
“Sila, apa
aku pernah punya istri selain kamu?” Di perjalanan pulang Andra menanyakan
kebenaran pernyataan Sila saat di kantor polisi.
“Itu? Benar, kamu pernah menikah dengan seorang
wanita bernama Sesilia. Dia istri
pilihan kakek, karena Sesilia adalah anak konglomerat yang menjanjikan akan
menjanjikan akan membantu memulihkan perusahaan kakek yang sedang bermasalah,”
“Benarkah?
Lalu saat itu kamu bagaimana?”
“Tentu saja
aku tidak terima, bahkan kita kehilangan bayi kita yang pertama karena itu.
Untung setelah itu kita masih bisa balikan lagi seperti biasanya, hingga
akhirnya wanita itu berusaha meracuni aku dan yang meminumnya adalah kak Andre,
hingga saat itu kakak mengalami kebutaan dan lumpuh,” Sila masih ingat kejadian
itu terjadi saat syukuran rumah baru hadiah ulang tahun Andra yang mereka
tempati sekarang.
“Berarti,
kemungkinan Sesilia masih menaruh dendam pada kita. Wanita itu sampai berani
meracuni kamu, itu artinya dia memang benar-benar orang yang berbahaya.
Tapi aku bersyukur, hanya aku yang
mereka celakai sampai lupa ingatan seperti sekarang, bukan kamu atau anak-anak.
Setelah kejadian ini, aku jadi semakin sayang pada kalian semua. Aku berharap
bisa menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kalian.” Andra tentu saja tidak
inginsampai membuat keluarganya mnderita karenanya. Lebih baik dia sendiri yang
menanggungnya.
“Terima
kasih Andra, kamu adalah suami terbaik, kamu juga ayah yang terbaik. Tidak
perlu berusaha menjadi yang terbaik lagi,”
“Tapi aku
ingin menjadi lebih baik lagi dari hari kemarin, aku ingin menjadi lebih
spesial lagi dari ini.”
“Baiklah,
aku akan semakin sayang kalau begitu. Kamu mau nggak, mampir ke Panti?”
“Panti?”
“Iya, panti.
Kan yang bantu buat merealisasikan keinginan aku buat bikin rumah orang tuaku
menjadi panti. Bahkan kamu kasih tahunya saat panti udah jadi, loh. Kamu penuh
kejutan pokoknya, itu salah satu yang paling aku sukai dari kamu, Mas.” Sila
sangat semangat menceritakan sejarah dari panti milik keluarganya.
“Benarkah?
Aku di masalalu ternyata sangat menyayangi kamu ya. Maafkan aku ya, kalau
misalnya aku belum bisa menyayangimu sebaik dulu. Aku akan berusaha keras seiring waktu aku
pasti akan bisa mencintai kamu seperti dulu.” Andra merasa dirinya belum bisa seromantis seperti saat dia belum
mengalami amnesia.
“Jangan
terburu-buru memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Biarkan semua mengalir
apa adanya, aku masih bisa berkumpul denganmu juga sudah sangat bahagia, Mas. Aku
tidak menuntut apapun, hanya... tetaplah ada di sampingku,”
Andra menggenggam
salah satu tangan Sila dengan sebelah tangannya juga. Sekilas dalam ingatan
Andra, dia pernah melakukan hal ini juga di masa lalu. Di masa yang telah
lewat, mereka memang pasangan yang romantis. Sekilas banyangan kebersamaan
mereka tergambar di dalam ingatannya, meskipun hanya bagian-bagian yang sangat kecil.
membuat Sila
mngingat kembali hal-hal yang pernah mereka lakukan di dalam mobil. Ada banyak
hal, tapi apa yang bisa membuat Andra mengingat sesuatu? Sila ingat sesuatu...
“Kita pernah
mendengarkan sebuah lagu dan bernyanyi bersama,”
“Coba
putarkan aku lagu itu...”
“Coba aku
cari dulu, nah... ini dia, semoga kamu bisa inget sesuatu...”
Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan semua cinta ini
Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa tuk dunia
Karena telah ku habiskan
Sisa cintaku hanya untukmu
Aku pernah berfikir tentang
__ADS_1
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang ku jalani sampai kini
Aku selalu bermimpi tentang
Indah hari tua bersamamu
Tetap cantik rambut panjangmu
Meskipun nanti tak hitam lagi
(Lirik lagu Virgoun: Surat Cinta
Untuk Starla)
“Ini pas
kita mau kemana? Aku hanya ingat sekilas kita nyanyi bersama,”
“Memang kita
nyanyi bareng sepanjang jalan, ceritanya pagi itu kita mau ke rumah mama, mas
tahu, hari itu aku bahagia banget, meskipun ada adegan yang cukup menegangkan
setelahnya,”
“Oh, ya? Apa
itu?”
“Mas beneran
mau tahu?”
“Iya, ayo
cerita...” Andra tampak begitu antusias
ingin mendengar kelanjutan cerita Sila.
“Mas dapat
pukulan dari kakak, karena aku curhat sama dia soal masalah kamu dan mantan
pacar kamu yang namanya Sisca, tiba-tiba datang ke Indonesia dan bilang kalau
dia hamil anak kamu,”
“Memangnya
aku benar aku sudah menghamili dia?”
“Ternyata
anak itu bukan anak kamu. Kamu bilang, memang pernah tidur satu kamar dengan
dia, tapi kamu tidak yakin kalau kalian melakukan sesuatu, dan waktunya berbeda
jauh dengan usia kehamilan Sisca,”
“Ternyata
masalaluku penuh dengan skandal dengan beberapa perempuan,”
“Kamu memang
di kelilingi banyak perempuan, Mas. Sampai akhirnya kamu menikah denganku. Kamu
memang tampan, makanya banyak wanita yang tergila-gila padamu,”
“Itu kan
dulu, sekarag wajahku buruk rupa, siapa yag mau dekat denganku?”
satu-satunya wanita yang akan menerima mas apa adanya. Di mataku, mas tetaplah
lelaki yang paling tampan,”
“Kamu memang
selalu bisa mengambil hatiku, terima kasih, sayang...”
“Sama-sama.
Eh, Mas... belok kanan. Ke sana arah Panti Asuhan kita,”
Andra
mengikuti arahan Sila, mereka berbelok ke arah rumah lama Sila yang telah di
ubah menjadi panti. Tampak beberapa anak tengah bermain di halaman. Andra langsung
merasa akrab dengan tempat itu. Saat mereka turun dari mobil, anak-anak
berhamburan berlari ke arah Andra dan Sila, mereka berebut mencium tangan
keduanya.
Andra tersenyum
lebar menyambut mereka, menyalami satu persatu sambil sesekali mengusap kepala
mereka. Sekilas lagi puzzle itu muncul di ingatan Andra. Ia sering melakukan
kegiatan ini.
Mereka berjalan
menuju panti. Seseorang yang keluar dari panti terkejut dengan kehadiran Andra
di sana. Ia adalah Andre, sejak sepeninggal Andra, Andre memang sering membantu
Sila mengurus panti. Setelah saling berpandangancukup lama akhirnya Andre
menyongsong kedatangan adiknya dengan langkah lebar, lalu memeluk adiknya
erat-erat.
“Andra...
ini benar-benar kamu? Aku pikir aku tidak pernah di beri kesempatan lagi untuk
bertemu denganmu, untuk menebus kesalahanku,” Andre menangis haru, ia bisa memeluk adik kembarnya setelah
bertahun-tahun.
“Aku juga
senang bertemu kembali dengan kakak,” Sila pernah mengatakan ia memiliki kakak
kembar, tentunya lelaki yang mirip dengannya itu adalah kakaknya.
“Aku pernah
menangisimu, karena aku belum meminta maaf atas semua dosaku padamu, Andra. Hanya
membantumu mengurus anak dan panti yang bisa kulakukan, dan berharap itu bisa
menebus semua kesalahanku padamu,”
“Kakak
bicara apa? Dosa apa yang kakak maksud?” Andra tentu saja tidak mengerti dengan
apa yang di bicarakan oleh kakaknya itu.
__ADS_1
“Di
masalalu, aku beberapa kali melecehkan istrimu, memaksa menciumnya, dan aku
tidak bisa menahan diriku. Aku sudah siap, jika saat ini kamu akan membenciku
atas ketidak sopananku. Aku tidak bisa menahan rasa berdosaku ini lebih lama
lagi, aku takut, aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengatakan ini,”
Pengakuan Andre membuat Andra terkejut, seketika ia mendorong tubuh Andre
menjauh. Bahkan, ia memukul Andre beberapa kali tanpa perlawanan. Sila tidak
tahu harus berkata apalagi. Apa yang di katakan Andre adalah fakta dan Andra
pun berhak marah untuk itu.
“Mengapa
kakak tega melakukan itu padaku?! Bukankah aku adalah adikmu?!”
“Aku tahu,
aku salah Andra. Aku sudah siap jika kamu akan memukulku sampai aku mati. Aku pantas
untuk mendapatkan itu,” Andre sudah pasrah. Apapun yang terjadi, ia sudah
terima. Asalkan itu dapat menebus kesalahannya di masalalu.
“Tidak ada
gunanya membicarakan masalalu. Aku hanya ingin hidup baru yang manis. Meskipun aku
kesal, aku memaafkan kakak. Aku mungkin hanya tidak tahu apa yang terjadi di
antara kita di masalalu. Terpenting, jangan ganggu istriku lagi, Kak.” Andra
bergegas masuk ke dalam panti.
“Bagaimana
bisa kamu menemukan Andra? Kamu sudah membicarakan ini dengan mama papa? Apa dia
lupa ingatan?” Andre mencecar Sila dengan berbagai pertanyaan.
“Aku belum
membicarakan ini dengan mama dan papa. Andra memang mengalami amnesia akut dan
bagaimana aku bertemu Andra, itu panjang ceritanya. Terima kasih telah jujur
padanya tentang semua kelakuan kakak di masalalu, semoga dia mau memaafkan
kakak. Aku menyusulnya terlebih dahulu,” Sila meninggalkan Andre yang masih
tidak percaya kehadiran Andra kembali dalam kehidupan Sila. Ia bahagia, adiknya
dapat kembali menikmati hidupnya dengan keluarganya. Setelah ini, Andre
memutuskan untuk pergi ke Amerika, menerima tawaran kerja dari kakeknya. Dengan
pergi jauh, Andre tidak akan bisa mengganggu dan berharap pada Sila lagi.
“Aku turut
bahagia atas bersatunya kalian kembali. Kali ini aku berjanji, tidak akan
pernah lagi mengganggu hubungan kalian. Setelah kepergianku, aku harap hubungan
kalian akan semakin romantis. Jaga kembar baik-baik, aku pasti akan sangat
merindukan mereka berdua. Aku akan sangat rindu dengan panggilan ‘ayah’ yang
sering mereka lontarkan padaku.”
Andre meninggalkan
panti, tidak lupa ia menghubungi sang kakek dan mengatakan kalau ia akan segera
berangkat ke Amerika untuk menerima tawaran kerja darinya.
Sementara
itu...
“Apa kita
pernah membahas masalah pelecehan kakak terhadapmu di saat lalu?”
“tidak
pernah, Mas...” Jawab Sila lirih.
“Kenapa? Apa
kalian ada skandal?!”
“Bukan itu
masalahnya, kamu salah paham,”
“Lalu apa?”
“Aku tidak
ingin kalian terus berseteru karena aku,”
”Berseteru
karenamu? Maksudnya?”
“Kalian
berdua sama-sama mencintai aku, itulah kenapa di masalalu hubungan kalian tidak
cukup baik. Makanya aku tidak ingin hubungan kalian memanas karena kekhilafan
kak Andre,”
“Kami kembar
dan mencintai wanita yang sama? Itu konyol sekali Sila,”
“Memang. Kak
Andre yang pertama mencintaiku, karena kami tumbuh besar pertama, hari di mana
ia akan melamarku, ia di vonis memiliki penyakit ginjal yang serius dan
hidupnya akan segera berakhir. Ia mengutusmu pulang untuk menggantikannya
menikahiku, karena ia telah berjanji pada kedua mendiang orang tuaku untuk
menjagaku sampai kapanpun,” Penjelasan Sila membuat Andra paham kenapa kakaknya
sampai melakukan itu pada istrinya.
“Apakah aku
bisa di katakan perebutmu dari kakak?”
Sila
menggeleng.
“Tidak. Dia sudah memberikanku padamu, semuanya
adalah konsekuensi atas keputusannya sendiri, tenangkan pikiranmu, sayang. Mas adalah
__ADS_1
pemilik hatiku sepenuhnya.”