
"Hallo, Tante Risma. Sudah lama sekali tidak bertemu. Apa kabar?"Sila mencium kedua pipi tantenya sebagai tanda selamat datang. Wanita itu membalasnya penuh kehangatan.
"Kabar baik, Sila. Wah... kamu sudah sedewasa ini, kota baru bertemu lagi, ya. Dulu masih SD. Anakmu sudah berapa?" Tante Risma sangat senang dapat bertemu kembali dengan keponakan kesayangannya itu.
Saat Sila kecil, Tante Risma sering memanjakannya. Menuruti keinginannya, apapun itu. hingga hubungan mereka sangat dekat. Seringkali Sila di kira anak dari tantenya karena hubungan mereka yang sudah seperti hubungan ibu dan anak.
"Anak aku ada 3 Tante, tapi yang satu meninggal.saat usia kandungan lima bulan. Anakku kembar, Tante. Om apa kabar?" Sila duduk di samping tantenya.
Ia teringat pada sosok Om Bambang, oomnya yang memiliki kumis lebat dan bertubuh sedikit tambun. Ia juga sangat baik dan suka mengajaknya jalan-jalan.
"Om-mu sudah berumur, sekarang jadi mudah sakit-sakitan. Meskipun hanya masuk angin atau sakit perut, tapi itu sering sekali terjadi. Terlalu bekerja keras saat muda ommu itu," celoteh tantenya dengan ceria sambil tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang tidak terlalu putih.
"Kangen sama si Om. Kenapa Tante nggak ajak kemari?" Sebagai keponakan yang dekat dengan Omnya, tentu saja Sila ingin sekali bertemu dengannya.
"Om masih sibuk dengan pekerjaannya.Suamimu mana? Kerja juga?" tanya tantenya dengan penuh selidik. Wanita itu bisa membaca raut wajah Sila yang sepertinya tidak sedang bahagia.
"Suamiku ada. Tadi dia pergi keluar, hari ini kami berdua cuti, Tan." Sila berusaha menutupi keadaan rumah tangganya yang sedang rumit.
"Wah, itu suamimu, tampan sekali. Cocok denganmu yang cantik," Tante Risma memandang sebuah foto pernikahan Sila dan Andra yang tergantung di tembok.
Meskipun yang akan tantenya lihat nanti bukanlah suaminya, ia tidak perlu cemas, karena wajah mereka juga sama. Apalagi sekarang Andre sudah menyerupai adiknya.
"Tante bisa saja. Bagaimana kabar Danu, Tan?"
__ADS_1
Danu adalah putra sulung dari Tante Risma. Usianya satu tahun lebih tua dari Sila, karena Tante Risma menikah lebih dulu. Dulu, Danu dan Sila sempat satu sekolah saan SD tetapi karena orang tuanya yang tidak menetap, jadi Danu ikut pindah.
"Danu sekarang sudah bekerja, Sil. Lain kali dia pasti akan datang berkunjung juga. Tante ingat dulu, saat kecil kalian sering bermain bersama. Main hujan berdua." Tante Risma mengenang masa kecil putranya bersama dengan Sila saat itu. Mereka berdua sangat akrab, sebelum akhirnya keluarganya pindah.
"Wah, seperti apa dia sekarang tante, apakah masih sama jahilnya seperti dulu? Dulu, dia suka sekali menaruh sesuatu di kursi yang akan aku jadikan tempat duduk." Sila ingat sekali saat ia akan duduk, Danu menaruh coklat ke kursinya.
"Danu sekarang kalem, Sila. Jarang bicara dan kutu buku. Dalam sehari, paling hanya beberapa patah kata yang dia ucapkan. Kadang sampai kangen rasanya. Apalagi dia tidak tinggal di rumah." Keluh Tante Risma dengan raut wajah sedih.
"Sabar, Tan. Mungkin Danu sedang butuh waktu untuk brnar-benar fokus dengan pekerjaannya." Sila mencoba untuk menenangkan hati tantenya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil yang berhenti di halaman. Sila yakin itu mobil milik suaminya. Ia segera menyongsong Andre,lalu memintanya agar ia berpura-pura sebagai Andra senentara waktu.
"Tante ini, suamiku. Sayang, ini Tante Risma, Adik mama yang dulu sering aku ceritakan," saat Sila masih remaja, ia memang sering menceritakan soal tantenya itu pada Andre.
"Rupanya, keponakanku ini diam-diam suka membicarakanku di belakang ya," sahut Tante Risma di iringi gelak tawa sebagai tanda ia hanya bercanda.
"Tenang, Tante. Sila tidak pernah bercerita hal buruk tentang tante, kok.Dia selalu menceritakan kebaikan-kebaikan tante." Andre tidak sedang membela, tetapi apa yang ia katakan adalah fakta.
"Syukurlah. Beruntung sekali Sila punya suami sepertimu.Eh, siapa namamu? Tante sampai lupa bertanya," Tante Risma sangat mengagumi sosok Andre, yang tidak hanya tampan tetapi juga sopan.
"Namaku... Andra,Tan." Andre melirik ke arah Sila. Ia melihat wanita itu berpura-pura memasang wajah manis dan menyembunyikan wajah kesal penuh amarah yang di tunjukkan padanya tadi pagi.
Andre menyadari, ia pantas mendapatkan kemurkaan Sila. Bagaimanapun, ia telah merenggut apa yang bukan menjadi haknya.Ia tidak hanya merasa bersalah pada Sila, tapi juga pada Andra, adiknya.
__ADS_1
"Andra. Nama yang bagus. Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?" Tanya wanita itu lagi. Sila masih memasang muka manis, tapi tidak ikut berbicara.
"Lancar Tante. Meskipun ada beberapa kendala, masih dalam batas wajar." jawab Andre dengan tenang. Ia ingin meminimalisir kemungkinan kalimatnya terlihat tidak natural.
"Makanya, aku juga ikut membantunya mengerjakan tugas kantornya tante. Tidak tega kalau membiarkannya lelah sendirian. Iya kan sayang?" Sila mencoba ikut bermain peran. Ia merangkul lengan Andre.Semuanya untuk meyakinkan tantenya kalau mereka baik-baik saja.
"Wah, kalian pasangan yang romantis dan kompak. Kalau saja Tante punya banyak waktu, tante ingin menginap.Tapi sayangnya, saat ini tante belum ada waktu senggang. Nanti Tante akan tinggalkan nomor yang bisa di hubungi dan juga alamat kalau kalian mau main ke rumah," Tante Risma mengwluarkan sebuah kartu kecil yang bertuliskan nomor pobsel dan juga alamat rumahnya.
"Sudah lama nggak ketemu, mau pulang nih, Tan? Belum juga lihat si kembar," Sila merasa sedih ketika mengetahui tantenya akan segera pulang, padahal ia masih sangat merindukan wanita yang mengingatkannya pada mamanya itu.
"Nanti Tante ketemu dulu dong dengan anak kalian, Siapa namanya?"
"Allana dan Alandra, Tan. Mereka kembar cowok-cewek,"
"Komplit sekali. Tanpa punya anak lagi, sudah cukup sepertinya," Tante Risma tersenyum senang. Ia ikut bahagia karena keponakan kesayangannya sudah memiliki keluarga yang bahagia.
"Aku rencananya mau punya anak satu lagi, iya kan sayang..." Sila memang ingin memiliki satu anak lagi, tentunya dengan Andra, bukan Andre.
"Iya, benar sekali, Tan. Kami masih ingin mempunyai satu anak lagi." Andre menyahuti perkataan Sila. Dia sangat memahami keinginan besar adik iparnya itu.
"Ya, tidak apa-apa. kalian masih muda. Memiliki satu anak lagi, masih sangat pantas. Dua anak pun masih boleh," canda Tante Risma, membuat keduanya tersenyum bersamaan.
Sila berusaha senatural mungkin. Menyembunyikan kepedihan hatinya yang seperti teriris sembilu, jika di gambarkan dengan sebuah lagu.Terpaksa ia harus bermain peran dengan orang yang telah membuatnya kesal.
__ADS_1
Setelah bertemu dengan Allana dan Alandra, Tante Risma berpamitan pulang dan mengatakan, dirinya akan berkunjung kembali, tentunya dengan suami dan juga anak-anaknya.