
Perjalanan
cukup panjang membuat Sila tertidur. Andra memandangi wajah polos wanita yang
ada di sampingnya itu dengan seksama. Ada tatapan rasa bersalah yang mendalam,
ini bukan maunya, semuanya terjadi begitu saja. Andra juga tidak tahu kapan
semuanya ini akan berakhir. Yang dia tahu, ia harus tetap menjaga hati dan
perasaan wanita itu.
Andra menghentikan mobilnya, mereka hampir sampai Villa. Andra membenturkan kepalanya ringan ke kemudi mobilnya. Berulang kali ia
menarik rambutnya sendiri. Ada hal besar yang ia tidak mampu untuk ia ungkapkan
saat ini. Lelehan air mata yang mengalir di pipinya tidak cukup untuk bisa
menggambarkan semuanya.
Rasanya ia
ingin menghilang saja, ia seperti kehilangan kekuatan untuk melanjutkan
hidupnya. Tapi kenyataan ini memaksa ia harus bertahan. Ketika semuanya akan
membaik, ternyata ada hal baru yang membuat hidupnya menjadi sedikit lebih
rumit.mau tidak mau, suka atau tidak suka,, ia tetap harus menjalani semuanya.
“Semoga ini
cukup adil untukmu, Sila. Meskipun aku juga merasa ini sangat sulit untuk di
lakukan. Aku akan terus berusaha menjaga dan mengertimu. Meskipun semuanya tak
lagi sama. Aku sayang kamu, sila,” Andra membelai pealan dan singkat rambut
Sila. Kemudian ia menjalankan mobilnya perlahan. Andra tidak ingin saat Sila terbangun, ia
mengetahui apa yang terjadi baru saja.
Perjalanan
masih lumayan jauh, melewati jalan yang berkelok, udara sejuk mulai terasa
menyentuh kulit Andra yang hanya menggunakan kemeja lengan pendek. Andra
mengambil jaketnya yang ia taruh di jok mobilnya dengan satu tangan, lalu
berusaha menyelimuti tubuh Sila agar hawa dingin itu tidak menyerang tubuhnya.
Setelah
melewati beberapa hektar lahan perkebunan teh, akhirnya mereka berdua sampai di
Villa. Sila masih tertidur lelap. Andra segera memasukkan barang-barang bawaan
mereka. Lalu di bagian Akhir, ia membawa Sila masuk ke dalam dan menidurkannya
di kamar mereka. Sila tidak terganggu sedikitpun. Villa itu untungnya bersih,
setelah kejadian saat itu, ada seseorang yang khusus menjadi penjaganya.
Nama penjaga
Villa itu adalah Pak Asep. Seorang lelaki setengah baya yang juga pekerja buruh
di salah satu kebun teh yang berada tidak jauh dari Villa tersebut. Menjadi
penjaga sekaligus di perbolehkan untuk tinggal di Villa itu adalah suatu
keberuntungan bagi Asep. Ia bisa menghemat biaya sewa rumah, uangnya ia bisa
__ADS_1
kumpulkan untuk anak istrinya di kampung.
“Pak Asep,
disekitar sini ada warung makan?” Andra menanyakan keberadan warung makan di
sekitar Villa.
“Banyak, Den.
Sekarang di wilayah ini sudah lebih maju, meskipun hanya warung kecil, tapi ada
beberapa tempat yang buka,” penjelasan Pak Asep membuat Andra sedikit lega. Setidaknya, karena lelah, Sila
tidak perlu memasak. Ia akan membelinya untuk makan malam mereka nanti.
“kalau begitu,
mari tolong antarkan saya, Pak. Saya mau beli makanan untuk makan malam. Bapak
tidak sedang repot, Kan?” Andra berniat untuk mengajak Pak Asep untuk membeli
makanan di salah satu kedai. Sebenarnya ia bisa saja memasak, tapi ia sedikit
lelah, jadi ia khawatir hasilnya tidak akan enak.
“Pak, tinggal
di tempat seperti ini rasanya damai, ya. Suasananya nyaman dan sejuk. Saya jadi pengen pindah tempat tinggal di sini.”
Andra yang di bonceng Pak Asep naik motor merasa sangat nyaman memperhatikan daerah sekeliling mereka. Hamparan
hijau perkebunan teh itu menghipnotis matanya, meskipun ia pernah pergi ke
tempat ini beberapa tahun yang lalu.
“Iya, Den. Tempatnya
sangat sejuk. Saya juga ingin membawa
menumpang di villa ini, tidak etis rasanya.” Pak Asep memang mempunyai
keinginan untuk memboyong keluarganya ke sana, tapi dia belum cukup persiapan.
“kalau bapak
memang ingin membawa keluarga bapak untuk tinggal, nanti saya akan usulkan sama
papa. Beliau pasti akan menyetujuinya. Saya tahu, berpisah dengan keluarga
tentu saja membuat bapak sedih. Apalagi,usia bapak juga sudah lumayan tua,
pasti bapak sangat ingin berkumpul dengan keluarga bapak,” seolah berada dalam posisi yang sama dengan
si Bapak, ia ikut merasakan kesedihan yang sedang di rasakan oleh lelaki paruh
baya itu.
“Wah, terima kasih banyak, Den. Aden baik sekali.
Saya do’akan semoga rumah tangga Aden langgeng sampai kakek nenek. “ do’a tulus
itu keluar dari mulut Pak Asep. Andra tersenyum saat mendengarnya. Dalam hati
ia mengaminkan do’a dari Pak Asep.
Setiap orang
pasti akan merasa bahagia ketika mendapatkan do’a yang tulus itu. Rumah tangga yang langgeng adalah
impian dari setiap orang. Hanya saja, terkadang kenyataan sering tidak sesuai
harapan. Tak jarang, hanya kepedihan yang terasa, saat seseorang mengharapkan
__ADS_1
akhir yang manis.
Sementara
itu...
Sila terbangun
dari tidurnya. Ia menyingkapkan selimut yang menutupi dirinya. Hembusan angin
sore terasa sedikit menusuk kulitnya. Ia
segera menutup korden jendela kamarnya, lalu keluar kamar dan mencari keberadaan Andra. Ia ingat sekali, kamar
yang ia tempati adalah tempatnya merawat Andre dulu.
“Dimana,
Andra?” Sila bermonolog. Villa itu sangat sunyi. Ia jadi teringat sahabatnya
Vallen, wanita itu menyempatkan diri
untuk melihat ke ruangan yang pernah di tinggali oleh sahabatnya. Tidak ada yang berbeda, perhatian Sila
tertuju pada sebuah foto pernikahan Vallen dan Andre dengan ukuran 10 R yang
mungkin tertinggal, tertata rapi di atas meja rias.
Persahabatan
mereka sangat indah, hingga maut memisahkan mereka. Sila mengambil foto itu dan
mengamatinya sejenak. Beberapa saat
kemudian, ia kembali meletakkan foto itu di tempatnya. Sila bergegas ke dapur.
Ia ingin membuat sesuatu.
Sila membongkar
bekal bahan masakan yang ia bawa dari
rumahya. Ia menemukan buah stroberi, lalu terlintas ide untuk membuat jus. Ia
tahu, cuaca yang dingin memang tidak cocok untuk minum jus, tetapi Sila yakin,
Andra tidak akan menolak, jika ia yang membuatnya.
Ia teringat
sesuatu. Malam ini, ia ingin melewatinya dengan indah bersama Andra. Ia brjalan
menuju kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari tasnya. Sila agak merasa bersalah, karena ini adalah
cara curang, tapi ia sudah lelah selalu di tolak oleh suaminya sendiri. Ini
adalah ide gila yang pernah Sila lakukan dalam hidupnya. Ia akan mencampurkan
obat peningkat gairah pada jus mereka.
“Maafkan aku,
Andra. Tapi aku tidak ingin di tolak lagi malam ini. Aku sangat merindukanmu,
Sayang...” Sila tersenyum jahat, ia berharap, kelakuannya ini bukan sebuah tindak kriminal. Ia hanya ingin menikmati malam panjang
bersama Andra. Sebuah impian sederhana yang sulit untuk ia dapatkan saat ini.
Sila rindu
Andra yang hangat, selalu memeluknya
dengan tulus tanpa keraguan. Banyak memujinya, menciumnya setiap pagi. Ia tidak minta hal besar, hanya itu saja, hal
__ADS_1
yang perlahan mulai hilang.