
Suara deburan ombak terdengar mendayu-dayu. Andre menggandeng tangan Sila menuju ke bibir pantai, Allana dan Alandra tidur dan di jaga pengasuhnya di dalam penginapan.
Andre dan Sila bertelanjang kaki, di dalam benaknya, Sila merasa mengulang masalalu. Saat mereka masih sama-sama sendiri dan tidak menyadari perasaan masing-masing.
Angin yang bertiup mengibarkan rambut Sila. Wanita itu menatap ke depan, dimana deburan ombak menghantam bebatuan yang tertata di tepiannya. Sekilas, Sila teringat kembali saat dirinya hampir tenggelam di lautan dan di tolong oleh Andre, itu kejadian yang sangat membekas di dalam ingatannya.
Andre memandangi wajah Sila yang cerah tertimpa sinar matahari. Senyumnya yang tipis, membuat wanita cantik itu semakin tampak mempesona di matanya.
"Sila, kamu masih ingat saat pertama kali kita ke pantai ini?" tanya Andre, menstimulasi daya ingat Sila tentang masalalu mereka.
"Saat kita main pasir? Membuat istana pasir yang indah lalu tiba-tiba ombak datang, Kak?" ingatan Sila tentu masih bagus tentang kenangan masalalu itu.
Kali pertama mereka ke pantai, Sila sangat bahagia. Saat itu mereka pergi ke pantai bersama orangtua mereka. Tepatnya, di pantai itulah awal perasaan Andre tumbuh.
Orang berlalu lalang melintas di hadapan mereka. Kebanyakan dari mereka bersama pasangan masing-masing. Pantai yang mereka kunjunfi memasng indah, sangat cocok untuk menjadi tempat berkencan pasangan muda.
"Iya, saat itu kamu sampai berteriak-teriak karena kesal, karena berkali-kali membuat selalu hancur. Bodohnya kita saat itu, kenapa harus buat yang di pinggiran sekali, ya. Padahal tempat lain masih banyak." Andre terkekeh mengingat saat mereka melakukan hal konyol itu.
"Benar juga, Kak. Kita ternyata saat itu konyol juga. Kakak yang lebih dewasa dari aku juga ikut jadi kekanakan." Sila ikut tertawa kecil mengenang kisah mereka.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa, jadi ikut polos saat bersamamu," Andre kembali tertawa kecil. Masih ada rasa tidak percaya, hari ini dirinya dapat menggenggam tangan Sila dan berdekatan sedekat itu dengan wanita itu.
"Aku minta maaf, Kak. Di masalalu aku tidak peka terhadap perasaanmu. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hatimu. Ku pikir perasaan kita tidak sama," ungkap Sila perlahan, ia sedikit menjinjit ketika ada sebuah kulit kerang yang terpinjak olehnya.
"Biarkanlah masalalu kita seperti istana pasir kita dulu yang terhapus oleh ombak. Kita berdua akan mengukir kenangan baru mulai sekarang. Izinkan aku membuatmu jatuh hati padaku lagi, Sila..." Andre berhenti dan Sila secara otomatis juga menghentikan langkahnya. Mereka saling berhadapan, Andre memandang ke dalam bola mata Sila. Ia sungguh serius dengan perkataan yang baru saja ia ungkapkan.
"Aku akan memberikanmu kesempatan untuk itu, Kak. Aku juga akan terus berusaha untuk jatuh cinta lagi padamu. Memulai kisah kita dari awal. Mengukir kembali kenangan manis yang pernah kita lewari bersama, dulu." ungkap Sila dengan sungguh-sungguh. Andre mungkin bukan satu-satunya pilihan yang Sila punya, tapi wanita itu merasa, persatuan mereka ada campur tangan takdir di dalamnya.
"Terima kasih atas kesempatan yang telah kamu berikan, Sila. Aku sangat senang, dapat memilikimu lagi. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk hidupmu. Aku sangat menyayangimu, Sila." Andre memegang kedua pipi Sila lembut. Ia tidak akan pernah menyakiti wanitanya itu, sedikitpun.
Andre mungkin memang pernah jatuh hati dengan Febbi, namun karena perasaannya terhadap Sila yang jauh lebih besar membuat ia dengan cepat kembali hanya mencintai wanita itu.
Baginya, Sila adalah satu-satunya wanita yang paling ia harapkan dapat menemani hidupnya, sampai akhir hidupnya. Ia tidak akan melepaskan wanita itu lagi untuk kesekian kali. Andre ingin bisa menjadi pemilik hati wanita itu.
Perlahan luka hati karena rasa kehilangan Sila karena kehilangan Andra kering sedikit demi sedikit. Mungkin ini terlalu cepat, tetapi Sila pernah kehilangan Andra sebelumnya, itu yang membuatnya sedikit jauh lebih tegar menghadapi semuanya.
"Mau main air denganku?" tiba-tiba muncul ide di pikiran Andre untuk bermain air dengan Sila, ia paham sekali kalau wanita itu sangat suka main.air.
"Boleh, Kak. Aku suka main air, tapi..." Sila tampak sedikit ragu, Andre paham apa yang membuat Sila jadi ragu seperti sekarang.
__ADS_1
"Kamu masih trauma? Ada aku Sila, aku akan menjagamu, kamu harus percaya itu," Andre mencoba meyakinkan Sila ia akan menjaga wanita itu sebaik mungkin dengan memegang kedua bahunya.
"Baiklah, Kak." Sila memantapkan diri, ia berjalan lebih dulu beberapa langkah dari Andre. Ia merasa nyaman berjalan di atas pasir yang sedikit basah itu. Telah lama ia tidak melakukan ini.
Banyak sekali kenangan yang sudah terukir di pasir pantai ini. Terutama, kedua orangtuanya yang sering mengajaknya ke sana. Ayah dan ibunya selalu bermain air bersama layaknya anak muda. Sila hanya bisa tersenyum terbayang itu semua.
Kenangan, hanyalah hal yang telah terlewati dan tidak bisa terulang. Namun, dengan adanya kenangan, semua yang telah terlewati masih bisa di ingat, meskipun terkadang hanya membuat perih di hati.
Bertemunya Sila dengan keluarga Andre adalah sebuah takdir yang indah. Dimana seluruh anggota keluarga itu menerimanya dengan baik, Anita yang menjadi sahabatnya, Andre dan Andra yang mencintainya, juga orangtua mereka yang menerima Sila sebagai anaknya.
"Sila, apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu mematung seperti manekin distro?" Andre tertawa kecil mengejek Sila yang spontan langsung mrncubit lengan lelaki itu.
"Kakak! Kau bilang aku manekin? jahat!" Sila membuang muka sebagai tanda ia kesal pada Andre, meskipun itu hanya pura-pura.
"Hei, Nona manis, jangan cemberut. Kalau begitu kamu semakin imut, aku jadi semakin cinta..." Goda Andre, mulai menunjukkan sikap lamanya yang suka gombal.
"Aku sudah lama tidak pernah dengar kamu segombal itu, Kak. Ini benar-benar Kak Andre yg dulu, ceria, kepedean dan suka gombal." Sila senang keceriaan dari dalam diri Andre kembali muncul ke permukaan.
"Dari dulu pria tampan ini selalu ceria hanya untukmu, Sayang." Andre terkekeh menertawakan dirinya sendiri. Dia sedikit kikuk, tapi ia senang bisa kembali mrnjadi dirinya yang dulu. Ia menjadi lebih hidup.
__ADS_1
"Pria tampan tidak akan menyatakan dirinya tampan. Ayo kita ke sana, Kak..." Sila menarik tangan Andre menuju ke tepian, dimana air menyentuh pasir putih itu.
Sejenak, mereka berdua tenggelam dalam momen kebersamaab yang menghapus semua beban yang ada di dalam hati dan pikiran mereka sementara waktu.