
Andra dan
Sila bergegas ke kantor polisi, mereka berdua ingin segera mengetahui siapa
dalang di balik penculikan Andra. Terutama Sila, ia penasaran apakah pelakunya
ia kenal? Orang jauh atau dekat? Laki atau perempuan? Semua pertanyaan itu
mengaduk pikirannya.
Bukan
dendam, tapi Sila tidak akan membiarkan orang yang telah mencerai beraikan
rumah tangganya dengan Andra bebas begitu saja. Setidaknya wanita itu
menginginkan orang itu merasakan rasa yang setimpal, yaitu jauh dari
keluarganya.
Kesepian yang
ia rasakan bertahun-tahun, bukan hal yang mudah untuk di lalui. Air matanya
bahkan seakan kering saat harus menangis setiap hari saat itu. Kekuatan yang
Sila punya hanya anak-anak. Untung saja, hatinya memiliki ikatan dengan Andra, sehingga ia bisa tetap bertahan dengan
lelaki itu, meskipun mereka telah berpisah lama.
“Mas, aku
penasaran, siapa yang berbuat jahat kepada keluarga kita. Apa tujuannya dia
memisahkan kita sekian lama? Apa keuntungan yang dia dapatkan dengan melakukan
itu? Apakah orang itu musuh kita? Tapi siapa?” Pertanyaan-pertanyaan itu
memenuhi memorinya.
“Mungkin
seorang saingan bisnis? Bukankah selama ini pasti banyak pengusaha-pengusaha
yang yang membutuhkan uang ? Demi uang, mereka pasti mau berbuat apapun juga. Kalau musuhnya dari perusahaan,
itu jelas saja akar permasalahannya dari aku.” Andra mencoba berargumentasi.
“Mas, kamu
kan orang baik, makna mungkin kamu bisa punya musuh?”
“Untuk
memiliki musuh, tidaklah harus menjadi orang jahat. Karena setiap orang yang tidak menyukai kita, mempunyai
alasannya sendiri, kenapa ia tidak menyukai kita,” Apa yang di katakan oleh Andra ada benarnya. Setiap orang yang membenci kita pasti ada
suatu hal yang menjadikannya alasan untuk tidak menyukai.
Andra
menyetir mobil mereka dengan serius di bantu dengan GPS menuju kantor polisi.
Meskipun ia sama sekali belum mengingat apapun, tetapi ia ikut penasaran, siapa
yang menjadi dalang penculikan atas dirinya.
“Mas benar,
tidak harus selalu menjadi jahat dulu
untuk menjadi jahat. Bisa jadi, orang
itu memang tidak ingin melihat kebahagiaan kita, ” Sambung Sila membenarkan
kata-kata Andra.
“Sayang,
kamu nggak malu jalan sama aku?”
“Malu
kenapa? Karena mas codet? Aku nggak perduli, di mataku, kamu tetap tampan. Apapun pendapat orang lain tentang mas, itu tidak akan mempengaruhiku
sedikitpun,” Sila meyakinkan Andra bahwa
pwrubahan wajahnya tidak serta merta merubah perasaannya pada pria itu.
“Mengapa
perasaanmu begitu besar terhadapku? Apa aku ini adalah orang yang sangat
penting bagimu? Aku ingin kamu ceritakan, bagaimana awal mula kita berjumpa,
siapa tahu itu bisa membantuku menemukan kembali ingatanku,” Andra ingin tahu,
bagaimana kisah masalalunya dengan Sila. Ia juga butuh pancingan agar
ingatannya segera kembali.
“Benar
sekali, mas. Kamu adalah orang yang sangat aku cintai dan sangat penting dalam
hidupku. Kamu benar-benar ingin tahu, bagaimana awal mula kita bertemu?” Sila
mengulangi pernyataan yang di sampaikan oleh Andra.
“Benar, aku
__ADS_1
ingin tahu semuanya. Ayolah, ceritakan semuanya padaku. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kita
bertemu pertama kali,” Andra tetap kekeh pada keinginannya untuk mengetahui
awal mula pertemuan mereka.
“Baiklah,
aku akan cerita. Awalnya kita berdua di jodohkan oleh Anita, adik perempuanmu
dan juga kak Andre. Saat itu kamu di datangkan dari Amerika. Pernikahan kita
terjadi sangat singkat, satu kali pertemuan, seminggu kemudian kita lalu
menikah. Setelah itu, banyak sekali hal dramatis yang kita hadapi selama
menikah,” Sila menceritakan secara singkat, bagaimana ia bertemu dengan Andra.
“Jadi,
awalnya kita bukan orang yang saling mencintai?”
“Bukan, Mas. Aku dan kamu di pertemukan secara tidak
sengaja . kamu sudah jatuh cinta padaku sejak saat pertama kali kamu mengintaiku
saat kita belum bertemu. Aku jatuh cinta padamu karena kamu sangat sabar menghadapiku, kamu juga dengan tulus menunggu
hatiku terbuka untukmu. Seluruh sifat baikmu akhirnya bisa membuatku menjadi
seperti ini. Aku jadi mencintaimu dengan sangat.” Sila mengakui kalau
perasaannya telah berubah. Ia lebih sensitif saat itu membahas tentang perasaannya.
“Wah,
ternyata saat itu aku merasakan cinta bertepuk sebelah tangan, ya? Apa ada hal
yang paling terkesan saat awal kita hidup sebagai suami istri?”
“Hal yang
paling mengesanka bagiku saat itu adalah, saat kamu mengantarku pulang ke
rumah, tiba-tiba mati lampu, karena
takut gelap, kamu akhirnya menginap di rumahku. Kamu menjagaku sepanjang malam,
memelukku sampai aku benar-benar terlelap, saat itu kamu sangat heroik bagiku.”
Sila sangat bersemangat menceritakan momen tak terlupakan saat itu.
“Menginap di rumahmu? Apakah saat itu kita pisah ranjang?”
“Bukan begitu, tapi aku lupa karena apa. Aku juga ingat saat
kita terjebak hujan di pantai. Justru saat orang-orang kedinginan, kita berdua bikin
momen yang romantis di sana,” Sila mengenang kembali saat mereka di pantai dan
“kenangan kita sangat banyak, ya? Aku penasaran, kita pernah
ke mana saja, selain ke pantai, aku pernah mengajakmu ke mana?”
“Ke bukit, kamu pernah mengukir nama kita berdua pada sebuah
pohon dan kamu bilang, kita akan ke sana
lagi saat si kembar sudah besar,”
“Oh, ya? Wah... kapan kita akan ke sana? Aku tidak sabar. Apakah
tempatnya sangat indah?”
“Tentu saja, aku sangat senang saat itu, aku bahkan sempat
ke sana beberapa kali saat kamu hilang kemarin, aku menghabiskan waktu
berjam-jam hanya untuk mengenang masa indah kita,” saat menceritaka itu, mata Sila
berkaca- kaca. Saat di tempat itu, bahkan ia sampai menangis tersedu-sedu
karena tidak bisa lagi datang bersama Andra.
“Maafkan aku, Sila. Pasti berat banget saat itu kamu
menjalani hidup tanpa aku. Seandainya saja aku bisa mengingat semuanya dengan
cepat, aku ingin mengajakmu mengulang masa-masa indah kita berdua, jangan
pernah bosan, untuk membantuku mengingat semuanya, ya.” Andra berusaha fokus menyetir sambil
memandang GPS yang menunjukkan mereka telah dekat dengan kantor polisi.
“Tidak, aku tidak akan pernah menyerah untuk membantumu
mengingat semuanya. Kamu adalah bagian penting dalam hidupku, Mas. Kita akan memulainya dari awal, kita buat
kenangan manis yang baru, di lembaran yang baru. Jangan pernah meninggalkan aku
lagi, aku akan menjaga kamu baik-baik.” Tentu saja, Sila tidak mungkin mau
kehilangan Andra untuk kedua kalinya. Ia tidak mau mengulang kepahitan yang
sama , hidup seorang diri tanpa suaminya, seperti pepatah ‘hidup segan, mati
tak mau’.
“Terima kasih, sayang. Aku bersyukur di pertemukan lagi
dengan istri yang sebaik kamu. Seandainya istriku bukan kamu, pasti dia sudah
__ADS_1
meninggalkanku, menggantikanku dengan yang lain, atau mencampakkanku setelah
tahu begini keadaanku,” Andra memang sangat beruntung karena memiliki istri
yang sebaik Sila.
Mereka berdua telah sampai di Kantor Polisi. Entah mengapa
jantung mereka berdua berdegup kencang, mereka di kuasai rasa penasaran ingin
mengetahui siapa sebenarnya pelaku penculikan Andra.
Mereka memantapkan langkah untuk masuk ke dalam ruangan. Siapapun
orag itu, dia adalah orang yang sangat kejam, karena telah memisahkan pasangan
suami istri itu sekian lamanya.
“Selamat pagi, dengan Ibu Sila dan Pak Andra?”
“Betul, Pak. Apa benar kabar yang saya dapatkan, bahwa
penculik suami saya sudah di temukan?”
“Benar sekali, kami mendalami laporan dari teman anda, Pak
Robby. Hingga akhirnya dalang penculikan berencana ini dapat terungkap. Silahkan
duduk, saya akan membawa tersangka ke hadapan Ibu dan Bapak,” polisi yang
berjaga saat itu meninggalkan Sila dan Andra di dalam ruangan dan kembali
membawa lelaki asing ke hadapan mereka.
Sila tidak mengenali pria itu, dia sangat asing. Dia sempat
berpikir, orang yang menculik Andra itu adalah orang yang ia kenali, ternyata
dugaannya salah. Orang itu sama sekali tidak dia kenali. Sila sangat geram,
mengapa orang asing itu bisa berbuat begitu jahat padanya.
“Anda siapa? Mengapa Anda tega memisahkan saya dengan suami
saya sampai bertahun-tahun?” Pertanyaan Sila di sambut gelak tawa dari lelaki
itu. Dia tampak sangat puas telah
melakukan ini pada Andra dan Sila.
“Apa kamu ingat Sesilia?”
“Sesilia? Mantan istri Andra maksudmu? Dia yang telah
memberikanku racun, hingga kakak iparku buta dan lumpuh,” Sila tentu saja belum
lupa, pada sosok Sesilia yang telah membuatnya kehilangan bayi pertamanya dan Andra,
dia juga yang membuat hubungan Sila dan Andra memburuk, tidak sampai di situ,
wanita itu juga telah berusaha membunuhnya sampai menyebabkan Andre celaka.
“Aku adalah kakaknya. Aku membantunya balas dendam terhadap
kalian. Kalian yakin adikku yang salah? Bukankah kalian yang mencampakkan dia?”
“Kamu bisa cek data di kepolisian tempat dia di tahan. Apa yang
sebenarnya adikmu itu perbuat, jangan asal menghakimi seseorang tanpa
kebenaran. Apa yang kamu lakukan pada kami, itu adalah tindakan yang sangat
tidak bisa di benarkan.” Sila sangat emosi. Rupanya pelakor itu yang membuatnya
sampai kesusahan seperti ini.
“Baiklah, untuk semua ini, aku minta maaf. Bisakah kita
berdamai saja?” Kakak Sesilia dengan mudahnya meminta sebuah perdamaian setelah
apa yang dia lakukan.
“Dengan mudahnya Anda minta berdamai? Apa anda tidak sadar
bahwa tindakan anda merugikan saya dan juga anak-anak saya. Anda telah membuat
keluarga kami berantakan. Bagaimanapun, saya tidak akan membiarkan Anda lolos
begitu saja,” Tentu saja, setelah apa yang ia alami, semua kepahitan yang ia
dapatkan, tidak akan semudah itu dia akan memaafkan pelaku penculikan Andra.
“Saya benar-benar minta maaf, saya tidak tahu kalau ternyata
adikku yang jahat. Saya mohon bebaskan saya, saya berjanji tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama,” Orang yang mengaku sebagai kakak Sesilia itu
meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi. Tapi Sila tidak bisa
memaafkannya begitu saja. Karena ini, suaminya menjadi seperti sekarang.
“Maaf, saya menolak berdamai dengan Anda. Biarkan proses hukum
menjawab semuanya. Semuanya adalah hasil dari perbuatan anda sendiri. Semuanya tidak
akan terjadi apabila Anda menjadi orang baik. Pak polisi, saya inta kasus ini
di usut sampai tuntas. Saya menggugat tersangka dengan hukuman yang
seberat-beratnya. Permisi,” Sila menarik
__ADS_1
tangan Andra untuk keluar dari kantor polisi. Ia merasa sangat puas karena ia
telah menemui orang di balik penculikan Andra.