
Sila menyibukkan diri dengan
berdandan sambil menunggu Andra kembali. Hari mulai gelap, tapi yang di
tunggunya tak kunjung pulang. Suhu udara yang menurun membuat Sila sedikit
kedinginan karena gaunnya yang sedikit terbuka. Ia menunggu Andra di depan Villa, sebentar-sebentar hembusan angin
menerpanya. Membuat rambutnya yang terurai sedikit berantakan.
Perlahan dari kejauhan, ia melihat
sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan sedang ke arah Villa, ada Andra di
jok belakang. Ia menenteng beberapa
kantong plastik yang berisi makanan. Ia turun dari sepeda motor dengan wajah
sumringah. Setelah membagi makanan dengan Pak Asep, Andra segera mendatangi
Sila yang memang telah menanti kedatangannya.
“Maaf, aku pergi, nggak bilang
sama kamu,” ujar Andra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit
merasa bersalah karena harus membuat Sila menunggu terlalu lama.
“Nggak masalah. Aku hanya
khawatir saja, kenapa sampai hari mulai gelap seperti ini, kamu belum juga
kembali, aku takut terjadi sesuatu. Namanya juga bukan di daerah sendiri. “
tentu saja Sila sangat menghawatirkan keadaan Andra. Ia tidak ingin hal buruk
terjadi, apalagi hari mulai gelap.
“Aku hanya pergi membeli makanan
dengan Pak Asep. Ayo kita masuk,” Andra menggandeng satu tangan Sila dan satu
tangannya lagi menenteng keresek yang berisi makanan tadi. Sila mengikuti
langkah Andra perlahan.
“ kamu beli makanan apa, Mas? Aku
tadi sudah masak sedikit untuk makan malam kita.”
“Gapapa, biar makin lengkap makan
malam kita, sayang. Aku beli beberapa
buah makanan. Semoga kamu suka.” Mereka
berdua sampai di meja makan. Andra duduk dan Sila menyiapkan semua makanan yang
akan mereka nikmati.
“Mas, aku tadi buat jus, nanti kita minum sambil
menonton tv. Aku buatnya dengan penuh cinta, jadi kamu harus mencobanya.” Sila
memang terkesan sedikit memaksa, tapi
tanpa di paksa pun, Andra akan dengan senang hati melakukannya.
“Baiklah, aku pasti akan
meminumnya nanti.”
Sementara itu...
“Kenapa semenjak pindah ka rumah
kakeknya, Bang Andre jadi susah di hubungi, ya? Apa dia jadi banyak pekerjaan
dan sbuk setelah di sana? Aku rindu sekali dengan dia. Apa jangan-jangan Bang
__ADS_1
Andre hanya mempermainkan perasaanku? Aduh! Stop berpikiran negatif Febbi, dia
bukan tipe orang yang seperti itu.” Febbi uring-uringan sendiri, tidak ia
sadari kalau Ria, adik sepupunya yang sedang berkunjung ke tempat kosnya memperhatikannya sejak tadi.
“Ngapain, Kak? Dari tadi natap
layar ponsel sambil ngomel-ngomel, hayo.. galau, ya?” komentarnya melihat Febbi yang tidak henti menatap layar ponsel dengan gelisah.
“Aku memag lagi galau, Ri. Cowok yang
aku suka akhir-akhir ini ga bisa di hubungi. Padahal, kita nggak ada masalah
apapun sebelumnya. Apa, aku ada salah
ya, tapi... dimana letak kesalahanku?” Febbi bingung dan bertanya-tanya,
kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga Andre berubah terhadapnya.
“Mungkin, cowok itu sudah punya
pacar baru, makanya kamu di lupakan sama dia,”
“Tapi dia bukan tipe orang yang
seperti itu, dia juga nggak mau pacaran, kalau cocok, ia pengennya segera menikah saja kalau sudah cocok,” Febbi
mencoba memberikan pembelaan terhadap Andre. Meskipun belum lama mengenalnya,
tapi Febbi tahu, Andre tidak sedang
membohonginya. Ia pasti punya alasan untuk ini, dan mungkin akan segera di
ketahuinya nanti.
“Berapa lama kakak kenal dia?
Sampai kakak percaya banget, gitu? Cowok udah biasa, bicara A nyatanya B. Jadi,
kakak harus pintar-pintar dalam menilai seseorang, Kak. Kalau sudah seperti
Ria membuat telinga Febbi sedikit panas. Bagaimanapun juga, ia masih
perduli pada Andre, dan ia juga yakin,
Andre tidak mungkin membohonginya.
“Meskipun aku baru kenal dengan
dia, aku percaya sama dia. Pasti ada alasan lain yang membuat dia menghilang
seperti sekarang ini. Hanya butuh waktu untuk mendapatkan jawaban itu. Aku
hanya perlu sedikit bersabar untuk mendapatkan jawabannya.” Febbi tetap
bersikeras membela Andre. Dia juga tidak mengerti mengapa keyakinannya begitu
kuat terhadap Andre.
“Susah, ya. Kalau bicara sama
orang yang sedang jatuh cinta. Bawaannya pasti di belain melulu. Kalau begitu,
buktikan saja, dia beneran punya wanita lain, atau dia memang sedang ada masalah.”
Tentu saja Ria sedikit kesal, karena Febbi tidak mau mendengarka kata-katanya.
Ia hanya tidak ingin sepupunya terluka karena seorang lelak yang baru saja di
kenalnya.
“Ini bukan masalah jatuh cinta,
Ri. Tapi ini adalah masalah kepercyaan. Aku masih belum bisa percaya kalau dia membohongi aku,”Febbi melempar
ponselnya ke kasur, lalu ia mrebahkan dirinya dengan sedikit kasar. Matanya
menerawang ke langit-langit kamar.
__ADS_1
Di dalam ingatannya, terlintas
banyak sekali kenangan kebersamaannya dengan Andre. Rasanya sangat membekas dan
sulit di lupakan. Meskipun di antara merek belum ada ikatan apapun, tapi Febbi
bisa merasakan kalau Andre juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya.
Dia teringat candaan mereka saat
di pesawat, kalau ia berhasil membuat Andre jatuh cinta, maka pria itu akan
menikahinya. Meskipun itu hanya candaan, tapi semua pernyataan tersebut , masih
tersimpan rapi didalam ingatannya.
“Terus, kalau ternyata dia
bohongi kakak, kakak mau apa?” pertanyaan Ria membuat Febbi tertegun, meskpun
sedkt, ia juga patut memikirkan, bagaimana kalau faktanya, dia memang
berbohong.
“Aku akan pergi dari hidupnya,
dan mencari lelaki lain,” jawabnya singkat, meskipun jawaban itu tidak benar-benar
keluar dari hatinya. Tentu saja tidak semudah itu ia bisa melupakan sososk pria
yang ia kagumi.
Di Villa...
“Sayang, ini jus yang aku bilang
tadi. Memang nggak cocok, di udara dingin begini malah minum jus. Harusnya,
kopi atau teh.” Sila menyerahkan segelas jus pada Andra dan lelaki itu
menerimanya.
“Nggak apa-apa sayang. Aku malah
senang, kamu buatkan jus buat aku. Apapun yang kamu buat, aku akan memakan dan
meminumnya dengan senang hati.” Sahut Andra dengan gembira, ia lalu mulai
meneguk minuman pemberian istrinya. Sila juga meminum jus yang sama.
Mereka berdua menonton tv di
kamar mereka. Kamar yang cukup luas itu sengaja di atur agar bisa senyaman
mungkin untuk di huni. Keduanya saling bertukar cerita, terutama tentang daerah
itu, dan warung yang baru ia kunjungi bersama Pak Asep.
Beberapa saat kemudian, reaksi
dari obat yang di masukkan oleh Sila ke dalam jus mulai terlihat. Keduanya
mulai gelisah, Andra yang biasanya tdak
pernah memperhatikan secara detail penampilan Sila akhir-akhir ini, kali ini ia
memandangi Sila lekat-lekat.
“Sila, kau sangat cantik, malam
ini...” katanya sedikit bergetar sambil membelai rambut Sila perlahan. Andra
memandang lembut kedua bola mata Sila, mereka berdua saling tidak mampu lagi
mengalihkan pandangan. Pria itu
mendekatkan wajahnya ke wajah Sila dan mendaratkan ciuman lembut di bibir
wanita itu. Keduanya tenggelam dalam hasrat mereka masing-masing dan menjadikan
__ADS_1
malam itu sangat panjang dan penuh keromantisan.