
Tok... tok...
"Bang.. Abang!" Febbi memanggil-manggil Andre untuk keluar dari kamar kosnya.
"Ada apa, Feb?" Andre keluar dengan pakaian seadanya. Celana santai dan kaos oblong. Satu tangannya tengah mengeringkan rambutnya yang habis keramas.
"Masak bareng yuk, Bang. Aku lagi males masak sendirian. Mau nggak?" Febbi benar-benar berharap Andre mau memasak bersamanya. Sebenarnya Febbi takut, di dapurnya ada kecoa yang tidak mau pergi. Kalau ada Andre, kemungkinan, pria itu bisa ia suruh membuang kecoa yang sedari tadi membuatnya geli.
"Boleh, kebetulan aku juga belum masak. Mau masak di dapurmu atau..."
"Di dapurku aja, Bang..." Febbi cepat-cepat mengambil keputusan. Ia takut kalau masaknya di dapur Andre, tidak ada yang bisa mengusir kecoa yang tinggal di dapurnya.Padahal hanya satu.
"Ya sudah, aku jemur handuk sebentar, nanti aku nyusul," Andre masuk kembali ke dalam kosannya, lalu menjemur handuk dan segera menyusul ke kosan Febbi yang terbuka pintunya.
"Mau masak apa?" Kedatangan Andre cukup mengagetkan Febbi. Ia senang saat kembali, kecoa yang ada di dapurnya sudah pergi.
"Aku nggak ada ide Bang, mau masak apa. Bahannya sih banyak tuh, aku udah siapin. Abang ada ide nggak mau masak apa?" Keniatan Febbi untuk memasak jadi gagal hanya karena kecoa, ia jadi sedikit kesal.karena hal itu.
"Kalau begitu serahkan padaku. Kamu bantu motong-motong sayurnya ya," perintah Andre. Kemampuan pria tampan itu dalam memasak membuat Febbi kagum. Ia sangat terkesan dengan bakat yang Andre miliki, selain tampan dan sepertinya wiraswasta, ia juga ternyata jago memasak. Benar-benar calon suami idaman.
__ADS_1
"Baik, Bang. Abang belajar masak darimana?" Febbi penasaran dengan asalmula Andre menguasai bakat memasaknya.
"Aku belajar otodidak sih. Jarang juga memasak, kecuali hari libur. Biasanya masak sendiri pas nggak selera dengan masakan rumah. Aku sedikit pemilih orangnya Feb," Andre mengakui kekurangnnya. Ia pemilih saat makan. Tidak semua makanan bisa masuk ke dalam lambungnya.
"Wah, keren. Ajarin Febbi juga dong bang," Febbi juga ingin belajar memasak menu masakan baru dari Andre.
"Bukannya di rumah sakit makanan kantinnya enak-enak dan steril?" Tanya Andre penasaran. Setahu dia makanan di kantin rumah sakit itu sangat bersih, steril dan sesuai takaran.
"Karena terlalu sehat, kadang rasanya hambar, Bang. Makanya Aku bawa makanan dari rumah. Meskipun aku ke rumah sakit hanya sesekali bang," curhat Febbi. Dia memang tidak selalu ada di rumah sakit, hanya sesekali saja, sesuai jadwal.
"Kan memang itu yang seharusnya, Feb. Tapi karena lidah kita kalah biasa, makanya terasa hambar.Kalau kita terbiasa memakannya, akan terasa enak-enak saja, kok." Andre sudah terbiasa dengan masakan hambar di keluarganya. Tapi sesekali ia memasak sesuka hatinya.
"Benar juga sih, Bang. Aku sering makan di luar makanya aku nggak biasa makan makanan kantin. Abang kalau pintar masak, kenapa nggak buka resto aja di Indonesia?" usul Febbi.
"Kan, Abang bisa sewa asisten, Bang. Tinggal bagi resep, udah. Beres kan?" ujar Febbi meremehkan.Dia pikir dunia bisnis Andre semudah itu.
"Banyak hal yang masih kupertimbangkan, Feb. Mungkin kalau aku sudah menikah, baru bisa seperti itu. Setidaknya kami bisa berbagi pekerjaan, dia di resto dan aku di kantor, baru malamnya sama-sama di resto."Memang itu yang ada di bayangan Andre, awalnya ia ingin seperti itu bersama Vallen, tapi ternyata hubungan mereka cukup singkat karena Vallen yang meninggal dunia jadi ia hanya bisa memendam angan-angannya.
"Wah, rencana yang bagus tuh, Bang. Tapi kalau abang pengen seperti itu berarti nggak bisa nikah sama Febbi dong, kalau nikah sama Febbi, kita sama-sama sibuk, bertemu pun mungkin malam, mana sempat urus bisnis," celoteh Febbi sambil masih memotong beberapa sayuran yang di pilih oleh Andre.
__ADS_1
"Haha, kalau nikahnya sama Febbi, nggak usah buka resto, buka rumah sakit aja," Canda Andre, sejak mereka bertengkar hari itu, mereka jadi semakin dekat dan memahami karakter masing-masing.
"Dih, Bang Andre, bisa aja. Tapi asyik tuh, kalay punya rumah sakit sendiri, sayangnya belum tentu Abang jadi jodohnya Febbi." Febbi meringis dengan ekspresi sedikit kecewa. Ia memang benar-benar suka dengan pada duda itu, tapi sepertinya, lelaki itu hanya menganggap dia sebagai teman saja.
"Inget pepatah Feb, jodoh takkan kemana. Jadi intinya, kalau kita jodoh, tidak ada yang tidak mungkin terjadi, iya kan? Jadi santai aja, Feb. Aku tidak pernah pacaran Feb, kalau cocok jalani, nikah, gitu aja." Kalimat yang di ucapkan Andre memberikan fakta bahwa dia tidak akan pernah menjalin hubungan pacaran dengannya.
"Febbi mengerti Bang. Febbi juga paham kalau abang bukan tipe lelaki yang gampang mengobral janji seperti yang lainnya. Febbi benar-benar kagum.sama abang," Sosok Andre memang cukup mengagumkan bagi Febbi. Sejak awal bertemu dia sudah menyita perhatian . Bukan hanya wajahnya, tapi juga kepribadiannya.
"Jangan terlalu kagum, kamu belum tahu jeleknya aku. Aku hanya manusia biasa Feb, banyak kekurangan daripada kelebihan. Hanya saja semuanya tidak langsung kelihatan," Andre mencoba memberikan pengertian terhadap Febbi, agar gadis itu tidak terlalu hanyut dalam perasaannya.
"Sama aja, Bang. Febbi juga banyak kekurangan. Nggak ada seorangpun dari kita yang sempurna. Makanya, Febbi srek sama Abang, maaf Bang, Febbi orangnya blak-blakan. Jadi Abang jangan merasa tidak enak atau apa." Begitulah Febbi, ia bukan tipe gadis yang pendiam dan menunggu pernyataan cinta dari pangeran tampan dengan malu-malu.
"Aku udah paham kok, Feb. Sudah terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini. Satu hal yang ku pelajari, kamu bawel dan unik, beda dari yang lain," ungkap Andre jujur. Memang Febbi cerewet dan terkesan menyebalkan. Tapi, di balik itu, Febbi adalah anak yang asik dan perhatian.
"Syukurlah kalau Abang mulai mengerti keadaan Febbi yang begini. Febbi juga nggak bisa blak-blakan sama sembarangan orang Bang. Lihat-lihat dulu, siapa yang aku kenal." Mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Febbi, mengingatkannya pada kejadian berantem saat itu.
"Maafkan aku ya Feb, soal salah tanggap waktu itu, sampai kita diem-dieman, karena salah paham." Mau tidak mau Andre harus minta maaf, karena ia merasa bersalah pada Febbi.
"Santai, Bang. Yang begitu tidak usah di pikirin. Febbi sudah lupa juga. Eh, ini apalagi Bang? Udah selesai nih, sayurnya." Febbi mengingatkan kalau sayuran yang di petiknya sudah beres.
__ADS_1
"ya sudah kalau gitu....
Mereka melanjutkan acara masak memasak hingga akhirnya makan bersama. Meskipun bukan pacar, tapi mereka romantis banget ya!