
Sesampainya di kantor, Andra tidak menjumpai Sila di sana. Kursinya
masih kosong. Andra duduk di kursinya sambil menatap meja kerja Sila yang
sunyi sepi. Ia mencoba menghubunginya via
telepon, tapi Sila mengabaikannya. Andra
hanya bisa bertenyatanya, kemana Sila pergi. Kalau dia pergi tidak dalam keadaan marah, itu tidak masalah, tapi
kenyataannya sekarang ini ia pergi dalam keadaan emosi.
Andra merasa lelah pada diriya
sendiri. Pada kenyataannya, ia tidak
bisa menyenangkan hati Sila. Sudah berusaha menjelaskan dengan baik, tapi Sila
malah tidak mau mendengarkan apapun yang dia sampaikan. Bahkan, wanita itu
mengira, ia telah memiliki wanita lain di luar sana, padahal semuanya itu tidak
benar.
Belum saatnya Sila mengetahui apa
alasan sebenarnya ia bersikap seperti
itu. Andra haya ingin Sila lebih bersabar menghadapinya. Baru saja beberapa jam
dia bersikap seperti itu, istrinya sudah emosi dan marah marah.
Suara pintu di buka, Andra mendapati Sila yang masuk ke dalam ruangan. Ia menaruh tasnya ke meja, lalu menghampiri
Andra. Memandangi lelaki yang sekarang juga sedang memandangnya dengan penuh
keraguan, Andra ingin menyapanya tapi takut, Sila datang untuk memarahinya.
Tapi di luar dugaannya, Sila
ternyata datang untuk memeluk erat Andra dari belakang dan sontak membuat
lelaki itu sedikit terkejut.ia tidak menyangka Sila akan secepat itu berdamai
dengannya, mengingat tadi dia sangat marah saat pergi dari rumah.
“Mas, maafkan aku, aku tahu, aku
keterlaluan, aku kekanakan, aku tidak bisa memberimu ruang. Padahal kamu sedang
lelah karena perjalanan jauh,” selain merasa bersalah, Sila tidak ingin
hubungan rumah tangganya dengan Andra menjadi berantakan. Apalagi
masalah yang sedang mereka hadapi sebenarnya tidak terlalu besar.
“Kamu benar-benar sudah memaafkan
aku? Aku yang seharusnya minta maaf, tidak seharusnya aku membuatmu menjadi
sedih dan galau seperti ini,” Andra
memandang Sila lekat dan mencari kebenaran di dalam bola mata wanita itu.
“Aku saja yang baperan, mungkin
karena aku terlalu merindukanmu. Mas mau makan malam apa? sebagai permintaan
maafku, aku mau memasak spesial buat kamu,” Sila berinisiatif menawarkan diri
untuk memasakkan Andra sesuatu, ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang
sempat merenggang.
“Masak apa ya? Apa saja, sayang.
Aku suka semua masakan kamu. Kalau hari ini perasaan kamu belum cukup baik,
kamu tidak usah bekerja dulu. Cukup duduk manis sambil mengamati aku yang
bekerja untukmu,” Andra berusaha memberikan senyum manisnya pada sila. Jujur saja hatinya sebenarnya sedang patah,
entah karena apa, yang jelas, dia sedang dalam masa yang sangat sulit untuk
romantis.
“Baiklah, aku akan segera
mengirim pesan pada minah untuk tidak memasak apapun, biar aku saja yang
masak.” Sila segera mengambil ponsel di sakunya dan segera menghubungi Minah, ia mengatakan pada asistennya itu
__ADS_1
untuk tidak masak apapun untuk makan malam.
Setelah bicara dengan Minah
melalui sambungan telepon, Sila segera ke mejanya, ia mulai membuka laptopnya
dan mulai bekerja. Pikirannya sudah membaik, ia mengikuti saran dari Robby untuk mencari waktu yang tepat untuk
membicarakan semuanya.
Setiap hubungan memang tidak
selalu berjalan mulus, ada kalanya
kejenuhan itu datang dan memporak-porandakan semuanya. Segalanya memang hanya akan mampu di hadapi
dengan kepala yang dingin.
“Bagaimana kalau malam ini kita
makan malam di luar?” kalimat yang di
ucapkan Andra menarik perhatian Sila, ia
mengalihkan pandangannya dari depan laptop ke arah pria itu.
“Mas beneran mau ngajak aku makan di luar?” mata wanita itu membulat. Ia tidak menyangka
kalau Andra akan mengajaknya makan malam. Mungkin ini adalah bentuk permintaan
maafnya, begitu pikir Sila. Wanita itu tentu saja tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan itu.
“Kenapa? Kamu merasa aku aneh
kalau mengajakmu makan malam? Malam ini aku mau kamu tersenyum dan bahagia,
Sila. Mungkin aku tidak bisa seromantis biasanya, tapi aku akan berusaha yang
terbaik untuk kamu. Aku harap semua yang aku lakukan nanti bisa membuatmu
sedikit terhibur, “
“Terima kasih, Mas. Aku sangat menghargai setiap apa yang kamu
lakukan untukku, mas. Kalau begitu kita selesaikan dulu saja pekerjaan kita.
Setelah itu baru kita pikirkan soal makan malam nanti,” usul Sila. Ia kembali fokus pada komputernya.
“Masuk,”
Andra memberikan izin kepada
pemilik ketukan itu untuk masuk. Tidak berapa lama masuklah seorang wanita
berambut panjang dan di ikat ekor kuda. Ia juga memakai sebuah kacamata. Pakaiannya sangat sopan.
“Maaf, anda siapa?” Sila
menyambut kedatangan wanita itu.
“Maaf, bu Sila. Saya adalah
asisten pribadi pak Andre. Beliau berpesan untuk menyampaikan seluruh laporan
perusahaannya kepada pak Andra,” ujar wanita itu dengan sangat sopan.
“Oh, baiklah. Slam kenal. Siapa
namamu, silahkan duduk di sana,” Sila menunjuk kursi di depan meja kerja Andra,
ia berjalan mengiringi wanita itu.
“Namaku Santi, Bu. Terima kasih,”
Sila meninggalkan wanita itu
setelah ia berbincang beberapa kalimat dan kembali ke mejanya. Dan ia kembali fokus pada tugasnya. Ia
berusaha kembali fokus.
“Ini laporannya pak Andra, “
Santi menyerahkan beberapa map yang di bawanya. Andra mulai memeriksa satu
persatu map itu. Ada satu berkas yang menarik perhatiannya,
“Santi, cari lagi dokumen asli
berkas ini, sepertinya datanya sudah
__ADS_1
sedikit di ubah. Segera kerjakan setelah
dari sini dan saya tunggu laporannya segera.” Andra mengembalikan map itu pada
Santi.
“Baik, Andra. Setelah pulang
dari bapak sini, saya akan segera
mencari dokumen aslinya dan menyerahkannya pada Bapak,” jawab Santi dengan
santun.
“Bagus, perusahaan Kak Andra
adalah tanggung jawab saya, jadi jika terjadi apa-apa segera kabari saya,
jangan di tunda. Meskipun saya akan
jarang ada di sana, saya tetap mengawasi kalian. Pastikan kinerja kamu tetap bagus, meskipun
yang memimpin kamu sekarang bukanlah kakak,” Andra masih mengulang cek berkas yang ada di tangannya.
“Baik, Pak. Apa ada yang lainnya?
Kalau tidak, saya undur diri,”
“Sudah, cukup. Silahkan kalau
kamu mau kembali ke kantormu,”
Wanita itu segera bergegas pergi
dari ruangan Andra di antar oleh Sila.
“Kenapa sekarang perusahaan kakak
juga kamu yang pegang?” Sila sempat mendengar pembicaraan Andra dan Santi. Ia
sangat ingin mengetahui penyebab Andra memegang tanggung jawab perusahaan kakak
iparnya.
“Itulah yang kami bahas saat di
Amerika kemarin. Jadi kemungkinan, kakak akan tinggal lama di sana, jadi segala
urusan yang berhubungan dengan kantornya aku yang urus. Mungkin aku akan lebih
sibuk sekarang, jadi, aku mohon kamu mau bekerja sama dengan baik. Ada saatnya
aku harus ke perusahaan kakak, selama aku ke sana, kamu yang gantikan posisiku
di sini, karena kamu juga pemegang saham terbesarnya,” mendengar keterangan
dari Andra, Sila merasa tidak enak hati.
Mungkin itulah penyebab utama Andra menjadi dingin. Beban berat itu kini ada di
pundaknya.
“Mas, kenapa kamu nggak obrolin
ini sama aku, aku kan jadi salah paham sama kamu. Kalau begini aku kan jadi
merasa tidak enak padamu. Seharusnya, aku kasih semangat untukmu, malah
marah-marah,” protes Sila sedikit kesal karena Andra tidak mau jujur dengan apa
yang menjadi beban pikirannya.
“Maaf Sila, aku pikir belum
saatnya aku memberitahumu. Makanya aku sementara waktu merahasiakan semuanya.
Aku minta maaf, ya. Aku pasti sudah
membuat kamu menjadi sangat kecewa padaku,” ujar Andra sambil mengerjakan dokumen yang ada di komputernya.
“Yang sudah tejadi, buat apalagi
kita sesali, Mas. Yang penting buat pelajaran ke depan, kita harus lebih
terbuka lagi. Sekarang, mari kita semangat kerja, Mas.” Sila berusaha
menyemangati Andra, kali ini wajahnya lebih ceria dari biasanya.
Bagaimana ya.. kira-kira acara
makan malam mereka? Romantiskah? Atau malah horror?
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karyaku
yang lain ya...