
Setelah mengantarkan Febbi ke
kampusnya, Andre segera melanjutkan perjalanan ke kantor kakeknya yang ternyata
satu arah. Ada banyak hal yang Andre bahas dengan kakeknya. Tujuan utamanya
datang ke Amerika adalah untuk mencari tahu tentang Andra. Ia penasaran, apa
yang membuat hubungan Andra dan kakeknya tidak dapat di perbaiki, bukankah
dulunya mereka tinggal bersama? Andre juga sempat mendengar dari orang
kepercayaannya, bahwa hilangnya Andra, ada hubungannya dengan kakeknya.
Kalau memang benar, kakeknya ada
hubungannya dengan hilangnya Andra, itu artinya Andre harus mengusut kisah ini
hingga tuntas. Meskipun selama ini dia hanya bisa diam dan mengalah dalam hal
apapun, tapi kali ini, ia ingin berbuat sesuatu untuk adik kembarnya itu. Andre merasa, inilah saatnya ia melakukan
sesuatu yang berguna untuk adiknya, ia ingin menjalankan tugasnya sebagai
seorang kakak.
Andre telah memasuki area
perusahaan kakeknya. Tentu saja sebelumnya ia telah membuat janji dengan sang
kakek. Mereka baru akan bertemu kali ini, setelah beberapa hari Andre tinggal
di rumah sahabatnya lalu pindah di tempat kos yang ternyata berada di samping
kos Febbi. Alasan Andre tidak langsung menemui kakeknya adalah ia harus
menyiapkan beberapa dokumen, ia juga harus menyelesaikan berkas-berkas yang
belum kelar di kerjakan.
“Andre, apa kabar? Senang sekali
kakekmu ini, di kunjungi oleh seorang cucu yang sangat sibuk mengurus
perusahaan,” Ujar Sang Kakek berbasa-basi.
“Kabarku baik, Kek. Saat ini
bukanlah hal yang penti g kabarku untukmu. Ada beberapa hal yang aku ingin tahu
darimu, ini tentang Andra.” Kalimat yang di Ungkapkan oleh Andre membuat mata
kakeknya melebar. Ia tidak menyangka cucunya dtang untuk itu.
“Apa yang ingin kamu tahu tentang
dia? Bukankah kau tahu, semenjak menikah, Andra sudah tidak
tinggal denganku?!” Lelaki itu mencoba
berkilah. Ia pura-pura tidak paham, kemana arah pembicaraan Andre.
“Jangan berpura-pura, Kek. Aku
yakin kakek tahu kemana arah pembicaraanku. Ini bukan tentang Andra tinggal di
mana, tapi tentang kejahatan yang telah
kau perbuat pada adik kandungku itu.” Andre memberikan penegasan, hal apa yang
sebenarnya ingin ia bahas di sini. Ia memandang wajah kakeknya yang gelisah.
Mungkin kakek tua itu tidak menyangka, mengapa Andre bisa mencurigainya. Padahal, meskipun di temukan, dia telah
__ADS_1
yakin, Andra tidak akan lagi bisa membocorkan kejahatan di masalalunya karena
kakek itu yakin, cucunya telah kehilangan ingatannya secara permanen.
“Atau, kakek berpikir, dengan
membuat Andra lupa ingatan, itu bisa membuatmu bebas begitu saja dari semua
tuduhan?! Tentu saja kau salah kakek tua! Aku sudah mendengar banyak keterangan dari berbagai sumber yang akurat,
kau adalah kakek yang keji! Aku pikir,
kamu menjaga adikku dengan baik selama di sini. Tapi ternyata kau menjual
adikku untuk kebutuhan materimu! Kau menyiksanya setiap di tidak menuruti
keinginanmu, terakhir kau bahkan tega
mencekokinya dengan obat penghilang ingatan dosis tinggi dan membiarkannya koma
bertahun-tahun, apa kau waras?! Kau
sungguh kakek yang biadab!” Andre telah di kuasai oleh amarahnya. Ia tidak bisa
lagi berdiam diri dengan seluruh kejahatan yang telah kakeknya lakukan kepada
Andra.
“Aku bisa menjelaskan semuanya
padamu, Ndre... aku...”
“Sudahlah, tidak perlu lagi kamu
jelaskan. Apa yang mau kau jelaskan lagi? Aku sudah kehilangan rasa hormatku
padamu. Apa kau bisa membayangkan bagaimana adikku menderita?! Kau menyiksanya seperti hewan, kau pantas di hukum untuk itu! Kau tidak
membayar semuanya!”
Andre sudah bekerjasama dengan
kepolisian setempat dengan bantuan dari temannya. Sebelum pergi ke kantor
kakeknya, Andre sudah menghubungi temannya untuk membawa polisi ke kantor
kakeknya. Polisi sudah mempelajari kasus kakeknya dengan semua berkas dan bukti-bukti komplit yang Andre berikan.
“Aku sudah membiayai hidup Andra
dengan jumlah uang yang tidak sedikit, apa salahnya kalau aku ingin memintanya untuk balas budi sedikit, dengan membantuku mencari uang? Apa kau pernah
mendengar kalimat yang mengatakan di dunia ini tidak ada yang gratis?” si kakek
tertawa jahat, ia sedang membela dirinya
sendiri. Ia merasa segala sesuatu yang telah di lakukannya untuk cucunya harus
ada timbal balik yang ia terima.
“Itu tidak salah, hanya saja
caramu memperlakukannya, itu yang salah. Apakah pantas, seorang kakek kandung
menjual cucunya sendiri? Kek, kau sungguh tidak waras!” Andre benar-benar tidak habis pikir, mengapa
seorang kakek harus sekejam itu?
Selama ini Andre baru bisa mengungkap
semuanya. Selama tiga tahun Andra
menghilang dan di nyatakan meninggal, ia
__ADS_1
baru bisa mendengar desas-desus kejahatan kakek, dari beberapa tamu yang pernah
kencan dengan adiknya. Kalau dari mulut
Andra sendiri, Andre belum pernah mendengarnya seujung kuku pun. Adiknya itu
sangat tertutup, sulit untuk mengetahui rahasia di dalam dirinya.
“Andre, sudahlah lupakan saja,
semuanya juga telah berlalu. Meskipun Andra tidak mau menerimaku, tapi dia
tidak pernah membahas masalah ini, dia juga tidak menuntutku, karena dia tahu diri, dia hidup karenaku,”
kakek tetap tidak mau mengakui kesalahannya dan terus berusaha berkilah untuk
terbebas dari segala macam tuduhan.
“Kenapa kakek masih harus selalu
keras kepala seperti ini? Andra juga punya kehidupannya sendiri . ia juga
berhak bahagia tanpa terkekang, tapi kakek membatasi kehidupannya kala itu.
Kakek sudah merenggut masa muda adikku
tanpa perasaan!” Andre marah, dan dia
pantas untuk itu. Selama bertahun-tahun misteri ini tidak terungkapkan. Andre masih tidak menyangka ada kasus yang seaneh itu.
“Aku minta maaf, Andre. Andra
adalah satu-satunya aset yang membuatku untung besar, baik dari wajahnya, juga
kecerdasannya. Aku terpaksa melakukannya
karena aku merasa dia adalah pembawa hoki, tapi sekarang aku sadar kalau yang
aku ambil darinya itu adalah hal yang salah, kalau saja ada waktu untuk
meemperbaikinya, kakekmu ini akan merubah semuanya Ndre. Tapi kenyataannya, aku justru menambahnya lagi dengan
masalah baru.” Kakek sudah berulang kali
selalu menyesal, tapi penyesalannya hanya sebatas kalimat belaka. Terkadang ia telah meminta maaf, tetapi
ungkapan maafnya itu hanya sekedar basa-basi. Entahlah, Andre benar-benar tidak
bisa mengenali kakeknya sendiri.
“Maaf, Kek. Aku bisa memaafkan kakaek, tapi kakek tetap
harus mempertanggung jawabkan perbuatan
kakek yang sudah keterlaluan,” Andre menelepon seseorang dan segera memberi
kode untuk masuk ke dalam ruangan,
Beberapa orang di antaranya
adalah teman kepercayaan Andre, pengacara dan juga polisi. Kakek tidak bisa
mengelak lagi, atas semua bukti-bukti akurat yang berhasil Andre kumpulkan.
Hari itu juga kakek di putuskan sbagai tersangka dan di penjara. Sesuai dengan
ketetapan dan hukum setempat. Sebelum di bawa pergi, kakek berharap Andre mau
mengurus perusahaannya dan jufa menyampaikan maafnya pada Andra. Di titik ini, kakek benar-benar menyesal, tapi
ia sadar, penyesalannya sudah terlambat, sudah saatnya ia menebus semua
kesalahannya terhadap Andra.
__ADS_1