Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 48


__ADS_3

Jam makan malam...


Sila telah siap dengan dandanan


terbaiknya, malam itu ia dandan semaksimal mungkin untuk pergi makan malam


berdua dengan Andra. Lagi-lagi dejavu, Andra memilih gaun berwarna merah


untuknya. Ia jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu, saat ia akan


mengadakan pertemuan dengan Andra.  Seorang kurir mengantarkan sebuah gaun berwarna merah ke rumahnya yang


ternyata pemberian Andre untuknya.


Andra yang menunggunya di bawah


sangat terpana dengan penampilan Sila malam itu. Ia sangat cantik di mata


Andra. Lelaki itu hampir saja tak berkedip memandangnya. Ia juga menyambut Sila


dengan senyumannya.  Malam itu, Sila


bagaikan bidadari di mata Andra.


“Siap tuan putri?” Andra


menjulurkan tangannya untuk menantikan sambutan dari Sila. Tanpa ragu, Sila


menyambut uluran tangan Andra.


“Kau sangat cantik, malam ini,


Sayang...” pujinya, membuat Sila sedikit tersipu.


“Kamu juga sangat tampan malam ini,


ayo kita berangkat,” Sila menyelesaikan langkanya di dua anak tangga terakhir.


Ia lalu merangkul lengan Andra dan mengiringi langkah lelaki itu.


Andra sangat menyukai aroma


parfum yang di pakai oleh Sila. Aromanya begitu menenangkan,  hingga membuai perasaan. Sesampainya di dekat


mobil Sila segera  di bukakan pintu oleh


Andra.


“Silahkan tuan putri,” Andra


mempersilahkan Sila untuk segera masuk ke dalam mobil. Ia segera masuk ke dan


menempatkan diri dengan anggun di samping tempat duduk Andra. Pria itu segera


menyusul dan menempatkan diri di belakang kemudi.


Sepanjang perjalanan mereka


memperbincangkan berbagai macam hal. Menurut Sila, ada banyak hal yang berubah


setelah Andra kembali. Cara bicaranya lebih lepas dan berbeda dengan saat


sebelum ia pergi ke Amerika. Tapi Sila tidak mempermasalahkan hal itu.


“Lain kali aku mau ke Amerika


juga, Mas. Mendengar cerita kamu kayaknya di sana seru. Aku tertarik untuk


berkunjung,” ujar Sila saat mendengar penuturan Andra tentang keindahan kota di


sana.


“Tentu saja, lain kali aku pasti


akan mengajakmu untuk pergi ke sana. Aku akan mengajakmu jalan-jalan keliling


tempat-tempat yang menarik untuk di kunjungi,”  Andra menjanjikan dirinya untuk membawa Sila berkunjung ke tempat tinggal


kakeknya itu.


“Bener, ya. Aku akan menagihnya


nanti. Mas mau mengajakku makan malam di mana?” Sila menanyakan kemana mereka


akan pergi makan malam karena jalan yang mereka lalui sangat asing.  Ia takut Andra hanya asal pergi ke suatu

__ADS_1


tempat.


“Aku punya tempat makan


rekomendasi dari kak Andre, katanya tempatnya cukup romantis untuk kencan


berdua. Cahayanya redup, hanya ada lilin-lilin yang membuat suasana makan


menjadi lebih romantis.


“Jadi selama kalian bersama,


kalian saling berbagi tips romantis nih? Sampai tempat makan juga dapat ide dari


dia?” Sila sedikit merasa aneh, tapi ya.. sudahlah, ia tidak mungkin akan


berdebat  dengan Andra di saat akan makan


malam seperti ini.


“Begitulah, Sayang. Aku belajar


banyak dari kakak. Apan lagi kami bisa berbagi pengalaman, kan? Kami bercerita


banyak hal, aku sangat menikmati kebersamaanku dengan kakak. Aku baru sadar,


meskipun kami sering berbeda pandangan, dia tetaplah kakakku yang terbaik


sepanjang masa,”  tanpa sadar, Sila


melihat ada air mata yang meluncur dari sudut mata Andra, padahal saat itu suasananya


tidak sedang sedih. Ia tiba-tiba sangat menghayati kebersamaannya dengan


kakaknya.


“Jangan sedih, Mas. Kenapa kamu


mendadak sedih karena mengenang kakak? Bukankah kalian pasti akan bertemu lagi,


kan? Kakak dan adik memang kadang suka saling sayang di saat tertentu,” Sila


menatap Andra iba. Ia baru kali ini memandangnya begitu sangat menyayangi


Andre.


karena setelah sekian lama, akhirnya keduanya bisa saling membaur kembali.


Mereka sudah bisa melupakan perasaan mereka yang sama-sama tertuju pada Sila.


Melihat Andra yang tampak perduli dengan saudara kembarnya seperti ini


membuatnya merasa tenang.


“Dia kemungkinan akan lama di


sana, aku pasti akan sangat merindukannya. Kemarin, kami sempat  membicarakan banyak hal yang selama ini tidak pernah


kami bicarakan berdua. Ternyata, kami cukup banyak membuang  waktu untuk saling mengabaikan.  Seandainya waktu dapat di putar kembali, aku


tidak akan pernah mengabaikan dia seperti saat yang telah berlalu,” Mata Andra


berkaca-kaca. Sila yang mendengarkan kalimat yang terucap dari bibir suaminya


itu pun merasa trenyuh.


“Untuk ke depan, semuanya bisa di


perbaiki kalau begitu. Kalian berdua bisa menjadi saudara yang saling mendukung


dan saling perhatian. Dengan begitu, mama dan papa pasti akan bahagia karena


kalian kompak. Semuanya belum terlambat. Masih ada banyak waktu,” Sila mencoba


memotivasi Andra, ia senang, saudara kembar itu akan menjadi akrab di masa


depan.


“Kamu benar, Sila. Aku akan


selalu baik dan perhatian padanya. Meskipun dia jauh, aku akan mengirimkannya


do’a, agar dia bahagia di sana. Segala urusannya dapat di selesaikan dengan


cepat,” Menurut Andra, itulah hal yang bisa di lakukan saat jauh dengan

__ADS_1


seseorang. Meskipun jauh, sebuah do’a pasti akan sampai.


“Aku senang sekali dengan


perubahan yang terjadi padamu, Mas.  Semoga perdamaian kalian abadi, ya. Kalian bisa menjadi saudara kembar


yang saling mendukung satu sama lain,” Sila mengembangkan senyum manis di


bibirnya.


Andra mengaminkan ucapan Sila. Sebagai


dua saudara kembar memang sudah selayaknya mereka berdua saling mendukung.


Bukan seperti yang telah terjadi selama ini. Saling berseteru, berbeda


pendapat, saling diam, hanya karena persamaan perasaan yang membuat perbedaan.


“Apakah tempat makannya sudah


dekat? Sepertinya jauh sekali, Mas...”


“Sebentar lagi, tempatnya hanya


sekitar seratus meter dari sini,”


“Aku bahagia, seperti mimpi.


Setelah sekian lama kita tidak makan malam romantis, akhirnya malam ini kita


bisa makan malam berdua,” Sila memang tidak pernah menyangka akan makan malam


setelah sekian lama. Sudah sangat lama, sampai ia lupa bagaimana rasanya makan


malam dengan suaminya.


Meskipun sebenarnya Sila masih


merasa trauma saat pergi ke tempat makan. Ia takut, ia akan mengalami kejadian


seperti beberapa saat lalu. Pengawalan saat pergi memang masih tetap di lakukan


hanya saja, seperti saat itu, Sila tidak yakin lagi kalau penjagaan itu tidak


membuat mereka merasa lebih aman.


“Sudah sangat lama, tentu saja,


Sayang. Kita sudah terjeda selama tiga tahun. Momen ini akan menjadi momen yang


tidak akan terlupakan, bahkan mungkin hampir sama dengan saat pertama kali kita


bertemu,” ungkap Andra. Malam ini adalah malam penebusan kesalahannya. Ia ingin


membuat Sila tersenyum meskipun hanya dengan cara yang  sederhana.


Membuat bahagia Sila mungkin


tidak akan sulit, hanya saja wanita itu sulit di tebak. Terkadang hanya untuk


masalah kecil saja, mereka bisa sampai meledak-ledak tanpa sebab yang pasti.


Tapi keributan adalah seni dalam menjakin sebuah hubungan. Semakin banyak


bertengkar, maka akan semakin besar rasa rindu saat dia tidak ada.


“Kamu benar juga, Mas. Setelah


tiga tahun kita berpisah, tentu saja momen ini akan menjadi momen yang sangat


indah untuk  kita berdua,” Sila sangat antusias


sekali memikirkan keromantisan makan malam mereka nanti.


Akhirnya mereka berdua tiba juga


di tempat  yang di tuju. Tidak salah


lagi, tempat itu benar-benar romantis. Sila sangat terpukau melihatnya.


Senyumnya mengembang,  Andra bahagia


melihat wanita yang di cintainya bahagia.Andra menggandeng mesra Sila masuk ke


dalam resto itu.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke my


workaholic husband, teman-teman...


__ADS_2