
Sila merasa canggung berada dalam satu mobil dengan Teddy. Ia memilih duduk di belakang. Teddy sendiri menghargai pilihan Sila. Mereka saling diam dan tidak menggubris satu sama lain. Sila tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana, karena benar-benar tidak kenal. Sementara Teddy, ia ingin bertanya dan berkata sesuatu, hanya saja, ia merasa ragu dan takut Sila akan merasa terganggu dengannya.
"Sudah berapa lama bersahabat dengan Kak Andre?" harusnya bukan kalimat itu yang ia ucapkan, tapi entah mengapa, justru kata-kata itu yang meluncur dari dalam kerongkongannya.
"Cukup lama, sejak beberapa tahun yang lalu. Kamu, maaf, istri dari Andra?" tanya lelaki itu sekedar basa-basi sekaligus sedikit ragu.
"Benar, aku istri dari saudara kembar Kak Andre. Salam kenal," Sila mulai sedikit membuka diri untuk berinteraksi dengan pria bule itu.
"Salam kenal kembali, Nyonya Sila. Benar itu namamu?" selidik lelaki itu dengan sopan.
"Ya, itu namaku, Tuan Teddy." jawab Sila singkat, di sambut senyuman oleh Teddy.
Sedikit banyak, tentu saja Teddy taju kalau kedua saudara kembar itu mencintai wanita yang sama. Awalnya ia bertanya-tanya, seperti apa wanita yang dapat merebut hati kedua pria tampan itu. Ternyata terlihat dari auranya, Sila memang sangat menyedot perhatian. Ia yang pertama kali bertemu dengan Sila, merasa wanita itu berbeda dengan yang lainnya.
"Aku turut berduka cita. Kami telah mencarikan dokter terbaik, tapi Tuhan berkata lain. Andra harus pulang menemuiNya." ungkapnya dengan penuh kesopanan, layaknya orang yang tengah prihatin dan berduka.
"Terima kasih. Aku perlahan juga sedang mencoba untuk mengikhlaskannya. Meskipun sakit dan pedih, tapi ini adalah kenyataan yang harus aku terima."sahut Sila sangat pelan, tapi terdengar oleh Teddy. Ia sangat paham, apa yang sedang Sila rasakan saat ini.
"Andre adalah sosok kaka yang baik. Ia sangat sabar merawat Andra. Mulai dari mengelap tubuhnya setiap hari, sampai menyuapkan makanan, ia melakukannya dengan sabar. Dia sangat terpukul saat Andra menghembuskan nafas terakhir di pangkuannya. Aku bahkan tidak kuat memandang hal yang terjadi saat itu. Terlalu menyayat hati.
"Kakak memang orang yang sangat baik. Sejak dulu, saat pertama kami kenal. Aku juga tidak pernah membayangkan, kisah perjalanan cintaku akan berakhir sepedih ini. Aku bahkan tidak sempat menjaganya di saat-saat terakhir. Padahal, aku adalah istrinya," Sila mencurahkan perasaannya secara tidak sengaja. Hal itu memang tengah Sila pikirkan, di saat terakhir suaminya menghembuskan nafas, ia tidak ada di sana.
__ADS_1
"Dia bahkan tidak mengizinkan kami menghubungimu. Dia tidak ingin melihatmu menangis. Itulah mengapa, Andra meminta Andre untuk menggantikannya sementara waktu. Aku tidak menyangka, secepat ini terungkap." Teddy memang tahu semuanya. Dia adalah orang yang ikut mengurus Andra selama sakit.
"Terlalu mudah bagiku untuk mengenali yang mana suiku dan yang bukan. Meskipun wajah mereka sama, ada hal yang membedakan mereka," ungkap Sila. Tentu saja mudah bagi wanita itu membedakan yang mana suaminya dan yang bukan.
Sisa perjalanan mereka habiskan untuk saling bercerita dan membahas banyak hal tentang Andra selama berada dalam perawatan.
Sementara itu...
Andra berada di depan tempat kos Febbi. Ia tampak ragu-ragu untuk mengetuk pintu kos gadis itu. Ia menghela nafas panjang, bagaimanapun juga, ia harus membrrikan penjelasan terhadap gadis itu.
Tok..tok..
"Abang, apa kabar? Abang urusannya sudah kelar? Abang balik ngekos di sebelah lagi kan?" tanya Febbi dengab penuh semangat, tapi Andre hanya memandang lekat gadis itu lalu menariknya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, mungkin kamu mencemaskanku selama aku pergi. Aku minta maaf tidak bisa mengabarimu," lega rasanya ketika Andre sudah bisa melontarkan kata maaf itu pada Febbi. Gadis yang mulai dicintai olehnya.
"Tak apa,Bang. Aku mengerti, abang saat ini pasti sedang sibuk. Makanya, abang tidak bisa memberiku kabar." ucap gadis itu dengan penuh pengertian. Andre semakin merasa bersalah, ia jelas telah menanam harapan di benak Febbi.
"Keadaannya lebih rumit dari yang kamu pikirkan, Feb. Aku sudah harus menetap di Indonesia sekarang. Aku juga tidak akan bisa di hubungi seperti kemarin-kemarin. Bukalah hatimu untuk pria yang lain. Akan terlalu lama untuk menantiku bahkan bisa jadi aku tidak bisa kau tunggu," pernyataan Andre mungkin memang menyakitkan untuk Febbi, tapi ia tidak ingin lagi memberikan angan-angan kosong untuk gadis itu lagi. Sebelum terlalu dalam, lebih baik harapan itu di pupus saja.
"Tidak, Bang. Aku akan tetap menanti abang.Apapun kenyataannya nanti, aku siap. Izinkan aku tetap menunggu Abang," Febbi menatap kedua mata Andre, berharap lelaki itu tidak menolaknya lagi. Andre hadir di dalam penantian panjangnya. Ia tidak ingin melepas lelaki itu begitu saja, tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
"Febbi, aku tidak ingin memberimu harapan tanpa kepastian. Banyak lelaki di luar snaa yang pantas mendapatkan ketulusanmu. Aku takut mengecewakanmu." ungkap Andre jujur. Ia memang tidak bisa hanya memberi harapan sedangkan saat ini ia tidak yakin akan dapat mewujudkan harapan Febbi atau tidak.
"Bukankah siap jatuh cinta, siap patah hati? Apapun kenyataannya nanti, izinkan Febbi berjuang untuk abang. Febbi tidak masalah kalau Abang tidak bisa mengabariku. Febbi akan tetap menanti. Setelah libur semester, Febbi akan mengunjungi Abang," gadis itu tetap bersikeras untyk menanti Andre. Lelaki itu tidak bisa memberi jawaban, hanya mengeratkan pelukannya sebagai jawaban, ia juga berharap yang sama.
"Masuk dulu, Bang. Biar aku buatkan Abang minum. Pasti Abang lelah, kan?" Febbi melepaskan dirinya dari pelukan Andre dan menarik tangan lelaki itu untuk masuk ke dalam kamar kosnya.
"Silahkan duduk bang,"
"Terima kasih."
Andre duduk di kursi yang biasa di gunakan Febbi untuk melakukan berbagai hal, sepwrti belajar, mengerjakan tugas dan juga makan. Gadis itu berjalan perlahan ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Silahkan, Bang. Maaf.. hanya teh hangat." Febbi meletakkan teh buatannya di hadapan Andre. Membut lelaki itu dapat mencium aroma wanginya.
"Tidak masalah. Aku suka minum teh. Dulu, istriku suka membuatkanku teh spesial, bau harumnya mirip dengan tehmu ini." Andra memuji teh hasil buatan Febbi yang memang mirip racikan Vallen.
"Wah, istri abang dulu juga suka meracik teh? Sepertinya aku mirip dengannya. Semoga aku juga bisa berjodoh dengan Abang," Lirih Febbi, tapi terdengar oleh Andre.
"Aku tidak bisa janji untuk itu, tapi bukankah jodoh tak akan kemana?" Andre melempar senyum manisnya pada Febbi, gafis itu membalasnya.
"Ya, aku percaya untuk itu.."
__ADS_1