
Sore harinya, Andre datang ke rumah Sila dengan membawa banyak belanjaan. Ia sampai terlihat kepayahan membawa barang-barang tersebut. Melihat Andre yang repot, Minah segera membantunya membawa barang-barang itu masuk.
"Sila sudah pulang?" tanyanya kemudian.
"Sudah, Tuan. Perlu saya panggilkan?"
"Tidak usah. Nanti saya temui sendiri saja. Ini semua saya beli untuknya. Ada susu hamil, sayur mayur, daging,buah-buahan."jelas Andre.
"Setiap hari minimal dua kali sehari, buatkan Sila susu. Suruh dia makan buah-buahan juga," tambahnya.
Minah hanya memperhatikan Andre yang membongkar isi belanjaannya sambil menerangkan satu persatu bahan dan kegunaannya. Meskipun sebenarnya, Minah juga sudah tahu.
Menurut minah, suami majikannya itu justru jauh lebih perhatian di kehamilannya yang sekarang, padahal, untuk seorang ibu yang sudah pernah hamil tiga kali seperti Sila, tentu saja tidak perlu seribet itu. terlalu berlebihan, hingga membuat Minah tersenyum geli..
"Bibi menertawakan saya? Apakah tingkah saya lucu?" akhirnya Andre menyadari, dirinya terlalu semangat dan banyak bicara, sampai menjelaskan manfaat dari segala bahan makanan yang ia beli segala.Seketika ia merasa konyol dan malu.
"Tidak, sama sekali tidak. Saya justru sangat senang karena Tuan sangat perhatian sekali terhadap Nyonya di kehamilannya kali ini. Tuan tampak sangat antusias dengan kehamilan Nyonya," ujar minah sambil mulai menata semua belanjaan pada tempatnya agar terlihat rapi.
__ADS_1
"Tentu saja. Kehamilan Sila kali ini harus benar-benar spesial, jadi saya ingin memperlakukan dia secara istimewa. Selama saya tidak ada di rumah bibi tolong awasin Sila, jangan sampai dia ceroboh apalagi melakukan hal-hal yang membahayakan janin nya." pesan Andre kepada Minah. Ia menyuruh Minah untuk mengawasi gerak-gerik sila, karena ia tidak ingin sila berbuat sesuatu yang dapat membahayakan anaknya.
"Tenang saja Tuan, saya akan menjaganya dengan baik. Saya akan memastikan nyonya dan bayinya baik-baik saja. Tapi, jika di luar rumah ini bukan tanggung jawab saya, karena saya tidak bisa memantau jika Nyonya sedang berada di luar rumah." Tentu saja Minah akan menjaga Sila karena menurutnya keselamatan sila adalah yang terpenting. Apalagi wanita itu tengah hamil muda.
"Tentu saja aku tidak akan menuntutmu seperti itu. Saya hanya ingin kamu mengawasinya saat berada di rumah, selebihnya saya akan mengawasinya dengan cara saya sendiri. Kalau begitu saya akan menemuinya dulu. Terima kasih, Bi. Silakan dibereskan semua barang-barang ini, maaf. Seharusnya saya tidak membuatnya berantakan seperti ini. Sepertinya saya terlalu bersemangat" Andre menyadari tingkahnya aneh dan merasa sedikit tidak enak terhadap Minah karena telah membuat dapur sila jadi berantakan.
"Tenang saja Tuan, saya tidak apa-apa. Saya akan membereskan semuanya. Silakan Tuan ke atas, sepertinya Nyonya ada di dalam kamarnya, tadi beliau tampak sangat lelah." Keterangan Minah justru membuat andre sedikit panik dan segera naik ke atas untuk menengok keadaan Sila.
Tok.. tok..
Andre terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Sila. Bagaimanapun, dia tidak bisa keluar masuk kamar itu begitu saja karena saat ini dirinya dan Sila belum resmi menikah. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama yang membuat Sila semakin marah dan mengabaikannya.
"Aku. boleh bicara sebentar?"
"Masuk, Kak."
Sila mempersilahkan lelaki itu masuk kedalam kamarnya. Lagipula tinggal menghitung hari mereka akan menikah kalau hanya untuk berbincang sebentar Sila rasa itu tidak ada salahnya.
__ADS_1
"Kata bibi, kamu kelelahan apa saja yang kamu kerjakan hari ini sehingga kamu lelah? Aku mohon kurangilah pekerjaanmu Sila. Aku bisa membantumu asal kamu mengizinkanku. Aku tidak bisa membiarkan kesusahan seperti ini, bagaimanapun kamu sedang mengandung anakku," Andre sangat mengkhawatirkan keadaan Sila. Ia tidak ingin wanita itu kepayahan karena dirinya. Ia juga sangat khawatir kalau sampai terjadi apa-apa dengan janin yang sedang dikandung oleh Sila.
"Kakak tenang saja, aku dan bayiku baik baik. Aku sedikit lelah karena pekerjaan kantor, istirahat sebentar semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan sampai membahayakan dia. Aku tahu hari ini kakak menemui seseorang, dia pacarmu?" memang tanpa sengaja Sila sempat melihat Andre bersama Febbi. Kejadian itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa dengan perasaannya, karena pada dasarnya Sila memang tidak ada perasaan apapun pada Andre, setidaknya itu untuk saat ini.
"Bagaimana kamu bisa tahu? Dia bukan pacarku, tapi kami memang dekat. Aku minta maaf, belum cerita ini kepadamu. Suatu hari dia akan tahu aku akan menikah karena aku sendiri yang akan mengantarkan surat undangan pernikahan kita kepadanya. Untuk saat ini Kamu adalah prioritasku. Meskipun aku tahu kamu tidak pernah menganggap aku ada. Aku sadar diriku ini siapa dan aku memang tidak pantas mendapatkan apapun darimu, yang aku minta jaga anakku baik-baik, itu sudah lebih dari cukup untukku." Baginya, apa lagi yang bisa dilakukan selain pasrah. Hanya itu yang bisa menyelamatkan janin yang ada di kandungan Sila saat ini. Dia takut pemaksaan perasaannya justru akan membuat Sila menjadi stress dan berpengaruh pada kandungannya.
"Kenapa harus? Dia tidak perlu tahu tentang pernikahan pura-pura kita. Nantinya setelah kita berpisah, Kakak bisa kembali bersamanya, kan? Aku tahu wanita itu pasti sudah menerima Kakak apa adanya dan Kakak sepertinya juga sudah nyaman dengannya, tidak perlu menjadikan aku penghalang untuk kalian bersatu. Pernikahan kita hanya akan di atas kertas, jadi tidak masalah jika Kakak menjalin hubungan dengan dia dibelakangku," Mungkin terdengar konyol, tapi Sila serius dengan perkataannya.
Pernikahannya dengan Andre hanyalah sebuah formalitas. Setelah bayi itu lahir, kemungkinan besar dirinya dan Andre akan segera mengakhiri hubungan mereka. Sila cukup bahagia melihat Andre yang mempunyai seseorang yang kita cintai.
Saat ini justru sila yang merasa bersalah, jika tidak karena ulahnya, kemungkinan Andre dan wanita itu yang akan segera melangsungkan pernikahan bukan dirinya yang harus menjadi pengantin wanitanya.
"Meskipun bagimu pernikahan kita adalah main-main tapi aku tidak ingin Menjalaninya dengan main-main juga. Setidaknya aku ingin menjadi suami siagamu, meskipun hanya sementara. Aku tidak memaksamu untuk apapun, Sila. Semua ini biar aku yang melakukannya sendiri, biarlah aku yang mencintaimu dan biarlah aku yang menyayangimu. Kamu tidak perlu melakukan itu bagiku. Dapat memilikimu adalah suatu kebahagiaan yang sangat besar meskipun semuanya itu adalah semu. Jangan pernah menolak untuk aku sayang kamu. Aku tekan kan sekali lagi, kamu tidak perlu membalas rasa sayangku." Mau tidak mau Andre harus menjelaskan semuanya. Ia memang akan mencintai sila dengan tulus.
Sejujurnya Andre memang sedih karena harus mengakhiri hubungannya dengan Febbi yang baru saja tumbuh. Tapi ia tidak punya pilihan, Andre percaya, apa yang terjadi saat ini sudah sesuai dengan garis takdir.
"Jangan membuatku semakin merasa bersalah, Kak. Sungguh, aku sudah mengatakan ini sebelumnya. Aku mungkin tidak bisa mencintai Kakak untuk saat ini, karena aku masih belum bisa melupakan suamiku. Aku harap kakak mengerti itu," Sila tidak bisa membohongi perasaannya, Bahwa saat ini ia tidak bisa mencintai lelaki lain selain suaminya. Tapi ia tidak mengelak, mungkin suatu hari ia bisa membuka hatinya.
__ADS_1
"Tidak perlu merasa bersalah karena aku tidak sedang menghakimimu. Semua ini aku lakukan karena aku memang benar-benar sayang sama kamu dan kamu tahu itu. Aku menyayangi bukan hanya hari ini, tapi juga sejak ribuan hari yang lalu. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, aku sudah membeli banyak barang untuk keperluan mu. Jangan lupa minum susu dan makan buah, makan yang teratur dan tidur yang cukup. Banyak-banyak istirahat, kalau kamu kesulitan di kantor jangan sungkan untuk menelpon ku atau jika tidak sibuk aku akan berrkunjung mampir ke sana untuk mengecek, ya." pesan Anda sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kamar Sila. Ia cukup tenang, ketika bisa memastikan Sila dalam keadaan baik-baik saja.