Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 67


__ADS_3

“Benar sekali, Sila. Kamu paham,


kan. Andre pasti akan membelamu habis-habisan, meskipun dia tidak bersalah, ia


akan tetap melakukan itu. Makanya mama tidak tega untuk memarahinya. Dia


melakukan semuanya karena sebuah alasan, mama tahu itu. Mama turut berduka ya,


Nak. Mungkin semua ini sangat berat bagimu. Apalagi, sekarang kamu malah harus


menanggung ini, hamil anak Andrae,” mama Andre menarik perlahan Sila ke dalam


pelukannya.


“Sesungguhnya semua ini salah


Sila, Mama. Sila menyangka dia sebagai Andra saat itu. Hingga teradi hal yang


tidak seharusnya terjadi,” Sila berkata dengan jujur, bahwa yang salah dalam


kejadian ini adalah dirinya, bukan Andre.


Andre tidak harus menanggung


semua kesalahannya. Lelaki itu telah membuat banyak sekali kebaikan dalam hidup


Sila. Sejak ia masih remaja sampai saat ini, Andre tetaplah orang yang baik.


Dia selalu mengusahakan yang terbaik untuk Sila. Dia telah banyak berhutang


budi pada pria itu.


“Jika ada yang harus di salahkan,


orangnya tetaplah Andre, karena dia yang tahu semua ini, seharusnya dia yang


menjaga jarak denganmu, bukannya membuatmu menjadi bingung dengan sikapnya,


terlebih lagi, akhirnya kejadian ini terjadi,”


Apa yang mamanya katakan ada


benarnya, Sila memang tidak tahu kalau yang selama beberapa malam tidur


bersamanya itu adalah Andre. Bahkan, bodohnya ia mengabaikan perasaan


curiganya. Ia tetap memaksakan diri untuk mempercayai bahwa lelaki itu adalah


Andra.


“Semua ini tidak adil buat kakak,


Ma. Dia yang selalu menanggung  kesalahan


aku, dia rela menerima hukuman dari apa yang bukan menjadi kesalahannya.


Seharusnya papa menamparku, Ma, bukan kakak. Bahkan, nantinya ia akan


menikahiku, wanita yang tidak mencintainya, padahal kakak sudah punya pacar.”


Sila mengungkapkan semuanya pada mamanya. Memang mereka bukan ibu dan anak


kandung, tapi hubungan mereka memang sebaik itu. Di mata mamanya, Sila bukan


hanya sekedar menantu, tapi benar-benar anak.


“Dia sendiri yang memulai


permainan ini, jadi dia juga harus bertanggung jawab untuk semuanya. Lagipula


yang di kandung kamu kan memang anaknya dan lagi, mama lebih senang kamu yang


bersama Andre, bukan wanita lain.  Kalian


juga sama-saa kehilangan orang yang kalian cintai, jadi tidak ada salahnya

__ADS_1


mencoba dari awal,”  mamanya justru


menyarankan Sila untuk mencoba menerima Andre dan belajar mencintainya.


“Mama tidak berpikir aku


menghianati Andra?” Sila berkata sambil menatap mamanya dengan sedikit


takut-takut. Tetapi mamanya hanya tertawa.


“Sila, mama mengenal kamu lebih


baik dari siapapun. Mama tahu, kamu bukan tipe wanita yang seperti itu.  Mama mengerti, mungkin untuk  saat ini, kamu belum bisa mencintai  Andre, itu bukan berarti tidak mungkin , kan?


Dulu kamu dan Andra juga tidak saling mencintai,”


Penjelasan mamanya membuat ia


mengingat kembali kisah awal percintaannya dan Andra. Ya, keduanya tidak


saling  mencintai. Saat itu hanya Andra


yang bersikeras untuk mempertahankan  pernikahan mereka. Hingga akhirnya Sila mampu membuka pintu hatinya


untuk lelaki itu.


“Mama benar, tapi bagaimana kalau


aku tidak berhasil membuat diriku jatuh cinta padanya ma?  Aku takut, pernikahan ini hanya akan


menghancurkan hati Kakak,” Sila memang tidak bisa menamin dirinya mampu jatuh


cinta dlam waktu dekat ini.


“jangan dulu menyerah sebelum


mencoba. Mama merestui kamu untuk menjadi istri  Andre. Mama yakin, kamu bisa menadi istri


terbaik untuk Andre juga, sama seperti saat kamu  bersama dengan Andra. Semangat, Nak.” Mama


“Baiklah,  Mama. Sila akan mberusaha yang terbaik untuk


hubungan kami nanti. Semoga hubungan kai ke depa menjadi lebih baik. Terima


kasih Mama untuk dukungannya,Mama yang terbaik.”  Sila mengeratkan pelukannya pada mamanya.


Mama Andre sangat menyayangi Sila


karena wanita itu adalah anak sahabatnya. Ketika mereka meninggal, sejak itu


dia dan suaminya menganggap Sila juga anak mereka.  Sejak awal,  baik papa atau mama Andre sudah tahu kalau anak mereka mencintai Sila.


Dengan pertimbangan itu, mereka merestui, meskipun sebenarnya mereka cukup


kecewa karena Andre menutupi semuanya.


“Mama mau pergi ke Amerika. Mau


menengok makam suamimu. Andre juga bilang kalau kakek juga sudah di penjara


karena perbuatannya. Mama tidak menyangka kalau kakek bisa sampai sejahat itu


dengan cucunya sendiri. Mama pikir, kakek benar-benar menjaga anakku dengan


baik. Ternyata, dia justru memanfaatkannya,”  mama meneteskan air mata membayangkan kejahatan ayahnya pada anaknya.


“Maafkan aku, Ma. Sebelumnya


Andra sudah pernah menceritakan semuanya padaku, tapi dia melarangku untuk


memberitahu siapapun. Dia hanya ingin menyimpannya sendiri. Andra bercerita


padaku juga karena aku yang memaksanya, Ma. Wajar, jika ia sulit untuk


memaafkan kakek. Beliau terlalu kejam,”

__ADS_1


Kalau mamanya tidak membuka


terlebih dahulu masalalu Andra dan kakek, Sila juga tidak akan pernah membukanya.


Andra cukup kuat menanggung semuanya, hingga ia berpura-pura baik-baik saja.


Berulang kali mencoba memaafkan kakeknya, tetapi lelaki tua itu kembali berbuat


jahat padanya.


“Tidak apa, Sila. Itu semua


keinginan Andra, kan? mama saja sebagai ibunya yang kurang peka. Seharusnya ,


mama tidak membiarkan Andra di rawat oleh kakekmu. Mama yang terlalu bodoh dan


percaya padanya. Mama sangat menyesal, Sila.”


Hanya sesal yang bisa terucap,


waktu sudah berlalu dengan cepat.  Andra


kini telah tiada, penyesalan sebesar apapun tidak bisa membuatnya kembali.  Mereka hanya bisa mendo’akan Andra bahagia di


sana.


“Mama tidak perlu menyesali yang


sudah terjadi. Sekalipun kita sesali, Andra sudah tenang di alam sana. Sekarang


mama jaga kesehatan,  banyak do’akan Mas,


biar dia bahagia di sana. Aku juga sebenarnya masih belum percaya sampai detik


ini, Mas udah nggak ada, Ma. Tapi, aku melihat makamnya dengan mata kepalaku


sendiri. Sekarang aku hanya bisa meneruskan hidup dan merawat anak-anak sampai


mereka dewasa.”  Ujar Sila sambil


berusaha menahan air matanya yang hampir tumpah.


“Kuatkan hati kita, Nak. Lama


kelamaan, kamu akan terbiasa tanpa dia. Jangan lupa, berusahalah untuk


mencintai Andre. Mama yakin, kakakmu itu juga bisa membuatmu bahagia. Meskipun


saat ini dia sudah mencintai perempuan lain, suatu hari, perasaan cintanya pada


wanita itu akan hilang karena kamu selalu ada di sampingnya.”mama yang masih


memeluknya, mencium rambut wanita itu berulang kali dan menepuk pundaknya pelan


berulang kali.


Mamanya memahami, betapa sulitnya


kenyataan yang harus Sila hadapi saat ini. Ia tentu membutuhkan dukungan moril


dari masalahnya sekarang yang tertumpuk dengan masalah baru yang sangat rumit. Seakan


tidak ada waktu baginya untuk menyembuhkan lukanya yang masih basah.


“Aku akan berusaha untuk


mencintai dia, semoga kak Andre bisasabar menghadapiku yang belum memiliki rasa


apapun terhadapnya, Ma.”


“Menunggumu sampai bertahun-tahun


saja dia tahan, apalagi setelah berhasil menikahimu, dia pasti akan sabar


menunggumu  jatuh cinta padanya,”

__ADS_1


“Semoga saja, ma.”


__ADS_2