
"Sudah jam segini, mana Robby? Katanya dia mau datang dengan keluarganya untuk melamar kamu?" papa Febbi tampak mondar-mandir di ruang tamu, menunggu kedatangan Robby.
"Sabar, Pa. Mungkin Nak Robby dan keluarganya masih di jalan. Nanti mereka juga pasti akan datang. Papa mendingan duduk dulu." mama Febbi coba menenangkan papanya.
"Iya, Papa. Jangan emosi dulu. Nanti Bang Robby juga pasti akan datang melamar bersama keluarganya." Febbi mencoba untuk meredam emosi papanya yang sedang naik.
"Tapi ini sudah malam, Feb. Jam makan malam pun sudah lewat." gerutu papanya.
Febbi duduk di kursi, ia tidak akan menyangka kalau Robby akan membuatnya kecewa. Untungnya, perasaannya belum ada pada pria itu, jika ada, pasti rasa kecewa yang ia rasakan akan semakin dalam.
Ting..tong...
Febbi segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu dengan segera. Perlahan rasa kecewanya memudar. Ia memiliki sedikit harapan sekarang. Gadis itu membuka pintu dengan cepat.
"Bang Rob..." kalimat Febbi terpotong. Pria yang saat ini ada di hadapannya bukanlah Robby.
"Bang Andre.." Febbi cukup terkejut. Memang Andre beberapa jam lalu meminta alamat rumahnya tetapi ia tidak menyangka lelaki itu akan menemuinya malam itu juga.
Ada sisi kegelisahan, dimana ia pasti akan bimbang jika Robby juga datang di waktu yang sama seperti sekarang ini.
"Febbi, bolehkah aku bicara empat mata denganmu? Ini tentang kita. Apapun hasil akhirnya, aku harus mengatakan ini padamu malam ini juga." Andre setengah memohon pada Febbi. Meskipun gadis di hadapannya nampak kaget, tapi sejurus kemudian, raut wajahnya kembali melembut.
"Tunggu sebentar, Bang." Febbi meninggalkan Andre di luar, masuk menemui orangtuanya agar memberikan waktu berdua padanya dan Andre untuk bicara.
Setelah berdebat kecil, akhirnya mama dan papa Febbi memberikan kesempatan pada Febbi dan Andre untuk saling berbicara. Febbi mempersilahkan Andre masuk, lalu keduanya duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Jadi, angin apa yang membawa Abang kemari?" Febbi membuka pembicaraan.
"Aku mau mengakui sebuah perasaan padamu, Febbi." Andre sudah menguatkan hatinya untuk mengatakan dengan jujur perasaannya dengan Febbi. Apapun hasil akhirnya, ia sudah siap menerima.
"Tunggu, bukannya seharusnya Abang sudah menikah? Lalu kenapa Abang tiba-tiba datang padaku?" Febbi memperhitungkan ingatannya. Ia tidak mungkin salah, Andre telah menikah.
"Ya, aku memang sudah menikah, tapi pernikahanku tidak sah. Orang yang ku nikahi masih punya suami, dan itu kesalahan bagiku. Aku memang bukan orang yang sempurna, Febbi. Aku punya banyak kekurangan, terlebih lagi, ada calon anakku di rahim wanita lain. Tapi satu hal, yang aku harus akui di hadapanmu, aku jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu. Kamu boleh beranggapan apapun, tapi ini kejujuranku. Aku dengar, kamu akan bertunangan hari ini, selamat untuk itu. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang, aku tidak akan mengganggumu lagi." Andre beranjak dari duduknya.
Lelaki itu tidak mau mendengar jawaban perasaannya terhadap Febbi. Dia sadar diri kalau dirinya datang di saat yang tidak tepat. Ia memang menyesal, tapi itu lebih baik. Tidak ada beban lagi, ia sekarang tahu bahwa hatinya telah berpindah pada Febbi, meski lagi-lagi ia tidak dapat memiliki seseorang yang dia cintai.
"Bang Andre, tunggu!" Febbi memeluk Andre dari belakang. Ia memeluknya dengan sangat erat. Air mata Febbi jatuh berderai, ia sangat bahagia karena pada akhirnya cintanya terbalas.
"Ada apa? Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kamu, Feb." ungkap Andre. Ia tahu diri, ia tidak mungkin menghancurkan masa depan Febbi.
"Apa Abang kira Febbi bahagia jika bertunangan dengan orang yang tidak aku cintai? Febbi mau menikah sama Abang, siapapun Abang, apapun masalalu Abang, Febbi terima, Bang. Nanti kalau anak Abang lahir, kita rawat sama-sama." jawaban Febbi membuat Andre terharu. Matanya berkaca-kaca. Ia sangat beruntung menemukan seseorang yang sangat tulus padanya.
"Tiga hari lagi, kita menikah, Feb. Maaf, aku tidak bisa mengadakan pesta mewah. Tapi nanti, aku akan memikirkannya. Aku tidak mau kehilangan kamu. Kamu harus menjadi milikku." Andre mengecup kening Febbi sekali lagi.
"Febbi mau, Bang. Febbi bersedia mendampingi Abang.Febbi sempat sedih, karena pada akbirnya Abang meninggalkan Febbi. Tapi, hari ini Febbi percaya, jodoh tak akan kemana." Febbi tersenyum, tapi air matanya masih menetes. Ia sangat bahagia, dapat memiliki Andre.
Andre juga bahagia, semuanya belum terlambat. Ia masih bisa menggapai seseorang yang ia sayangi. Ia tidak kehilangan lagi. Kali ini, di dalam hatinya Andre berjanji untuk menjaga Febbi sebaik mungkin, sebagai orang yang menghuni hatinya sekarang.
"Maaf ya, Feb. Aku tidak membawakanmu cincin. Seharusnya malam ini juga aku melamarmu. Aku tadi juga sempat merasa tidak ada harapan, saat mendengar pembicaraan ayahmu." Andre memegang krdua bahu gadis itu lembut. Ia juga menatap kedua bola mata Febbi yang teduh.
"Nggak apa-apa, Bang. Cincin hanya formalitas, yang penting hati kita. Aku sudah bahagia, menjadi calon istri Abang meski tanpa cincin sekalipun." ungkap Febbi tulus.
__ADS_1
"Kamu terlalu baik, Feb. Maafkan aku yang sempat membuatmu patah hati. Meskipun begitu, kamu masih sering aku pikirkan. Pernikahanku adalah bentuk tanggung jawab semata." sampai detik itu, Andre masih menyesali apa yang pernah ia lakukan.
Ia sempat berpikir kalau ia menikah dengan Sila, maka dirinya akan bahagia. Tapi kenyataannya, kebahagiaan itu terasa hambar. Hati mereka telah memiliki tambatan masing-masing. Jika di teruskan pun, semuanya tidak akan baik.
Kebersamaan singkat antara Febbi dan Andre di Amerika, ternyata membuat hati keduanya terpaut. Febbi menerima dengan tulus apapun yang ada dalam diri Andre, meskipun ia duda, memiliki anak di rahim wanita lain, Febbi tetap menerimanya.
Cinta memang bukan hanya tentang kesempurnaan, justru cinta adalah tentang bagaimana kita bisa menerima kekurangan pasangan dengan sebaik mungkin.
"Kalau kita sudah menikah nanti, kamu mau kita bulan madu kemana?" tanya Andre setelah mereka kembali duduk di ruang tamu.
"Kemanapun Abang bawa Febbi pergi, Febbi pasti bahagia, Bang." ungkap Febbi blak-blakan.
"Kamu terlalu penurut. Beneran, kamu bersedia menikah dengan om-om sepertiku?" ledek Andre sambil tertawa.
"Febbi sudah terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, Om." Febbi tertawa kecil .
"Baiklah, mulai saat ini, kamu adalah dokter cintaku." goda Andre setengah berbisik.
Cup...
Febbi mendaratkan kecupannya di bibir Andre mendadak, membuat Andre membulatkan matanya. Ia menggunakan kesempatan sebaik mungkin untuk membalas perlakuan Febbi.
Ting!
Tanda pesan masuk di ponsel Febbi. Ia mengabaikannya dan menikmati waktu bersama dengan Andre. Ia tidak ingin melewatkan waktu berdua mereka begitu saja.
__ADS_1
Febbi, maaf. Aku tidak datang menepati janjiku. Malam ini keluargaku menjodohkanku dengan wanita pilihan ibu. Sampaikan maafku juga pada kedua orangtuamu. Semoga kamu menemukan seseorang yang lebih baik dariku.