Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 49


__ADS_3

Acara makan malam telah usai.


Mereka kembali larut malam. Andra mengajak Sila pergi ke beberapa tempat


sekaligus. Malam itu, seluruh kepenatan yang memenuhi pikiran Sila lenyap


berganti dengan bahagia. Semua kerinduan dan kegundahan hatinya telah terobati.


Sila bahagia, ia menemukan Andra yang manis seperti biasa.


Setiap ada tangisan, ada pula


alasan untuk tersenyum. Dari kejadian kemarin Sila mendapat pelajaran bahwa, ia


harus selalu bersabar dalam menghadapi setiap masalah. Ia juga harus bisa lebih


pengertian dengan kondisi yang sedang di alami oleh Andra.


“Mas, terima kasih untuk hari


ini, aku bener-bener nggak nyangka, kamu bisa bawa aku ke beberapa tempat


seperti tadi,” ujar Sila sambil melepas gaunnya, lalu menggantinya dengan baju


tidur. Kemudian wanita itu duduk di depan cermin riasnya dan mulai menghapus


riasannya. Andra duduk di pinggir ranjang dengan posisi membelakangi Sila.


Andra membuka kancing kemejanya, ia menanggalkan kemejanya dan menyisakan kaos


putih yang biasa ia kenakan saat tidur.


“Sama-sama. Aku senang kalau


malam ini kamu bisa terhibur. Aku harap kamu tidak marah lagi. Aku ingin kamu


tahu, kalau aku sayang sama kamu, Sila,” Andra rebahan dengan masih memakai


celana panjang yang ia pakai saat makan malam tadi. Sila yang sudah selesai


menghapus riasannya langsung naik ke atas tempat tidur.


“Mas, ganti sana. Kamu nggak


pernah tidur pakai celana panjang seperti itu.” Sila segera meminta Andra untuk


mengganti celananya. Andra yag terlentang melirik ke arah Sila.


“Ke-kenapa pakai baju seperti


itu?” ia mengomentari penampilan Sila yang sangat terbuka menurut Andra.


“Ini baru aku beli, Mas. Kenapa?


Apa ini tidak cocok untukku?”  Sila


bingung. Perasaan ia tidak salah memakai baju, tapi Andra memandangnya dengan


pandangan aneh.


“Ba-bagus,” Sahut Andra perlahan,


Sila dapat melihat Andra menelan ludahnya sendiri. Penampilannya malam itu


memang sangat menarik perhatian.


“Cepatlah ganti, Mas. Apa kamu


tunggu aku yang gantiin?” Sila mendekati Andra perlahan. Lelaki itu segera


bangkit dari tidurnya.


“Tidak perlu, biar aku sendiri


yang mengganti celana tidurku,” Andra segera melepas celana panjangnya dan ia


tinggal mengenakan celana pendek yg sedikit ketat. Tanpa aba-aba, Andra segera


masuk ke dalam selimut dengan wajah yang aneh. Ia tampak sangat tegang. Sila

__ADS_1


hanya tersenyum dan menggeleng heran dengan sikap Andra yang di nilainya hanya


berpura-pura,


Sila mendekati Andra dan mulai


memeluk lelaki itu. Berbed dengan biasanya, balasan pelukannya terkesan sangat


kaku dan hati-hati. Sila dapat mendengar detak jantung Andra sangat cepat. Sila


mengeratkan pelukannya.  Ia mulai


memegang dada bidang Andra yang masih tertutup kaos. Perlahan Andra memegang


tangan Sila.


“Sayang, maaf. Jangan malam


ini.  Aku sangat lelah sekali,  kamu tahu kan, hari ini banyak sekali


pekerjaan yang aku selesaikan? Kamu tidak keberatan, kan, kalau kita lakukan


lain kali?” berat sekali rasanya untuk mengatakan itu pada Sila, karena mereka


baru saja baikan, Andra tidak ingin hubungannya dengan Sila kembali memburuk.


“Baiklah, aku tidak masalah. Aku


tahu kamu sedang lelah, aku hanya bermain-main saja.  Tapi sebagai gantinya aku , mau Mas peluk aku


sampai pagi, bagaimana?” Sila memberikan penawarannya.


“B-baiklah. Aku akan memelukmu


sampai pagi,” perlahan Andra memeluk Sila dengan sangat hati. Hati. Ia juga


segera memejamkan matanya. Tidak ingin memikirkan apapun.


“Mas...” Sila tahu, Andra tidak


sedang tidur.  Pria itu hanya sedang


“Apa? kamu belum tidur?” Sahut


Andra, tanpa membuka mata. Meskipun sebenarnya ia belum tidur, tapi matanya


enggan untuk terbuka.


“Aku belum tidur dan aku tahu,


Mas juga belum tidur. Selama di Amerika, apa kamu merindukan aku?”  pertanyaan Sila di sambut senyuman oleh Andra.


Meskipun Sila tidak dapat melihat wajah suaminya, tapi ia menyadari kalau


lelaki itu tengah mengulas senyum.


“Tentu saja aku sangat merindukan


kamu, sangat. Setiap detik, di sana aku selalu merindukan kamu. Kamu  yang selalu aku pikirkan, sampai aku tidak


memikirkan diriku sendiri,”  Andra


perlahan mengecup rambut Sila sekilas. Hanya beberapa detik.


“Gombal, udah mirip sama kak


Andre kamu, Mas. Baru juga barengan belum lama, sifat gombalnya udah nular,”


celoteh Sila. Tentu saja dia sangat hapal bagaimana ciri khas gombalan kakak


iparnya itu.


“Itu menjadi bagian dari obrolan


kami, segala hal yang tidak pernah sempat kami obrolkan kemarin kami bahas


semuanya. Semuanya sangat indah, hingga saat berpisahpun menjadi perpisahan


yang sangat manis.” Ungkap Andra perlahan.

__ADS_1


“Berarti, kakak sempat


mengantarkanmu juga ke bandara, Mas?”


“Ya, dia mengantaranku ke


bandara. Aku sempat memeluknya dengan erat. Aku tidak akan pernah melupakan


momen itu,” curhatnya. Sila bisa membayangkan kalau pertemuan mereka itu sangat


manis. Ia justru berharap bisa melihat mereka dalam situasi yang manis seperti


itu.


“Aku ingin sekali melihat kalian


akur seperti itu, coba kemarin aku ikut saja. Mmm.. Mas, aku pikir, si kembar


sudah besar, bagaimana kalau kita program anak lagi?” Sila mencetuskan ide yang


membuat Andra sedikit terkejut.


“Menurutku, sekarang belum


saatnya, Sayang. Anak-anak juga  masih


kecil, Kan?  Setidaknya tunggu mereka


masuk taman kanak-kanak terlebih dahulu,” setidaknya menurut Andra, itu adalah


keputusan yang sangat tepat saat ini. Pikirannya masih banyak hal yang perlu di


cerna. Bahkan, saat ini ia sendiri masih bingung harus berbuat apa.


“Baiklah, mungkin masih banyak hal


yang  Mas pikirkan, jadi mas belum


memikirkan soal ini. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Sekarang kita tidur


saja. Kita bahas lain kali.”  Sila


berbalik, yang tadinya membelakangi Andra menjadi berhadapan dengannya.


Cup...


Sila mengecup bibir Andra yang


nampak kaku. Segala bentuk penolakan yang di sampaikan oleh Andra, ia sudah


menerimanya. Ia memaklumi, mungkin ada suatu hal yang tidak bisa di ungkapkan


dengan kata-kata dan perlu banyak waktu untuk mencerna semuanya.


“Mas, apa kamu tidak ingin


membalas kecupanku? Apa aku harus memintanya padamu? Tapi jika kamu tidak


berniat memberinya, itu tidak masalah,” ujar Sila sambil merapikan selimut


untuk menutupi tubuhnya dari hembusan pendingin ruangan. Beberapa  detik kemudian, Andra menarik kepala Sila dan


merekapun melakukan sebuah ciuman yang cukup panjang.


Beberapa saat berlalu dan merekapun


mengakhiri kegiatan manis itu. Bagi Sila,  semua ini sudah membuatnya cukup bahagia. Ia akan segera membicarakan


tentang liburan mereka ke perkebuan teh yang  pernah mereka kunjungi saat Andre lupa ingatan dulu. Sila hanya


berharap, semuanya akan membaik saat mereka pulang dari sana nanti.


“Selamat tidur, sayang...” Sila


mengecup pelan kening pria yang telah terlelap itu. Ia memandangi wajah tampan


suaminya itu tanpa terlewat sedikitpun setiap sudutnya,  di dalam hatinya masih timbul sedikit


keraguan dan kecurigaan, namun sebisa mungkin ia mencoba mengalihkan

__ADS_1


perasaannya.


__ADS_2