Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 27


__ADS_3

"Sila, harusnya kamu membiarkan aku saja yang tertembak, kenapa kamu harus melindungiku? Kalau kamu tidak menghadang peluru itu, aku bisa menggantikanmu terbaring di ranjang ini," Kalimat itu yang segera Andra ungkapkan saat melihat Sila sudah terbangun dari tidurnya setelah berjam-jam.


"Mas, aku sudah pisah denganmu.sangat lama, selama tiga tahun. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai kamu lagi, atau memisahkanmu denganku. Aku cukup tersiksa kehilanganmu. Jika aku hanya berkorban sedikit saja seperti ini untukmu, itu belum ada apa-apanya, bila di bandingkan dengan harus kehilanganmu lagi," Tangan sila mencoba mengeratkan genggamannya pada Andra, meskipun pada kenyataannya ia sangat lemah.


"Kamu tidak perlu berkorban sebanyak ini untukku, Sila. Kamu menungguku untuk waktu yang lama saja, aku sudah sangat bahagia. Pengorbananmu.padaku sudah sangat banyak, bahkan terlampau banyak, sampai aku mungkin tidak bisa membalasnya. Kamu harus janji padaku untuk tidak mengorbankan dirimu lagi, aku tidak ingin kamu melakukan itu," Andra mengecup punggung tangan Sila cukup lama, Air mata lelaki itu tidak terbendung lagi. Ia sangat menyadari, betapa wanita itu mencintainya sepenuh hati, bahkan ia mungkin tidak akan bisa menemukan wanita yang lebih baik dari Sila.


"Jangan menangis, Mas. Kamu tahu, saat kamu menangis, aku merasa kamu sangat menganggapku lemah, aku kuat, aku mampu terluka untuk mencoba melindungimu, hargai aku dengan senyumanmu, Sayang," Kalimat itu terucap dengan begitu lemah oleh Sila, wanita itu masih tersenyum saat mengatakannya, meskipun ia menahan rasa perih yang teramat sangat di perutnya.


"Tidak. Aku malu, Sila. Aku tidak bisa melindungi kamu. Aku hanya seorang pecundang yang selalu menempatkanmu dalam posisi yang tidak menguntungkan. Aku benar-benar lelaki yang tidak berguna , harusnya aku saja yang berada di posisimu sekarang." Andra terisak, ia tidak tahan melihat kondisi Sila yang lemah terkulai hanya untuk melindunginya. Ia menyadari, seharusnya dialah yang ada di sana saat ini.


"Jangan katakan itu lagi. Kamu adalah suamiku yang terbaik, ayah Alana dan Alandra yang terhebat. Tidak ada yang bisa sepertimu." Lirih Sila, ia berharap kata-katanya mampu menenangkan perasaan Andra. Ia ingin lelaki itu menerima apa yang dia lakukan. Sila hanya ingin melindunginya karena tidak ingin kehilangan Andra untuk kedua kalinya.


"Sila, seandainya aku ingat masalalu kita, aku yakin kamu telah melakukan banyak hal untukku, kamu pasti telah mencurahkan semua perasaanmu padaku hingga tanpa sisa. Maafkan aku yang juga tidak mampu mengingat semuanya, aku sudah berusaha, tapi maaf, aku belum bisa mengingatnya," Sila tersenyum tipis mendengar pengakuan Andra. Baginya, melihat Andra masih ada di hadapannya saja sudah lebih dari cukup. Ia tidak pernah ingin menuntut apapun lagi.


"Andra, Aku sudah sangat bahagia dengan adanya kamu di dalam kehidupanku lagi. Mas tahu, saat menemukan kamu kembali di dalam hidupku, rasanya aku seperti dapat mewujudkan sejuta impianku. Rasa bahagiaku tidak terhitung lagi." Begitulah nyatanya perasaan Sila saat dapat bersatu dengan Andra kembali setelah sekian lama.

__ADS_1


"Dengan apa aku bisa membalas semua kebaikanmu, Sila. Kamu terlalu baik untukku,"


"Mas, dulu sebelum kamu kamu lupa ingatan, ada banyak hal yang kamu lakukan untukku dan juga anak-anak. Tidak ada balas budi lagi di antara kita. Anggap saja semuanya impas.Sekarang, bolehkan aku meminta sesuatu darimu?" Ucap Sila dengan Lemah. Ia berharap Andra mau memenuhi keinginannya.


"Apa? Katakanlah, Sayang. Apapun, aku akan berusaha mewujudkannya."


"Cium aku sekarang juga, Mas." Permintaan Sila cukup mengejutkan Andra. Ciuman di saat ia terluka seperti ini, tidaklah bagus.


"Kamu yakin? Tapi saat ini kamu sedang terluka Sila," Andra berusaha untuk menolak dengan halus, bukan karena ia tidak ingin, Andra lebih khawatir pada kondisi Sila saat ini.


Meakipun sedikit tidak yakin,perlahan Andra mendekatkan wajahnya pada wajah Sila dan...


Cup...


Ia mencium bibir Sila dengan durasi.sangat singkat. Andra benar-benar tidak ingin menyakiti Sila. Ia sangat paham, saat ini untuk bernafaspun, Sila merasakan kesakitan.

__ADS_1


Mendadak, Sila memegang jam tangan.yang di gunakan oleh Andra. Ia ingat betul, kapan ia memberikan jam tangan itu.pada suaminya. Sila meneteskan air mata mengingatnya.


"Mas ingat, siapa yang membelikan jam tangan ini?" Sila terus memegang jam tangan itu sambil menyeka air matanya sesekali.


"..." Andra hanya menjawab dengan gelengan kepalanya, pertanda ia tidak ingat siapa yang membelikan jam tangan itu.


"Jam tangan ini, aku yang membelinya, Mas. Kamu sangat senang sekali saat itu dan berjanji akan selalu memakainya. Jam ini aku belikan sebelum kamu pergi ke Amerika. Saat itu aku tengah hamil.muda bayi kita yang pertama, sehingga aku tidak bisa menemani kepergianmu. Kamu pergi ke Amerika bersama mama dan juga papa," Sila mengingat lagi, bagaimana ia harus berpisah beberapa bulan dengan Andra, sebelum akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit dimana Andra telah menikah lagi dengan Sesilia yang mengakibatkan gugurnya bayi pertama mereka.


"Jadi, jam tangan ini adalah pemberianmu? Pantas saja, aku merasa tidak asing dan memiliki ikatan dengan jam tangan ini. Aku akan terus menjaganya, karena di setiap detik jam ini, ada kasih sayangmu di dalamnya, Sila." Andra memandang jam tangannya lekat-lekat, ia tidak menyangka kalau benda itu adalah pemberian dari Sila.


"Kamu benar. Di setiap detiknya, ada aku yang selalu merindukanmu. Aku bahkan sampai susah tidur hanya menanti kepulanganmu. Meskipun hasil.penantianku saat itu tidak terlalu baik, tapi mungkin itulah takdir yang harus kita jalani, penuh dengan lika-liku. Kita sudah pernah terpisah, pernah saling menjauh, pada akhirnya kita kembali bersama lagi. Karena pada dasarnya cinta sejati tahu, kemana ia harus pulang." Sila mengenang kembali perjalanan cinta mereka yang sangat indah namun sedikit dramatis.


"Setelah ini, mari kita buat kenangan baru. Aku ingin kita memulainya dari awal. Aku ingin bisa mencitaimu lagi, sekali lagi. Berikan aku kesempatan Sila," Pernyataan Andre mengingatkan Sila saat ia marah karena kehilangan bayinya, dan Andra meminta kesempatan kedua untuk hubungan mereka, bedanya, lelaki di hadapannya ini meminta kesempatan kedua untuk mengukir kenangan mereka yang telah terhapus. Tentu saja Sila akan memberikan kesempatan itu. Ia tidak akan mungkin bisa menolak orang yang sangat di cintainya itu.


"Kita akan memulainya lagi dari awal. Seperti saat pertama kali kita bertemu. Kita akan mengukir lukisan cinta di buku kita yang baru. Kita tidak akan saling menyakiti, apapun yang terjadi. Aku mencintaimu, Masku," Sila menatap suaminya lekat-lekat. Ada kerinduan dan juga cinta yang dalam untuk lelaki yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Sayang." Andra mengecup punggung tangan Sila sekali lagi.


__ADS_2