Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 39


__ADS_3

Andre sengaja menunggu Febbi di


bangku yang ada di depan kosnya, rencananya ia ingin mengajak gadis itu pergi


jalan-jalan.  Kebetulan itu adalah hari


libur, Andre ingin menghabiskannya dengan jalan-jalan dan hanya Febbi yang


paling dekat untuk di ajak pergi. Dia juga berpikir wanita itu oasti akan


menerima ajakannya dengan baik.


Cklek...


Pintu kos Febbi terbuka, secara


otomatis mata Andre memandang ke sumber suara. Febbi tampil seperti biasa,


rambut yang di kuncir, dengan make-up tipis.  Gadis itu tersenyum manis melihat ada Andre di depan kosnya yang


bersebelahan.


“Abang mau kemana? Rapi banget,


Bang...”  Andra hari itu memang sangat


rapi, membuat Febbi tertarik untuk mengomentarinya.


“Aku mau ngajak kamu keluar, kamu


bisa kan?”  Andre terlalu percaya diri,


tapi ia yakin, ia tidak akan di tolak oleh Febbi.


“Mau kemana, Bang?”  Febbi tampak antusias, sesuai perkiraan


Andre.  Memangnya sejak kapan dia bisa


menolak ajakan Andre?


‘Jalan-jalan aja, ngukur jalan,


Feb.  Aku juga tidak tahu akan kemana,


makanya perginya tanpa tujuan saja,” tanpa ragi Andre bilang kalau mereka sama


sekali tidak mempunyai tujuan pergi. Kejujuran Andre itu membuat tawa Febbi


hamp[ir saja meledak.


“Abang, gokil. Mau jalan itu yang


pertama  tentuin mau pergi ke mana, bang.


Baru deh, kita cuss!” protes Febbi,  ia


merasa sedikit geli dengan tindakan yang di lakukan oleh Andre.  Berani ngajak kencan, tapi tidak pernah


bilang cinta.


“J adi sekarang kamu bersedia


atau tidak?” Andre kali ini berkata dengan cukup serius. Dalam hatinya ia memastikan


bahwa Febbi bersedia mengikuti  keinginannya.


“Baiklah aku bersedia. Aku mau


ganti baju dulu, ya Bang.”


Febbi bergegas masuk ke dalam


kosnya.  Andre hanya tersenyum melihat tingkah


Febbi yang sangat bahagia saat mendengar ajakannya. Saat ini Andre memang


menemukan sebuah kenyamanan saat bersama dokter muda itu. Mungkin mulai tumbuh


perasaan yang  lebih istimewa dari


seorang teman. Tapi tetap pada pendiriannya, dia tidak akan menjalin status


apapun dengan Febbi. Bagi Andre, dekat dengannya sudah cukup, jika ia punya


keyakinan yang besar, baru ia akan menjalin sebuah hubungan dengan gadis itu,

__ADS_1


tentu saja pernikahan. Usia Andre yang sudah kepala tiga membuat lelaki itu


merasa tidak pantas lagi berpacaran.


“Ayo, Bang. Febbi udh siap. Kita


jalan kaki aja, yuk Bang. Nggak jauh dari sini ada taman, baru inget. Anggap


aja kita lagi olahraga,”  Febbi hanya


menggunakan pakaian santai, tapi Andre merasa itu memang sudah menjadi ciri


khas seorang Febbi, justru gadis itu tampak manis apa adanya.


“Boleh, deh.  Aku baru kalau di daerah sini, temenku yang


rekomendasikan. Jadi sejak awal kamu memang sudah tinggal di sini?”


Andre dan Febbi mulai perjalanan


mereka.  Andre memasukkan tangannya ke


dalam saku jaket hoodie-nya. Febbi juga melakukan hal yang sama,  keduanya sama-sama menatap ke depan. Mereka


berjalan dengan sangat santai.


“Iya, Bang. Dulunya banyak


temen-temen Febbi yang tinggal disebelah, tapi mereka nggak nyambung lagi


kuliahnya, jadi tinggal aku yang ngrkos di sini, tetangganya di gantikan sama


orang asing semua. Untung ada  Abang,


jadi  aku ada temen yang pas untuk


ngobrol atau curhat,” Febbi tanpa sadar menjelaskan panjang lebar. Tidak di


pungkiri, dia meang sangat bahagia karena bisa bertetangga dengan Andre.


“Aku juga nggak nyangka, Feb.


Bisa ketemu dengan kamu lagi, aku pikir setelah di pesawat itu, kita tidak akan


bertemu lagi,” bahkan nyatanya Andre justru sudah tidak ingin bertemu dengan


“kali aja kita jodoh, ya Bang.


Eh, bercanda Bang, jangan di ambil hati. Febbi emang sedikit lemes,” Febbi


menertawakan dirinya sendiri. Andre jadi ikut tersenyum karenanya.


“Diaminin aja. Kalau emang  jodoh, berarti kan udah takdir, Feb. Kamu


pernah nggak sih, di tanya sama orang tua kamu, kapan mau nikah?” Andre iseng


menanyakan hal itu. Menurutnya, biasanya anak perempuan seusianya pasti sudh di


cecar untuk menikah.


“Aku semper punya tunangan, Bang.


Tapi kita nggak sampai menikah.” Curhat Febbi.


“Kenapa? Dia selingkuh? Berubah


pikiran? Atau apa?” Andre penasaran, hal apa yang membuat hubungan asmara Febbi


kandas.


“Tunangan Febbi meninggal, Bang.


Ia ketabrak mobil saat mau jemput aku  di


butik,” raut wajah Febbi berubah menjadi muram. Bagaimanapun, ia sangat


menyayangi lelaki itu.  Kejadian itu


tepat sebelum pernikahannya, kurang dua minggu.


“Maaf, feb. Aku tidak tahu. Aku


turut berduka atas meninggalnya tunanganmu.” Andre jadi tidak enak, ternyata di


balik sikapnya yang ceria, Febbi menyimpan luka yang mendalam.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Bang. Semuanya


berlalu sudah lama, aku sudah bisa terima kenyataan kalau dia lebih di sayang


sama Tuhan. Aku sudah sangat bersyukur karena sudh pernah di pertemukan dengan


orang seperti dia. Jujur saja Bang, sifatnya sama seperti Abang. Itu yang


membuat aku terkesan saat bertemu pertama kali dengan Abang.” Setiap kesan  saat bertemu seseorang tentu saja ada alasan


di baliknya, begitu pula Febbi, ia punya alasan tersendiri, kenapa ia cocok


dengan Andre.


“Baiklah, aku paham sekarang.


Maaf kalau di awal aku menyambut kamu dengan kurang baik. Sepertinya kita sama


ya, aku juga ditinggal oleh istriku di saat aku mulai mencintainya. Itulah yang


membuatku sangat sakit. Aku merasa sangat bersalah padanya karena  aku belum bisa banyak membuat dia bahagia.


Dia telah melakukan banyak hal, hingga dapat merebut hatiku.  Aku masih terpukul kalau mengingat semua itu.


Dia hadiah terindah dari orang yang aku sayangi. Perasaanku padanya masih ada


sampai detik ini Feb, meskipun dia sudah menjadi milik orang lain. Semua itu


terjadi juga karena kesalahanku. Dia cinta pertamaku, dan aku yakin, tidak ada


yang bisa membuatku melupakannya.  Meskipun aku jatuh cinta dengan orang lain, namanya masih tetap terukir


di dalam hatiku. Hanya wanita yang tulus menerimaku apa adanya yang bisa


menerima kenyataan ini, karena jika di suruhpun, aku tetap tidajk bisa


melupakannya.” Andre sengaja menceritakan semuanya. Ia tidak  ingin berbohong untuk sebuah keuntungan. Jika


karena ini, Febbi menjauhinya, itu artinya, Febbi bukanlah orang yang tulus


padanya. Andre sudah sangat siap untuk itu.


“Bang, alangkah beruntungnya


wanita pertamamu itu. Bahkan saat dia telah menjadi milik orang lain, kamu


masih menyayanginya. Abang luar biasa, jika wanita masa depan abang adalah aku,


aku akan menerima Abang apa adanya, karena jarang lelaki yang jujurnya seperti


Abang. Febbi akan tetap mengagumi Abang,”  Febbi tidak mengada-ada, ia sangat menghargai kejujuran Andre.  Baginya, Andre adalah lelaki yang luar biasa


untuknya.


“Terima kasih, Feb. Aku sangat


menghargai perasaanmu padaku dan juga ketulusanmu. Kupikir, kamu akan


menjauhiku saat tahu hal yang selama ini aku anggap sebagai kekuranganku,”


Andre memang sempat berpikir kalau perasaannya yang tidak bisa di hapuskan itu


sebagai gangguan jiwa.


“Bang, kita tidak bisa memilih,


kepada siapa kita akan jatuh cinta. Cinta akan hinggap pada hati yang dia


ingini. Perasaan abang itu bukanlah kekurangan. Itu adalah bukti, bahwa di


dunia ini, masih ada pria yang memiliki cinta sejati,” Febbi punya pandangan


tersendiri untuk menilai Andre.


“Sekali lagi terima kasih. Kamu


juga wanita luar biasa, Feb.” Puji Andre.


“Oh ya? Itu hanya.....


Mereka terus berbincang


sampai  hari menjelang siang. Alhasil


mereka mencari sarapan di sekitar tempat mereka jalan-jalan. Mereka berdua

__ADS_1


memang cocok ya...


__ADS_2