
Jam makan malam...
Sila telah siap dengan dandanan
terbaiknya, malam itu ia dandan semaksimal mungkin untuk pergi makan malam
berdua dengan Andra. Lagi-lagi dejavu, Andra memilih gaun berwarna merah
untuknya. Ia jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat ia akan
mengadakan pertemuan dengan Andra. Seorang kurir mengantarkan sebuah gaun berwarna merah ke rumahnya yang
ternyata pemberian Andre untuknya.
Andra yang menunggunya di bawah
sangat terpana dengan penampilan Sila malam itu. Ia sangat cantik di mata
Andra. Lelaki itu hampir saja tak berkedip memandangnya. Ia juga menyambut Sila
dengan senyumannya. Malam itu, Sila
bagaikan bidadari di mata Andra.
“Siap tuan putri?” Andra
menjulurkan tangannya untuk menantikan sambutan dari Sila. Tanpa ragu, Sila
menyambut uluran tangan Andra.
“Kau sangat cantik, malam ini,
Sayang...” pujinya, membuat Sila sedikit tersipu.
“Kamu juga sangat tampan malam ini,
ayo kita berangkat,” Sila menyelesaikan langkanya di dua anak tangga terakhir.
Ia lalu merangkul lengan Andra dan mengiringi langkah lelaki itu.
Andra sangat menyukai aroma
parfum yang di pakai oleh Sila. Aromanya begitu menenangkan, hingga membuai perasaan. Sesampainya di dekat
mobil Sila segera di bukakan pintu oleh
Andra.
“Silahkan tuan putri,” Andra
mempersilahkan Sila untuk segera masuk ke dalam mobil. Ia segera masuk ke dan
menempatkan diri dengan anggun di samping tempat duduk Andra. Pria itu segera
menyusul dan menempatkan diri di belakang kemudi.
Sepanjang perjalanan mereka
memperbincangkan berbagai macam hal. Menurut Sila, ada banyak hal yang berubah
setelah Andra kembali. Cara bicaranya lebih lepas dan berbeda dengan saat
sebelum ia pergi ke Amerika. Tapi Sila tidak mempermasalahkan hal itu.
“Lain kali aku mau ke Amerika
juga, Mas. Mendengar cerita kamu kayaknya di sana seru. Aku tertarik untuk
berkunjung,” ujar Sila saat mendengar penuturan Andra tentang keindahan kota di
sana.
“Tentu saja, lain kali aku pasti
akan mengajakmu untuk pergi ke sana. Aku akan mengajakmu jalan-jalan keliling
tempat-tempat yang menarik untuk di kunjungi,” Andra menjanjikan dirinya untuk membawa Sila berkunjung ke tempat tinggal
kakeknya itu.
“Bener, ya. Aku akan menagihnya
nanti. Mas mau mengajakku makan malam di mana?” Sila menanyakan kemana mereka
akan pergi makan malam karena jalan yang mereka lalui sangat asing. Ia takut Andra hanya asal pergi ke suatu
__ADS_1
tempat.
“Aku punya tempat makan
rekomendasi dari kak Andre, katanya tempatnya cukup romantis untuk kencan
berdua. Cahayanya redup, hanya ada lilin-lilin yang membuat suasana makan
menjadi lebih romantis.
“Jadi selama kalian bersama,
kalian saling berbagi tips romantis nih? Sampai tempat makan juga dapat ide dari
dia?” Sila sedikit merasa aneh, tapi ya.. sudahlah, ia tidak mungkin akan
berdebat dengan Andra di saat akan makan
malam seperti ini.
“Begitulah, Sayang. Aku belajar
banyak dari kakak. Apan lagi kami bisa berbagi pengalaman, kan? Kami bercerita
banyak hal, aku sangat menikmati kebersamaanku dengan kakak. Aku baru sadar,
meskipun kami sering berbeda pandangan, dia tetaplah kakakku yang terbaik
sepanjang masa,” tanpa sadar, Sila
melihat ada air mata yang meluncur dari sudut mata Andra, padahal saat itu suasananya
tidak sedang sedih. Ia tiba-tiba sangat menghayati kebersamaannya dengan
kakaknya.
“Jangan sedih, Mas. Kenapa kamu
mendadak sedih karena mengenang kakak? Bukankah kalian pasti akan bertemu lagi,
kan? Kakak dan adik memang kadang suka saling sayang di saat tertentu,” Sila
menatap Andra iba. Ia baru kali ini memandangnya begitu sangat menyayangi
Andre.
karena setelah sekian lama, akhirnya keduanya bisa saling membaur kembali.
Mereka sudah bisa melupakan perasaan mereka yang sama-sama tertuju pada Sila.
Melihat Andra yang tampak perduli dengan saudara kembarnya seperti ini
membuatnya merasa tenang.
“Dia kemungkinan akan lama di
sana, aku pasti akan sangat merindukannya. Kemarin, kami sempat membicarakan banyak hal yang selama ini tidak pernah
kami bicarakan berdua. Ternyata, kami cukup banyak membuang waktu untuk saling mengabaikan. Seandainya waktu dapat di putar kembali, aku
tidak akan pernah mengabaikan dia seperti saat yang telah berlalu,” Mata Andra
berkaca-kaca. Sila yang mendengarkan kalimat yang terucap dari bibir suaminya
itu pun merasa trenyuh.
“Untuk ke depan, semuanya bisa di
perbaiki kalau begitu. Kalian berdua bisa menjadi saudara yang saling mendukung
dan saling perhatian. Dengan begitu, mama dan papa pasti akan bahagia karena
kalian kompak. Semuanya belum terlambat. Masih ada banyak waktu,” Sila mencoba
memotivasi Andra, ia senang, saudara kembar itu akan menjadi akrab di masa
depan.
“Kamu benar, Sila. Aku akan
selalu baik dan perhatian padanya. Meskipun dia jauh, aku akan mengirimkannya
do’a, agar dia bahagia di sana. Segala urusannya dapat di selesaikan dengan
cepat,” Menurut Andra, itulah hal yang bisa di lakukan saat jauh dengan
__ADS_1
seseorang. Meskipun jauh, sebuah do’a pasti akan sampai.
“Aku senang sekali dengan
perubahan yang terjadi padamu, Mas. Semoga perdamaian kalian abadi, ya. Kalian bisa menjadi saudara kembar
yang saling mendukung satu sama lain,” Sila mengembangkan senyum manis di
bibirnya.
Andra mengaminkan ucapan Sila. Sebagai
dua saudara kembar memang sudah selayaknya mereka berdua saling mendukung.
Bukan seperti yang telah terjadi selama ini. Saling berseteru, berbeda
pendapat, saling diam, hanya karena persamaan perasaan yang membuat perbedaan.
“Apakah tempat makannya sudah
dekat? Sepertinya jauh sekali, Mas...”
“Sebentar lagi, tempatnya hanya
sekitar seratus meter dari sini,”
“Aku bahagia, seperti mimpi.
Setelah sekian lama kita tidak makan malam romantis, akhirnya malam ini kita
bisa makan malam berdua,” Sila memang tidak pernah menyangka akan makan malam
setelah sekian lama. Sudah sangat lama, sampai ia lupa bagaimana rasanya makan
malam dengan suaminya.
Meskipun sebenarnya Sila masih
merasa trauma saat pergi ke tempat makan. Ia takut, ia akan mengalami kejadian
seperti beberapa saat lalu. Pengawalan saat pergi memang masih tetap di lakukan
hanya saja, seperti saat itu, Sila tidak yakin lagi kalau penjagaan itu tidak
membuat mereka merasa lebih aman.
“Sudah sangat lama, tentu saja,
Sayang. Kita sudah terjeda selama tiga tahun. Momen ini akan menjadi momen yang
tidak akan terlupakan, bahkan mungkin hampir sama dengan saat pertama kali kita
bertemu,” ungkap Andra. Malam ini adalah malam penebusan kesalahannya. Ia ingin
membuat Sila tersenyum meskipun hanya dengan cara yang sederhana.
Membuat bahagia Sila mungkin
tidak akan sulit, hanya saja wanita itu sulit di tebak. Terkadang hanya untuk
masalah kecil saja, mereka bisa sampai meledak-ledak tanpa sebab yang pasti.
Tapi keributan adalah seni dalam menjakin sebuah hubungan. Semakin banyak
bertengkar, maka akan semakin besar rasa rindu saat dia tidak ada.
“Kamu benar juga, Mas. Setelah
tiga tahun kita berpisah, tentu saja momen ini akan menjadi momen yang sangat
indah untuk kita berdua,” Sila sangat antusias
sekali memikirkan keromantisan makan malam mereka nanti.
Akhirnya mereka berdua tiba juga
di tempat yang di tuju. Tidak salah
lagi, tempat itu benar-benar romantis. Sila sangat terpukau melihatnya.
Senyumnya mengembang, Andra bahagia
melihat wanita yang di cintainya bahagia.Andra menggandeng mesra Sila masuk ke
dalam resto itu.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke my
workaholic husband, teman-teman...