Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 11


__ADS_3

Andra dan


Sila bergegas ke kantor polisi, mereka berdua ingin segera mengetahui siapa


dalang di balik penculikan Andra. Terutama Sila, ia penasaran apakah pelakunya


ia kenal? Orang jauh atau dekat? Laki atau perempuan? Semua pertanyaan itu


mengaduk pikirannya.


Bukan


dendam, tapi Sila tidak akan membiarkan orang yang telah mencerai beraikan


rumah tangganya dengan Andra bebas begitu saja. Setidaknya wanita itu


menginginkan orang itu merasakan rasa yang setimpal, yaitu jauh dari


keluarganya.


Kesepian yang


ia rasakan bertahun-tahun, bukan hal yang mudah untuk di lalui. Air matanya


bahkan seakan kering saat harus menangis setiap hari saat itu. Kekuatan yang


Sila punya hanya anak-anak. Untung saja, hatinya memiliki ikatan dengan  Andra, sehingga ia bisa tetap bertahan dengan


lelaki itu, meskipun mereka telah berpisah lama.


“Mas, aku


penasaran, siapa yang berbuat jahat kepada keluarga kita. Apa tujuannya dia


memisahkan kita sekian lama? Apa keuntungan yang dia dapatkan dengan melakukan


itu? Apakah orang itu musuh kita? Tapi siapa?” Pertanyaan-pertanyaan itu


memenuhi memorinya.


“Mungkin


seorang saingan bisnis? Bukankah selama ini pasti banyak pengusaha-pengusaha


yang yang membutuhkan uang ? Demi uang, mereka pasti  mau berbuat apapun juga. Kalau musuhnya dari perusahaan,


itu jelas saja akar permasalahannya dari aku.”  Andra mencoba berargumentasi.


“Mas, kamu


kan orang baik, makna mungkin kamu bisa punya musuh?”


“Untuk


memiliki musuh, tidaklah harus menjadi  orang jahat. Karena setiap orang yang tidak menyukai kita, mempunyai


alasannya sendiri, kenapa ia tidak menyukai kita,” Apa  yang di katakan oleh Andra  ada benarnya.   Setiap orang yang membenci kita pasti ada


suatu hal yang menjadikannya alasan untuk tidak menyukai.


Andra


menyetir mobil mereka dengan serius di bantu dengan GPS menuju kantor polisi.


Meskipun ia sama sekali belum mengingat apapun, tetapi ia ikut penasaran, siapa


yang menjadi dalang penculikan atas dirinya.


“Mas benar,


tidak harus selalu menjadi  jahat dulu


untuk menjadi jahat.  Bisa jadi, orang


itu memang tidak ingin melihat kebahagiaan kita, ” Sambung Sila membenarkan


kata-kata Andra.


“Sayang,


kamu nggak malu jalan sama aku?”


“Malu


kenapa? Karena mas codet? Aku nggak perduli,  di mataku, kamu tetap tampan.  Apapun pendapat orang lain tentang mas, itu tidak akan mempengaruhiku


sedikitpun,”  Sila meyakinkan Andra bahwa


pwrubahan wajahnya tidak serta merta merubah perasaannya pada pria itu.


“Mengapa


perasaanmu begitu besar terhadapku? Apa aku ini adalah orang yang sangat


penting bagimu? Aku ingin kamu ceritakan, bagaimana awal mula kita berjumpa,


siapa tahu itu bisa membantuku menemukan kembali ingatanku,” Andra ingin tahu,


bagaimana kisah masalalunya dengan Sila. Ia juga butuh pancingan agar


ingatannya segera kembali.


“Benar


sekali, mas. Kamu adalah orang yang sangat aku cintai dan sangat penting dalam


hidupku. Kamu benar-benar ingin tahu, bagaimana awal mula kita bertemu?” Sila


mengulangi pernyataan yang di sampaikan oleh Andra.


“Benar, aku

__ADS_1


ingin tahu semuanya. Ayolah, ceritakan semuanya padaku.  Aku benar-benar ingin tahu bagaimana kita


bertemu pertama kali,” Andra tetap kekeh pada keinginannya untuk mengetahui


awal mula pertemuan mereka.


“Baiklah,


aku akan cerita. Awalnya kita berdua di jodohkan oleh Anita, adik perempuanmu


dan juga kak Andre. Saat itu kamu di datangkan dari Amerika. Pernikahan kita


terjadi sangat singkat, satu kali pertemuan, seminggu kemudian kita lalu


menikah. Setelah itu, banyak sekali hal dramatis yang kita hadapi selama


menikah,” Sila menceritakan secara singkat, bagaimana ia bertemu dengan Andra.


“Jadi,


awalnya kita bukan orang yang saling mencintai?”


“Bukan,  Mas. Aku dan kamu di pertemukan secara tidak


sengaja . kamu sudah jatuh cinta padaku sejak saat pertama kali kamu mengintaiku


saat kita belum bertemu. Aku jatuh cinta padamu  karena kamu sangat sabar menghadapiku, kamu juga dengan tulus menunggu


hatiku terbuka untukmu. Seluruh sifat baikmu akhirnya bisa membuatku menjadi


seperti ini. Aku jadi mencintaimu dengan sangat.” Sila mengakui kalau


perasaannya telah berubah. Ia lebih sensitif saat itu membahas tentang  perasaannya.


“Wah,


ternyata saat itu aku merasakan cinta bertepuk sebelah tangan, ya? Apa ada hal


yang paling terkesan saat awal kita hidup sebagai suami istri?”


“Hal yang


paling mengesanka bagiku saat itu adalah, saat kamu mengantarku pulang ke


rumah, tiba-tiba mati lampu,  karena


takut gelap, kamu akhirnya menginap di rumahku. Kamu menjagaku sepanjang malam,


memelukku sampai aku benar-benar terlelap, saat itu kamu sangat heroik bagiku.”


Sila sangat bersemangat menceritakan momen tak terlupakan saat itu.


“Menginap di rumahmu? Apakah saat itu kita pisah ranjang?”


“Bukan begitu, tapi aku lupa karena apa. Aku juga ingat saat


kita terjebak hujan di pantai. Justru saat orang-orang kedinginan, kita berdua bikin


momen yang romantis di sana,” Sila mengenang kembali saat mereka di pantai dan


“kenangan kita sangat banyak, ya? Aku penasaran, kita pernah


ke mana saja, selain ke pantai, aku pernah mengajakmu ke mana?”


“Ke bukit, kamu pernah mengukir nama kita berdua pada sebuah


pohon  dan kamu bilang, kita akan ke sana


lagi saat si kembar sudah besar,”


“Oh, ya? Wah... kapan kita akan ke sana? Aku tidak sabar. Apakah


tempatnya sangat indah?”


“Tentu saja, aku sangat senang saat itu, aku bahkan sempat


ke sana beberapa kali saat kamu hilang kemarin, aku menghabiskan waktu


berjam-jam hanya untuk mengenang masa indah kita,” saat menceritaka itu, mata Sila


berkaca- kaca. Saat di tempat itu, bahkan ia sampai menangis tersedu-sedu


karena tidak bisa lagi datang bersama Andra.


“Maafkan aku, Sila. Pasti berat banget saat itu kamu


menjalani hidup tanpa aku. Seandainya saja aku bisa mengingat semuanya dengan


cepat, aku ingin mengajakmu mengulang masa-masa indah kita berdua, jangan


pernah bosan, untuk membantuku mengingat semuanya, ya.”  Andra berusaha fokus menyetir sambil


memandang GPS yang menunjukkan mereka telah dekat dengan kantor polisi.


“Tidak, aku tidak akan pernah menyerah untuk membantumu


mengingat semuanya. Kamu adalah bagian penting dalam hidupku, Mas.  Kita akan memulainya dari awal, kita buat


kenangan manis yang baru, di lembaran yang baru. Jangan pernah meninggalkan aku


lagi, aku akan menjaga kamu baik-baik.” Tentu saja, Sila tidak mungkin mau


kehilangan Andra untuk kedua kalinya. Ia tidak mau mengulang kepahitan yang


sama , hidup seorang diri tanpa suaminya, seperti pepatah ‘hidup segan, mati


tak mau’.


“Terima kasih, sayang. Aku bersyukur di pertemukan lagi


dengan istri yang sebaik kamu. Seandainya istriku bukan kamu, pasti dia sudah

__ADS_1


meninggalkanku, menggantikanku dengan yang lain, atau mencampakkanku setelah


tahu begini keadaanku,” Andra memang sangat beruntung karena memiliki istri


yang sebaik Sila.


Mereka berdua telah sampai di Kantor Polisi. Entah mengapa


jantung mereka berdua berdegup kencang, mereka di kuasai rasa penasaran ingin


mengetahui siapa sebenarnya pelaku penculikan Andra.


Mereka memantapkan langkah untuk masuk ke dalam ruangan. Siapapun


orag itu, dia adalah orang yang sangat kejam, karena telah memisahkan pasangan


suami istri itu sekian lamanya.


“Selamat pagi, dengan Ibu Sila dan Pak Andra?”


“Betul, Pak. Apa benar kabar yang saya dapatkan, bahwa


penculik suami saya sudah di temukan?”


“Benar sekali, kami mendalami laporan dari teman anda, Pak


Robby. Hingga akhirnya dalang penculikan berencana ini dapat terungkap. Silahkan


duduk, saya akan membawa tersangka ke hadapan Ibu dan Bapak,” polisi yang


berjaga saat itu meninggalkan Sila dan Andra di dalam ruangan dan kembali


membawa lelaki asing ke hadapan mereka.


Sila tidak mengenali pria itu, dia sangat asing. Dia sempat


berpikir, orang yang menculik Andra itu adalah orang yang ia kenali, ternyata


dugaannya salah. Orang itu sama sekali tidak dia kenali. Sila sangat geram,


mengapa orang asing itu bisa berbuat begitu jahat padanya.


“Anda siapa? Mengapa Anda tega memisahkan saya dengan suami


saya sampai bertahun-tahun?” Pertanyaan Sila di sambut gelak tawa dari lelaki


itu.  Dia tampak sangat puas telah


melakukan ini pada Andra dan Sila.


“Apa kamu ingat Sesilia?”


“Sesilia? Mantan istri Andra maksudmu? Dia yang telah


memberikanku racun, hingga kakak iparku buta dan lumpuh,” Sila tentu saja belum


lupa, pada sosok Sesilia yang telah membuatnya kehilangan bayi pertamanya dan Andra,


dia juga yang membuat hubungan Sila dan Andra memburuk, tidak sampai di situ,


wanita itu juga telah berusaha membunuhnya sampai menyebabkan Andre celaka.


“Aku adalah kakaknya. Aku membantunya balas dendam terhadap


kalian. Kalian yakin adikku yang salah? Bukankah kalian yang mencampakkan dia?”


“Kamu bisa cek data di kepolisian tempat dia di tahan. Apa yang


sebenarnya adikmu itu perbuat, jangan asal menghakimi seseorang tanpa


kebenaran. Apa yang kamu lakukan pada kami, itu adalah tindakan yang sangat


tidak bisa di benarkan.” Sila sangat emosi. Rupanya pelakor itu yang membuatnya


sampai kesusahan seperti ini.


“Baiklah, untuk semua ini, aku minta maaf. Bisakah kita


berdamai saja?” Kakak Sesilia dengan mudahnya meminta sebuah perdamaian setelah


apa yang dia lakukan.


“Dengan mudahnya Anda minta berdamai? Apa anda tidak sadar


bahwa tindakan anda merugikan saya dan juga anak-anak saya. Anda telah membuat


keluarga kami berantakan. Bagaimanapun, saya tidak akan membiarkan Anda lolos


begitu saja,” Tentu saja, setelah apa yang ia alami, semua kepahitan yang ia


dapatkan, tidak akan semudah itu dia akan memaafkan pelaku penculikan Andra.


“Saya benar-benar minta maaf, saya tidak tahu kalau ternyata


adikku yang jahat. Saya mohon bebaskan saya, saya berjanji tidak akan


mengulangi kesalahan yang sama,” Orang yang mengaku sebagai kakak Sesilia itu


meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi. Tapi Sila tidak bisa


memaafkannya begitu saja. Karena ini, suaminya menjadi seperti sekarang.


“Maaf, saya menolak  berdamai dengan Anda. Biarkan proses hukum


menjawab semuanya. Semuanya adalah hasil dari perbuatan anda sendiri. Semuanya tidak


akan terjadi apabila Anda menjadi orang baik. Pak polisi, saya inta kasus ini


di usut sampai tuntas. Saya menggugat tersangka dengan hukuman yang


seberat-beratnya. Permisi,”  Sila menarik

__ADS_1


tangan Andra untuk keluar dari kantor polisi. Ia merasa sangat puas karena ia


telah menemui orang di balik penculikan Andra.


__ADS_2