
Di hari pernikahan...
"Sila, kamu hari ini sangat cantik. Andre akan terpesona saat melihatmu. Hari ini, kalian akan menikah, mama hanya bisa mendo'akan semoga kedepannya kebahagiaan menyertai kalian." mama Andre memandangi wanita yang akan menjadi menantunya untuk kedua kali itu dengan mata berkaca-kaca. Pesona Sila telah membuat semua orang mengasihinya.
Tak heran jika kedua putra kembarnya sampai mencintainya dengan begitu dalam. Keduanya hingga seperti saling bersaing untuk mendapatkan hati Sila. Tapi cinta punya porsinya masing-masing.Keduanya bisa merasakan bahagia dengan orang yang mereka cintai.
"Terima kasih, atas semua do'anya mama. Terima kasih juga untuk restu kedua yang mama berikan. Do'akan agar aku bisa mencintai Andre sebaik aku mencintai Andra, Ma." Sila sangat senang karena mama mertuanya itu mau menerimanya lagi dan lagi untuk menjadi bagian dari keluarganya.
"Sila, kita sudah saling mengenal sejak lama. Mama sudah sangat mengenal kamu lebih baik dari siapapun. Mama tidak akan membiarkan kamu jatuh ke tangan yang salah. Biarlah anak-anak mama yang menjadi pendamping hidupmu. Kamu menantu dan anak mama yang sangat baik, Nak."mata wanita setengah baya itu berkaca-kaca. Terlalu panjang jika harus menceritakan sejak awal mereka bertemu.
"Mama dan papa sudah menjadi orangtua yang trrbaik untukku. Ayah dan ibu pasti bahagia karena ada kalian yang selalu menyayangi aku dan selalu mendukungku. Entah apa jadinya jika aku tidak bertemu dengan kalian," Sila mengenang kembali saat kedua orangtuanya meninggal dunia, bagaimana ia terpuruk dan wanita yang ada di dekatnya itu yang memeluknya lembut dan menciumnya dengan penuh cinta.
Andre sejak hari itu juga menjaganya. Melindungi Sila dari hal-hal kecil sekalipun, himgga keduanya saling jatuh cinta satu sama lain. Hingga akhirmya mereka terpisah sekian lama.
Selama perpisahan itu, Sila merasa bahagia, tetapi tidak dengan Andre. Ia hidup dengan penuh kepalsuan, senyum dan cerianya pun perlahan menghilang, berubah menjadi dingin dan serius.
Sila sudah berniat dalam hati, ia akan membalas kebaikan Andre. Segala bentuk kasoh sayang dan perlindungan yang telah ia berikan selama ini, ingin ia gantikan dengan apa yang bisa ia lakukan.
"Nak, bagi kami, kamu adalah anak kami sendiri. Kasih sayang mama padamu sama dengan ke anak-anak mama yang lain. Jadilah istri yang baik untuk Andre, dia pasti akan menjagamu dengan baik juga, Sila." mama Andre berharap Sila dapat merasakan rasa sayangnya.
__ADS_1
"Sila bisa merasakan seberapa besar kasih sayang yang telah mama berikan padaku. Aku akan berusaha yang terbaik, Ma." Sila bukan sedang berusaha menyenangkan hati wanita itu, tapi ia memang benar-benar menyayangi mama mertuanya.
Saat ini mereka ada di hotel, karena pernikahan ini sedikit rahasia, jadi di adakan di luar kota. Semuanya di lakukan untuk menghindari persepsi yang tidak-tidak yang akan muncul dari orang-orang yabg tidak tahu apa-apa.
"Ayo kita berangkat," Papa Andre muncul dari balik tirai, sedikit membuyarkan pikiran kedua wanita yang sedang saling mencurahkan isi hati itu.
"Ayo, Sila.." Mama Andre mengajak Sila untuk jalan beriringan. Gaun putih yang di gunakan membuat penampilannya begitu anggun.
Awan biru terhampar di langit dengan bercak putih di sana-sini. Awan-awan putih itu seperti lukisan berbagai binatang di atas kanvas. Cuaca cerah ini seakan memberi restu pada Andre dan Sila untuk mengikat janji sehidup semati.
Sepanjang perjalanan, Sila merasakan jantungnya berdebar-debar. Ini bukan yang pertama baginya, tetapi entah mengapa ia tidak bisa tenang. Sila hanya berdo'a, ini adalah pernikahan terakhir di dalam hidupnya.
Apa mungkin ini terjadi karena perasaan Sila yang telah berlabuh pada hati yang sesungguhnya ia inginkan? Ia sendiri hanya bisa bertanya-tanya.Diam-diam, Sila merasa lega karena semua yang terjadi ini adalah yang sesuai dengan nalurinya.
Bagaimanapun, Sila tidak bisa menyangkal. Bahwa, perasaannya terhadap kedua kakak adik itu sama besarnya. Tetapi, sesungguhnya, Andre menang beberapa poin di hati Sila. Karena, pada dasarnya Andre adalah cinta pertamanya.
Sila turun dari mobil perlahan, Seluruh tamu yang hadir terpana pada keanggunan wanita itu. Begitupula dengan Andre, ia terpana melihat kecantikan yang terpancar dari perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
Perlahan, Andre menghampiri calon pengantinnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Wanita yang selama ini hanya ada dalam angannya akan segera menjadi miliknya. Mungkin, ini adalah bagian dari buah kesabaran yang telah ia jalani selama ini.
__ADS_1
"Sila, kau tahu, kemarin, hari ini, esok dan selamanya, kamu adalah wanita tercantik yang paling aku cintai. namamu telah terukir di dalam hatiku sejak dulu, tanpa ada satupun yang mampu untuk menghapusnya. Aku ingin menghabiskan Sisa hidupku bersamamu." Andre mengecup kedua tangan wanita itu perlahan.Tanpa terasa, ada titik air mata yang jatuh dati lelaki itu. Ia sangat bahagia dapat memiliki Sila, gadis yang telah lama bersemayam di hatinya.
"Kak, kamu pun sama berartinya untukku. Kamu lelaki yang terbaik yang pernah ada di dalam hidupku. Apapun yang kamu lakukan semata-mata untuk kebahagiaanku. Aku juga ingin menghabiskan sisa hidupku untuk mencintaimu." Sila menatap kedua bola mata lelaki yang ada di hadapannya itu, meski bukan sekarang, tapi pasti, ia akan mencintainya seperti dulu. Semua hanya butuh waktu.
"Terima kasih, Sila, untuk segala hal yang telah kamu berikan untukku. Maafkan aku jika di masalalu aku telah menyakitimu, kau merasa terbuang, tersisih karena aku tidak menikahimu dan memilih Andra untukmu. Tapi percayalah, di hatiku, kamu tidak pernah terganti. Kamu tetap satu-satunya orang yang aku cintai," Perasaan seperti itu yang sejak lama Andre ingin ucapkan, hanya saja, tidak ada waktu yang tepat untuk itu.
"Semuanya sudah berlalu, Kak. Aku tidak mempermasalahkannya. Saatnya kita buka lembaran baru, dengan cinta yang baru. Aku juga tidak akan mrmbandingkan kakak dan Andra, karena kakak ya kakak, dan dia adalah kakak,"ungkap Sila jujur. Tidak ada lagi yang perlu di tutupi sekarang. Keduanya memang masih memiliki perasaan yang sama.
"Kalau begitu, mari masuk calon permaisuriku. Setelah hari ini, kamu dan aku, kita saling memiliki satu sama lain. Mari kita bangun istana cinta kita berdua. Kamu bersedia?" Andre melebarkan senyumnya hingga menampakkan giginya yang putih.
"Aku bersedia, kakak."
"Jangan panggil aku kakak lagi,"
"Lalu?"
"Sayang..."
Sila mencubit lengan Andre gemas, sebelum mereka masuk ke dalam gedung untuk melakukan prosesi pernikahan.
__ADS_1