
Andra pulang seorang diri ke rumah orang tuanya. Ia memang sudah lama tidak pulang ke rumah, tadinya ia ingin mengajak anak-anak dan juga Sila, tapi Akhirnya ia memilih untuk datang ke sana seorang diri.
"Andre, mana anak-anak? Sila mana?" Begitu sampai di rumah, mamanya langsung menanyakan cucu dan menantunya.
"Ada di rumah, Ma. Aku sengaja pengen pulang sendiri," ujar Andra serius. Keinginannya untuk.pulang seorang diri memang sangat kuat, sehingga ia tidak membawa serta istri dan kedua anaknya.
"Ada apa, memangnya?" Mamanya menangkap bahwa ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh anaknya.
"Aku mau ke Amerika menyusul kakak. Nanti mama sama papa sering-sering berkunjung ke rumah Andra," Andra serius, ia memang akan menyusul kakaknya, karena ada hal yang harus di bahas berdua dan tidak bisa di lakukan via telepon.
"Kenapa mendadak? Biasanya pasti di rencanakan terlebih dahulu. Apa ada sesuatu yang mendesak?" Mamanya sedikit merasa aneh, kenapa mendadak Andra ingin ke Amerika menyusul Andre.
"Iya, kakak baru di kabari kakak pagi tadi, Ma. Aku juga belum bilang pada Sila, baru bilang sama Mama. Nanti sepulang dari sini, aku akan bilang sama dia, Ma." ungkap Andra bersungguh-sungguh. Ia akan mengatakan semuanya pada Sila setelah ia pulang dari rumah mamanya.
"Mama setuju, Ndra. Nanti kamu segera bicara pada istrimu, kalau memang mau pergi. Jangan mendadak pergi tanpa pamit. Memangnya kamu masih ingat, rumah kakekmu dimana?" Mamanya cemas, karena Andra lupa ingatan, sudah pasti dia tidak akan ingat di mana rumah kakeknya berada.
"Nanti kakak yang akan menjemputku ke Bandara, Ma. Oh ya, papa mana ma?" Andra mencari papanya juga, ingin berbincang-bincang, meskipun hanya remeh-temeh.
"Papamu ke kantor pagi-pagi sekali, katanya ada pertemuan penting. Mama kesepian makanya di rumah ini. Kalian semua pergi, adikmu, Anita juga sudah punya rumah sendiri. Selain itu, karena sibuk, kalian juga jarang main ke rumah mama," curhatan mamanya membuat Andra jadi sedikit tidak enak.
"Maafkan Andra dan Sila, Ma. Kami berdua jarang jenguk mama karena sibuk, kedepannya, semoga kami bisa sering-sering main ke sini." Di sela jadwalnya yang padat, Andra memang sudah seharusnya meluangkan waktu untuk kedua orang tuanya.
"Bagaimana keadaan Panti, Ndra? Makin rame?" Mama yang sudah lama tidak berkunjung ke Panti ingin tahu bagaimana keadaan panti asuhan milik anaknya berjalan.
__ADS_1
i
"Panti lancar, Ma. Makin rame penghuninya, makin rame juga donatur yang bergabung. kami agak jarang juga kesana, karena kadang terlalu repot, Ma." ungkap Andra.
"Syukurlah kalau begitu, mama ikut senang. Memang kamu harus mencari orang kepercayaan yang bisa di andalkan di panti, jadi tidak memaksakan diri untuk kesana-kemari, Ndra." usul Sang Mama.
Kalau Andra pikir-pikir, usulan Mamanya memang bisa di pertimbangkan. Karena melihat kesibukan mereka saat ini, sangat merepotkan jika harus bolak balik.
Saat libur, mereka berdua juga ingin prioritaskan untuk anak-anak, karena bagaimanapun, Allana dan Alandra butuh perhatian dari kedua orang tuanya. Mereka berdua butuh bimbingan dari ibu dan juga ayahnya.
"Aku akan mempertimbangkannya nanti di rumah, Ma. Memang benar, kami butuh orang lain yang bisa mengurus panti dengan baik. Ma, kalau gitu aku balik ya, aku pikir papa ada di rumah,"
"Kenapa buru-buru? Nggak makan dulu?"
"Nggak, Ma. Aku mau mampir-mampir soalnya. Salam buat papa," Andra melangkah keluar dari rumah mamanya. Tujuannya memang hanya ingin bertemu dengan papanya.
"Nanti Andra sampaikan, Ma."
Andra membawa mobilnya perlahan keluar dari area rumah keluarga Wijaya. Rumah yang dulunya penuh kenangan itu hanya seperti tempat asing untuk Andra. Bahkan, ia tidak dapat merasakan kehangatan di dalamnya.
Sepanjang perjalanan ke rumah, Andra hanya memikirkan bagaimana reaksi Sila, saat tahu kalau dia akan menyusul Andre ke Amerika. Kakaknya bilang, ada hal penting yang harus di bicarakan. Itu sungguh membuatnya dilema.
Andra membayangkan kerinduan yang pasti akan ia rasakan saat jauh dari Sila nanti. Itu pasti akan sangat menyiksa meskipun hanya beberapa hari.
__ADS_1
"Bagaimana aku yang dulu? Apakah juga sering meninggalkan Sila pergi? Semoga Sila dapat mengerti, aku juga hanya akan pergi beberapa hari." gumamnya seorang diri.
Andra mempercepat laju mobilnya. Ia ingin segera bertemu dengan Sila. Niatnya bertemu dengan papanya justru gagal karena papanya sudah pergi ke kantor sepagi itu.
Tidak butuh waktu lama untuk kembali ke rumahnya, sekarang Andra telah sampai di halaman rumahnya. Sila sedang duduk di beranda rumah mereka sambil menikmati secangkir teh dengan majalah wanita ada di tangannya.
"Nggak jadi ke rumah mama, Mas?" Sila merasa sedikit terkejut karena terhitung suaminya baru saja pamit pergi dan sudah kembali.
"Jadi, sayang. Tapi papa nggak ada. aku hanya di sana sebentar saja lalu memutuskan untuk pulang. Tadi mama menyuruhku makan, tapi aku menolaknya," Andra menceritakan semuanya sekilas.
"Kenapa? Harusnya tadi mas makan dulu, sedikit juga tidak apa, yang penting makan. Mama pasti sedih di tolak, padahal kamu paling suka masakan Mama," Sebenarnya Sila mengerti, mungkin semuanya terjadi karena ingatan Andra yang buruk. Sila hanya berharap, semoga mamanya dapat memaklumi semuanya.
"Aku merasa asing di sana dan tidak nyaman, makanya aku cepat-cepat pulang," ungkapnya jujur. Mau apalagi selain mengerti keadaan Andra yang sekarang memang berbeda dengan yang dulu.
"Ya sudah, harus bagaimana, mama pasti bisa mengerti, kok, Mas. Mama bukan orang yang mudah terbawa perasaan sebenarnya, apalagi ia tahu kondisi Mas seperti apa sekarang. Kalau begitu, kita sarapan, Yuk.." Sila segera meletakkan majalahnya dan hendak mengajak Andra yang baru saja duduk di sampingnya untuk Sarapan.
"Tunggu, Sila. Ada hal yang mau mas bicarakan sama kamu. Ini penting," Suasana terasa begitu serius saat Andra mengatakan itu.
"Ada apa, Mas? Apa yang ingin di bicarakan?" Sila sangat antusias dengan apa yang akan di bicarakan oleh suaminya.
"Tadi pagi, aku baru saja dapat pesan dari kakak, aku harus menyusulnya, beberapa hari. Ada hal penting yang harus kami bahas dan tidak bisa hanya melalui telepon. Apa kamu mengizinkan aku pergi?" Andra menatap Sila penuh harap. Ia ingin wanita itu mengizinkannya untuk pergi.
"Mendadak sekali, Mas? Kalau memang penting, aku pasti mendukung kamu. Apapun masalah yang akan kalian hadapi semoga semuanya berjalan lancar," Meskipun sedikit berat, untuk urusan pekerjaan, Sila tidak bisa menahan suaminya.Sejauh ini, Sila tahu, Andra selalu profesional dalam melakukan segala sesuatu.
__ADS_1
"Terima kasih, Sila. Kalau begini, aku akan merasa tenang saat pergi nanti. Aku juga sudah bilang pada Mama, kalau aku memintanya sering datang, sementara, saat aku pergi. Kalau begitu, ayo.kita sarapan," Andra menggandeng Sila masuk ke dalam rumah mereka.
Rencananya, esok hari ia akan melakukan perjalanan ke Amerika setelah pertemuannya dengan seseorang yang menghubunginya semalam. Ibarat pepatah, sekali tepuk, dua lalat kena.