
Allana dan Alandra berlari ceria ke arah mobil saat mereka sudah hampir berangkat ke Pantai. Keceriaan mereka membuat Sila bahagia. Ia sudah lama tidak melihat mereka seceria ini. Terakhir kali saat ia dan Andre membawa mereka ke gurun beberapa bulan yang lalu.
"Allana dan Alandra duduk di belakang ya, bersama mbak, Bunda sama ayah duduk di depan," Sila mengarahkan anak-anak untuk duduk di belakang bersama pengasuhnya. Tanpa banyak bicara keduanya segera masuk ke dalam mobil.
"Ayo.." ajak Andre saat melihat Sila masih sajanbengong memandangi kedua anaknya yang di bawa masuk oleh pengasuhnya.
"Eh, iya kak, Ayo..." Sila berjalan perlahan ke arah pintu mobil. Andre membukakan pintu untuknya, wanita itu segera masuk.
Andre segera masuk untuk mendampinginya. Dia sedikit canggung setelah sekian lama, akhirnya ia bisa berada di samping Sila sebagai Andre, sebagai calon suaminya.
"Kamu sudah siap?" Andre melirik dan tersenyum manis ke arah Sila. Wanita itu membalas senyumnya dengan sangat manis.
"Siap, ayo kita jalan kak," ajak Sila, dia ingin segera tiba di pantai. Karena kehamilannya yang sehat, Sila sangat bersemangat untuk bermain air di pantai nanti.
Seperti saat ia hamil Si Kembar, Sila sebenarnya juga ingin di manja, tapi... ia tidak bisa bermanja dengan Andre sekarang, rasanya sangat canggung, mungkin karena Andre bukan suaminya. Mungkin nanti setelah mereka menikah, semuanya akan berubah.
Andre perlahan menjalankan mobilnya. Layaknya membawa orang yang sedang hamil, Andre membawa mobilnya dengan sangat perlahan. Ia takut kalau sampai menyakiti calon anaknya yang sedang di kandung oleh Sila.
"Sila, kalau kamu ingin sesuatu, bicaralah padaku. Aku akan menuruti apapun keinginan kamu jika aku mampu. Kalau kamu diam, aku jadi tidak tahu apa yang kamu inginkan." kata Andre perlahan sambil tetap fokus menghadap ke depan. Ia tidak ingin sampai membahayakan keluarganya itu.
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku akan bicara pada kakak kalau aku sedang ingin sesuatu. Untuk saat ini aku sedang tidak ingin apapun, Kak." Sila coba berbohong, mana mungkin ia bilang ingin bermanja-manja, itu konyol sekali.
"Bagus, tinggal menghitung hari kita akan menikah, tidak perlu sungkan padaku." Andre ingin Sila bisa senyaman mungkin terhadapnya. Ia tidak ingin wanita itu sungkan.
"Iya, Kak. Aku tidak akan sungkan. Kakak tidak apa-apa cuti?" Sila mencoba mencari bahasan lain. Ia ingin mengalihkan perhatiannya dari ngidamnya yang aneh.
"Apa salahnya cuti untuk menyenangkan kalian? Aku ingin kamu dan anak-anak bahagia. Aku harap kamu tidak keberatan aku dekat dengan anak-anak." Andre tidak ingin Sila salah paham, ia benar-benar tulus sayang pada anak-anak.
"Aku malah senang Kakak sayang pada anak-anak. Aku bersyukur mereka memiliki ayah sambung seperti Kakak, yang tulus dan menyayangi mereka seperti anak sendiri." Sila tentu sangat senang dengan sikap Andre yang sangat perduli pada anak-anaknya.
Ia tidak perlu khawatur Andre akan mengabaikan mereka, karena memang lelaki itu telah lama dekat dengan anak-anaknya, sehingga di saat-saat mereka bersama, merela tidak terlihat seperti ponakan dan omnya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih, Kak. Kakak sudah menjadi orang tua yang baik untuk mereka." Sila memang harus berterima kasis kepada Andre untuk semua itu.
Sila jadi berpikir ulang untuk memulai membuka hatinya untuk Andre. Pernikahan ini, bukan hanya baik untuknya tapi juga untuk kedua anaknya yang memang membutuhkan sosok ayah yang sebaik ayah kandung mereka.
"Sila, setelah menikah, kamu ingin tinggal di rumahmu atau di rumahku? Jujur saja, ini tidak berpengaruh apapun, aku ikut apa yang menjadi keputusanmu. Jangan di jadikan beban." bagi Andre, menentukan dimana mereka akan tinggal adalah hal yang penting untuk masa depan rumah tangga mereka.
"Aku mau tinggal dimana saja,Kak. Bagaimana kalau kita tinggalnya tidak usah menetap. Nanti kalau Allana dan Alandra sudah besar, biar mereka yang tinggal di rumah peninggalan ayahnya. Aku akan ikut kakak,"Sila telah mengubah keputusannya, ia benar-benar ingin menjalani pernikahannya dengan Andre.
__ADS_1
"Jadi, kamu tidak jadi akan menyuruhku pergi meninggalkan kamu setelah anak ini lahir?" Andre ingat perkataan Sila saat awal-awal rencana pernikahan mereka.
"Tidak, Kak. Aku tidak jadi melakukan itu karena kakak telah menunjukkan kesungguhan kakak untuk bisa menjaga aku dan juga anak-anak. Aku harap, pernikahan kita bisa langgeng, Kak." Sila yakin dengan keputusannya. Ini yang terbaik untuknya dan juga anak-anak.
"Terima kasih, Sila. Terima kasih karena kamu sudah memberiku kesempatan untuk menjadi suamimu yang terbaik. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, aku akan berusaha yang terbaik untuk pernikahan kita, untuk keluarga kita," mata Andre berkaca-kaca. Harapannya untuk bersama dengan wanita itu benar menjadi kenyataan.
Di dalam hatinya, Andre berjanji untuk menjaga Sila dengan baik. Menyayanginya dan juga anak-anaknya. Bertahun lamanya ia telah menantikan saat ini, akhirnya datang juga. Ia merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan emas ini.
"Sama-sama, Kak. Aku tahu, kakak pasti bisa menjadi suamiku yang terbaik. Kakak juga tidak akan mengecewakan aku. Terima kasih atas semua kebaikan Kakak. Terima kasih telah mencintaiku selama ini," Sila merasa terharu dengan cinta Andre yang luar biasa, meskipun penuh lika liku, lelaki itu tetap konsisten dengan perasaannya.
Apapun yang akan terjadi ke depan, Sila tertantang untuk mencoba menjalaninya sebaik mungkin. tidak ada alasan untuknya berhenti, karena ia dan anak-anak membutuhkan sosok seperti Andre.
"Aku tidak pernah terpaksa mencintaimu, Sila. Hanya saja perasaan ini tidak bisa berhemti untuk tidak tertuju padamu. Mungkin menurutmu aku egois atau tidak tahu diri atau apalah, tapi memang ini kenyataannya." ada rasa lega di hati Andre ketika berhasil mengungkapkan semua yang ada di hatinya. Segala yang ia pendam selama bertahun-tahun.
"Memang cukup konyol. Aku juga sedikit kesal.karena kakak seperti orang aneh, menunggu dan terus mencintaiku seperti itu. Seharusnya, kakak kan bisa dengan mudah mencintai yang lain," Sila tersenyum simpul. Seorang lelaki dengan cinta yang luar biasa itu, sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Jika hatiku hanya bisa memilihmu, menurutmu, apa yang bisa aku lakukan selain berharap?"
Kalau readers yang di tanya begini, mau jawab apa kira-kira?
__ADS_1