Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 52


__ADS_3

Sila menyibukkan diri dengan


berdandan sambil menunggu Andra kembali. Hari mulai gelap, tapi yang di


tunggunya tak kunjung pulang. Suhu udara yang menurun membuat Sila sedikit


kedinginan karena gaunnya yang sedikit terbuka.  Ia menunggu Andra di depan Villa, sebentar-sebentar hembusan angin


menerpanya. Membuat rambutnya yang terurai sedikit berantakan.


Perlahan dari kejauhan, ia melihat


sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang ke arah Villa, ada Andra di


jok belakang.  Ia menenteng beberapa


kantong plastik yang berisi makanan. Ia turun dari sepeda motor dengan wajah


sumringah. Setelah membagi makanan dengan Pak Asep, Andra segera mendatangi


Sila yang memang telah menanti kedatangannya.


“Maaf, aku pergi, nggak bilang


sama kamu,” ujar Andra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit


merasa bersalah karena harus membuat Sila menunggu terlalu lama.


“Nggak masalah. Aku hanya


khawatir saja, kenapa sampai hari mulai gelap seperti ini, kamu belum juga


kembali, aku takut terjadi sesuatu. Namanya juga bukan di daerah sendiri. “


tentu saja Sila sangat menghawatirkan keadaan Andra. Ia tidak ingin hal buruk


terjadi, apalagi hari mulai gelap.


“Aku hanya pergi membeli makanan


dengan Pak Asep. Ayo kita masuk,” Andra menggandeng satu tangan Sila dan satu


tangannya lagi menenteng keresek yang berisi makanan tadi. Sila mengikuti


langkah Andra perlahan.


“ kamu beli makanan apa, Mas? Aku


tadi sudah masak sedikit untuk makan malam kita.”


“Gapapa, biar makin lengkap makan


malam kita, sayang.  Aku beli beberapa


buah makanan. Semoga kamu suka.”  Mereka


berdua sampai di meja makan. Andra duduk dan Sila menyiapkan semua makanan yang


akan mereka nikmati.


“Mas, aku  tadi buat jus, nanti kita minum sambil


menonton tv. Aku buatnya dengan penuh cinta, jadi kamu harus mencobanya.” Sila


memang  terkesan sedikit memaksa, tapi


tanpa di paksa pun, Andra akan dengan senang hati melakukannya.


“Baiklah, aku pasti akan


meminumnya nanti.”


Sementara  itu...


“Kenapa semenjak pindah ka rumah


kakeknya, Bang Andre jadi susah di hubungi, ya? Apa dia jadi banyak pekerjaan


dan sbuk setelah di sana? Aku rindu sekali dengan dia. Apa jangan-jangan Bang

__ADS_1


Andre hanya mempermainkan perasaanku? Aduh! Stop berpikiran negatif Febbi, dia


bukan tipe orang yang seperti itu.” Febbi uring-uringan sendiri, tidak ia


sadari kalau Ria, adik sepupunya yang sedang berkunjung ke tempat kosnya  memperhatikannya sejak tadi.


“Ngapain, Kak? Dari tadi natap


layar ponsel sambil ngomel-ngomel,  hayo.. galau, ya?” komentarnya  melihat Febbi yang tidak henti menatap layar ponsel dengan gelisah.


“Aku memag lagi galau, Ri. Cowok yang


aku suka akhir-akhir ini ga bisa di hubungi. Padahal, kita nggak ada masalah


apapun sebelumnya.  Apa, aku ada salah


ya, tapi... dimana letak kesalahanku?” Febbi bingung dan bertanya-tanya,


kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga Andre berubah terhadapnya.


“Mungkin, cowok itu sudah punya


pacar baru, makanya kamu di lupakan sama dia,”


“Tapi dia bukan tipe orang yang


seperti itu, dia juga nggak mau pacaran, kalau  cocok, ia pengennya segera menikah saja kalau sudah cocok,” Febbi


mencoba memberikan pembelaan terhadap Andre. Meskipun belum lama mengenalnya,


tapi  Febbi tahu, Andre tidak sedang


membohonginya. Ia pasti punya alasan untuk ini, dan mungkin akan segera di


ketahuinya nanti.


“Berapa lama kakak kenal dia?


Sampai kakak percaya banget, gitu? Cowok udah biasa, bicara A nyatanya B. Jadi,


kakak harus pintar-pintar dalam menilai seseorang, Kak. Kalau sudah seperti


Ria membuat telinga Febbi sedikit panas. Bagaimanapun juga, ia masih


perduli  pada Andre, dan ia juga yakin,


Andre tidak mungkin membohonginya.


“Meskipun aku baru kenal dengan


dia, aku percaya sama dia. Pasti ada alasan lain yang membuat dia menghilang


seperti sekarang ini. Hanya butuh waktu untuk mendapatkan jawaban itu. Aku


hanya perlu sedikit bersabar untuk mendapatkan jawabannya.” Febbi tetap


bersikeras membela Andre. Dia juga tidak mengerti mengapa keyakinannya begitu


kuat terhadap Andre.


“Susah, ya. Kalau bicara sama


orang yang sedang jatuh cinta. Bawaannya pasti di belain melulu. Kalau begitu,


buktikan saja, dia beneran punya wanita lain, atau dia memang sedang ada masalah.”


Tentu saja Ria sedikit kesal, karena Febbi tidak mau mendengarka kata-katanya.


Ia hanya tidak ingin sepupunya terluka karena seorang lelak yang baru saja di


kenalnya.


“Ini bukan masalah jatuh cinta,


Ri. Tapi ini adalah masalah kepercyaan. Aku  masih belum bisa percaya kalau dia membohongi aku,”Febbi melempar


ponselnya ke kasur, lalu ia mrebahkan dirinya dengan sedikit kasar. Matanya


menerawang ke langit-langit kamar.

__ADS_1


Di dalam ingatannya, terlintas


banyak sekali kenangan kebersamaannya dengan Andre. Rasanya sangat membekas dan


sulit di lupakan. Meskipun di antara merek belum ada ikatan apapun, tapi Febbi


bisa merasakan kalau Andre juga mempunyai  perasaan yang sama dengan dirinya.


Dia teringat candaan mereka saat


di pesawat, kalau ia berhasil membuat Andre jatuh cinta, maka pria itu akan


menikahinya. Meskipun itu hanya candaan,  tapi semua pernyataan tersebut , masih


tersimpan rapi didalam ingatannya.


“Terus, kalau ternyata dia


bohongi kakak, kakak mau apa?” pertanyaan Ria membuat Febbi tertegun, meskpun


sedkt, ia juga patut memikirkan, bagaimana kalau faktanya, dia memang


berbohong.


“Aku akan pergi dari hidupnya,


dan mencari lelaki lain,” jawabnya singkat, meskipun jawaban itu tidak benar-benar


keluar dari hatinya. Tentu saja tidak semudah itu ia bisa melupakan sososk pria


yang  ia kagumi.


Di Villa...


“Sayang, ini jus yang aku bilang


tadi. Memang nggak cocok, di udara dingin begini malah minum jus. Harusnya,


kopi atau teh.” Sila menyerahkan segelas jus pada Andra dan lelaki itu


menerimanya.


“Nggak apa-apa sayang. Aku malah


senang, kamu buatkan jus buat aku. Apapun yang kamu buat, aku akan memakan dan


meminumnya dengan senang hati.” Sahut Andra dengan gembira, ia lalu mulai


meneguk minuman pemberian istrinya. Sila juga meminum jus yang sama.


Mereka berdua menonton tv di


kamar mereka. Kamar yang cukup luas itu sengaja di atur agar bisa senyaman


mungkin untuk di huni. Keduanya saling bertukar cerita, terutama tentang daerah


itu, dan warung yang baru ia kunjungi bersama Pak Asep.


Beberapa saat kemudian, reaksi


dari obat yang di masukkan oleh Sila ke dalam jus mulai terlihat. Keduanya


mulai gelisah,  Andra yang biasanya tdak


pernah memperhatikan secara detail penampilan Sila akhir-akhir ini, kali ini ia


memandangi Sila lekat-lekat.


“Sila, kau sangat cantik, malam


ini...” katanya sedikit bergetar sambil membelai rambut Sila perlahan. Andra


memandang lembut kedua bola mata Sila, mereka berdua saling tidak mampu lagi


mengalihkan pandangan.  Pria itu


mendekatkan wajahnya ke wajah Sila dan mendaratkan ciuman lembut di bibir


wanita itu. Keduanya tenggelam dalam hasrat mereka masing-masing dan menjadikan

__ADS_1


malam itu sangat panjang dan penuh keromantisan.


__ADS_2