
"Dia memintaku menandatangani ini tanpa aku boleh membacanya. Aku tidak pernah memanfaatkan situasi, Sila. Apalagi yang meninggal itu adalah adik kembarku sendiri. Aku bahkan rela menjauh dari hidup kalian agar tidak menjadi pengganggu. Aku cukup tahu diri, aku ini siapa. Bacalah, ini tulis tangannya sendiri, kamu bisa mengeceknya," Andre menyodorkan kertas yang telah ia tanda tangani, Sila meraihnya dengan tangan bergetar.
Sila membaca setiap kata dari pernyataan itu. Ia hanya bisa menutup mulutnya dengan air mata yang berderai. Meskipun Andra telah tiada, namun ia menitipkan cintanya di pundak Andre. Ia menginginkan kakaknya yang menggantikannya suatu hari. Ia hanya mempercayai lelaki itu untuk menjadi suami Sila di masa depan.
"Tapi aku tidak akan memaksamu, Sila. Aku akan tetap menjagamu dengan caraku. Aku juga tidak akan pura-pura menjadi suamimu lagi. Biar nanti kita atur sandiwara baru. Aku cukup tahu diri, aku ini siapa," Andre mengambil kembali kertas itu, melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia kembali berdiri, masih menatap nisan Andra. Dia tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hidupnya saat ini.
Andre merasa kisah hidupnya sepwrti baling-baling yang berputar cepat. Sampai ia bingung, kapan ia di atas dan kapan ia berada di bawah. Ketika ia mulai membuka hatinya untuk wanita lain, ia kembali di hadapkan masalah yang masih sama. Ia seperti di takdirkan memang hanya untuk menjadi penjaga hati Sila.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih atas pengertian kakak. Meskipun dia yang meminta kakak untuk menggantikannya menjadi suamiku, mungkin semuanya akan sulit. Sekarang, aku masih berusaha untuk menerima kenyataan yang ada. Aku harus mwngikhlaskan kepergian orang yang sangat aku cintai,"Sila mencoba menguatkan diri. Menyeka air matanya dengan ujung lengan baju tebalnya. Setiap orang pasti ingin mengingkari sebuah perpisahan, begitupula dengan Sila, ia ingin Andra tetap hidup, jika ia bisa memohon.
Tetapi Sila mencoba menyadari, semuanya telah di gariskan, ia harus merelakan Andra. Meskipun hatinya sekarang sangat sakit. Perjalanan cintanya yang manis dan berliku, kini berakhir dengan perpisahan.
Tidak ada lagi tempatnya berbagi dan berkeluh kesah.Tempat dimana ia bermanja dan memadu kasih. Setelah ia hilang beberapa saat yang lalu, hari ini ia mendapati kenyataan bahwa Andra telah meninggalkannya untuk selamanya.
Namun entah mengapa, karena kehilangan ini pernah terjadi di dalam hidupnya, Sila jauh lebih bisa menerima kenyataan. Ia seperti telah siap kehilangan Andra jika di bandingkan sebelumnya. Meakipun rasa di hatinya tetap sama-sama sakit.
Sila berteriak sekuat tenaga yang ia punya. Mencoba melepaskan semuanya. Bebaskan hatinya dari belenggu rasa kehilangan ini.Kehilangan ini terasa berulang, ia pernah mengalami kehancuran, saat krdua orang tuanya meninggal, kali ini, ia juga hancur karena seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
__ADS_1
"Sila, Andra tidak ingin kamu terlarut dalam kesedihan. Ia ingin kamu melanjutkan hidupmu, meskipun semuanya tidak lagi sama. Kamu pasti merakan ruang kosong di hatimu, sama seperti saat aku kehilangan Vallen. Aku harap kamu kuat menerima semua ini," Andre menunjukkan pada Sila jika dirinya tegar, ia menyembunyikan kesedihan dan hatinya yang juga terluka karena rasa kehilangan yang sama.
"Aku akan berusaha tegar, menerima semua kenyataan ini. Aku akan melanjutkan hidupku dan membesarkan anak-anak. Aku pasti bisa." Sila bangkit dari duduknya, ia memberikan motivasi untuk dirinya sendiri.
"Kalau begitu, aku akan menelepon seseorang untuk.menjemputmu dan membawamu kembali ke hotel. Aku ada urusan sebentar." Tanpa menunggu persetujuan Sila, Andra menelepon seseorang dengan bahasa asing. Dia meminta orang itu untuk menjemput Sila.
"Baiklah, Kak. Terima kasih." Sila acuh, ia tidak perduli mau pergi kemana Andre. Terpenting baginya, ia bisa pulang ke hotel tempatnya menginap.
Setelah puas memandangi makam suminya, ia mengikuti langkah Andre meninggalkan tempat peristirahatan suaminya. Sesekali, wanita itu masih menengok sesekali ke arah makam Andra.
Berjalan pun seperti tidak menapak. Ia terperangkap dalam ruang sepi yang menebarkan kehampaan. Hatinya yang terisi, kini telah kosong. Kemana ia akan mencurahkan perasaannya sekarang?
"Nanti yang menjemputmu, sahabatku. Namanya Teddy. Tidak perlu takut, dia tidak akan menyakitimu. Kami bersahabat cukup lama, sejak saat masih sama-sama di Indonesia. Apa kamu ingin jalan-jalan terlebih dahulu? Dia akan membawamu kalau kau ingin,"ujar Andre tenang sambil menjaga jarak dengan Sila. Ia melihat perempuan itu sedikit kedinginan karena suhu udara dan angin yang berhembus lumayan kencang. Pria itu berinisiatif melepas jaketnya dan menyelimutkan ke tubuh Sila.
"Aku tidak ingin pergi kemanapun, Kak. Kakak sendori pasti kedinginan hanya dengan memakai kemeja seperti itu, kenapa harus melepas jaketmu untukku?" tanya Sila, saat ia melihat Andra memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana untuk menahan dingin.
"Bagaimanapun aku ini adalah seorang lelaki. Aku lebih kuat darimu dan aku tidak mungkin membiarkanmu kedinginan," jawab Andre tenang.
__ADS_1
"Apa inu karena surat wasiat dari Andra? Itu yang membuat Kakak begitu perduli padaku?" Sila melemparkan pertanyaan lagi. Meskipun ia tahu, jawabannya pasti iya.
"Itu salah satunya. Tapi bukankah kita telah menjadi adik kakak sejak kamu masih remaja? Ingatkah kamu, bahwa sejak dulu aku selalu.menjagamu dengan baik? Meskipun aku telah melakukan kesalahan, aku tidak akan melakukan kesalahan lagi, apalagi memanfaatkan situasi." kali ini Andre berkata dengan nada datar. Semuanya tentu beralasan. Ia tidak ingin di cap Sila sebagai orang yang memanfaatkan keadaan, karena ia sama sekali tidak melakukan itu.
"Maaf, tidak bermaksud menyinggung perasaan akak. Hanya saja, aku ..."
"Sudahlah, tidak perlu minta maaf. Aku sangat memahami kondisimu saat ini. Tenangkan dirimu dan jaga kesehatan. Anak-anak sangat membutuhkanmu," Ande mengingatkan Sila akan anak-anak yang membutuhkannya di rumah.
Dulu, saat ia menjatuhkan dirinya ke sungai, Andrelah yang menarik tangannya dan meyakinkannya untuk tetap hidup demi anak-anak.Kakak iparnya itu, telah menjadi pahlawan dalam hidupnya berulang kali, namun entah mengapa, tanggapan Sila justru selalu salah.
"Terima kasih, Kak. Kakak selalu ada di saat aku membutuhkan uluran tangan. Aku sangat bwrsyukur, memiliki kakak ipar sebaik Kakak." itulah yang sejak tadi seharusnya di ucapkan oleh Sila, tapi justru hal lain yang ia ungkapkan.
"Tidak perlu berlebihan, kita ini kan sudah kenal.lama, wajar saja kalau aku selalu bersikap baik seperti seharusnya padamu. Nah, itu mobil Teddy. Baik-baik di hotel, jangan lupa menghubungiku jika ada sesuatu." pesan Andre saat melihat mobil Sport warna hitam mendekat ke arah mereka.
"Sekali lagi, Terima kasih, Kak."
Kdtika mobil Teddy benar-benar sampai di hadapan mereka, kedua lelaki itu berbincang-bincang. Meskipun sedikit kaku, Teddy bisa bahasa Indonesia. Beberapa saat kemudian, Teddy membawa wanita itu berlalu.
__ADS_1