Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 57


__ADS_3

Hari kedua di Amerika. Sejak datang mereka berdua tidak saling bertemu kecuali saat terakhir akan masuk ke dalam hotel. pagi itu, karena mereka akan mengunjungi Andra, Sila dan Andre bertemu untuk sarapan bersama atas inisiatif Sila.


Sejak saat mereka pisah di depan pintu kamar, Andre tidak berani menghubungi Sila terlebih dahulu.Ia tidak ingin mengganggu dan memperburuk suasana hati Sila saat ini. Andre tahu, wanita itu butuh waktu untuk memahami semuanya.Sama seperti dirinya yang sudah berusaha meyakinkan hatinya sendiri untuk ini.


Segelas cappucinno yang masih panas dan mengepulkan asap terhidang di hadapan mereka. Andre masih diam dan menunggu Sila untuk bicara.Mereka berdua sangat kaku, Andre menatap keluar ruangan yang tertutupi kaca transparan.


"Hari ini, kakak akan mempertemukan aku dengan Andra? Aku ingin segera bertemu dengannya, Kak." Sila membuka pembicaraan dengan Andre. Hari ini Sila ingin bertemu dengan suaminya. Ia ingin menanyakan banyak hal pada lelaki itu. Salah satunya, mengapa ia menempatkan dirinya di dalam.situasi sulit seperti sekarang.


"Ya. Aku akan mengantarkanmu padanya. Kamu bisa mendapatkan jawabannya setelah bertemu dengannya nanti. Aku berharap kamu akan menerima semuanya dengan baik." Kali ini Andre menatap mata Sila yang tampak kurang tidur. Wanita itu balas menatapnya.


"Aku akan coba menerima semuanya. Jika menurutnya semua ini yang terbaik untukku. Aku tidak akan memaksanya untuk berpikir ulang. Selama ini aku sudah berusaha yang terbaik untuknya, mungkin ada beberapa hal yang membuatnya berubah seperti sekarang ini padaku." Sila mengaduk minumannya hingga merusak ornamen yang telah di buat sedemikian rupa oleh peraciknya.


"Keputusan yang baik, Sila. Terkadang, ada saatnya kita terpaksa menerima sebuah kenyataan, meskipun tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Aku berharap kamu bisa mengerti," pernyataan Andre membuat Sila merasa sedikit bingung. Ia tidak mebgerti ke arah mana pembicaraannya. Apakah perkataan Andre ada hubungannya dengan mimpinya? Sila bahkan tidak ingin berbagi cerita tentang mimpi anehnya itu.


"Aku mengerti, Kak. Setelah semua kesakitan dan keterpurukan yang pernah aku lewati saat aku terpisah dari Andra, aku sudah jauh lebih kuat. Aku terbiasa sendiri. Jika akhirnya aku harus sendiri, aku akan menerimanya. Aku siap untuk itu. Dia tidak perlu memberikanku pengganti. Diriku sudah cukup tangkas untuk menyelesaikan semuanya sendiri." Sila telah memupus harapannya sendiri. Dia telah kuat setelah tiga tahun ia jalani hidup tanpa suaminya. Baginya, berpisah mungkin akan lebih baik untuknya dan Andra, daripada seperti ini.


"Kalau kamu sudah siap, ayo kita pergi menemui dia. Aku juga sudah merindukan adikku itu." Andre menyeruput minumannya sedikit, lalu bangkit dari duduknya setelah menaruh dua lembar uang dolar di meja untuk membayar minuman mereka.


"Baiklah, ayo." Sila menjinjing tas kecilnya. Ia menghela nafas panjang, menyiapkan diri untuk menghadapi kenyataan yang akan ia lihat nantinya.

__ADS_1


Andre membawa Sila pergi ke suatu tempat dengan naik taksi. Perasaan Sila kacau, ia bingung menentukan sikapnya saat bertemu dengan Andra nanti. Apakah ia harus senang? Sedih? Sila tidak tahu.Dia berusaha menyiapkan dirinya untuk itu.


Perjalanan mereka sedikit memakan waktu lama. Sila tidak memperhatikan percakapan Andre dengan si supir. Ia lebih berusaha menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.


"Sila, kamu sudah siap? Sebentar lagi kita akan sampai," Andre memberi Sila kode, bahwa mereka akan segera sampai di tempat Andra berada.


Sila tidak langsung menjawab, ia memandang ke sekeliling tempat yang di lewati oleh mereka.Tapi kemudian ia kembali menatap Andre yang ada di sampingnya untuk segera memberikan jawaban.


"Baik kak. Aku sudah siap. Jadi rumah kakek ada di sekitar sini?" Sila mengajukan pertanyaan sebagai tanda ia tidak yakin kakek Andre tinggal di sekitar situ.


"Kamu akan temukan jawabannya nanti. Saat kita sudah sampai di tempat yang kita tuju beberapa saat di depan sana." Andre enggan menjelaskan semuanya. Apa yang mereka temui akan menjadi jawaban dari semua pertanyaan.


Setelah membayar biaya taksi, Andre segera menghampiri Sila yang hanya berdiri diam dan menyilangkan tangannya di dada. Wanita itu masih tidak paham, apa yang akan mereka lalukan di tempat itu.


"Ayo ikut aku," Andre menarik tangan Sila perlahan dan mengajaknya masuk ke dalam area pemakaman. Ia mulai bingung dan takut. Apakah yang akan mereka temui adalah pemakaman Andra?


"Kak, kita kan akan menemui Andra, kenapa harus kesini? Memangnya dia sudah meninggal?" Pertanyaan-pertanyaan itu di abaikan oleh Andre. Ia terus menarik perlahan Sila sampai mereka benar-benar masuk ke dalam area makam.


"Ikut aku dulu, kita akan menemukan jawabannya nanti." Andre kini melepaskan tangan Sila, ia berjalan sendiri dan wanita itu mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Langkah Andre berhenti pada sebuah makam dengan nama Andra Wijaya tertulis di sana. Itulah kenyataan yang ada. Andra telah meninggal, pergi untuk selama-lamanya.


Sila memandangi makam itu tanpa berkedip. Ia bungkam, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Perlahan, air matanya mulai menggenang, menggantung, dan jatuh. Ia terduduk lemas di depan makam suaminya itu.


Tangis Sila pecah beberapa saat kemudian. Ia menciumi batu nisan yang terukir nama suaminya itu. Ia mencoba mencari keyakinan yang membuatnya percaya bahwa suaminya telah tiada.


Andre berjobgkok di samping Sila. ia memegang bahu wanita itu untuk menenangkannya. Ia sangat memahami kalau hal ini tidaklah mudah bagi Sila. Ia butuh banyak waktu untuk mencerna semuanya.


Air mata Sila seperti tumpah begitu saja, kepedihan menyayat hatinya.Perasaan sakut yang teramat sangat menyusup ke dalam batinnya, hingga sesak.


"Sejak kapan?" tanya Sila singkat dengan sedikit parau.


"Beberapa hari sebelum aku pulang ke Indonesia, dia meninggal di pangkuanku. Sebelum meninggal, dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaimu." Air mata lelaki itu ikut menetes. Bagaimanapun, ia sangat trenyuh mengingat adiknya yang telah tiada.


"Karena apa? Kenapa tiba-tiba dia meninggal? Berangkat dari rumah dia baik-baik saja,"Sila mencoba mencari keterangan, mengapa suaminya meninggal secara tiba-tiba. Bahkan, ia tidak di beri tahu apa yang menjadi penyebabnya.


"Dia di tusuk oleh seseorang. Tapi, dia tidak memberitahu, orang itu siapa. Dia hanya bilang kalau pelakunya seorang wanita. Andra tidak ingin masalah ini di perpanjang." ungkap Andre. Jawaban kakak iparnya itu tidak membuatnya puas. Ia ingin jawaban yang lebih rinci. Sila ingin tahu, siapa yang telah menusuk suaminya.


"Lalu kenapa kakak harus menyamar sebagai dia? Apa kakak mencari keuntungan dari kejadian ini?" Sila menatap tajam Andre, ia ingin Andre mengemukakan alasan apa yang membuatnya melakukan ini semua.

__ADS_1


Kira-kira apa jawaban Andre?


__ADS_2