Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 78


__ADS_3

Acara pernikahan Andre dan sila berjalan lancar. Semua sesuai rencana. Ada rasa lega di hati mereka berdua saat kata "Sah" menggema di dalam gedung itu. Ada tatap dan air mata haru yang menitik dari mata kedua orangtua Andre. Rasanya ini mengingatkan pernikahan Andra dengan Sila saat dulu.


Seperti layaknya pasangan pengantin pada umumnya, Sila mencium punggung tangan Andre dengan perlahan dan Andre mencium kening Sila cukup lama. Andre bahagia, pada akhirnya ia dapat memiliki wanita pujaan hatinya.


Seluruh tamu undangan pulang setelah acara usai, termasuk kedua orangtua mereka. Kini hanya tersisa mereka berdua yang tengah berdiri di dekat mobil yang akan mereka tumpangi.


"Selamat, hari ini kamu telah resmi menjadi istriku. Aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik untuk kamu." Andre memegang lembut kedua pundak wanita yang telah menjadi istrinya itu. Ia juga memberikan tatapan yang menenangkan untuk Sila. Wanita itu tersenyum.


"Terima kasih, Kak. Aku bahagia telah mrnjadi istrimu. Aku yakin Kakak bisa menjadi suamiku yang terbaik. Terima kasih telah menungguku hingga hari ini. Aku terharu, cinta kakak seperti tanpa batas padaku."


Apa yang Sila katakan memang sesuai dengan keadaan. Andre telah menantinya hadir dalam hidupnya selama bertahun lamanya. Sekarang, mereka telah bersama dalam ikatan yang seharusnya, yaitu pernikahan.


"Penantian ini tidak berarti apapun bagiku, setelah aku bisa memiliki kamu. Sila, ada banyak hal yang sulit di ungkapkan, jika itu tentang cinta. Cinta bisa membuat kita menjadi kuat, juga sebaliknya. Mulai sekarang, jangan menangis lagi. Aku ada di sampingmu untuk melindungi dan menjagamu. Kamu harus tahu, aku sangat mencintai dan menyayangimu, Sila." Andre menarik perlahan tangan kanan Sila dan meletakkannya di dadanya. Agar wanita itu mengerti, di setiap detak jantungnya, ada nama Sila yang terukir di pikirannya.


"Aku bisa merasakan rasa sayang Kakak padaku. Sekian lama kita bersama Kakak selalu menjagaku dengan baik. Kalau begitu, ayo kita pulang..." Sila segera berbalik ke arah mobil untuk segera masuk, tapi Andre tidak melepaskan tangannya.


"Bagaimana kalau malam ini kita jangan pulang dulu? Aku mau kita menginap di hotek satu malam lagi," permintaan Andre membuat Sila tersenyum.


"Turutin nggak, ya?" Sila justru menggoda suami barunya.


"Ayolah, sekali ini saja. Aku hanya ingin momen malam ini spesial. Bukan untuk itu, serius." Andre memberikan kode dengan jarinya untuk menspesialkan kata itu dalam kalimatnya.

__ADS_1


"Tidak perlu di perjelas, Kak. Baiklah, kali ini aku turuti keinginan kakak. Kita menginap malam ini fi hotel." Sila menyetujui keinginan Andre untuk menginap. Menurutnya, apa salahnya menyenangkan hati lelaki itu untuk pertama kalinya di hari pernikahan mereka.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju hotel. Seperti suasana siang hari yang begitu cerah, sesuai dengan perasaan keduanya yang tengah berbahagia. Terutama Andre.


Sepanjang perjalanan, Andre tidak melepas tangan Sila sedetikpun dari genggamannya. Rona bahagia terpancar dengan jelas di wajahnya. Ia bahkan rela menyetir hanya dengan satu tangannya.


"Malam ini, kamu mau makan apa?" Pria itu berinisiatif untuk menawarkan menu apa yang di inginkan oleh Sila.


"Bagaimana kalau kita reunian dengan makanan favorit kita berdua?" Sila memberikan tawaran menarik.Kemana lagi selain ke tempat makan Seafood.


"Sepertinya usulmu bisa di pertimbangkan. Ayo, nanti malam kita puas-puaskan makan kerang, cumi dan teman-temannya." sambut Andre dengan gembira.


"Kakak masih ingat, saat kakak menjemputku ke sekolah dan saat itu hujan?" tanya Sila tiba-tiba, saat ia teringat momen romantis mereka berdua.


"Ya, aku ingat." Andre tersenyum lebar mengingat kejadian beberapa tahun lalu itu.


"Saat itu hujan lebat, Kakak rela melepas jas Kakak untuk melindungiku dari hujan. Sementara kemeja Kakak basah kuyup. Besoknya, kakak masuk angin dan demam." Sila ikut tersenyum mengingat kenangan manis mereka berdua. Sangat banyak, kenangan yang mereka lalui bersama, jadi wajar kalau Andre sampai gagal menghapus Sila dari hidupnya.


"Aku senang, meskipun akhirnya demam, saat itu aku bisa merasakan bubur masakan kamu untuk pertama kalinya. Meskipun rasanya tidak karuan," Andre tertawa saat teringat rasa masakan Sila saat itu yang tidak karuan.


"Kakak, jangan ingatkan lagi aku pada kejadian memalukan itu. Terpaksa aku minta ajarin mama buat bikin bubur dengan cara yang benar. Maaf ya." pipi Sila memerah mengingat kejadian itu. Saat itu ia merasa sangat malu.

__ADS_1


"Tidak apa. Aku tahu, sekarang masakan kamu pasti sudah sangat enak. Jangan lupa masak menu spesial untukku saat kita tiba di rumah nanti," pesan Andre sambil berusaha fokus menyetir.


"Makanya, kalau susah, lepaskan tanganku, Kak." usul Sila saat melihat Andre sedikit kesusahan.


"Tidak akan aku lepaskan sebelum kita sampai di hotel. Kamu tahu, Sila... ini adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku tidak ingin momen ini berlalu begitu saja." Andre tetap menolak untuk melepas tangan Sila.


"Dasar keras kepala. Terserah Kakak saja, yang penting kakak bahagia," Sila menyerah membujuk suaminya untuk melepaskan tangannya.


"Setelah penantian panjangku, bagaimana aku bisa membiarkan setiap waktu berlalu begitu saja tanpa ada yang spesial. Kamu pengantinku hari ini, kamu prioritasku, Sayang." Andre memandang Sila sekilas, sebelum akhirnya ia memilih fokus menyetir.


Keduanya saling diam dan tanpa bicara. Sesekali Sila memandang keluar kaca mobil yang sedikit terbuka untuk melihat sekilas apa yang mereka lalui.


Kisah cinta mereka seperti jalanan di pegunungan yang berkelok, banyak sekali jurang di sana-sini. Namun beruntung, mereka masih dapat saling bertemu di tujuan yang sama.


Jodoh tidak ada yang tahu, dia misterius. Meskipun dunia menolak, jika Tuhan yang menciptakan dunia bwrkehendak, siapa yang mampu untuk menyangkalnya?


"Kak, maafkan aku yang acuh saat awal rencana pernikahan kita. Bukan maksudku untuk mengabaikannya, tetapi saat itu hatiku masih belum bisa menerima." ungkap Sila jujur. Dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau ia masih belum bisa menerima kenyataan saat itu.


" Aku paham Sila. Aku tahu bagaimana syoknya dirimu saat mendapati dirimu sendiri sedang mengandung bayi dari lelaki lain yang bukan suamimu. Maafkan aku Sila, Aku saat itu benar-benar khilaf." Andre sangat merasa bersalah karena kejadian yang terjadi di Villa. Seharusnya ia bisa menjaga dirinya seperti hari-hari sebelumnya.


"Tidak, Kak. Aku yang salah, aku yang melakukan semuanya. Aku yang membuat kakak melakukannya saat itu. Terpenting sekarang, kakak sudah menikahiku." Sila mencoba untuk tersenyum. Tidak ada yang perlu di sesali, semuanya memang harus seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2