuan Sisil.
Dia belum tahu siapa wanita yang kini menatap dingin kepada wanita yang kini sibuk berselfie ria.
Rose berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati wanita yang terlihat tidak peduli dengan kehadirannya.
Rose duduk dengan elegan dan berkelas di depan Sisil.
Terlihat begitu berbeda di antara dua wanita itu.
Sangat, sangat berbeda, Rose dengan sikap tenang penuh kewibawaan dan berkelas.
Sedangkan Sisil terlihat seperti seorang wanita tidak memiliki pendidikan, dia lebih layak disebut seorang wanita panggilan.
"Sudah berapa lama?" Tanya Rose dingin.
Sisil mengalihkan tatapannya yang semulanya di ponsel dan kini berpindah kepada wanita berkelas di depannya.
Sisil menilai penampilan Rose yang mengenakan pakaian santai sederhana.
Sebuah kemeja hitam berbahan lembut di padukan dengan celana jeans hitam yang panjangnya di atas mata kaki dengan sepasang sepatu kets berwarna putih yang senada dengan pakaian.
Sisil menatap tidak suka dengan penampilan Rose yang sederhana namun terlihat berkelas dan elegan, itu karena ia tahu harga dari setiap lembar yang Rose kenakan.
Apalagi sebuah kalung berlian yang merupakan keluar terbaru dari salah satu perusahaan berlian di kota Los Angeles.
Kalung itu hanya ada 5 di seluruh dunia dan yang orang-orang yang tertentu yang bisa memilikinya.
Mata Sisil begitu berkilau melihat benda berkilau bergantung di leher Rose dengan Indah.
"Cih! Paling dia hanya seorang istri yang beruntung menikah dengan pria terkaya di kota ini," batin Sisil.
"Walaupun ia, aku harus mendapatkan suaminya, lumayan bisa aku maafkan untuk mengoleksi barang-barang mewah," batinnya lagi.
__ADS_1
"Apa urusan kamu," sinis Sisil cuek.
"Ini jadi urusan saya, selaku —" ucapan Rose terjeda dengan perkataan Sisil yang mengejek.
"Jangan mencampuri urusan, aku. Kau hanya numpang kenyamanan disini," ujar Sisil dengan wajah remeh.
"Nona, Sisil!" Pekik tuan Damon.
Rose mengangkat sebelah tangannya saat tuan Damon ingin mengatakan sesuatu lagi.
Rose menegakkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di dada dan dengan tatapan penuh arti ia berikan kepada Sisil.
Sisil yang melihat tatapan Rose, merasa merinding, namun karena rasa percaya dirinya dan juga gengsinya, ia mengabaikan perasaan ancaman itu.
"Apa bakatmu?" Tanya Rose dingin dengan tatapan yang masih ia tujukan kepada Sisil.
"Ck! Kenapa? Apa kau ingin melihat bakatku yang bisa menduduki majalah popular tahun ini?" Sisil bertanya balik dengan senyum sinis.
"Bakat, menjual diri maksud kamu? Atau bakat menggoda para pria berduit," pungkas Rose dengan sunggingan senyum tipis di sudut bibirnya.
"KAU!" Sisil yang geram berdiri dari duduknya dan menunjuk wajah Rose.
"CUKUP! bentak Sisil.
Semua yang ada di ruangan Rose terkejut mendengar ungkapan sang Nona boss, namun tidak dengan Tyson yang terlebih dahulu mengetahui seluk-beluk tentang Sisil.
"Apa kau juga menjerat tuan, Albert? Direktur disini? Kalau iya, berarti kamu hanya model transaksi ilegal. Yang melemparkan tubuh ini kepada tuan, Albert," pungkas Rose dengan senyum miring.
"Jaga mulutmu wanita, sialan!" Gertak Sisil dengan wajah merah.
"Apa kau tidak mengenalku? Aku adalah kekasih dari pewaris perusahaan terkenal disini, pewaris dari keluarga, JACKSON," ungkap Sisil dengan wajah penuh kemenangan.
"Kekasih anak dari perusahaan Jackson atau tuan Jackson sendiri," ucap Rose pelan yang menyerupai bisikan di depan wajah Sisil.
"KAU! Geram Sisil.
Ia pun ingin menampar wajah Rose dengan tangan kanannya, tapi dengan segera Rose bisa menangkis pergelangan tangan Sisil dan menggenggamnya dengan sangat kuat, membuat wanita bertubuh seksi itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Aku, ingin kau keluar dari perusahaan ini, aku sebagai pemilik agensi ini, membatalkan kontrak perjanjian antara kau dan agensi ini."
"Aku tidak ingin, agensi ini tercemar dengan bakat jaaalang mu, jadi kau bukan dari bagian agensi ini."
"Tuan Damon!"
"Saya nona."
"Batalkan semua kontrak perjanjian kerjasama antara nona ini, dan juga perjanjian kerjasama dengan produk yang memakai jasanya," titah Rose.
"T – tapi nona," sela tuan Damon terbata.
Rose memalingkan wajahnya ke arah tuan tuan Damon.
"Kita akan berusaha dengan pihak, perusahaan Jackson," ujar tuan Damon.
"Berapa saham yang ia miliki?"
"20 persen, nona."
"Aku menginginkan, saham itu," pinta Rose dengan wajah dinginnya.
"T – tapi nona, …."
"Aku menginginkannya, se.ka.rang." dengan tidak terbantahkan, Rose menekan ucapan terakhirnya.
"Sekarang, seret dia!" Perintah Rose yang perintahnya tertuju kepada Sisil yang masih membeku di tempatnya.
Ia tidak menyangka, dia berhadapan dengan wanita yang terkenal dengan kecerdasannya di dunia bisnis.
Sisil masih tercengang, saat diseret paksa oleh manajer dan sang asisten.
"Kau!" Sentak Rose kepada sang fotografer.
"Kau dikirim ke hutan Amazon. Ambil gambar binatang buas sebanyak-banyaknya!" Titah Rose.
Tyson hanya bisa bergeming lemas mendengar perintah dari sang nona Arogan.
__ADS_1
Mau tidak mau, ia pun hanya bisa menerima titah sang nona boss dengan berat hati.
Seandainya dia tidak tergoda dengan pesona tubuh seksi Sisil, yang hanya mempunyai bakat jaalang.