Perawan Tua Abadi And Bad Boy

Perawan Tua Abadi And Bad Boy
bab 77


__ADS_3

Rose dan Lion terlihat berdiskusi sambil berjalan ke ruangan pemotretan. Hari ini mereka ingin melihat hasil pemotretan sebuah produk kecantikan dari perusahaan kosmetik ternama di kota Los Angeles.


Perusahaan yang mengeluarkan beberapa Brand kecantikan terkenal di beberapa belahan dunia.


Rose dan Lion tidak ingin mengecewakan Klein mereka, yang sudah mempercayakan perusahaan agensi light Hugo untuk menjadi, ambassador produk ternama tersebut.


"Kau duluan, aku ingin menerima panggilan." Lion menghentikan langkahnya, ia menyuruh Rose terlebih dahulu memasuki ruangan pemotretan. ia mengangkat panggilan telepon sambil berjalan ke arah jendela kaca besar.


"Okay, tunggu aku."


" …


"Hm! Makan siang nanti aku akan menjemputmu."


" …


"Okay, bye."


" …


"Me too."


"Tut"


Lion menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia memandangi ponselnya dengan tersenyum tampan, hatinya merasa hangat mendapatkan panggilan dari wanita pujaannya.


Lion masih memperlihatkan senyum menawannya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas berwarna hitam itu.


Pria dengan rambut panjang itu pun melanjutkan langkahnya ke arah ruangan pemotretan dengan perasaan berbunga-bunga.


Itu terlihat dari senyuman pria itu yang masih terlihat.


"Bugh"

__ADS_1


Tiba-tiba, sesuatu keras menabrak punggung lebarnya dan terdengar ringisan lembut di balik tubuh bagian belakangnya.


Lion membalikkan badannya dan menundukkan kepalanya, ia melihat sosok gadis mungil yang sedang mengusap-usap keningnya sambil menundukkan kepala.


Mimik wajah bahagia Lion kini berganti dengan wajah kesal, saat melihat gadis di hadapannya.


Entah mengapa, setiap melihat gadis di depannya ini, moodnya akan hancur menjadi rasa jengah dan jengkel.


Lion meletakkan kedua tangannya di pinggang dan raut wajahnya kini berubah dingin dan arogan


"Apa kau buta? Sehingga kau tidak menggunakan mata mu, untuk berjalan?" Cerca Lion dengan nada geram tertahan.


"M-ma-maaf, tuan. Saya berjalan menggunakan kaki, bukan mata," jawab gadis tersebut dengan gugup dan kepala menunduk.


Rahang Lion hampir jatuh, saat mendengar jawaban konyol gadis di hadapannya. Yang membuat emosinya terselut.


"Kau, membantahku," erang Lion dengan rahang wajahnya yang mulai mengetat dengan sorotan mata tajam ke arah gadis mungil di hadapannya.


"Tatap aku," sentak Lion dengan intonasi suara naik dua oktaf.


Gadis mungil itu pun refleks mendongakkan kepalanya dan menatap wajah tampan Lion.


Sejenak pandangan mereka beradu. Saling menatap lekat.


Lion dengan mata tajamnya yang tersirat emosi, sedangkan, gadis tersebut menatap Lion dengan kekaguman.


Jujur Lion mengagumi wajah imut gadis di depannya, mata grey yang mempesona, hidung mancung, mata lebar dengan bulu mata lentik yang menghiasi kelopak mata lebarnya dan bibir mungil yang bervolume bagian bawah.


"Kau, ingin menggodaku?" Bisik Lion tajam di depan wajah gadis tersebut dengan kepala menunduk.


"T-ti-tidak," gugup gadis itu sambil menundukkan wajahnya kembali.


"Tatap aku!" Gertak Lion tertahan.

__ADS_1


Gadis itu lantas mendongakkan wajahnya secara tiba-tiba dan bibir keduanya hampir saja bertabrakan.


Diam, hening dan mendebarkan, bagi gadis mungil tersebut.


"Apa, begini caramu menggoda para pria di club malam? Gadis nakal." Nada ucapan Lion begitu berat di atas wajah gadis tersebut hingga hembusan nafas hangat Lion, dapat gadis itu rasakan dengan perasaan mendebarkan.


"Katakan! Apa, kau belum puas menggoda para pria di tempat kau menjual diri?" Sarkas Lion dengan senyum mencemooh.


Gadis itu hanya bisa menahan rasa sakit hatinya atas ucapan sarkas Lion.


Dadanya terasa tertimpa batu besar, teras begitu menyesakkan. Apa yang pria ini ketahuan, tentang kehidupannya yang begitu memilukan pun berat.


Ia harus bekerja keras, banting tulang untuk menghidupi keluarganya dan juga membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan.


Ia hanya bekerja di klub sebagai, pembersih toilet dan sesekali menjadi bartender di meja bar.


Ia butuh biaya banyak untuk pengobatan ibunya yang harus di operasi segera, dan ia juga harus menghidupi kedua adik perempuannya yang masih sekolah di tinggal awal dan akhir.


Sedangkan dirinya tidak melanjutkan pendidikannya, padahal dia mendapatkan beasiswa dari perusahaan agensi light Hugo.


Gadis berusia 18 tahun harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya, sungguh begitu miris.


Seharusnya dia masih menikmati masa remajanya dengan bersenang-senang dengan teman-temannya.


Bukan menghabiskan waktunya untuk bekerja hingga pagi buta dan hanya tertidur selama tiga jam saja.


"Katakan, berapa harga dirimu?"


"Plak, plak."


"Aku, kecewa kepadamu."


"Mo-mommy?!

__ADS_1


__ADS_2