
“Benar sekali, Sila. Kamu paham,
kan. Andre pasti akan membelamu habis-habisan, meskipun dia tidak bersalah, ia
akan tetap melakukan itu. Makanya mama tidak tega untuk memarahinya. Dia
melakukan semuanya karena sebuah alasan, mama tahu itu. Mama turut berduka ya,
Nak. Mungkin semua ini sangat berat bagimu. Apalagi, sekarang kamu malah harus
menanggung ini, hamil anak Andrae,” mama Andre menarik perlahan Sila ke dalam
pelukannya.
“Sesungguhnya semua ini salah
Sila, Mama. Sila menyangka dia sebagai Andra saat itu. Hingga teradi hal yang
tidak seharusnya terjadi,” Sila berkata dengan jujur, bahwa yang salah dalam
kejadian ini adalah dirinya, bukan Andre.
Andre tidak harus menanggung
semua kesalahannya. Lelaki itu telah membuat banyak sekali kebaikan dalam hidup
Sila. Sejak ia masih remaja sampai saat ini, Andre tetaplah orang yang baik.
Dia selalu mengusahakan yang terbaik untuk Sila. Dia telah banyak berhutang
budi pada pria itu.
“Jika ada yang harus di salahkan,
orangnya tetaplah Andre, karena dia yang tahu semua ini, seharusnya dia yang
menjaga jarak denganmu, bukannya membuatmu menjadi bingung dengan sikapnya,
terlebih lagi, akhirnya kejadian ini terjadi,”
Apa yang mamanya katakan ada
benarnya, Sila memang tidak tahu kalau yang selama beberapa malam tidur
bersamanya itu adalah Andre. Bahkan, bodohnya ia mengabaikan perasaan
curiganya. Ia tetap memaksakan diri untuk mempercayai bahwa lelaki itu adalah
Andra.
“Semua ini tidak adil buat kakak,
Ma. Dia yang selalu menanggung kesalahan
aku, dia rela menerima hukuman dari apa yang bukan menjadi kesalahannya.
Seharusnya papa menamparku, Ma, bukan kakak. Bahkan, nantinya ia akan
menikahiku, wanita yang tidak mencintainya, padahal kakak sudah punya pacar.”
Sila mengungkapkan semuanya pada mamanya. Memang mereka bukan ibu dan anak
kandung, tapi hubungan mereka memang sebaik itu. Di mata mamanya, Sila bukan
hanya sekedar menantu, tapi benar-benar anak.
“Dia sendiri yang memulai
permainan ini, jadi dia juga harus bertanggung jawab untuk semuanya. Lagipula
yang di kandung kamu kan memang anaknya dan lagi, mama lebih senang kamu yang
bersama Andre, bukan wanita lain. Kalian
juga sama-saa kehilangan orang yang kalian cintai, jadi tidak ada salahnya
__ADS_1
mencoba dari awal,” mamanya justru
menyarankan Sila untuk mencoba menerima Andre dan belajar mencintainya.
“Mama tidak berpikir aku
menghianati Andra?” Sila berkata sambil menatap mamanya dengan sedikit
takut-takut. Tetapi mamanya hanya tertawa.
“Sila, mama mengenal kamu lebih
baik dari siapapun. Mama tahu, kamu bukan tipe wanita yang seperti itu. Mama mengerti, mungkin untuk saat ini, kamu belum bisa mencintai Andre, itu bukan berarti tidak mungkin , kan?
Dulu kamu dan Andra juga tidak saling mencintai,”
Penjelasan mamanya membuat ia
mengingat kembali kisah awal percintaannya dan Andra. Ya, keduanya tidak
saling mencintai. Saat itu hanya Andra
yang bersikeras untuk mempertahankan pernikahan mereka. Hingga akhirnya Sila mampu membuka pintu hatinya
untuk lelaki itu.
“Mama benar, tapi bagaimana kalau
aku tidak berhasil membuat diriku jatuh cinta padanya ma? Aku takut, pernikahan ini hanya akan
menghancurkan hati Kakak,” Sila memang tidak bisa menamin dirinya mampu jatuh
cinta dlam waktu dekat ini.
“jangan dulu menyerah sebelum
mencoba. Mama merestui kamu untuk menjadi istri Andre. Mama yakin, kamu bisa menadi istri
terbaik untuk Andre juga, sama seperti saat kamu bersama dengan Andra. Semangat, Nak.” Mama
“Baiklah, Mama. Sila akan mberusaha yang terbaik untuk
hubungan kami nanti. Semoga hubungan kai ke depa menjadi lebih baik. Terima
kasih Mama untuk dukungannya,Mama yang terbaik.” Sila mengeratkan pelukannya pada mamanya.
Mama Andre sangat menyayangi Sila
karena wanita itu adalah anak sahabatnya. Ketika mereka meninggal, sejak itu
dia dan suaminya menganggap Sila juga anak mereka. Sejak awal, baik papa atau mama Andre sudah tahu kalau anak mereka mencintai Sila.
Dengan pertimbangan itu, mereka merestui, meskipun sebenarnya mereka cukup
kecewa karena Andre menutupi semuanya.
“Mama mau pergi ke Amerika. Mau
menengok makam suamimu. Andre juga bilang kalau kakek juga sudah di penjara
karena perbuatannya. Mama tidak menyangka kalau kakek bisa sampai sejahat itu
dengan cucunya sendiri. Mama pikir, kakek benar-benar menjaga anakku dengan
baik. Ternyata, dia justru memanfaatkannya,” mama meneteskan air mata membayangkan kejahatan ayahnya pada anaknya.
“Maafkan aku, Ma. Sebelumnya
Andra sudah pernah menceritakan semuanya padaku, tapi dia melarangku untuk
memberitahu siapapun. Dia hanya ingin menyimpannya sendiri. Andra bercerita
padaku juga karena aku yang memaksanya, Ma. Wajar, jika ia sulit untuk
memaafkan kakek. Beliau terlalu kejam,”
__ADS_1
Kalau mamanya tidak membuka
terlebih dahulu masalalu Andra dan kakek, Sila juga tidak akan pernah membukanya.
Andra cukup kuat menanggung semuanya, hingga ia berpura-pura baik-baik saja.
Berulang kali mencoba memaafkan kakeknya, tetapi lelaki tua itu kembali berbuat
jahat padanya.
“Tidak apa, Sila. Itu semua
keinginan Andra, kan? mama saja sebagai ibunya yang kurang peka. Seharusnya ,
mama tidak membiarkan Andra di rawat oleh kakekmu. Mama yang terlalu bodoh dan
percaya padanya. Mama sangat menyesal, Sila.”
Hanya sesal yang bisa terucap,
waktu sudah berlalu dengan cepat. Andra
kini telah tiada, penyesalan sebesar apapun tidak bisa membuatnya kembali. Mereka hanya bisa mendo’akan Andra bahagia di
sana.
“Mama tidak perlu menyesali yang
sudah terjadi. Sekalipun kita sesali, Andra sudah tenang di alam sana. Sekarang
mama jaga kesehatan, banyak do’akan Mas,
biar dia bahagia di sana. Aku juga sebenarnya masih belum percaya sampai detik
ini, Mas udah nggak ada, Ma. Tapi, aku melihat makamnya dengan mata kepalaku
sendiri. Sekarang aku hanya bisa meneruskan hidup dan merawat anak-anak sampai
mereka dewasa.” Ujar Sila sambil
berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah.
“Kuatkan hati kita, Nak. Lama
kelamaan, kamu akan terbiasa tanpa dia. Jangan lupa, berusahalah untuk
mencintai Andre. Mama yakin, kakakmu itu juga bisa membuatmu bahagia. Meskipun
saat ini dia sudah mencintai perempuan lain, suatu hari, perasaan cintanya pada
wanita itu akan hilang karena kamu selalu ada di sampingnya.”mama yang masih
memeluknya, mencium rambut wanita itu berulang kali dan menepuk pundaknya pelan
berulang kali.
Mamanya memahami, betapa sulitnya
kenyataan yang harus Sila hadapi saat ini. Ia tentu membutuhkan dukungan moril
dari masalahnya sekarang yang tertumpuk dengan masalah baru yang sangat rumit. Seakan
tidak ada waktu baginya untuk menyembuhkan lukanya yang masih basah.
“Aku akan berusaha untuk
mencintai dia, semoga kak Andre bisasabar menghadapiku yang belum memiliki rasa
apapun terhadapnya, Ma.”
“Menunggumu sampai bertahun-tahun
saja dia tahan, apalagi setelah berhasil menikahimu, dia pasti akan sabar
menunggumu jatuh cinta padanya,”
__ADS_1
“Semoga saja, ma.”