
Nicko yang baru keluar dari toilet khusus tamu VVIP, mengernyit bingung saat keadaan ruangan yang tadinya ia habiskan untuk makan siang, kini sunyi, senyap tak berpenghuni.
"Kemana semua orang?" Tanya pada dirinya sendiri dengan mimik wajah bingung.
"Apakah, restoran ini sudah, tutup?" Monolognya lagi.
Netra dengan iris mata birunya pun merotasi sekeliling ruangan mewah tersebut, namun nihil. Ia tidak mendapati para pengunjung satu pun, hanya ada beberapa pelayan restoran yang membersihkan bekas makanan yang berserakan di lantai.
Nicko berjalan menuju pintu ruangan dengan wajah penasaran.
Ia menghentikan langkah kaki panjangnya, ketika berpapasan dengan pelayan restoran.
"Tunggu!" Sentak Nicko.
Pelayan yang membawa beberapa alat pembersih lantai, menghentikan langkahnya dan menghadapkan wajahnya kepada Nicko.
"Iya, tuan!" Sahut pelayan tersebut.
"Kenapa sunyi?" Bisiknya sambil melihat sekitar.
Pelayan itu pun mengikuti arah pandangan Nicko dengan mimik wajah bingung.
"Sunyi apa, tuan?" Tanya balik sang pelayan.
"Kuburan!" Ketus Nicko.
"Yah, ruangan ini, pemuda tampan," lanjut Nicko dengan gigi yang bergesekan.
Pelayan dengan usia remaja itu pun tersipu dipuji tampan oleh seorang pria yang jauh lebih tampan darinya.
Namun tiba-tiba, raut wajahnya menjadi ketakutan, saat menyadari sesuatu.
"Kenapa, dia menyebutku, tampan? Jangan-jangan, dia …." Ucapan pria itu pun terhenti dan menelisik penampilan Nicko yang kebetulan mengganti pakaian dengan kaos ketat pemberian sang manajer restoran.
"Oh Tuhan, apa dia salah satu pria penyuka, pisang," batin sang pelayan yang menjauhkan tubuhnya sedikit demi sedikit dari Nicko.
"A – aku tidak tahu," jawab pelayan tersebut dan berlari ketakutan.
"Hey! Kau! Kembalilah!" Teriak Nicko heran.
__ADS_1
"Dia itu kenapa?" Tanya Nicko sambil memandangi dirinya sendiri.
"Sial!" Umpatnya saat baru menyadari dirinya memakai pakaian kaos press badan.
"Kenapa, aku begitu sial hari, ini!" Sungut Nicko sambil melanjutkan langkah kaki panjangnya ke pintu keluar restoran.
"Dasar saudara laknat. Apa mereka tidak takut atau khawatir, saudara tampannya seperti diriku ini di culik." Nicko terus bersungut-sungut kesal, sembari terus merajuk langkah menuju jalan raya untuk mencari taksi.
Baru beberapa langkah Nicko berjalan, ia tiba-tiba menghentikan kaki panjangnya dan memundurkan tubuhnya dua langkah.
Ia memalingkan wajahnya ke arah samping kiri dan mata kesalnya kini berubah cerah.
Nicko menghadapkan tubuhnya dengan tatapan kagum kepada sesuatu yang begitu wow.
Nicko memiringkan kepalanya dan bersiul genit ke arah pemandangan yang mampu mencerahkan matanya.
"Wow. Pemandangan yang indah, padat, kenyal dan big full," Lirihnya dengan diiringi desisan mesum.
Tangannya pun mengikuti gerakan benda big full didepannya dengan wajah gemas.
"Ayo Nicko, majulah. Ingat apa kata, daddy. Kalau kau menemukan atau melihat pemandangan yang mampu membuat matamu berbinar terang, maka terus maju dan jangan mundur, jadilah laki-laki sejati dan jantan. Satu wanita mana cukup." Nicko bermonolog kepada dirinya sendiri mengingat pesan khusus sang daddy kepadanya.
Nicko membalikkan tubuhnya dan ia pun bercermin di dinding kaca restoran tersebut.
Ia merapikan rambut dan wajahnya, ia juga merapikan pakaian pres badannya.
"Terimakasih, dad. Karena sudah bekerja keras mencetak ku, sehingga aku setampan ini, tidak perlu diragukan lagi bibit unggul dari mu kini menurut kepada ku," Nicko terus saja berbicara sendiri memuji wajah tampannya yang sangat mirip dengan sang daddy.
"Doa' kan aku, dad," ujar Nicko dengan semangat.
"Wow, lihatlah dad, begitu besarnya dan seksi!" Bisik Nicko seakan sang daddy berada di sampingnya.
Dengan percaya dirinya Nicko melangkah mendekati wanita yang berambut panjang yang sedang memunggunginya sambil menundukkan.
Sehingga rok mininya terangkat keatas, memperlihatkan big full miliknya yang begitu Nicko kagumi.
Nicko berulang kali menelan Salivanya, saat lebih dekat dengan wanita itu, dengan kaki panjang yang terlihat mulus dan seksi.
"Ehem! Nicko berdehem untuk menekan sisi liarnya.
__ADS_1
"Hey, seksi. Eh maksud saya, hallo, nona!" Seru Nicko gugup.
"Ingat, kata daddy, kau harus sabar dan berkata lembut pun sopan," gumam Nicko.
"Selamat sore, nona, apa perlu bantuan? Saya bisa membantu anda," tawar Nicko sopan.
Alis Nicko pun menukik ke atas dengan tajam, saat tidak mendapatkan respon sedikitpun.
"Apa perempuan ini, tuli?" Gumamnya bingung.
Dengan berani Nicko menyentuh pundak terbuka wanita itu dengan lembut.
"Non …."
"AKHH"
"Mommy, kaum Jojo ada di sini!"
Nicko pun segera berlari saat melihat wajah yang ia kira wanita cantik itu, yang ternyata seorang wanita cantik berjenggot dan berkumis.
Nicko berlari dengan tubuh bergidik ngeri.
"Oh astaga, itu tadi apa? Kenapa dia terlihat seksi dari belakang. Dan terlihat amit-amit dari depan. Ujar Nicko sambil mengusap dadanya.
Ia kini berhenti di pinggir jalan raya, memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas di hadapannya.
Tanpa melihat keadaan taksi, Nicko pun membuka pintu dan duduk dengan tenang di dalam sana.
Taksi itu pun bergerak membawa Nicko dari kawasan restoran.
Pria tampan itu pun menarik nafas leganya sambil menyandarkan punggungnya di belakang kursi penumpang, dengan tangan kanannya yang ia rentangkan.
Alis tebalnya pun mengkerut bingung saat tangannya merasakan benda kasar di sebelahnya.
Ia pun menoleh ke arah samping dan ….
"AKHH!"
"Mommy!"
__ADS_1