Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 46


__ADS_3

Sesampainya di kantor,  Andra tidak menjumpai Sila di sana. Kursinya


masih kosong.  Andra duduk di  kursinya sambil menatap meja kerja Sila yang


sunyi sepi.  Ia mencoba menghubunginya via


telepon, tapi  Sila mengabaikannya. Andra


hanya bisa bertenyatanya, kemana Sila pergi.  Kalau dia pergi tidak dalam keadaan marah, itu tidak masalah, tapi


kenyataannya sekarang ini ia pergi dalam keadaan emosi.


Andra merasa lelah pada diriya


sendiri.  Pada kenyataannya, ia tidak


bisa menyenangkan hati Sila. Sudah berusaha menjelaskan dengan baik, tapi Sila


malah tidak mau mendengarkan apapun yang dia sampaikan. Bahkan, wanita itu


mengira, ia telah memiliki wanita lain di luar sana, padahal semuanya itu tidak


benar.


Belum saatnya Sila mengetahui apa


alasan sebenarnya ia  bersikap seperti


itu. Andra haya ingin Sila lebih bersabar menghadapinya. Baru saja beberapa jam


dia bersikap seperti itu, istrinya sudah emosi dan marah marah.


Suara pintu di buka,  Andra mendapati Sila yang masuk ke dalam ruangan.  Ia menaruh tasnya ke meja, lalu menghampiri


Andra. Memandangi lelaki yang sekarang juga sedang memandangnya dengan penuh


keraguan, Andra ingin menyapanya tapi takut, Sila datang  untuk memarahinya.


Tapi di luar dugaannya, Sila


ternyata datang untuk memeluk erat Andra dari belakang dan sontak membuat


lelaki itu sedikit terkejut.ia tidak menyangka Sila akan secepat itu berdamai


dengannya, mengingat tadi dia sangat marah saat pergi dari rumah.


“Mas, maafkan aku, aku tahu, aku


keterlaluan, aku kekanakan, aku tidak bisa memberimu ruang. Padahal kamu sedang


lelah karena perjalanan jauh,” selain merasa bersalah, Sila tidak ingin


hubungan rumah tangganya dengan Andra  menjadi berantakan.  Apalagi


masalah yang sedang mereka hadapi sebenarnya tidak terlalu besar.


“Kamu benar-benar sudah memaafkan


aku? Aku yang seharusnya minta maaf, tidak seharusnya aku membuatmu menjadi


sedih dan galau seperti ini,”  Andra


memandang Sila lekat dan mencari kebenaran di dalam bola mata wanita itu.


“Aku saja yang baperan, mungkin


karena aku terlalu merindukanmu. Mas mau makan malam apa? sebagai permintaan


maafku, aku mau memasak spesial buat kamu,” Sila berinisiatif menawarkan diri


untuk memasakkan Andra sesuatu, ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang


sempat merenggang.


“Masak apa ya? Apa saja, sayang.


Aku suka semua masakan kamu. Kalau hari ini perasaan kamu belum cukup baik,


kamu tidak usah bekerja dulu. Cukup duduk manis sambil mengamati aku yang


bekerja untukmu,” Andra berusaha memberikan senyum manisnya pada sila.  Jujur saja hatinya sebenarnya sedang patah,


entah karena apa, yang jelas, dia sedang dalam masa yang sangat sulit untuk


romantis.


“Baiklah, aku akan segera


mengirim pesan pada minah untuk tidak memasak apapun, biar aku saja yang


masak.” Sila segera mengambil ponsel di sakunya dan segera menghubungi  Minah, ia mengatakan pada asistennya itu

__ADS_1


untuk tidak masak apapun untuk makan malam.


Setelah bicara dengan Minah


melalui sambungan telepon, Sila segera ke mejanya, ia mulai membuka laptopnya


dan mulai bekerja. Pikirannya sudah membaik, ia mengikuti saran dari  Robby untuk mencari waktu yang tepat untuk


membicarakan semuanya.


Setiap hubungan memang tidak


selalu berjalan mulus,  ada kalanya


kejenuhan itu datang dan memporak-porandakan semuanya.  Segalanya memang hanya akan mampu di hadapi


dengan kepala yang dingin.


“Bagaimana kalau malam ini kita


makan malam di luar?”  kalimat yang di


ucapkan  Andra menarik perhatian Sila, ia


mengalihkan pandangannya dari depan laptop ke arah pria itu.


“Mas beneran mau ngajak  aku makan di luar?”  mata wanita itu membulat. Ia tidak menyangka


kalau Andra akan mengajaknya makan malam. Mungkin ini adalah bentuk permintaan


maafnya, begitu pikir Sila. Wanita itu tentu saja tidak akan menyia-nyiakan


kesempatan itu.


“Kenapa? Kamu merasa aku aneh


kalau mengajakmu makan malam? Malam ini aku mau kamu tersenyum dan bahagia,


Sila. Mungkin aku tidak bisa seromantis biasanya, tapi aku akan berusaha yang


terbaik untuk kamu. Aku harap semua yang aku lakukan nanti bisa membuatmu


sedikit terhibur, “


“Terima kasih, Mas.  Aku sangat menghargai setiap apa yang kamu


lakukan untukku, mas. Kalau begitu kita selesaikan dulu saja pekerjaan kita.


Setelah itu baru kita pikirkan soal makan malam nanti,”  usul Sila. Ia kembali fokus pada komputernya.


“Masuk,”


Andra memberikan izin kepada


pemilik ketukan itu untuk masuk. Tidak berapa lama masuklah seorang wanita


berambut panjang dan di ikat ekor kuda. Ia juga memakai sebuah kacamata.  Pakaiannya sangat sopan.


“Maaf, anda siapa?” Sila


menyambut kedatangan wanita itu.


“Maaf, bu Sila. Saya adalah


asisten pribadi pak Andre. Beliau berpesan untuk menyampaikan seluruh laporan


perusahaannya kepada pak Andra,” ujar wanita itu dengan sangat sopan.


“Oh, baiklah. Slam kenal. Siapa


namamu, silahkan duduk di sana,” Sila menunjuk kursi di depan meja kerja Andra,


ia berjalan mengiringi wanita itu.


“Namaku Santi, Bu.  Terima kasih,”


Sila meninggalkan wanita itu


setelah ia berbincang beberapa kalimat dan kembali ke mejanya.  Dan ia kembali fokus pada tugasnya. Ia


berusaha kembali fokus.


“Ini laporannya pak Andra, “


Santi menyerahkan beberapa map yang di bawanya. Andra mulai memeriksa satu


persatu map itu. Ada satu berkas yang menarik perhatiannya,


“Santi, cari lagi dokumen asli


berkas  ini, sepertinya datanya sudah

__ADS_1


sedikit di ubah.  Segera kerjakan setelah


dari sini dan saya tunggu laporannya segera.” Andra mengembalikan map itu pada


Santi.


“Baik, Andra. Setelah pulang


dari  bapak sini, saya akan segera


mencari dokumen aslinya dan menyerahkannya pada Bapak,” jawab Santi dengan


santun.


“Bagus, perusahaan Kak Andra


adalah tanggung jawab saya, jadi jika terjadi apa-apa segera kabari saya,


jangan di tunda.  Meskipun saya akan


jarang ada di sana, saya tetap mengawasi kalian.  Pastikan kinerja kamu tetap bagus, meskipun


yang memimpin kamu sekarang bukanlah kakak,” Andra masih mengulang  cek berkas yang ada di tangannya.


“Baik, Pak. Apa ada yang lainnya?


Kalau tidak, saya undur diri,”


“Sudah, cukup. Silahkan kalau


kamu mau kembali ke kantormu,”


Wanita itu segera bergegas pergi


dari ruangan Andra di antar oleh Sila.


“Kenapa sekarang perusahaan kakak


juga kamu yang pegang?” Sila sempat mendengar pembicaraan Andra dan Santi. Ia


sangat ingin mengetahui penyebab Andra memegang tanggung jawab perusahaan kakak


iparnya.


“Itulah yang kami bahas saat di


Amerika kemarin. Jadi kemungkinan, kakak akan tinggal lama di sana, jadi segala


urusan yang berhubungan dengan kantornya aku yang urus. Mungkin aku akan lebih


sibuk sekarang, jadi, aku mohon kamu mau bekerja sama dengan baik. Ada saatnya


aku harus ke perusahaan kakak, selama aku ke sana, kamu yang gantikan posisiku


di sini, karena kamu juga pemegang saham terbesarnya,” mendengar keterangan


dari Andra,  Sila merasa tidak enak hati.


Mungkin itulah penyebab utama Andra menjadi dingin. Beban berat itu kini ada di


pundaknya.


“Mas, kenapa kamu nggak obrolin


ini sama aku, aku kan jadi salah paham sama kamu. Kalau begini aku kan jadi


merasa tidak enak padamu. Seharusnya, aku kasih semangat untukmu, malah


marah-marah,” protes Sila sedikit kesal karena Andra tidak mau jujur dengan apa


yang menjadi beban pikirannya.


“Maaf Sila, aku pikir belum


saatnya aku memberitahumu. Makanya aku sementara waktu merahasiakan semuanya.


Aku minta maaf, ya.  Aku pasti sudah


membuat kamu menjadi sangat kecewa padaku,”  ujar Andra sambil mengerjakan dokumen yang ada di komputernya.


“Yang sudah tejadi, buat apalagi


kita sesali, Mas. Yang penting buat pelajaran ke depan, kita harus lebih


terbuka lagi. Sekarang, mari kita semangat kerja, Mas.” Sila berusaha


menyemangati Andra, kali ini wajahnya lebih ceria dari biasanya.


Bagaimana ya.. kira-kira acara


makan malam mereka? Romantiskah? Atau malah horror?

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karyaku


yang lain ya...


__ADS_2