Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 51


__ADS_3

Perjalanan


cukup panjang membuat Sila tertidur. Andra memandangi wajah polos wanita yang


ada di sampingnya itu dengan seksama. Ada tatapan rasa bersalah yang mendalam,


ini bukan maunya, semuanya terjadi begitu saja. Andra juga tidak tahu kapan


semuanya ini akan berakhir. Yang dia tahu, ia harus tetap menjaga hati dan


perasaan wanita itu.


Andra  menghentikan mobilnya,  mereka hampir sampai Villa.  Andra  membenturkan kepalanya ringan ke kemudi mobilnya. Berulang kali ia


menarik rambutnya sendiri. Ada hal besar yang ia tidak mampu untuk ia ungkapkan


saat ini. Lelehan air mata yang mengalir di pipinya tidak cukup untuk bisa


menggambarkan semuanya.


Rasanya ia


ingin menghilang saja, ia seperti kehilangan kekuatan untuk melanjutkan


hidupnya. Tapi kenyataan ini memaksa ia harus bertahan. Ketika semuanya akan


membaik, ternyata ada hal baru yang membuat hidupnya menjadi sedikit lebih


rumit.mau tidak mau, suka atau tidak suka,, ia tetap harus menjalani semuanya.


“Semoga ini


cukup adil untukmu, Sila. Meskipun aku juga merasa ini sangat sulit untuk di


lakukan. Aku akan terus berusaha menjaga dan mengertimu. Meskipun semuanya tak


lagi sama. Aku sayang kamu, sila,” Andra membelai pealan dan singkat rambut


Sila. Kemudian ia menjalankan mobilnya perlahan.  Andra tidak ingin saat Sila terbangun, ia


mengetahui apa yang terjadi baru saja.


Perjalanan


masih lumayan jauh, melewati jalan yang berkelok, udara sejuk mulai terasa


menyentuh kulit Andra yang hanya menggunakan kemeja lengan pendek. Andra


mengambil jaketnya yang ia taruh di jok mobilnya dengan satu tangan, lalu


berusaha menyelimuti tubuh Sila agar hawa dingin itu tidak menyerang tubuhnya.


Setelah


melewati beberapa hektar lahan perkebunan teh, akhirnya mereka berdua sampai di


Villa. Sila masih tertidur lelap. Andra segera memasukkan barang-barang bawaan


mereka. Lalu di bagian Akhir, ia membawa Sila masuk ke dalam dan menidurkannya


di kamar mereka. Sila tidak terganggu sedikitpun. Villa itu untungnya bersih,


setelah kejadian saat itu, ada seseorang yang khusus menjadi penjaganya.


Nama penjaga


Villa itu adalah Pak Asep. Seorang lelaki setengah baya yang juga pekerja buruh


di salah satu kebun teh yang berada tidak jauh dari Villa tersebut. Menjadi


penjaga sekaligus di perbolehkan untuk tinggal di Villa itu adalah suatu


keberuntungan bagi Asep. Ia bisa menghemat biaya sewa rumah, uangnya ia bisa

__ADS_1


kumpulkan untuk anak istrinya di kampung.


“Pak Asep,


disekitar sini ada warung makan?” Andra menanyakan keberadan warung makan di


sekitar Villa.


“Banyak, Den.


Sekarang di wilayah ini sudah lebih maju, meskipun hanya warung kecil, tapi ada


beberapa tempat yang buka,” penjelasan  Pak Asep membuat Andra sedikit lega. Setidaknya, karena lelah, Sila


tidak perlu memasak. Ia akan membelinya untuk makan malam mereka nanti.


“kalau begitu,


mari tolong antarkan saya, Pak. Saya mau beli makanan untuk makan malam. Bapak


tidak sedang repot, Kan?” Andra berniat untuk mengajak Pak Asep untuk membeli


makanan di salah satu kedai. Sebenarnya ia bisa saja memasak, tapi ia sedikit


lelah, jadi ia khawatir hasilnya tidak akan enak.


“Pak, tinggal


di tempat seperti ini rasanya damai, ya. Suasananya nyaman dan sejuk. Saya  jadi pengen pindah tempat tinggal di sini.”


Andra yang di bonceng Pak Asep naik motor  merasa sangat nyaman memperhatikan daerah sekeliling mereka. Hamparan


hijau perkebunan teh itu menghipnotis matanya, meskipun ia pernah pergi ke


tempat ini beberapa tahun yang lalu.


“Iya, Den. Tempatnya


sangat sejuk.  Saya juga ingin membawa


menumpang di villa ini, tidak etis rasanya.” Pak Asep memang mempunyai


keinginan untuk memboyong keluarganya ke sana, tapi dia belum cukup persiapan.


“kalau bapak


memang ingin membawa keluarga bapak untuk tinggal, nanti saya akan usulkan sama


papa. Beliau pasti akan menyetujuinya. Saya tahu, berpisah dengan keluarga


tentu saja membuat bapak sedih. Apalagi,usia bapak juga sudah lumayan tua,


pasti bapak sangat ingin berkumpul dengan keluarga bapak,”  seolah berada dalam posisi yang sama dengan


si Bapak, ia ikut merasakan kesedihan yang sedang di rasakan oleh lelaki paruh


baya itu.


“Wah,  terima kasih banyak, Den. Aden baik sekali.


Saya do’akan semoga rumah tangga Aden langgeng sampai kakek nenek. “ do’a tulus


itu keluar dari mulut Pak Asep. Andra tersenyum saat mendengarnya. Dalam hati


ia mengaminkan do’a dari Pak Asep.


Setiap orang


pasti akan merasa bahagia ketika mendapatkan do’a yang  tulus itu. Rumah tangga yang langgeng adalah


impian dari setiap orang. Hanya saja, terkadang kenyataan sering tidak sesuai


harapan. Tak jarang, hanya kepedihan yang terasa, saat seseorang mengharapkan

__ADS_1


akhir yang manis.


Sementara


itu...


Sila terbangun


dari tidurnya. Ia menyingkapkan selimut yang menutupi dirinya. Hembusan angin


sore terasa sedikit menusuk kulitnya.  Ia


segera menutup korden jendela kamarnya,  lalu keluar kamar dan mencari keberadaan Andra. Ia ingat sekali, kamar


yang ia tempati adalah tempatnya merawat Andre dulu.


“Dimana,


Andra?” Sila bermonolog. Villa itu sangat sunyi. Ia jadi teringat sahabatnya


Vallen,  wanita itu menyempatkan diri


untuk melihat ke ruangan yang pernah di tinggali oleh sahabatnya.  Tidak ada yang berbeda, perhatian Sila


tertuju pada sebuah foto pernikahan Vallen dan Andre dengan ukuran 10 R yang


mungkin tertinggal, tertata rapi di atas meja rias.


Persahabatan


mereka sangat indah, hingga maut memisahkan mereka. Sila mengambil foto itu dan


mengamatinya sejenak.  Beberapa saat


kemudian, ia kembali meletakkan foto itu di tempatnya. Sila bergegas ke dapur.


Ia ingin membuat sesuatu.


Sila membongkar


bekal  bahan masakan yang ia bawa dari


rumahya. Ia menemukan buah stroberi, lalu terlintas ide untuk membuat jus. Ia


tahu, cuaca yang dingin memang tidak cocok untuk minum jus, tetapi Sila yakin,


Andra tidak akan menolak, jika ia yang membuatnya.


Ia teringat


sesuatu. Malam ini, ia ingin melewatinya dengan indah bersama Andra. Ia brjalan


menuju kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari tasnya.  Sila agak merasa bersalah, karena ini adalah


cara curang, tapi ia sudah lelah selalu di tolak oleh suaminya sendiri. Ini


adalah ide gila yang pernah Sila lakukan dalam hidupnya. Ia akan mencampurkan


obat peningkat gairah pada jus mereka.


“Maafkan aku,


Andra. Tapi aku tidak ingin di tolak lagi malam ini. Aku sangat merindukanmu,


Sayang...”  Sila tersenyum jahat,  ia berharap,  kelakuannya ini bukan sebuah tindak kriminal.  Ia hanya ingin menikmati malam panjang


bersama Andra. Sebuah impian sederhana yang sulit untuk ia dapatkan saat ini.


Sila rindu


Andra yang hangat,  selalu memeluknya


dengan tulus tanpa keraguan. Banyak memujinya, menciumnya setiap pagi.  Ia tidak minta hal besar, hanya itu saja, hal

__ADS_1


yang perlahan mulai hilang.


__ADS_2