
Mobil yang mereka tumpangi telah
sampai di halaman rumahnya. Setelah beberapa kasus selesai, penjagaan rumah serta pengawalan tidak
seketat dulu. Sila turun dari mobil dengan wajah kusut. Matanya yang sembab,
juga rabutnya yang berantakan. Bajunya tampak lusuh, karena itu adalah pakaian
yang ia pakai semalam.
“Minah, tolong ambilkan koper
saya di dalam bagasi dan antar ke atas segera. Saya mau mandi dulu,” ujar Sila
sambil berlalu. Minah yang melihat mata sembab Sila tampak sedikit terpana.
Muncul berbagai pertanyaan di dalam pikirannya. Telah lama ia tidak melihat majikannya
semurung itu.
Tapi Minah mengerti, kehidupan rumah tangga tidak selalu mulus.
Meskipun sekecil apapun, pasti ada yang namanya pertengkaran dan permasalahan.
Seperti dirinya yang harus menjadi seorang janda saat usianya masih belia seperti
sekarang. Semua hanya di sebabka oleh emosi yang tidak terkendali.
Ia segera bergegas menuju ke
mobil setelah mengiyakan perintah dari majikannya. Ia sempat berpapasan dengan
majikan lelakinya dalam keadaan yang sama. Kemejanya sedikit berantakan tidak
karuan. Ia hanya menggelengkan kepala, mencoba menepis berbagai pikiran negatif
yang hinggap di otaknya.
“Nyoya dan Tuan cepat sekali
perginya, Nah.” Tegur Pak Budi yang akan mencuci mobil majikannya pada Minah
yang akan mengambil koper di bagasi.
“Iya, Pak. Padahal, kemarin
pamitnya mau pergi beberapa hari, ternyata hanya satu malam. Terus, sepertinya,
Tuan dan Nyonya sedang dalam keadaan tidak baik,” Minah menarik keluar koper
dari bagasi dan bergegas membawanya masuk ke dalam rumah.
Pak Budi hanya menghela nafas.
Sebagai orang yang telah lama menikah, tentunya beliau telah banyak memakan
asam dan garam. Pertengkaran sering terjadi dan itu merupakan hal yang
wajar. Lelaki setengah baya itu kemudian
menenggelamkan dirinya dalam tugasnya membersihkan mobil.
Sementara itu...
Sila berada di bawah guyuran air shower . ia masih memakai bajunya. Air
matanya yang berderai bercampur dengan air mandi. Ia terduduk di lantai dan bersimpuh. Tubuhnya
bergetar, kekecewaan yang ia rasakan sangatlah mendalam. Ia merasa dirinya
sudah tidak suci lagi, ia telah menghiaati pernikahannya sendiri. Ia berteriak
sekuat tenaga, ia ingin melepaskan beban perasaannya.
“Kamu dimana, Andra?”
“Mengapa kau biarkan aku dalam
posisi ini? Apa perasaan cintamu sudah hilang? Hingga aku kau buang seperti
__ADS_1
ini?”
“Mengapa kamu melakukan ini
padaku? Mengapa?!”
Sila bermonolog. Ia tidak tahu
lagi harus melakukan apa. perasaannya saat ini hancur berkeping. Tangisannya semakin menjadi. Ia sangat kecewa pada kenyataan yang tengah
terjadi. Sila membenturkan kepalanya pelan ke tembok, sebagai pelampiasan
kekesalannya.
“Bagaimana aku bisa menerima
kenyataan ini? Bagaimana kalau sampai aku hamil? Apa yang harus aku lakukan?
Sila! Kamu bodoh. Kenapa kamu seceroboh ini? Dimana instingmu yang kuat?!
Arrgh!! Bodoh! Bodoh!” Sila menarik rambutnya kuat. Rasa sakit bahkan ia tidak
dapat rasakan. Ia masih terlalu terkejut karena kenyataan ini.
Di luar sana, Andre segera
bergegas pergi mengurus dokumen kepergian Sila.ia akan segera memberikan
jawaban atas rasa penasaran Sila. Ia akan segera menunjukkan dimana sebenarnya
Andra berada. Apapun, ia berharap Sila dapat menerima kenyataan dengan baik.
Cepat atau lambat, segala kenyataan ini akan segera terungkap.
Segala kenyataan yang terjadi ,
memang akan sangat sulit untuk di terima. Febbi yang menunggu kepastian Andra,
Sila yang menanti kabar dari suaminya, dan Andre yang berada dalam sisi yang
sulit. Meskipun perasaan Andre telah sedikit berubah, tetapi lelaki itu tetap
Terkadang cinta memang egois.
Ketika kita mulai mencintai seseorang, kita justru di hadapkan pada kenyataan
bahwa, kita tidak boleh menanamkan perasaan tersebut pada orang yang kita sukai
karena suatu alasan. Aneh memang, tapi itulah kehidupan. Tidak semuanya bisa kita miliki. Jika sudah begitu,
tidak ada jalan lain kecuali belajar
ikhlas menjalaninya dan memendam perasaan itu dalam-dalam.
Kita juga terkadang berada dalam
situasi, memiliki rasa tapi pura-pura biasa saja. Cemburu tapi pura-pura
bahagia. Ingin marah, tapi pura-pura tersenyum. Semua kenyataan itu memang menyakitkan, tapi keadaan memaksakan kita untuk melakukannya. Jika sudah perna
merasakan itu semua, hidup terasa jauh lebih bermakna, karena pasti saat ini
kita sudah bahagia.
Yang sedang Sila rasakan sekarang
adalah sebuah kenyataan yang perih. Rasa pedihnya bahkan lebih pedih daripada
sembilu. Untuk memahami dirinya sendiri saja, Sila tidak tahu memulainya
darimana. Semuanya seperti benang basah yang kusut, sulit untuk di uraikan
kembali.
Setelah sekian lama ia membiarkan
dirinya terguyur air, Sila kemudian bangkit dari tempatnya bersimpuh, ia
tertatih keluar dari kamar mandi setelah mlepas pakaiannya dan mengenakan
__ADS_1
sebuah handuk kimono. Ia segera mengganti pakaiannya, lalu duduk di depan
cermin. Wanita itu memandang pantulan
wajahnya dengan seksama, ia mencari kecelaan di wajahnya. Barangkali wajahnya
telah menua sehingga Andra meninggalkannya tanpa alasan.
Ia mengambil sebuah botol parfum
dan melemparkannya ke arah kaca, hingga kaca itu hancur berkeping-keping. Ia
sangat kecewa, bahkan menurutnya belum ada perubahan yang bermakna di wajahnya,
tapi Andra seperti membuangnya begitu saja.
“Andra, kenapa kamu melakukan ini
padaku? Apa salahku padamu?” Sila kembali terisak, rasa sesak masih terasa di dadanya.Ia tidak
bisa menerima semuanya ini begitu saja. Terlalu menyakitkan. Ia membutuhkan
banyak waktu untuk mencerna apa yang sudah terjadi.
Tok...tok...
Ketukan pintu kamar Sila
terdengar berulang. Sejujurnya ,Sila sedang tidak ingin bertemu dengan
siapapun. Ia masih ingin menyendiri, tidak ingin di ganggu. Tapi karena
berulang, terpaksa Sila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan gontai menuju
pintu kamarnya.
“Ada apa, Minah?” tanyanya santai
setelah mengetahui siapa yang ada di balik daun pintu.
“Ada seorang wanita yang mengaku
sebagai tantenya Nyonya. Namanya
Risma,” Minah meceritakan tenteng
kedatangan seorang wanita ke rumahnya.
Tante Risma memang benar tantenya
Sila, adik dari mamanya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tapi, untuk
menemuinya, Sila tidak ingin terlihat lusuh seperti sekarang.
“Suruh tenteku menunggu sebentar,
Minah. Jangan lupa sajikan sesuatu untuknya. Aku mau siap-siap dulu.” Begitulah
pesan Sila sebelum akhirnya menutup pintunya kembali setelah Minah pergi. Ia
segera bergegas merias dirinya untuk menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya
pada Tante Risma. Setidaknya untuk sementara.
Tante Risma adalah adik mamanya
yang paling dekat dengannya saat ia masih kecil dulu. Tapi tidak lama kemudian
tantenya itu mengikuti suaminya yang suka berpindah-pindah tempat kerja, dari
kota ke kota. Sejak saat itu, mereka
tidak pernah lagi bertemu. Sila peasaran, seperti apa tantenya itu sekarang.
Beliau mengetahui rumah baru
Sila saat tiba di rumah lamanya dan
mendapati rumah kakaknya telah berubah menjadi sebuah panti.
__ADS_1