Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 63


__ADS_3

"Jangan terlalu berharap, Febbi. Terkadang, harapan tidak sesuai dengan ekspetasi. Aku akan tetap mendukungmu, meakipun akhirnya kita tidak bisa bersama lagi," kata Andre dengan nada canda, meskipun sebenarnya itu adalah serius.


"Jangan-jangan Bang Andre mau nikah, ya? Kalau iya, aku dukung kok, Bang. Meskipun hatiku patah," Febbi memasang wajah kecewa. Andre tertawa kecil melihat tingkah gadis itu. Ia memang akan mematahkan hatinya, tapi itu tidak sekarang. Akan datang hari, dimana Andre akan melihat air mata gadis itu mengalir.


"Kalau.memang iya, kamu jangan berlarut ya, nanti aku carikan cowok yang cocok untukmu," ujar Andre masih sambil tertawa. Andaikan gadis itu tahu, kalau sebenarnya kalimat yang ia ucapkan bukanlah candaan semata, pasti hatinya hancur berkeping.


"Boleh, pangeran berkuda, ya Bang," rupanya Febbi hanya menanggapi perkataan Andre sebagai candaan belaka.


"Untukmu bukan pangeran berkuda, tapi pangeran kodok." cibir Andre, senang rasanya, di saat suasana sedang memanas, ia seperti mendapatkan penghiburan dengan bertemu Febbi.


"Jahat, ih Bang Andre. Kesepian aku di sana, semenjak Abang pergi. Nggak ada teman ngobrol, teman lari pagi. Tetangga baru-baru pada jutek," curhat Febbi.


"Bukannya aku dulu juga jutek. Apa bedanya?" Andre mengingatkan lagi pada Febbi, bagaimana sikapnya saat itu. Jutek dan mengesalkan.


"Abang bukan jutek, cuma sok jutek aja. Padahal perduli. Iya kan?" Febbi heboh, menghadap ke Andre untuk menyelidik ada apa di balik sikapnya saat itu.


"Habisnya kamu, cerewet banget. Keg gini, baru juga ketemu, udah bawel." sungut Andre. Dia di awal memang terganggu dengan sifat Febbi yang menurutnya sangat cerewet.


"Oh, jadi Abang tidak suka dengan sikap aku? Ya sudah, aku jadi pendiam saja kalau begitu." Febbi pura-pura merajuk dengan memanyunkan bibirnya.


"Kamu? Jadi pendiam? Nggak pantes. Kamu sudah di desain untuk menjadi cerewet," Andre tertawa ringan. Perkataannya membuat Febbi melotot ke arahnya lalu mencubit gemas lengan lelaki itu.


"Abang memang ngeselin, Febbi kesal sama Abang." gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan memasang ekspresi seperti anak SMA yang tengah merajuk pada kekasihnya.


"Beneran kesel? Bukannya kangen? Kalau kamu kesel, aku ngambek juga, lah." Andre pura-pura fokus ke depan dan mengabaikan Febbi.


"Ih, Abang. Bukannya di hibur, malah ikut ngambek juga. Nggak asik," omel Febbi kesal karena Andre tidak menghiraukannya.


"Kan di hibur, mau aku traktir makan. Kok malah ngambek, sih? Nggak jadi makan, nih?" ledek Andre pada Febbi yang masih bersikap seperti remaja itu.


"Jadi, dong. Kalau tidak jadi, aku ngambek beneran, nih." protes Febbi, Andre hanya menanggapi wanita itu dengan senyuman.

__ADS_1


"Mau makan apa emang?"


"Terserah."


"Minumnya apa?"


"Terserah."


"Baiklah, nanti aku bilang sama pelayannya, pesen minuman dan makanan yang namanya terserah."


"Abang..!"


"Apa...apa..."


"Rese'!" Febbi yang mulanya berniat pura-pura marah akhirnya tersenyum juga.


Seandainya bersama Sila bisa seperti ini, tentu saja Andre akan sangat bahagia. Untuk persiapan pernikahan mereka saja Sila tidak mau ikut andil. Dia menganggap pernikahan ini hanya karena bayinya.


"Aku tanya serius, mau makan apa?" Andre mengulang pertanyaannya.


Dulu, Andre sering mengajak Sila makan dan dia selalu memesan menu yang sama di beberapa kesempatan. Sila paling hobi cumi asam manis.


"Baiklah, kita ke restoran seafood sekarang. Makan saja sepuasnya, aku yang traktir."


Andre mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai.Perut lelaki itu juga keroncongan akibat lupa makan. Ia terlalu sibuk kesana-kemari hingga ia melupakan jam-jamnya makan.


Sementara itu...


Sila memutuskan keluar dari kantornya untuk makan siang. Rasa laparnya berbeda dengan saat ia tidak mengandung, kali ini begitu membuatnya gemetar karena terlalu lapar.


"Aku sampai lupa, kalau di dalam rahimku ada janin yang hidup. Semoga dia baik-baik saja. Maafkan ibu, Nak. Meskipun aku tidak menginginkanmu, tapi di dalam tubuhmu juga mengalir darahku. Aku akan menjagamu sampai kau lahir nanti." Bisik Sila seraya mengelus perut datarnya sebelum membawa mobilnya berlalu dari area parkir.

__ADS_1


Gerimis tipis membasahi jalan yang berdebu. Sila mengamati beberapa pasang suami istri yang bercengkrama di atas sepeda motor dengan begitu mesra, mengingatkannya pada sosok Andra yang kini telah meninggalkannya untuk selamanya.


Rumitnya kisah hidup yang ia jalani membuat Sila sedikit lebih tangguh. Kehidupan ini memang rumit. tidak melulu hanya membahas keromantisan, tapi juga lika-likunya. Kehidupan tidak selalu semulus jalan tol, tapi juga terkadang harus melewati jurang dan tanjakan.


Sila melihat sebuah tempat makan sederhana, dengan dinding terbuat dari bambu yang di anyam rapi. Ia membelokkan mobilnya ke area parkir tempat makan tersebut.


Rumah makan dengan konsep alami tersebut menarik perhatian Sila. Saat memasukinya, ia dapat melihat, betapa rapi dan nyamannya tempat yang di sediakan. Pengunjungnya juga cukup ramai.


"Mau pesen apa, Neng?" Tanya seorang ibu-ibu setengah baya pada Sila sesaat setelah ia membaca daftar menu."


"Saya mau nasi putih dan bebek panggang," putusnya kemudian dengan yakin.


"Sambelnya mau sambel terasi atau..."


"Sambel terasi saja," potongnya tanpa menunggu ibu itu menyelesaikan kalimatnya.


Sila sangat lapar dan ingin segera makan sesuatu. wanita itu iseng memandang sekeliling. beberapa pengunjung ada yang makan bersama keluarganya, suami dan juga anak-anak mereka.


Andra belum sempat melakukan itu, tapi kini ia telah kembali pada kehidupan abadinya di alam lain. Sila hanya bisa membayangkan dirinya dan Andra membawa serta si kembar, makan seperti pengunjung yang ada di ujung sana, pasti sangat bahagia.


"Sila! hei..." Seorang lelaki datang menghampiri Sila dan membuat wanita itu sedikit kaget.


"Affandi! Apa kabar? Lama juga ya, kita nggak ketemu. Gemukan nih.." Sila langsung mengenali sahabatnya itu. Jika kalian masih ingat, dia adalah dokter muda, teman Sila saat masih sama-sama sekolah.


"Benar juga. Lama kita tudak bertemu. Aku gemukan? Mungkin karenq bahagia. Aku akan segera menikah, Sila." Lelaki yang dulu juga sempat menyukai Sila itu mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikah. Tentu saja hal ini di sambut gembira oleh Sila.


merwka berdua akhirnya saling bercerita banyak hal sekaligus makan bersama. Tetapi meskipun saling bercerita, Sila tidak berani mengungkapkan kenyataan yang tengah ia alami saat ini. Ia ingin menyimpan untuk dirinya sendiri.


"Sepertinya, ada yang mau punya anak lagi, nih.." Sebagai dokter kandungan, Affandi dapat melihat kalau Sila tengah mengandung saat ini.


"Kau terlalu jeli dokter," Sila tertawa ringan mengetahui sahabatnya dapat mendeteksi kehamilannya.

__ADS_1


"Selamat, Sila. Semoga Sehat sampai lahir,"


"Amin..." hal itu juga yang Sila harapkan. Ia ingin anaknya lahir dengan selamat, meskipun ia tidak menginginkannya.


__ADS_2