Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 10


__ADS_3

Sila menyiapkan baju Andra yang ia ambil dari kamar utama. Bahagia sekali rasanya saat ia bisa kembali melayani suaminya, ini seperti mimpi. Orang yang sangat ia sayangi sekarang kembali ke pelukannya.


"Pakailah, setelah kamu rapi, kita akan menemui anak-anak di kamarnya. Jam segini mereka belum bangun, Mas." Ujar Sila saat melihat Andra keluar dari kamar mandi, dengan lilitan handuk putih di pinggang dan tangannya mengeringkan rambutnya dengan handuk warna senada.


"Baiklah. Aku senang sekali bisa menemui mereka. Apa mereka masih ingat aku ya? Kamu tahu kan, bekas luka di wajahku ini mrmbuatku sangat jelek," Ternyata Andra tidak menyukai adanya bekas luka yang menempel di pipinya.Bahkan itu membuatnya tidak pede.


"Kalau kamu merasa terganggu, minggu depan kita operasi saja wajah kamu, Mas. Biar wajahmu kembali seperti di awal. Anak-anak selama ini di asuh sama kak Andre, dia sering ke sini dan anak-anak memanggil dia dengan sebutan ayah," Sila dengan sedih memceritakan itu pada Andra.


"Memangnya, siapa kak Andre?"


"Dia kakak kembar kamu, Mas. Anak-anak mengira dia ayahnya karena foto maternity kita yang ku pajang di kamar mereka,"


"Aku punya kakak kembar, ya? Indah sekali sepertinya hidupku di masalalu. Apakah aku masih punya ayah dan ibu?" Andra ingin tahu semuanya. Kalau ia memang memilikinya, ia ingin segera bertemu dengan mereka.


"Punya, mereka masih komplit. Kamu pasti ingin bertemu dengan mereka, kan?" Sila menatap kedua mata Andra. Sila memandang sinar mata yang dulu selalu menatapnya dengan teduh.


Tiba-tiba Sila memeluk Andra kuat. Ia tidak rela jika semuanya hanya sebuah mimpi. Andra membalas pelukan Sila. Ia paham, pasti ia sangat rindu setelah 3 tahun mereka berpisah. Andra tidak menyangka, ternyata ia mempunyai seorang istri yang sangat setia.


"Kenapa kamu tiba-tiba peluk?"


"Takut cuma mimpi,"


"Pasti mencariku dalam waktu yang lama, buat kamu sedih, ya?"


"Kadang, aku sampai merasa tidak yakin lagi, kamu masih ada. Saat itu, aku akan menceburkan diriku ke sungai, karena aku kira kamu di buang ke sana, kalau itu terjadi, kemungkinan besar kita tidak akan bertemu lagi,"


"Aku minta maaf, Sila. Kalau selama kepergianku, banyak menyusahkan kamu. Aku tidak menyangka, aku memiliki istri sebaik kamu. Masih setia menanti meskipun aku sudah 3 tahun menghilang,"


"Memang berat, Mas. Saat aku yang terbiasa kamu manjakan berubah harus bekerja dan juga mengurus panti seorang diri, di tambah mengurus si kembar. Semua itu memang terasa berat, Mas."


"Sekarang, aku ada di sini. Aku akan berusaha secepatnya pulih dan kembali mengurus semuanya, bantu aku, ya." Andra mengeratkan pelukannya pada Sila.

__ADS_1


"Udah, buruan pakai bajunya, Mas. Aku kalau di biarin bisa seharian peluk kamu terus. Alana dan Alandra menunggu kedatangan kamu," Sila beringsut menjauh dari Andra. Ia merapikan tempat tidur yang mereka tempati.


Setelah bersiap, Andra dan Sila menuju ke kamar Alana dan Alandra. Andra bertanya-tanya, seperti apa wajah kedua anaknya. Jantungnya berdegup kencang saat mereka berdua sampai di depan pintu kamar Si Kembar.


Handle pintu kamar mereka Sila tarik, Yang menarik perhatian Andra adalah Foto maternity yang di cetak besar dan pajang di dinding kamar itu. Andra memandang Sila dengan tatapan berkaca-kaca.


"Itu saat kamu hamil berapa minggu?" Tanyanya ingin tahu.


"Seingatku saat meginjak usia sembilan bulan.Saat itu kita ke studio dan bertemu dengan mbak Fotografer yang genit." Sila mengenang saat mereka berdua pergi ke studio. Saat itu Fotografernya bersikap aneh pada Andra.


"Pasti kamu cemburu, kan?" Andra menggoda Sila, wanita itu tidak menjawab dan hanya tersipu malu.


Andra meyakinkan diri untuk melangkah maju, mendekati ranjang tempat Alana dan Alandra tidur. Dia memandangi keduanya satu per satu. Ia terharu, ternyata dia adalah seorang ayah dari bocah-bocah lucu dan menggemaskan itu.


"Alana, Alandra, ini Ayah, Nak..." Air mata Andra jatuh berlinang. Dadanya terasa sangat sesak. Di angkatnya Alandra dan Alana yang masih lelap tidur bergantian dan di peluk satu per satu. Andra juga menciumi pipi keduanya.


"Maafkan ayah, Nak. Ayah lama pergi meninggalkan kalian. Ayah tidak bermaksud melakukan itu. Ayah sayang kalian berdua," Tubuh Andra terguncang karena tangisannya. Sila pun ikut menangis haru karena pemandangan ini . Ia memeluk Suaminya dari belakang.


"Tidak akan lagi, sayang. Aku akan selalu ada untuk kalian berdua, menebus kesalahanku telah meninggalkan kalian bertahun-tahun" Andra mencium kepala Sila berulang kali. cukup lama, air matanya menetes membasahi rambut istrinya yang wangi itu.


Kemesraan mereka terganggu karena suara telepon yang berdering. Sila segera berjalan ke arah telepon rumahnya di letakkan, lalu meraih gagang telepon itu dengan pasti.


"Hallo, selamat siang"


(............ .... .....)


"Iya, saya sendiri. Ada info apa, Pak?"


(...... ....... ..... .... ... )


"Pelakunya sudah di temukan?"

__ADS_1


(....... .... ..... ....)


"Baiklah, saya dan suami saya akan segera datang ke kantor polisi. Terima kasih atas infonya, Pak."


(.... ... .... ........)


Sila menaruh kembali gangang teleponnya. Ia sangat bahagia akhirnya pelaku kejahatan itu sudah terungkap sebelum ia melapor ulang. Dia penasaran siapa di balik semua ini.


"Ada apa, sayang?" Andra antusias. Ia ingin tahu apa yang di katakan seseorang di balik gagang telepon itu.


"Polisi bilang, mereka sudah menemukan siapa pelaku di balik penculikan kamu, Mas."


"Tapi kita kan belum melapor ulang?"


"Polisi mengusut kisah ini, entah siapa yang melaporkan ulang. Padahal kasusnya sudah di tutup beberapa saat yang lalu. Aku ingat, Mas. Kemungkinan yang melaporkan ulang adalah Robby."


"Siapa, Robby?"


"Dia teman baruku. Kami bertemu saat aku datang ke jembatan dimana kamu di nyatakan hilang malam itu. Istrinya meninggal di sungai tepat di bawah jembatan,"


"Bolehkah aku bertemu dengan dia?"


"Tentu saja, Mas. Kita semua akan bertemu nanti. Ayo kita pergi sarapan dulu, Mas. Setelah itu kita akan segera ke kantor polisi untuk memastikan siapa yang melakukan semua ini."


"Baiklah, Ayo..."


Sila menggandeng mesra Andra turun menuju ruang makan. Di sana Minah sedang menghidangkan makanan.


"Nyonya, apakah itu tuan?" Minah kaget dan mengamati pria yang ada di samping majikanya itu.


"Benar. Ini Andra, suamiku. Aku telah menemukannya lagi, Minah. Jangan dulu beritahu nyonya dan tuan besar. Aku akan memberitahunya sendiri,"

__ADS_1


"Baik, tuan, nyonya, silahkan sarapan," Minah berjalan cepat menuju dapur. Sebenarnya ia tidak yakin itu tuannya. Wajahnya yang dulu sangat tampan, berubah bercodet seperti itu.


__ADS_2