Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 76


__ADS_3

Di dalam kamar Andra, mamanya tengah menatap foto salah satu anak kembarnya yang telah tiada. Sejak bayi, Andra telah ikut dengan kakeknya. Sebagai ibunya, mama Andre merasa belum puas menimang dan menyayangi anaknya itu.


Dia pulang dari Amerika hanya untuk menikahi Sila yang sebenarnya adalah calon istri dari kakaknya. Beberapa bulan tinggal bersama dalam satu atap, anak lelakinya itu sudah pergi dan memilih tinggal di rumahnya sendiri. Sekarang, ia justru telah tiada untuk selamanya.


Senyumnya di dalam foto itu membuat mamanya semakin rindu. Kini tiada lagi kesempatan untuk mereka bertemu kembali. Dalam tangis, mamanya memeluk foto itu di dalam dekapannya.


"Ma, sudahlah. Ikhlaskan kepergian Andra. Mungkin ini adalah yang terbaik untuknya, Ma. Papa juga masih belum percaya, anak kita itu telah tiada untuk selamanya, seperti baru kemarin kita bertemu dengannya," papanya memandang sekeliling ruangan itu. Kamar yang di huni oleh Andra beberapa saat.


Kepergian Andra membuat mereka berdua terpukul. Ada rasa bersalah, saat mengingat kembali bagaimana perlakuan mereka terhadap Andra. Sebagai seorang anak, dia sangat kurang kasih sayang dari orang tuanya.


"Pa, mungkin sebenarnya memang Sila itu cinta sejati Andre. Sejak awal mereka memang sudah saling jatuh cinta. Andra hanya seperti orang ketiga, namun akhirnya dia mampu meraih hati Sila. Sekarang, Andre dan Sila sudah akan bersatu seperti yang seharusnya, tapi... Andra yang harus pergi untuk selamanya. Papa, papa sudah memaafkan Andre kan?" mama Andre menatap suaminya dengan tatapan menghiba. Sebagai seorang ibu, ia tidak bisa melihat anaknya di benci oleh papanya sendiri.


"Awalnya, papa memang marah. Papa kesal karena Andre memanfaatkan keadaan ini untuk mendapatkan Sila kembali. Tetapi, papa juga paham dan mengerti, telah cukup lama Andre mencintai dan menanti Sila. Meskipun papa masih sedikit kesal, papa tetap merestui pernikahan mereka, Ma." ungkap papa Andre dengan gamblang. Bagaimanapun, pria itu tahu bagaimana anaknya memperjuangkan perasaannya.


"Syukurlah, Pa. Mama senang papa bisa menerima mereka dengan baik. Mama benar-benar tidak bisa menyalahkan Andre, bagaimanapun juga, dia telah hancur perasaanya selama ini sampai depresi. Andra juga sudah mengikhlaskan Sila untuk hidup bersama kakaknya. Mama yakin, mereka berdua akan bahagia nanti." mama Andre yakin, kalau nantinya Andre dan Sila akan menemukan kebahagiaan mereka.


"Mama benar, nantinya Sila dan Andre pasti akan bahagia. Papa berharap, pernikahan mereka sama bahagianya dengan pernikahan Sila dengan Andra. Meskipun papa yakin, Sila pasti masih belum mencintai Andre karena belum lama ditinggal oleh Andra, tapi sisa cinta yang pernah ia rasakan, pasti tumbuh kembali seiring waktu." papa Andre ikut-ikutan duduk di ranjang Andra. Merangkul istrinya perlahan dan membiarkan wanita itu menyandarkan kepala di bahunya.

__ADS_1


Menjadi orangtua Andra dan Andre adalah anugerah buat mereka berdua. Meskipun pada saat itu, ekonomi keluarga mereka memaksa keduanya menyerahkan Andra pada kakeknya.


Tetapi, mereka berdua tidak menyangka kalau segalanya tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan. Kakek tua itu memanfaatkan ketampanan anak mereka untuk urusan uang.


"Mama kangen kamu, Nak. Meskipun mama bukan mama yang baik buat kamu, tapi mama sayang sekali, sama seperti ke kakakmu. Semoga kamu bahagia di sana, Mama akan selelu mendo'akan kamu," Mama Andre mengelus foto Andra yang seolah menatapnya dan juga tersenyum padanya. Air mata wanita setengah baya itu jatuh membasahi kaca bingkai foto yang di pegangnya.


"Papa, bagaimana persiapan gedung untuk pernikahan Sila dan Andre?" sesaat kemudian Mamanya teringat gedung yang akan mereka persiapkan untuk acara pernokahan Andre dan Sila yang akan di laksanakan secara tertutup.


"Beres, Ma. Tadi papa udah cek ke sana dan ternyata Andre sudah urus semuanya.Sepertinya anak kita itu sangat antusias sekali dengan pernikahan keduanya, Ma." Papa Andre sangat antusias mengutarakan analisanya terhadap perasaan Andre.


"Ma, bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?"Papa Andre ingin istrinya tersenyum kembali. Selain itu, telah lama sekali pasangan yang telah lama menikah itu tidak menikmati waktu berdua.


"Papa seperti anak muda saja," wanita itu tersenyum, menampilkan guratan garis halus di wajahnya.


"Memangnya anak tua tidak boleh romantis? Kita juga pernah muda, Ma." Papa Andre coba sedikit memaksa.


Papa Andra merasa perlu membawa istrinya keluar untuk menghibur wanita itu.Bagaimanapun, istrinya tampak depresi karena kepergian anak mereka.Beliau memang bukan tipe lelaki yang romantis, tetapi terkadang untuk saat tertentu ia terpaksa harus menjadi lelaki yang romantis layaknya romeo.

__ADS_1


"Baiklah, terserah Papa saja, mama ikut saja apa yang papa usulkan. Sepertinya semenjak menikah kita tidak pernah keluar berdua. Papa selalu sibuk kesana-kemari, mama juga." wanita itu tersenyum mengingat masa-masa mereka menikah, sedikit berbeda dengan pasangan yang lainnya, mereka tidak seromantis itu.


"Kalau begitu, nanti Mama siap-siap. Dandan yang cantik, papa akan membawa Mama makan di tempat yang romantis," bisik papa Andre ke telinga istrinya, sedikit menggoda. Membuat senyum wanita itu mengembang lebih lebar lagi.


Ada rasa damai di hati lelaki itu ketika ia dapat melihat istrinya kembali mengulas senyum. Ia sadar, seberapa besar pun usahanya untuk membahagiakan wanita itu, ia tidak bisa menghapus luka di hatinya, Karena kehilangan itu.


Sesungguhnya, di dalam hidup ini, segalanya serba berlawanan. Ada lelaki, ada perempuan. Ada bahagia, ada juga sedih. Setiap kehidupan, pada akhirnya akan mati. Hanya tinggal menunggu kapan saat itu akan tiba.


Ada saatnya, kita terlalu memikirkan kesibukan dan kesibukan. Berusaha mencari banyak teman, terlampau bahagia, hingga lupa semuanya akan berakhir begitu saja. Berganti dengan kesedihan yang mendalam dan begitu menyayat hati.


Andra. Dia pergi membawa cintanya yang begitu besar. Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia telah meminta agar Andre mau menerima Sila kembali. Bukan masalah siapa mencintai siapa, tetapi Andra percaya, kakaknya mampu menjaga Sila dan anak-anaknya dimasa depan.


Lingkaran cinta segitiga diantara mereka abadi dan akan tercatat dalam sejarah siapapun yang mengikuti perjalanan cinta mereka.


Di dalam sebuah ikatan cinta, tidak akan selamanya manis, tetapi ada juga perih, pahit dan asam. Tidak ada cinta yang sempurna, yang ada hanyalah, bagaimana kita menyempurnakannya dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Ke depan, Sila dan Andre akan melangkah. Melewati jalan baru dalam tahap kehodupan mereka. Semoga cinta mereka berakhir dengan indah.

__ADS_1


__ADS_2