
“Rob, kasus penusukan di Bar
kemarin sudah teratasi, korbannya satu
orang, di duga penusukan berencana. Pelakunya sudah di ringkus, sementara
berjumlah empat orang dengan dua orang sebagai otak penyerangan,”
“Oke Rudi, terima kasih
infonya. Aku akan urus nanti.”
sahut Robby tenang. Akhir-akhir ini dia sedikit lelah. Banyak
sekali kasus yang harus ia tangani.
“Sepertinya kamu sedang banyak
pikiran, kenapa, Robb?” tanya Rudy,
sahabat seperjuangan Robby.
“Banyak hal yang aku pikirin,
mamaku terutama, beliau suka mengeluh kesepian, karena aku sering pindah-pindah
tugas, apalagi sekarang ini, aku jarang bisa pulang ke rumah. Dulu saat ada istriku, mamaku tidak pernah
mengeluh kesepian seperti sekarang, Rud.” Robby menceritakan apa yang menjadi beban
hidup terbesarnya. Ia ingin membuat mamanya kembali ceria seperti dulu.
“Sudahlah, Rob. Sekali-sekali
keluar ke mana, cari pandangan pendamping hidup baru. Kalau kamu menikah lagi,
mamamu itu tidak akan kesepian,” Saran Rudy dengan penuh antusias, dia sangat paham apa yang di rasakan oleh
sahabatnya saat ini.
“Masalahnya, aku belum bertemu
dengan seseorang yang cocok di hati, sekalinya ada wanita yang sesuai dengan
perasaanku, dia ternyata punya suami,” Curhat Robby, saat itu dia berpikir, Sila seseorang yang
tepat untung menggantikan mendiang istrinya, tapi ternyata semuanya tidak sejalan dengan pikirannya. Untuk sekarang dia
sudah menerima kenyataan.
“Namanya belum jodoh, cari lagi,
Rob. Kamu itu tampan, seharusnya sekali kedip saja sudah ada banyak cewek yang
menempel padamu,” Ledek Rudy, disusul
gelak tawanya.
“ Rud, ngomong itu mudah, tapi
prakteknya yang susah. Kamu sendiri apa kabar? Kapan mau nikah?” Robby balik
melempar pertanyaan menohok untuk Rudy.
“Sinta belum mau aku nikahi, Rob.
Jadi mau apalagi, yang penting kami sudah bertunangan, kan?” jawab Rudy dengan santainya. Dia memang sudah
bertunangan dengan pacarnya lebih dari setahun yang lalu.
“Jangan kelamaan, Rud. Nanti
lama-lama di comot orang tunanganmu itu. Kalian nunggu apa lagi? Sukes sudah, umur cukup, orang tua merestui,
jadi apalagi yang mau di tunggu?” cibir Robby. Memang udah lama mereka bertunangan, tapi Sinta, kekasih Rudy masih
ingin meraih gelar S2 terlebih dahulu.
“Tunggu saja, Rob. Nanti aku akan
segera memberikan undanganku padamu,”
“Cepatlah sedikit, jangan terlalu
lama,”
“Kau juga, Bung!”
Sementara itu...
__ADS_1
Bian dan Anita sedang dalam
perjalanan menuju rumah Andra. Kiara
tertidur pulas dalam gendongan Anita. Bocah mungil itu di pakaikan baju panjang
serba merah dan juga kerudung dengan warna senada. Membuat siapapun yang
melihatnya akan merasa gemas.
“Bi, lihat dedek Kiara malah
bobo,” Anit menunjukkan anaknya yang sedan tidur kepada suaminya.
“Mungkin dia memang mengantuk
tadi, Umi. Biarkan saja, nanti kalau sampai di rumah pakdenya biar main sama
kakak Allana dan Alandra. Tidak terasa anak kita sudah sebesar ini ya,
Umi,” sahut Bian sambil sesekali melihat
ke arah istri dan juga anaknya.
“Benar, Abi. Baru kemarin Kaira
bayi, sudah sebesar ini dia ternyata. Umi jadi kepikiran untuk berikan Kaira
adik, Abi,” Anita begitu antusias,
nampak sekali ia sudah sangat siap untuk mempunyai anak lagi, adik dari Kaira.
“Kamu yakin, Umi? Apa tidak
terlalu kecil? Kaira baru dua tahun,
loh. Nanti kalau umi kerepotan gimana? Katanya umi nggak mau pakai jasa
pengasuh,” Bian mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Ia hanya tidak ingin
istrinya itu kerepotan mengurus dua anak kecil sekaligus. Sementara, ia tidak
banyak bisa membantu karena harus bekerja.
“Kalau hamil sekarang, pas lahir
Abi setuju tidak?” Anita mengharapkan
dukungan Bian terhadap dirinya untuk melakukan program kehamilan keduanya.
“Terserah Umi saja, yang pentig Umi sudah siap untuk mempunyai
anak lagi, nanti kalau kerepotan dan butuh pengasuh, Umi bisa bilang sama
Abi,” Bian kembali fokus menyetir
mobilnya.
“Bi, berhenti di minimarket depan
ya, Umi mau beli oleh-oleh buat kakak, sudah lama nggak ke sana, nggak enak kan, Bi kalau datang nggak bawa
apa-apa,” usul Anita saat melihat ada minimarket tidak jauh dari tempat mereka
saat itu.
“Baik, Umi. Jangan lupa, belikan
makanan untuk Kaira dan kakak-kakaknya, biar nanti di makan bareng di sana,”
tambah Bian.
“Siap, Abi...”
Beberapa puluh menit berlalu,
akhirnya mereka sampai di rumah Sila. Setelah beberapa tahun tidak pernah ke sana, tidak ada banyak perubahan,
hanya warna catnya saja yang sudah ganti. Mereka selalu bertemu di rumah
mamanya saa ada acara keluarga saja.Anita menekan bel beberapa kali, hingga
minah keluar menyambut mereka bertiga.
“Eh, ada Non Anita, Den Bian,
silahkan masuk, biar saya panggilkan Nyonya, sedang tidak enak badan di atas,”
sambut wanita itu dengan sangat ramah.
__ADS_1
“Terima kasih, Bi. “ Mereka
berdua pun masuk ke dalam rumah Sila dan di persilahkan untuk duduk di sofa
yang biasa di gunakan untuk menerima tamu.
Bibi segera ke atas, ke kamar
Sila. Wanita itu tengah istirahat karena kondisi badannya yang tidak terlalu
baik. Sedikit demam dan juga sakit kepala.
Tok.. tok... tok..
“Nyonya, di bawah ada Non Anita,”
Cklek...
“Siapa, Minah? Anita? “ Sila keluar dengan selimut
membalut tubuhnya.
“Benar, Nyonya. Non Anita, suami,
dan juga anaknya.” Minah memperjelas semuanya.
“Baiklah, saya akan segera turun,
saya cuci muka dan berganti pakaian dulu, Minah,”
“Baik, saya akan segera
membuatkan minuman untuk mereka.”
Sila kembali menutup pintunya dan
membersihkan diri, sementara Minah segera memuat minuman untuk Anita dan juga
Bian. Dia juga mengatakan pada mereka kalau Sila sedang mengganti pakaiannya.
“Hai kalian, apa kabar? Senengnya tiba-tiba kalian ke
sini, kalian sehat?” Sapa Sila sambil menyalami mereka berdua. Kaira masih
tidur.
“Baik, kak. Kakak apa kabar? Lagi
sakit ya? Kok pucet gitu?” Ternyata, meski sudah memakai lipkrim, pucat wajah
Sila masih dapat di lihat oleh Anita.
“Sepertinya aku hanya akan flu,
Nit. Eh, itu Kaira di tidurin aja di kamar si kembar, yuk.”
“Nggak papa?”
“Ya nggaklah, kamar mereka luas
kok, lagipula ada pengasuhnya, pasti aman, ada yang jagain,”
Anita mengikuti langkah kakak
iparnya menuju kamar Alandra.
“Kak Andra kerja, Kak?”
“Kakakmu ke Amerika, Nit. Baru
saja berangkat hari ini, Nit.”
“Hah? Nyusul kak Andre maksudnya?
Ada apa? Mendadak banget, kak?”
“Kata Andra, kak Andre yang kirim
pesan untuk segera men menemuinya karena ada masalah yang tidak bisa di
bicarakan hanya lewat telepon, jadi Andra memutuskan untuk segera kesana,” Sila
menjelaskan secara singkat mengapa Andra pergi.
“Semoga kakak cepat kembali.
Padahal aku kangen banget sama kak Andra. Biasanya dia suka komen pedes ke
Bian,”
__ADS_1