Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 69


__ADS_3

Angin berhembus cukup kencang, membuat rambut Febbi yang tergerai berkibar.Wanita itu memijakkan kakinya di bukit bebatuan yang menghadap ke sebuah lembah. Hembusan angin itu seakan membantu membawa pergi kesakitan hati yang sedang ia rasakan saat ini.


Andre berada beberapa meter darinya. Lelaki itu juga sama, menerjang terpaan angin yang mendinginkan wajahnya. Keduanya sama-sama menyuarakan perasaan di dalam hati masing masing.


Jika kenyataan yang mereka hadapi sekarang hanyalah sebuah mimpi, tentu keduanya akan merasa sanget bahagia. Sayangnya ini adalah kenyataan yang tidak dapat untuk di ingkari.


Keduanya tidak dapat saling memiliki, bukan rasa yang tidak sama, hanya saja, ada hal yang membuat mereka tidak dapat bersatu. Seperti minyak dan air, di paksakan pun, tidak akan pernah bisa.


Semua untaian kerinduan, akhirnya lepas satu persatu dan terberai, ikatan perasaan pun terlepas dan pergi begitu saja. Tidak ada yang menginginkan berada dalam posisi mereka, tetapi keadaanlah yang memaksa.


Andre berjalan mendekat, hingga beberapa langkah di dekat Febbi, mereka berdampingan. Andre menggenggam erat tangan Febbi, sangat erat seperti enggan melepasnya lagi.


"Feb, jika kamu ingin menangis, menangislah sepuasmu di hadapanku. Aku tahu, aku sudah melukai perasaanmu. Tidak ada kata lain selain maaf yang bisa aku katakan. Kamu hari ini boleh mengumpatku, menghujatku seperti apapun. Itu adalah hakmu. Tapi ingat, berjanjilah, setelah hari ini kamu harus bahagia, untukku." Andre memandang wajah ayu wanita yang ada di sampingnya. Febbi masih tetap memandabg jauh ke depan sana. Meski sebenarnya, ia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Andre.


Sesaat kemudian, Febbi beralih ke hadapan Andre dan berhambur ke dalam pelukan lelaki itu. Air matanya tumpah. Ya, Febbi tidak bisa lagi menahan kesedihannya karena harus berpisah dengan Andre, lelaki yang selama ini selalu membuat hari suramnya menjadi ceria.


"Aku benci kenapa aku harus jatuh cinta padamu,Bang. Aku kecewa perah berharap agar bisa sama-sama denganmu. Aku merasa tertipu lewat semua mimpi manisku tentang kamu. Mengapa kamu melakukan ini untukku, Bang? Kamu menghancurkan perasaanku, seperti gelas yang kau lempar dari atas gedung, aku bahkan tidak bisa lagi melihat serpihan hatiku seperti apa,"

__ADS_1


'Jika waktu bisa di putar kembali, aku ingin kita tidak pernah bertemu, Bang. Aku hampir tumbang merasakan kesakitan ini. Bagaimana bisa aku hidup baik-baik saja, setelah separuh jiwaku kau bawa pergi?"


"Setelah hari ini, kamu hanya akan menjadi milik orang lain, melihatmu bersanding di pelaminan pasti akan sangat menyakitkan, Bang. Aku tidak akan mampu. Aku akan segera kembali ke Amerika, maaf Bang, aku tidak bisa melihatmu bersamanya, aku tidak mampu..." ocehan panjang Febbi mewakilkan perasaannya yang sebenarnya. Ia hanya gadis biasa yang bisa merasakan luka, ia terluka karena rasa yang ia miliki saat ini.


Andre yang tadinya memaku, membalas pelukan Febbi erat. Dia merasa memang dialah yang pantas disalahkan saat ini. Ia telah meluluh lantakkan perasaan wanita yang ia sayangi.


"Aku tahu Feb, aku adalah orang yang pantas untuk kamu salahkan. Aku adalah orang yang pantas untuk kamu benci saat ini. Aku yang telah memberimu harapan, tapi aku juga yang telah membuatmu kecewa. Aku pantas untuk tidak mendapatkan maaf darimu. Aku tahu diri..."


"Kalau aku punya pilihan lain, aku akan memilih bersamamu. Tapu, bayi yang tidak berdosa itu adalah anakku, hasil dari keliaranku, aku harus menerimanya, aku harus menebus kesalahanku. Aku memang oantas untuk di salahkan. Aku siap, luapkan semua perasaan kesalmu padaku, feb..."


"Aku hanya seorang lelaki yang tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku begitu saja. Aku harap kamu bisa memahami perasaanku saat ini, Feb. Sedikitpun aku tidak ada niatan untuk mengecewakanmu, semua ini terjadi di luar keinginanku,"


"Suatu hari akan datang sosok pangeran yang akan menyerahkan hatinya padamu, yang setia dan tidak membagi hatinya sepertiku, yang terpenting, lelaki itu tidak sebrengsek diriku,"


"Jangan pernah menyerah, lanjutkan hidupmu. Perpisahan diantara kita bukan akhir segalanya. Di depan sana, masih ada banyak harapan yang kamu bisa gapai. Aku hanyalah sosok tidak penting yang mampir dan menggores kenangan buruk untukmu, Maaf..."


Ketiadaan jarak diantara mereka di saksikan oleh alam. Besarnya luka yang menganga seakan tidak bisa terobati dalam sekejap. Mereka berdua terpaksa menikmati segalanya, meskipun pahit.

__ADS_1


Cup...


Febbi mengecup bibir Andre dan membuat lelaki itu kaget. Ia tidak pernah berpikir Febbi akan seberani.itu. Tetapi, Andre tetap memakai akal sehatnya. Kemungkinan Febbi melakukan ini karena ini terakhir kali mereka bertemu dan lagi, statusnya sekarang memang pacar gadis itu. Untuk beberapa jam ke depan.


"Maaf, Bang..." Febbi tersadar dan segera memberi jarak untuk mereka berdua.


"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf, bagaimana? Perasaanmu sudah sedikit lebih baik?" Andre ingin tahu, apakah Febbi sudah merasa jauh lebih baik setelah mengungkapkan semua isi hatinya.


" Febbi sudah menerima kenyataan ini, Bang.Febbi hanya mengungkapkan, apa yang sebenarnya ada di dalam hati Febbi. Febbi cuma ingin Abang tahu kalau Febbi sangat mencintai Abang. Jaga diri Abang baik-baik, meskipun Febbi tidak hadir di acara pernikahan aban, tapi lebih akan selalu mendoakan Abang yang terbaik. Perasaan Febbi akan tetap sama tetap sayang pada Abang. Kalau suatu saat kita berjodoh kita pasti akan dipertemukan kembali," Febbi kembali terisak, mungkin, ia sudah terlalu sayang pada Andre, sehingga rasa sakit di hatinya semakin nyata.


" Kamu juga jaga diri kamu baik-baik, aku mungkin tidak bisa menjagamu lagi. Sebaiknya kamu hati-hati pada preman yang seperti waktu itu, jangan berjalan seorang diri apabila suasana masih sepi. Usahakan ada orang di sekitar kamu yang kamu percaya tidak akan membahayakan. Misalnya, sesama wanita atau tetangga kos mu atau kamu perlu aku sewakan Bodyguard?" Ingatan Andre tentang orang yang akan mencelakai Febbi pagi itu memberinya ide untuk membiarkan satu orang kepercayaannya untuk menjaga Febbi.


" Tidak perlu, Bang. Lagipula kosanku kecil, mau tinggal di mana kalau ada Bodyguard yang menjagaku?" memang kosan Feby hanya minimalis bukan masalah bayaran, tetapi Gadis itu lebih nyaman tinggal di tempat yang tidak terlalu besar karena ia hanya tinggal seorang diri.


" Tidak usah memikirkan dimana dia akan tinggal, dia hanya akan datang ke rumahmu pagi dan bisa dipanggil disaat-saat kamu butuhkan dia. Ia orang kepercayaanku dan tinggalnya di rumah temanku yang ada di sana tidak perlu khawatir," Andre meyakinkan Febbi untuk tetap menerima tawarannya.


"Baiklah, terserah Abang saja. Maaf, baju Abang jadi basah gara-gara aku menangis," Febbi mengusap air mata yamg menemprl di baju Andre, meskipun itu tidak merubah keadaan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menerima tawaranku. Meskipun aku tidak bersamamu, bukan berarti aku sudah tidak perduli Febbi. Kamu adalah sahabatku kedepannya." Andre tidak ingin memberi harapan lagi. Hubungan mereka ke depannya hanyalah sahabat, tidak lrbih dari itu.


"Iya, Bang. Aku mengerti. Terima kasih atas perhatian Abang.Aku senang, mengenal lelaki sebaik Abang." Febbi coba untuk tersenyum, menyimpan luka hatinya sedalam mungkin.


__ADS_2