Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 72


__ADS_3

Kehilangan Andre menjadi pukulan yang lumayan keras untuk Febbi. Harapannya untuk segera menikah pun kandas. Sementara keinginannya untuk kembali ke Amerika belum mendapat restu dari orang tuanya lantaran ia baru saja pulang. Mereka masih merindukannya.


Pagi ini berbeda, Ia telah merias diri sedemikian rupa, ia ingin pergi jalan-jalan mencari udara segar. Sembab di matanya akibat menangisi kisah cinta dan hatinya yang retak telah sedikit memudar.


"Mau kemana, Nak?" Mamanya yang tidak sengaja lewat di dwpan kamarnya dan mencium parfum gadis itu pun masuk dan ingin tahu anaknya akan pergi kemana.


Ibu Febbi tahu, anaknya sedang patah hayi, ia khawatir gadis itu akan pergi ke tempat-tempat yang tidak di inginkan. Apalagi, Febbi adalah anak tunggal mereka satu-satunya.


"Aku mau makan, Ma. Jangan kira aku mau terjun dari gedung pencakar langit, ya..." Febbi tertawa, ia mencoba memberitahukan mamanya bahwa ia sebenarnya memang sudah baik-baik saja.


"Hatimu sudah baik? Bener nggak akan macem-macem?" Mamanya masih terus mengintrogasinya. belum bisa mempercayai jawaban putrinya sendiri.


"Jadi Mama beneran meragukan aku? Berpikir aku akan pergi ke tempat aneh? Mama, Febbi imi sudah dewasa, Febbi tidak akan melakukan hal konyol.seperti itu. Ayolah, Mama harus percaya pada Febbi. Memangnya selama ini Febbi pernah begitu? Bahkan Febbi juga pernah kan Ma di tinggal meninggal, tapi nyatanya aku masih ada smpai hari ini, iya kan?" omel Febbi panjang lebar. Ia terpaksa harus memberikan keterangan panjang agar mamanya tidak berpikiran yang tidak-tidak terhadap dirinya.


"Kalau kamu sudah cerewet begini, mama percaya kamu sudah baikan dan tidak bakalan melakukan hal yang aneh," Mamanya tersenyum sedikit aneh.


"Mama... iiih kesel sama Mama." ujar Febbi kesal. Ia sangat kesal karena Mamanya tengah mengerjainya supanya bocara banyak.


"Hati-hati sayang. Mama do'akan nanti ketemu cowok dan jodoh sama kamu." ceplos mamanya sebelum keluar dari kamar Febbi.


"Mama jangan ngarang deh, mana ada ketemu.langsung jodoh. Semuanya butuh proses Ma." sahutnya, tapi mamanya telah hilang dari pandangan mata. Febbi hanya tersenyum, ia selalu tidak akur dengan mamanya. Ada saja perdebatan kecil yang mereka lakukan berdua.

__ADS_1


Febbi meraih tas kecilnya dan segera beranjak pergi. Ia menggunakan motor metiknya, jarang sekali Febbi mau pergi menggunakan mobil, menurutnya sedikit tidak praktis. Meskipun, naik motor juga panas dan terpapar polusi.


Febbi mempercepat laju kendaraannya menuju sebuah kafe. Tenpat yang ia datangi bersama Andre beberapa hari yang lewat. Sesampainya di sana, ia memarkirkan motornya asal. Ia masuk dengan sedikit terburu-buru hingga...


Brugh!


Ia menabrak seorang lelaki yang sedang membawa minuman. Baju lelaki itu basah, ia memandang Febbi dengan lembut, tidak marah.


"Maaf Bang, aku tidak sengaja," Febbi meminta maaf sungguh-sungguh pada lelaki itu, ia hanya tersenyum.


"Tidak perlu minta maaf. saya suka ditabrak cewek cantik sepertimu. Eh, maaf, hanya bercanda. Aku Robby, namamu siapa? " Robby mengabaikan bajunya yamg basah untuk bisa berkenalan denganm Febbi.


" Nama aku Febi Bang Maaf ya gara-gara Feby baju abang jadi basah Ayo kita ke toko sebelah biar Feby beliin baju buat abang biar pun tidak semahal baju Abang yang penting abang enggak pakai baju basah seperti ini" Febby merasa bersalah karena ulahnya baju Robi Jadi kotor seperti sekarang


"Boleh Bang aku juga datang kesendirian karena memang tidak punya pasangan Ayo kita ke meja sebelah sana," Febbi menunjuk meja paling ujung tempat favoritnya.


Robby mengangguk dan mengikuti langkah Febby menuju meja itu entah mengapa mereka jadi seperti sudah kenal lama Padahal mereka baru saja bertemu beberapa detik yang lalu.


Keduanya duduk berhadapan mereka tersenyum satu sama lain, tidak ada rasa canggung di antara mereka berdua. Keduanya sama-sama enjoy, Robby yang mudah terbuka dan Febbi yang mudah akrab. Mereka cocok dan serasi.


" Kamu tinggal di sekitar sini? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu, bukan asli orang sini ya?" Robbi memulai pembicaraan tahap keduanya dengan Febbi. Ia hampir hafal dengan penghuni komplek perumahan yang ada di dekat Kafe itu tapi tidak pernah sekalipun ia pernah bertemu dengan Febbi.

__ADS_1


" Abang sok tahu deh, aku anak sini tapi aku kuliah di Amerika, kerja aku juga di sana," Febbi tertawa renyah


"Wow, ternyata tinggalnya di luar negeri. Kerja apa di sana? Kuliah Jurusan apa? Boleh tahu nggak ?" Robby mencoba mengorek keterangan tentang kehidupan pribadi Febbi.


"Sementara masih magang sebagai dokter di sana nanti kalau misalnya pendidikan aku sudah selesai Aku mau kerja di Indonesia saja. kuliah aku masih sama Bang Jurusan Kedokteran" Febbi tidak keberatan untuk menjelaskan kepada Robby apa pekerjaan dan apa jurusan kuliah yang sedang ia tekuni saat ini.


"Kamu dokter? Aku takut disuntik. Keren sekali aku bertemu dengan dokter cantik pagi ini," Robbi sedikit membual.


" Abang bisa saja kalau abang kerjanya apa? Febbi boleh tahu nggak?" Febbi balik bertanya tentang pekerjaan apa yang sedang Robby kerjakan saat ini.


"Pekerjaanku menjaga keamanan dan keadilan, kalau ada yang menjahatimu laporkan saja padaku," Robby hanya memberikan kisi-kisi tentang pekerjaannya dan memberikan tugas kepada Febbi untuk menebak kira-kira pekerjaan apa yang tengah ia jalani sekarang.


" Abang polisi? Wah keren, kalau ada yang mencuri hatiku bisa nggak lapar sama Abang?" ujaar Febbi bercanda. Entah kenapa Ia senang sekali dapat bertemu dengan orang sesantai Robby meskipun baru kenal mereka seperti sudah akrab.


" Lalu kalau pencurinya itu aku bagaimana? masak kamu mau melaporkan kepada diriku sendiri?" Robby tertawa kecil menertawakan leluconnya yang sebenarnya tidak lucu.


" Abang akan dipenjarakan di dalam hati Febbi selamanya. Bagaimana masih berani mau mencuri hatiku?" Febbi balik bercanda.


" Wah kalau begitu aku semakin tertantang untuk mencuri hatimu kamu mau dicuri sekarang atau besok?" Robby tertawa lagi.


" Pencuri kok pakai izin sih, kalau begitu tunggu aku manggil orang dulu biar kamu gagal mencuri Bang," gelak tawa keduanya pecah, setelah itu mereka berdua masih saling melempar lelucon.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka baru ingat belum memesan makanan. Alhasil Febbi tidak jadi mengeluarkan sepeserpun uang dari dompet nya karena hari itu Robby yang membayar semua makanan yang mereka makan.


Tidak hanya itu, mereka juga saling bertukar nomor telepon yang menandakan bahwa hubungan mereka tidak berakhir hari ini, tapi akan berlanjut di hari-hari berikutnya. Feby tidak tahu apakah kedatangan Robby di dalam hidupnya adalah sebuah kebetulan atau memang takdir.


__ADS_2