
"Sila, buka mata kamu... baru saja kita bahagia, kenapa harus seperti ini? Kenapa harus ada orang yang ingin mencelakai kamu? Padahal kamu tidak pernah bersalah pada siapapun. Siapa yang tega berbuat seperti ini sama kamu?" Andra mencoba berinteraksi dengan Sila yang masih belum sadarkan diri. Tangannya yang masih terkulai lemas berada dalam genggamannya. Wanita itu telah sukses melewati operasinya.
Nit..nit..nit...
Alat pendeteksi detak jantung berbunyi perlahan, menandakan kestabilan pasien. Semuanya yang begitu mengejutkan membuat Andra masih tidak habis pikir. Ia penasaran, siapa yang telah tega berniat mencelakai mereka berdua.
Andra hanya bisa menatap nanar, wanita yang biasanya selalu ceria, bersemangat dan cerewet itu, kini terbaring tanpa daya di ranjangnya. Baru beberapa menit yang lalu mereka bercanda, sekarang keadaannya sudah berbalik drastis.
Untuk mengurangi kepenatan yang melanda, Andra memutuskan untuk keluar dari kamar rawat Sila dan membiarkan wanita itu beristirahat dengan tenang.
Di luar ruangan ada papa dan mamanya, Anita, Bian dan juga Kaira, anak mereka yang berada dalam gendongan Bian.
"Kak, bagaimana keadaan kak Sila? Belum sadar juga?" Anita segera menanyakan keadaan sahabatnya saat kakaknya baru saja keluar dari dalam ruang rawat wanuta itu.
"Belum, Anita. Kata dokter, mungkin akan sedikit lama, kita di minta untuk banyak berdo'a dan juga bersabar. Bian, terima kasih sudah mendonorkan darah untuk Sila," Sila memang sempat kekurangan darah, karena persediaan Rumah sakit yang menipis dan golongan darah Bian cocok dengan Sila, maka suami Anita itu berinisiatif untuk mendonorkan darahnya untuk Sila.
"Jangan sungkan, Kak. Aku malah senang kalau dapat membantu, semoga kak Sila cepat sembuh dan sadar," Ujar Bian sopan. Ia sangat senang bisa berkesempatan mendonorkan darahnya untuk Sila.
__ADS_1
"Amin." Sahut Andra singkat. Lalu ia duduk di bangku, ia sedang dalam keadaan sangat khawatir. Meskipun ia tampak tenang, sebenarnya di dalam pikirannya muncul berbagai macam pertanyaan yang ia ingin pecahkan, terutama tentang misteri siapa yang menjadi dalang penembakan di kafe itu.
"Minum dulu," papa Wijaya menyodorkan satu botol air mineral pada Andra dan meminta anaknya untuk meminum air mineral teraebut agar ia sedikit tenang.
"Terima kasih, Pa." Lagi-lagi hanya beberapa patah kata yang sanggup Andra ucapkan. Papa Wijaya duduk perlahan di samping anak lelakinya itu. Ia paham betul, apa yang sedang anaknya rasakan sekarang ini.
"Papa tahu, kamu pasti sangat terpukul karena mrlihat wanita yang sangat kamu cintai terbaring lemah seperti saat ini. Terlebih lagi, kalian berdua belum lama ini bertemu setelah bertahun-tahun. Tentu saja ini terasa sangat berat," Ucap papa perlahan sambil merangkul Andra. Ia ingin mencoba menenangkan putranya yang tengah berkabung itu. Bagaimanapun papanya paham, bagaimana sangat berartinya Sila untuknya.
"Papa benar, aku memang sangat terpukul karena kejadian ini. Sila adalah orang yang sangat berarti untukku, Pa. Setelah sekian lama kami terpisah, dia masih saja tetap setia menantikan kembalinya
itulah kenapa, aku tidak bisa tenang mrlihatnya seperti sekarang ini.Baru sebentar saja, aku sudah merindukan tawa dan manjanya dia, Pa." Untuk pertama kalinya bagi papanya, Andra bisa mencurahkan perasaannya seperti itu. Dulu, saat sebelum amnesia, Andra tidak pernah berbicara seterbuka ini dengan dirinya.
"Terima kasih, Pa.Sebentar, aku harus menelepon seseorang untuk menyelidiki siapa yang membuat keributan di kafe. Aku juga ingin tahu, apakah semuanya ketodak sengajaan atau memang sudah menjadikan aku dan Sila sebagai target." Andra bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh perlahan untuk mrnghubungi seseorang.
Sementara itu...
"Kasian sekali ya Bi, kak Andra dan kak Sila. Sudah terpisah sekian lama, setelah bertemu pun masih ada saja masalah yang menghampiri mereka. Semoga cepet kelar masalahnya, aku tidak habis pikir, kenapa ada orang yang tega menyakiti mereka." Anita tengah berbicara pada Bian suaminya. Kaira tengah menainkan bajunya dan tersenyum lucu.
__ADS_1
"Iya, ada saja hal yang menguji mereka berdua. Aku juga takut, kak Sila tidak bisa bertahan." Bian yang sempat melihat bagaimana kondisi terakhir Sila pun ikut khawatir.
"Do'akan yang terbaik, Bi. Aku juga yakin, dia akan baik-baik saja. Meskipun separah apapun luka yang ada di perutnya, dia adalah wanita yang kuat," Anita sangat mengenal baik sahabatnya itu. Banyak hal yang telah ia lewati selama ini. Bahkan, menunggu kakaknya sampai bertahun-tahun pun ia sanggup. Bagi Anita, Sila adalah sosok wanita yang luar biasa.
Di tempat lain...
"Kamu sudah menyelidiki, siapa dalang kerusuhan di Floresta Cafe? Ada berapa penjahat dan berapa korban?" Komandan Robby mengintrogasi anak buahnya terkait dengan kerusuhan yang terjadi di kafe itu.
"Penjahat di perkirakan lebih banyak dari yang masuk ke dalam lokasi. Untuk jumlah yang masuk dan merusuh ada tujuh orang. Korban hanya ada satu, seorang wanita dengan luka tembak di perutnya. Korbannya bernama Sila."
Kalimat terakhir yang di ucapkan oleh anak buahnya membuat Robby termangu. Wanita yang di temuinya beberapa saat lalu itu mrmbekas di dalam ingatannya. Senang rasanya bisa membuatnya kembali bersama suaminya, tapi kenapa terjadi hal seperti ini? Robby merasa harus segera mengusut kasus ini. Kemungkinan pelakunya masih sama dengan si penculik suaminya.
"Siapkan beberapa orang, kita harus mengadakan penelusuran lebih lanjut. Kebetulan, korban adalah orang yang aku kenal, dan sepertinya aku tahu, siapa yang melakukannya," Ungkapnya, pada seorang bawahan yang juga sudah seperti saudaranya itu.
"Baik-baik. Aku akan segera menyiapkan tim untuk membantu penyelidikan kita," Lelaki itu segera meninggalkan Robby yang masih duduk tenang di balik meja besarnya. Ia memang tidak bisa memiliki Sila, tapi sebagai bentuk rasa kagumnya, ia akan berusaha untuk selalu menyelidiki setiap kasus yang menyangkut dengan wanita itu.
Setelah sekian lama kehilangan istrinya, Robby merasa tidak ada yang lebih baik daripada istrinya, tapi setelah bertemu dengan Sila, dia tahu, masih ada wanita yang setia setara istrinya di dunia ini. Meskipun pada akhirnya ia tidak dapat memiliki wanita itu, tapi dia tidak pernah menyesal pernah bertemu dengannya.
__ADS_1
"Sepertinya, aku.memang harus segera mencari pengganti Mira.Sudah terlalu lama aku hidup seorang diri, Aku merindukan masakan rumah, teman hidup, teman tidur, baru sekarang aku memikirkannya, aku kira, setelah Mira meninggal, aku jadi manusia yang tidak normal. Ternyata, aku masih bisa bereaksi terhadap seorang wanita." Robby tersenyum seorang diri, ia sedang menertawakan dirinya sendiri.