
Andre sengaja menunggu Febbi di
bangku yang ada di depan kosnya, rencananya ia ingin mengajak gadis itu pergi
jalan-jalan. Kebetulan itu adalah hari
libur, Andre ingin menghabiskannya dengan jalan-jalan dan hanya Febbi yang
paling dekat untuk di ajak pergi. Dia juga berpikir wanita itu oasti akan
menerima ajakannya dengan baik.
Cklek...
Pintu kos Febbi terbuka, secara
otomatis mata Andre memandang ke sumber suara. Febbi tampil seperti biasa,
rambut yang di kuncir, dengan make-up tipis. Gadis itu tersenyum manis melihat ada Andre di depan kosnya yang
bersebelahan.
“Abang mau kemana? Rapi banget,
Bang...” Andra hari itu memang sangat
rapi, membuat Febbi tertarik untuk mengomentarinya.
“Aku mau ngajak kamu keluar, kamu
bisa kan?” Andre terlalu percaya diri,
tapi ia yakin, ia tidak akan di tolak oleh Febbi.
“Mau kemana, Bang?” Febbi tampak antusias, sesuai perkiraan
Andre. Memangnya sejak kapan dia bisa
menolak ajakan Andre?
‘Jalan-jalan aja, ngukur jalan,
Feb. Aku juga tidak tahu akan kemana,
makanya perginya tanpa tujuan saja,” tanpa ragi Andre bilang kalau mereka sama
sekali tidak mempunyai tujuan pergi. Kejujuran Andre itu membuat tawa Febbi
hamp[ir saja meledak.
“Abang, gokil. Mau jalan itu yang
pertama tentuin mau pergi ke mana, bang.
Baru deh, kita cuss!” protes Febbi, ia
merasa sedikit geli dengan tindakan yang di lakukan oleh Andre. Berani ngajak kencan, tapi tidak pernah
bilang cinta.
“J adi sekarang kamu bersedia
atau tidak?” Andre kali ini berkata dengan cukup serius. Dalam hatinya ia memastikan
bahwa Febbi bersedia mengikuti keinginannya.
“Baiklah aku bersedia. Aku mau
ganti baju dulu, ya Bang.”
Febbi bergegas masuk ke dalam
kosnya. Andre hanya tersenyum melihat tingkah
Febbi yang sangat bahagia saat mendengar ajakannya. Saat ini Andre memang
menemukan sebuah kenyamanan saat bersama dokter muda itu. Mungkin mulai tumbuh
perasaan yang lebih istimewa dari
seorang teman. Tapi tetap pada pendiriannya, dia tidak akan menjalin status
apapun dengan Febbi. Bagi Andre, dekat dengannya sudah cukup, jika ia punya
keyakinan yang besar, baru ia akan menjalin sebuah hubungan dengan gadis itu,
__ADS_1
tentu saja pernikahan. Usia Andre yang sudah kepala tiga membuat lelaki itu
merasa tidak pantas lagi berpacaran.
“Ayo, Bang. Febbi udh siap. Kita
jalan kaki aja, yuk Bang. Nggak jauh dari sini ada taman, baru inget. Anggap
aja kita lagi olahraga,” Febbi hanya
menggunakan pakaian santai, tapi Andre merasa itu memang sudah menjadi ciri
khas seorang Febbi, justru gadis itu tampak manis apa adanya.
“Boleh, deh. Aku baru kalau di daerah sini, temenku yang
rekomendasikan. Jadi sejak awal kamu memang sudah tinggal di sini?”
Andre dan Febbi mulai perjalanan
mereka. Andre memasukkan tangannya ke
dalam saku jaket hoodie-nya. Febbi juga melakukan hal yang sama, keduanya sama-sama menatap ke depan. Mereka
berjalan dengan sangat santai.
“Iya, Bang. Dulunya banyak
temen-temen Febbi yang tinggal disebelah, tapi mereka nggak nyambung lagi
kuliahnya, jadi tinggal aku yang ngrkos di sini, tetangganya di gantikan sama
orang asing semua. Untung ada Abang,
jadi aku ada temen yang pas untuk
ngobrol atau curhat,” Febbi tanpa sadar menjelaskan panjang lebar. Tidak di
pungkiri, dia meang sangat bahagia karena bisa bertetangga dengan Andre.
“Aku juga nggak nyangka, Feb.
Bisa ketemu dengan kamu lagi, aku pikir setelah di pesawat itu, kita tidak akan
bertemu lagi,” bahkan nyatanya Andre justru sudah tidak ingin bertemu dengan
“kali aja kita jodoh, ya Bang.
Eh, bercanda Bang, jangan di ambil hati. Febbi emang sedikit lemes,” Febbi
menertawakan dirinya sendiri. Andre jadi ikut tersenyum karenanya.
“Diaminin aja. Kalau emang jodoh, berarti kan udah takdir, Feb. Kamu
pernah nggak sih, di tanya sama orang tua kamu, kapan mau nikah?” Andre iseng
menanyakan hal itu. Menurutnya, biasanya anak perempuan seusianya pasti sudh di
cecar untuk menikah.
“Aku semper punya tunangan, Bang.
Tapi kita nggak sampai menikah.” Curhat Febbi.
“Kenapa? Dia selingkuh? Berubah
pikiran? Atau apa?” Andre penasaran, hal apa yang membuat hubungan asmara Febbi
kandas.
“Tunangan Febbi meninggal, Bang.
Ia ketabrak mobil saat mau jemput aku di
butik,” raut wajah Febbi berubah menjadi muram. Bagaimanapun, ia sangat
menyayangi lelaki itu. Kejadian itu
tepat sebelum pernikahannya, kurang dua minggu.
“Maaf, feb. Aku tidak tahu. Aku
turut berduka atas meninggalnya tunanganmu.” Andre jadi tidak enak, ternyata di
balik sikapnya yang ceria, Febbi menyimpan luka yang mendalam.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Bang. Semuanya
berlalu sudah lama, aku sudah bisa terima kenyataan kalau dia lebih di sayang
sama Tuhan. Aku sudah sangat bersyukur karena sudh pernah di pertemukan dengan
orang seperti dia. Jujur saja Bang, sifatnya sama seperti Abang. Itu yang
membuat aku terkesan saat bertemu pertama kali dengan Abang.” Setiap kesan saat bertemu seseorang tentu saja ada alasan
di baliknya, begitu pula Febbi, ia punya alasan tersendiri, kenapa ia cocok
dengan Andre.
“Baiklah, aku paham sekarang.
Maaf kalau di awal aku menyambut kamu dengan kurang baik. Sepertinya kita sama
ya, aku juga ditinggal oleh istriku di saat aku mulai mencintainya. Itulah yang
membuatku sangat sakit. Aku merasa sangat bersalah padanya karena aku belum bisa banyak membuat dia bahagia.
Dia telah melakukan banyak hal, hingga dapat merebut hatiku. Aku masih terpukul kalau mengingat semua itu.
Dia hadiah terindah dari orang yang aku sayangi. Perasaanku padanya masih ada
sampai detik ini Feb, meskipun dia sudah menjadi milik orang lain. Semua itu
terjadi juga karena kesalahanku. Dia cinta pertamaku, dan aku yakin, tidak ada
yang bisa membuatku melupakannya. Meskipun aku jatuh cinta dengan orang lain, namanya masih tetap terukir
di dalam hatiku. Hanya wanita yang tulus menerimaku apa adanya yang bisa
menerima kenyataan ini, karena jika di suruhpun, aku tetap tidajk bisa
melupakannya.” Andre sengaja menceritakan semuanya. Ia tidak ingin berbohong untuk sebuah keuntungan. Jika
karena ini, Febbi menjauhinya, itu artinya, Febbi bukanlah orang yang tulus
padanya. Andre sudah sangat siap untuk itu.
“Bang, alangkah beruntungnya
wanita pertamamu itu. Bahkan saat dia telah menjadi milik orang lain, kamu
masih menyayanginya. Abang luar biasa, jika wanita masa depan abang adalah aku,
aku akan menerima Abang apa adanya, karena jarang lelaki yang jujurnya seperti
Abang. Febbi akan tetap mengagumi Abang,” Febbi tidak mengada-ada, ia sangat menghargai kejujuran Andre. Baginya, Andre adalah lelaki yang luar biasa
untuknya.
“Terima kasih, Feb. Aku sangat
menghargai perasaanmu padaku dan juga ketulusanmu. Kupikir, kamu akan
menjauhiku saat tahu hal yang selama ini aku anggap sebagai kekuranganku,”
Andre memang sempat berpikir kalau perasaannya yang tidak bisa di hapuskan itu
sebagai gangguan jiwa.
“Bang, kita tidak bisa memilih,
kepada siapa kita akan jatuh cinta. Cinta akan hinggap pada hati yang dia
ingini. Perasaan abang itu bukanlah kekurangan. Itu adalah bukti, bahwa di
dunia ini, masih ada pria yang memiliki cinta sejati,” Febbi punya pandangan
tersendiri untuk menilai Andre.
“Sekali lagi terima kasih. Kamu
juga wanita luar biasa, Feb.” Puji Andre.
“Oh ya? Itu hanya.....
Mereka terus berbincang
sampai hari menjelang siang. Alhasil
mereka mencari sarapan di sekitar tempat mereka jalan-jalan. Mereka berdua
__ADS_1
memang cocok ya...