Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 38


__ADS_3

“Rob, kasus penusukan di Bar


kemarin sudah teratasi,  korbannya satu


orang, di duga penusukan berencana. Pelakunya sudah di ringkus, sementara


berjumlah empat orang dengan dua orang sebagai otak penyerangan,”


“Oke Rudi, terima kasih


infonya.  Aku akan urus nanti.”


sahut  Robby tenang.  Akhir-akhir ini dia sedikit lelah. Banyak


sekali kasus yang harus ia tangani.


“Sepertinya kamu sedang banyak


pikiran, kenapa, Robb?”  tanya Rudy,


sahabat seperjuangan  Robby.


“Banyak hal yang aku pikirin,


mamaku terutama, beliau suka mengeluh kesepian, karena aku sering pindah-pindah


tugas, apalagi sekarang ini, aku jarang bisa pulang ke rumah.  Dulu saat ada istriku, mamaku tidak pernah


mengeluh kesepian seperti sekarang, Rud.”   Robby menceritakan apa yang menjadi beban


hidup terbesarnya. Ia ingin membuat mamanya kembali ceria seperti dulu.


“Sudahlah, Rob. Sekali-sekali


keluar ke mana, cari pandangan pendamping hidup baru. Kalau kamu menikah lagi,


mamamu itu tidak akan kesepian,” Saran Rudy dengan penuh antusias,  dia sangat paham apa yang di rasakan oleh


sahabatnya saat ini.


“Masalahnya, aku belum bertemu


dengan seseorang yang cocok di hati, sekalinya ada wanita yang sesuai dengan


perasaanku, dia ternyata punya suami,” Curhat Robby,  saat itu dia berpikir, Sila seseorang yang


tepat untung menggantikan mendiang istrinya, tapi ternyata semuanya tidak  sejalan dengan pikirannya. Untuk sekarang dia


sudah menerima kenyataan.


“Namanya belum jodoh, cari lagi,


Rob. Kamu itu tampan, seharusnya sekali kedip saja sudah ada banyak cewek yang


menempel padamu,” Ledek Rudy,  disusul


gelak tawanya.


“ Rud, ngomong itu mudah, tapi


prakteknya yang susah. Kamu sendiri apa kabar? Kapan mau nikah?” Robby balik


melempar pertanyaan menohok untuk Rudy.


“Sinta belum mau aku nikahi, Rob.


Jadi mau apalagi, yang penting kami sudah bertunangan, kan?”  jawab Rudy dengan santainya. Dia memang sudah


bertunangan dengan pacarnya lebih dari setahun yang lalu.


“Jangan kelamaan, Rud. Nanti


lama-lama di comot orang tunanganmu itu.  Kalian nunggu apa lagi? Sukes sudah, umur cukup, orang tua merestui,


jadi apalagi yang mau di tunggu?” cibir Robby.  Memang udah lama mereka bertunangan, tapi Sinta, kekasih Rudy masih


ingin meraih gelar S2 terlebih dahulu.


“Tunggu saja, Rob. Nanti aku akan


segera memberikan undanganku padamu,”


“Cepatlah sedikit, jangan terlalu


lama,”


“Kau juga, Bung!”


Sementara itu...

__ADS_1


Bian dan Anita sedang dalam


perjalanan menuju rumah Andra.  Kiara


tertidur pulas dalam gendongan Anita. Bocah mungil itu di pakaikan baju panjang


serba merah dan juga kerudung dengan warna senada. Membuat siapapun yang


melihatnya akan merasa gemas.


“Bi, lihat dedek Kiara malah


bobo,” Anit menunjukkan anaknya yang sedan tidur kepada suaminya.


“Mungkin dia memang mengantuk


tadi, Umi. Biarkan saja, nanti kalau sampai di rumah pakdenya biar main sama


kakak Allana dan Alandra. Tidak terasa anak kita sudah sebesar ini ya,


Umi,”  sahut Bian sambil sesekali melihat


ke arah istri dan juga anaknya.


“Benar, Abi. Baru kemarin Kaira


bayi, sudah sebesar ini dia ternyata. Umi jadi kepikiran untuk berikan Kaira


adik, Abi,”  Anita begitu antusias,


nampak sekali ia sudah sangat siap untuk mempunyai anak lagi, adik dari Kaira.


“Kamu yakin, Umi? Apa tidak


terlalu kecil? Kaira baru  dua tahun,


loh. Nanti kalau umi kerepotan gimana? Katanya umi nggak mau pakai jasa


pengasuh,” Bian mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Ia hanya tidak ingin


istrinya itu kerepotan mengurus dua anak kecil sekaligus. Sementara, ia tidak


banyak bisa membantu karena harus bekerja.


“Kalau hamil sekarang, pas lahir


Abi setuju tidak?”  Anita mengharapkan


dukungan Bian terhadap dirinya untuk melakukan program kehamilan keduanya.


“Terserah Umi saja,  yang pentig Umi sudah siap untuk mempunyai


anak lagi, nanti kalau kerepotan dan butuh pengasuh, Umi bisa bilang sama


Abi,”  Bian kembali fokus menyetir


mobilnya.


“Bi, berhenti di minimarket depan


ya, Umi mau beli oleh-oleh buat kakak,  sudah lama nggak ke sana, nggak enak kan, Bi kalau datang nggak bawa


apa-apa,” usul Anita saat melihat ada minimarket tidak jauh dari tempat mereka


saat itu.


“Baik, Umi. Jangan lupa, belikan


makanan untuk Kaira dan kakak-kakaknya, biar nanti di makan bareng di sana,”


tambah Bian.


“Siap, Abi...”


Beberapa puluh menit berlalu,


akhirnya mereka sampai di rumah Sila.  Setelah beberapa tahun tidak pernah ke sana, tidak ada banyak perubahan,


hanya warna catnya saja yang sudah ganti. Mereka selalu bertemu di rumah


mamanya saa ada acara keluarga saja.Anita menekan bel beberapa kali, hingga


minah keluar menyambut mereka bertiga.


“Eh, ada Non Anita, Den Bian,


silahkan masuk, biar saya panggilkan Nyonya, sedang tidak enak badan di atas,”


sambut wanita itu dengan sangat ramah.

__ADS_1


“Terima kasih, Bi. “ Mereka


berdua pun masuk ke dalam rumah Sila dan di persilahkan untuk duduk di sofa


yang biasa di gunakan untuk menerima tamu.


Bibi segera ke atas, ke kamar


Sila. Wanita itu tengah istirahat karena kondisi badannya yang tidak terlalu


baik. Sedikit demam dan juga sakit kepala.


Tok.. tok... tok..


“Nyonya, di bawah ada Non Anita,”


Cklek...


“Siapa,  Minah? Anita? “ Sila keluar dengan selimut


membalut tubuhnya.


“Benar, Nyonya. Non Anita, suami,


dan juga anaknya.” Minah memperjelas semuanya.


“Baiklah, saya akan segera turun,


saya cuci muka dan berganti pakaian dulu, Minah,”


“Baik, saya akan segera


membuatkan minuman untuk mereka.”


Sila kembali menutup pintunya dan


membersihkan diri, sementara Minah segera memuat minuman untuk Anita dan juga


Bian. Dia juga mengatakan pada mereka kalau Sila sedang mengganti pakaiannya.


“Hai kalian,  apa kabar? Senengnya tiba-tiba kalian ke


sini, kalian sehat?” Sapa Sila sambil menyalami mereka berdua. Kaira masih


tidur.


“Baik, kak. Kakak apa kabar? Lagi


sakit ya? Kok pucet gitu?” Ternyata, meski sudah memakai lipkrim, pucat wajah


Sila masih dapat di lihat oleh Anita.


“Sepertinya aku hanya akan flu,


Nit. Eh, itu Kaira di tidurin aja di kamar si kembar, yuk.”


“Nggak papa?”


“Ya nggaklah, kamar mereka luas


kok, lagipula ada pengasuhnya, pasti aman, ada yang jagain,”


Anita mengikuti langkah kakak


iparnya menuju kamar Alandra.


“Kak Andra kerja, Kak?”


“Kakakmu ke Amerika, Nit. Baru


saja berangkat hari ini, Nit.”


“Hah? Nyusul kak Andre maksudnya?


Ada apa?  Mendadak  banget, kak?”


“Kata Andra, kak Andre yang kirim


pesan untuk segera men menemuinya karena ada masalah yang tidak bisa di


bicarakan hanya lewat telepon, jadi Andra memutuskan untuk segera kesana,” Sila


menjelaskan secara singkat mengapa Andra pergi.


“Semoga kakak cepat kembali.


Padahal aku kangen banget sama kak Andra. Biasanya dia suka komen pedes ke


Bian,”

__ADS_1


__ADS_2