Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 54


__ADS_3

Mobil yang mereka tumpangi telah


sampai di halaman rumahnya. Setelah beberapa kasus selesai,  penjagaan rumah serta pengawalan tidak


seketat dulu. Sila turun dari mobil dengan wajah kusut. Matanya yang sembab,


juga rabutnya yang berantakan. Bajunya tampak lusuh, karena itu adalah pakaian


yang ia pakai semalam.


“Minah, tolong ambilkan koper


saya di dalam bagasi dan antar ke atas segera.  Saya mau mandi dulu,”  ujar Sila


sambil berlalu. Minah yang melihat mata sembab Sila tampak sedikit terpana.


Muncul berbagai pertanyaan di dalam pikirannya. Telah lama ia tidak melihat majikannya


semurung itu.


Tapi Minah mengerti,  kehidupan rumah tangga tidak selalu mulus.


Meskipun sekecil apapun, pasti ada yang namanya pertengkaran dan permasalahan.


Seperti dirinya yang harus menjadi seorang  janda saat usianya masih belia seperti


sekarang. Semua hanya di sebabka oleh emosi yang tidak terkendali.


Ia segera bergegas menuju ke


mobil setelah mengiyakan perintah dari majikannya. Ia sempat berpapasan dengan


majikan lelakinya dalam keadaan yang sama. Kemejanya sedikit berantakan tidak


karuan. Ia hanya menggelengkan kepala, mencoba menepis berbagai pikiran negatif


yang hinggap di otaknya.


“Nyoya dan Tuan cepat sekali


perginya, Nah.” Tegur Pak Budi yang akan mencuci mobil majikannya pada Minah


yang akan mengambil koper di bagasi.


“Iya, Pak. Padahal, kemarin


pamitnya mau pergi beberapa hari, ternyata hanya satu malam. Terus, sepertinya,


Tuan dan Nyonya sedang dalam keadaan tidak baik,” Minah menarik keluar koper


dari bagasi dan bergegas membawanya masuk ke dalam rumah.


Pak Budi hanya menghela nafas.


Sebagai orang yang telah lama menikah, tentunya beliau telah banyak memakan


asam dan garam. Pertengkaran sering terjadi dan itu merupakan hal yang


wajar.  Lelaki setengah baya itu kemudian


menenggelamkan dirinya dalam tugasnya membersihkan mobil.


Sementara itu...


Sila berada di bawah guyuran air shower . ia masih memakai bajunya. Air


matanya yang berderai bercampur dengan air mandi.  Ia terduduk di lantai dan bersimpuh. Tubuhnya


bergetar, kekecewaan yang ia rasakan sangatlah mendalam. Ia merasa dirinya


sudah tidak suci lagi, ia telah menghiaati pernikahannya sendiri. Ia berteriak


sekuat tenaga, ia ingin melepaskan beban perasaannya.


“Kamu dimana, Andra?”


“Mengapa kau biarkan aku dalam


posisi ini? Apa perasaan cintamu sudah hilang? Hingga aku kau buang seperti

__ADS_1


ini?”


“Mengapa kamu melakukan ini


padaku? Mengapa?!”


Sila bermonolog. Ia tidak tahu


lagi harus melakukan apa. perasaannya saat ini hancur berkeping.  Tangisannya semakin menjadi.  Ia sangat kecewa pada kenyataan yang tengah


terjadi. Sila membenturkan kepalanya pelan ke tembok, sebagai pelampiasan


kekesalannya.


“Bagaimana aku bisa menerima


kenyataan ini? Bagaimana kalau sampai aku hamil? Apa yang harus aku lakukan?


Sila! Kamu bodoh. Kenapa kamu seceroboh ini? Dimana instingmu yang kuat?!


Arrgh!! Bodoh! Bodoh!” Sila menarik rambutnya kuat. Rasa sakit bahkan ia tidak


dapat rasakan. Ia masih terlalu terkejut karena kenyataan ini.


Di luar sana, Andre segera


bergegas pergi mengurus dokumen kepergian Sila.ia akan segera memberikan


jawaban atas rasa penasaran Sila. Ia akan segera menunjukkan dimana sebenarnya


Andra berada. Apapun, ia berharap Sila dapat menerima kenyataan dengan baik.


Cepat atau lambat, segala kenyataan ini akan segera terungkap.


Segala kenyataan yang terjadi ,


memang akan sangat sulit untuk di terima. Febbi yang menunggu kepastian Andra,


Sila yang menanti kabar dari suaminya, dan Andre yang berada dalam sisi yang


sulit. Meskipun perasaan Andre telah sedikit berubah, tetapi lelaki itu tetap


Terkadang cinta memang egois.


Ketika kita mulai mencintai seseorang, kita justru di hadapkan pada kenyataan


bahwa, kita tidak boleh menanamkan perasaan tersebut pada orang yang kita sukai


karena suatu alasan. Aneh memang, tapi  itulah kehidupan. Tidak semuanya bisa kita miliki. Jika sudah begitu,


tidak ada jalan lain kecuali  belajar


ikhlas menjalaninya dan memendam perasaan itu dalam-dalam.


Kita juga terkadang berada dalam


situasi, memiliki rasa tapi pura-pura biasa saja. Cemburu tapi pura-pura


bahagia. Ingin marah, tapi pura-pura tersenyum.  Semua kenyataan itu memang menyakitkan,  tapi keadaan memaksakan kita untuk melakukannya. Jika sudah perna


merasakan itu semua, hidup terasa jauh lebih bermakna, karena pasti saat ini


kita sudah bahagia.


Yang sedang Sila rasakan sekarang


adalah sebuah kenyataan yang perih. Rasa pedihnya bahkan lebih pedih daripada


sembilu. Untuk memahami dirinya sendiri saja, Sila tidak tahu memulainya


darimana. Semuanya seperti benang basah yang kusut, sulit untuk di uraikan


kembali.


Setelah sekian lama ia membiarkan


dirinya terguyur air, Sila kemudian bangkit dari tempatnya bersimpuh, ia


tertatih keluar dari kamar mandi setelah mlepas pakaiannya dan mengenakan

__ADS_1


sebuah handuk kimono. Ia segera mengganti pakaiannya, lalu duduk di depan


cermin. Wanita itu memandang  pantulan


wajahnya dengan seksama, ia mencari kecelaan di wajahnya. Barangkali wajahnya


telah menua sehingga Andra meninggalkannya tanpa alasan.


Ia mengambil sebuah botol parfum


dan melemparkannya ke arah kaca, hingga kaca itu hancur berkeping-keping. Ia


sangat kecewa, bahkan menurutnya belum ada perubahan yang bermakna di wajahnya,


tapi Andra seperti membuangnya begitu saja.


“Andra, kenapa kamu melakukan ini


padaku? Apa salahku padamu?” Sila kembali terisak,  rasa sesak masih terasa di dadanya.Ia tidak


bisa menerima semuanya ini begitu saja. Terlalu menyakitkan. Ia membutuhkan


banyak waktu untuk mencerna apa yang sudah terjadi.


Tok...tok...


Ketukan pintu kamar Sila


terdengar berulang. Sejujurnya ,Sila sedang tidak ingin bertemu dengan


siapapun. Ia masih ingin menyendiri, tidak ingin di ganggu. Tapi karena


berulang, terpaksa Sila bangkit dari tempat duduknya dan berjalan gontai menuju


pintu kamarnya.


“Ada apa, Minah?” tanyanya santai


setelah mengetahui siapa yang ada di balik daun pintu.


“Ada seorang wanita yang mengaku


sebagai  tantenya Nyonya. Namanya


Risma,”  Minah meceritakan tenteng


kedatangan seorang wanita ke rumahnya.


Tante Risma memang benar tantenya


Sila, adik dari mamanya. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tapi, untuk


menemuinya, Sila tidak ingin terlihat lusuh seperti sekarang.


“Suruh tenteku menunggu sebentar,


Minah. Jangan lupa sajikan sesuatu untuknya. Aku mau siap-siap dulu.” Begitulah


pesan Sila sebelum akhirnya menutup pintunya kembali setelah Minah pergi. Ia


segera bergegas merias dirinya untuk menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya


pada Tante Risma. Setidaknya untuk sementara.


Tante Risma adalah adik mamanya


yang paling dekat dengannya saat ia masih kecil dulu. Tapi tidak lama kemudian


tantenya itu mengikuti suaminya yang suka berpindah-pindah tempat kerja, dari


kota ke kota.  Sejak saat itu, mereka


tidak pernah lagi bertemu. Sila peasaran, seperti apa tantenya itu sekarang.


Beliau mengetahui rumah baru


Sila  saat tiba di rumah lamanya dan


mendapati rumah kakaknya telah berubah menjadi sebuah panti.

__ADS_1


__ADS_2