
Acara makan malam telah usai.
Mereka kembali larut malam. Andra mengajak Sila pergi ke beberapa tempat
sekaligus. Malam itu, seluruh kepenatan yang memenuhi pikiran Sila lenyap
berganti dengan bahagia. Semua kerinduan dan kegundahan hatinya telah terobati.
Sila bahagia, ia menemukan Andra yang manis seperti biasa.
Setiap ada tangisan, ada pula
alasan untuk tersenyum. Dari kejadian kemarin Sila mendapat pelajaran bahwa, ia
harus selalu bersabar dalam menghadapi setiap masalah. Ia juga harus bisa lebih
pengertian dengan kondisi yang sedang di alami oleh Andra.
“Mas, terima kasih untuk hari
ini, aku bener-bener nggak nyangka, kamu bisa bawa aku ke beberapa tempat
seperti tadi,” ujar Sila sambil melepas gaunnya, lalu menggantinya dengan baju
tidur. Kemudian wanita itu duduk di depan cermin riasnya dan mulai menghapus
riasannya. Andra duduk di pinggir ranjang dengan posisi membelakangi Sila.
Andra membuka kancing kemejanya, ia menanggalkan kemejanya dan menyisakan kaos
putih yang biasa ia kenakan saat tidur.
“Sama-sama. Aku senang kalau
malam ini kamu bisa terhibur. Aku harap kamu tidak marah lagi. Aku ingin kamu
tahu, kalau aku sayang sama kamu, Sila,” Andra rebahan dengan masih memakai
celana panjang yang ia pakai saat makan malam tadi. Sila yang sudah selesai
menghapus riasannya langsung naik ke atas tempat tidur.
“Mas, ganti sana. Kamu nggak
pernah tidur pakai celana panjang seperti itu.” Sila segera meminta Andra untuk
mengganti celananya. Andra yag terlentang melirik ke arah Sila.
“Ke-kenapa pakai baju seperti
itu?” ia mengomentari penampilan Sila yang sangat terbuka menurut Andra.
“Ini baru aku beli, Mas. Kenapa?
Apa ini tidak cocok untukku?” Sila
bingung. Perasaan ia tidak salah memakai baju, tapi Andra memandangnya dengan
pandangan aneh.
“Ba-bagus,” Sahut Andra perlahan,
Sila dapat melihat Andra menelan ludahnya sendiri. Penampilannya malam itu
memang sangat menarik perhatian.
“Cepatlah ganti, Mas. Apa kamu
tunggu aku yang gantiin?” Sila mendekati Andra perlahan. Lelaki itu segera
bangkit dari tidurnya.
“Tidak perlu, biar aku sendiri
yang mengganti celana tidurku,” Andra segera melepas celana panjangnya dan ia
tinggal mengenakan celana pendek yg sedikit ketat. Tanpa aba-aba, Andra segera
masuk ke dalam selimut dengan wajah yang aneh. Ia tampak sangat tegang. Sila
__ADS_1
hanya tersenyum dan menggeleng heran dengan sikap Andra yang di nilainya hanya
berpura-pura,
Sila mendekati Andra dan mulai
memeluk lelaki itu. Berbed dengan biasanya, balasan pelukannya terkesan sangat
kaku dan hati-hati. Sila dapat mendengar detak jantung Andra sangat cepat. Sila
mengeratkan pelukannya. Ia mulai
memegang dada bidang Andra yang masih tertutup kaos. Perlahan Andra memegang
tangan Sila.
“Sayang, maaf. Jangan malam
ini. Aku sangat lelah sekali, kamu tahu kan, hari ini banyak sekali
pekerjaan yang aku selesaikan? Kamu tidak keberatan, kan, kalau kita lakukan
lain kali?” berat sekali rasanya untuk mengatakan itu pada Sila, karena mereka
baru saja baikan, Andra tidak ingin hubungannya dengan Sila kembali memburuk.
“Baiklah, aku tidak masalah. Aku
tahu kamu sedang lelah, aku hanya bermain-main saja. Tapi sebagai gantinya aku , mau Mas peluk aku
sampai pagi, bagaimana?” Sila memberikan penawarannya.
“B-baiklah. Aku akan memelukmu
sampai pagi,” perlahan Andra memeluk Sila dengan sangat hati. Hati. Ia juga
segera memejamkan matanya. Tidak ingin memikirkan apapun.
“Mas...” Sila tahu, Andra tidak
sedang tidur. Pria itu hanya sedang
“Apa? kamu belum tidur?” Sahut
Andra, tanpa membuka mata. Meskipun sebenarnya ia belum tidur, tapi matanya
enggan untuk terbuka.
“Aku belum tidur dan aku tahu,
Mas juga belum tidur. Selama di Amerika, apa kamu merindukan aku?” pertanyaan Sila di sambut senyuman oleh Andra.
Meskipun Sila tidak dapat melihat wajah suaminya, tapi ia menyadari kalau
lelaki itu tengah mengulas senyum.
“Tentu saja aku sangat merindukan
kamu, sangat. Setiap detik, di sana aku selalu merindukan kamu. Kamu yang selalu aku pikirkan, sampai aku tidak
memikirkan diriku sendiri,” Andra
perlahan mengecup rambut Sila sekilas. Hanya beberapa detik.
“Gombal, udah mirip sama kak
Andre kamu, Mas. Baru juga barengan belum lama, sifat gombalnya udah nular,”
celoteh Sila. Tentu saja dia sangat hapal bagaimana ciri khas gombalan kakak
iparnya itu.
“Itu menjadi bagian dari obrolan
kami, segala hal yang tidak pernah sempat kami obrolkan kemarin kami bahas
semuanya. Semuanya sangat indah, hingga saat berpisahpun menjadi perpisahan
yang sangat manis.” Ungkap Andra perlahan.
__ADS_1
“Berarti, kakak sempat
mengantarkanmu juga ke bandara, Mas?”
“Ya, dia mengantaranku ke
bandara. Aku sempat memeluknya dengan erat. Aku tidak akan pernah melupakan
momen itu,” curhatnya. Sila bisa membayangkan kalau pertemuan mereka itu sangat
manis. Ia justru berharap bisa melihat mereka dalam situasi yang manis seperti
itu.
“Aku ingin sekali melihat kalian
akur seperti itu, coba kemarin aku ikut saja. Mmm.. Mas, aku pikir, si kembar
sudah besar, bagaimana kalau kita program anak lagi?” Sila mencetuskan ide yang
membuat Andra sedikit terkejut.
“Menurutku, sekarang belum
saatnya, Sayang. Anak-anak juga masih
kecil, Kan? Setidaknya tunggu mereka
masuk taman kanak-kanak terlebih dahulu,” setidaknya menurut Andra, itu adalah
keputusan yang sangat tepat saat ini. Pikirannya masih banyak hal yang perlu di
cerna. Bahkan, saat ini ia sendiri masih bingung harus berbuat apa.
“Baiklah, mungkin masih banyak hal
yang Mas pikirkan, jadi mas belum
memikirkan soal ini. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Sekarang kita tidur
saja. Kita bahas lain kali.” Sila
berbalik, yang tadinya membelakangi Andra menjadi berhadapan dengannya.
Cup...
Sila mengecup bibir Andra yang
nampak kaku. Segala bentuk penolakan yang di sampaikan oleh Andra, ia sudah
menerimanya. Ia memaklumi, mungkin ada suatu hal yang tidak bisa di ungkapkan
dengan kata-kata dan perlu banyak waktu untuk mencerna semuanya.
“Mas, apa kamu tidak ingin
membalas kecupanku? Apa aku harus memintanya padamu? Tapi jika kamu tidak
berniat memberinya, itu tidak masalah,” ujar Sila sambil merapikan selimut
untuk menutupi tubuhnya dari hembusan pendingin ruangan. Beberapa detik kemudian, Andra menarik kepala Sila dan
merekapun melakukan sebuah ciuman yang cukup panjang.
Beberapa saat berlalu dan merekapun
mengakhiri kegiatan manis itu. Bagi Sila, semua ini sudah membuatnya cukup bahagia. Ia akan segera membicarakan
tentang liburan mereka ke perkebuan teh yang pernah mereka kunjungi saat Andre lupa ingatan dulu. Sila hanya
berharap, semuanya akan membaik saat mereka pulang dari sana nanti.
“Selamat tidur, sayang...” Sila
mengecup pelan kening pria yang telah terlelap itu. Ia memandangi wajah tampan
suaminya itu tanpa terlewat sedikitpun setiap sudutnya, di dalam hatinya masih timbul sedikit
keraguan dan kecurigaan, namun sebisa mungkin ia mencoba mengalihkan
__ADS_1
perasaannya.