Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 41


__ADS_3

“Mana Andra?”  Andre langsung menanyakan adiknya saat tiba


di hotel tempat adiknya menginap.


“Ada di dalam, Bos,’’ jawab si


pengawal tegas.  Andre segera menerobos


masuk ke kamar Andre dan mendapati adiknya itu tidur dengan posisi tengkurap.


Ia tidak memakai baju, ada perban yang membalut luka di punggungnya.


“Andra, apa yang terjadi?” Andre


panik melihat kondisi adiknya yang lemah.


“Kakak, akhirnya kau datang. Kak,


aku di tusuk oleh wanita yang menyukaiku, seorang ketua penculik yang menahanku


selama ini. Dulunya dia mengaku sebagai tunanganku. Sialnya, pisau itu beracun,


Kak. Sebenarnya aku barusaja di rawat sebelum berangkat ke sini, aku nekat


pergi dalam kondisi sedikit lemah, hingga aku drop. Sekarang racun ini


menyebar, kak. Hidupku mungkin tidak lama lagi,” Andra menangis di depan


kakaknya,  untuk pertama kalinya ia manja


seperti anak TK pada saudara kembarnya.


“Kamu bicara apa, sudah, jangan


berpikir yang tidak-tidak. Kakak akan mencarikanmu dokter yang terbaik, kamu


pasti akan sembuh dan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Percaya pada kakakmu


ini,” selesai mengucapkan kalimat itu, Andra mmemeluknya. Andre hanya


membiarkan adiknya bermanja, selama ini dia juga ingin memanjakan adiknya hanya


saja mereka seperti berseberangan karena perasaan mereka pada satu wanita yang


sama.


“Kak, kalau aku tidak selamat,


aku menyerahkan tanggung jawabku terhadap Sila dan anak-anak padamu, aku


percaya kamu bisa menjaga mereka. Jangan pernah sia-siakan istri dan


anak-anakku kak, kau harus janji padaku.” Andra tersedu, daripada sakit di


punggungnya ia lebih sakit saat melihat Sila menangis.


“Kamu ini bicara apa? kamu tidak


akan kemana-mana, kamu jagoan kakak, kamu tidak boleh meninggalkan kakak.  Kakak sudah memberikan orang yang kakak


sangat cintai untukmu, jadi kamu harus bertanggung jawab sendiri, kau paham?!


Tunggu sebentar, kakak akan menelepon seseorang yang tahu dokter terbaik di


sini.” Andre menjauh dari Andra, ia menghubungi temannya yang kemarin


membantunya untuk kasus kakek. Ia memintanya untuk mencari dokter terbaik yang


dapat mengatasi racun yang telah menyebar dalam tubuh Andra.


Meskipun hubungannya dengan Andra


di masalalu sedikit tidak baik, untuk kali ini, dia akan mengupayakan apapun


untuk kesembuhan sang adik. Ia yakin,  Andra akan sembuh.  Saat dia di


vonis meninggalpun,  Andre selalu


berharap itu hanya mimpi buruknya dan dia sangat senang saat adiknya itu


ditemukan kembali.  Untuk kali ini, ia


akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan Andra.


“Andra, kau sudah makan?” Andre

__ADS_1


kembali menghampiri adiknya yang tengah memainkan ponselnya, seperti sedang


mengirim pesan kepada seseorang.


“Aku tak ingin makan, Kak...”


jawab Andra singkat dan tanpa gairah.


“Kenapa? Kau harus makan, biar


kakak carikan makanan untukmu,”


“Sebentar, Kak, jangan pergi dulu.  Tandatangani ini, tapi kakak tidak boleh baca


isinya,” Andra menyodorkan kertas putih pada kakaknya.


“Mana bisa, aku harus baca dulu


sebelum tanda tangan. Sini, biar ku baca.” Andre berniat merebut kertas itu,


tapi Andra lebih sigap.


“Tandatangan, atau aku tidak akan


makan, pilihannya hanya itu.” ancam Andra, ia tidak akan memberikan pilihan


yang lain.


Andre ragu, ia harus berbuat apa.


kalau ia tandatangani berkas itu, ia takut isinya hal yang tidak-tidak, tapi


jika tidak di tandatangani, adiknya tidak akan makan dan itu akan mempercepat


penyebaran racun di dalam tubuhnya.


“Bawa sini.” Andre akhirnya


menyetujui pilihan satu.  Ia tidak


mungkin membiarkan Andra untuk tidak makan dlam kondisi seperti itu.


“Aku tahu, kakak pasti akan  memilih pilihan pertama.”


“Apa isinya? Kenapa aku tidak


“Rahasia kak. Suatu saat kalau


sudah jadi hak kakak, pasti akan kakak baca, kok. Sekarang boleh minta tolong


carikan aku makan?”


“Manja seperti anak cewek! Tadi


katanya tidak mau makan, dasar pembohong,” omel Andre saat tahu adiknya hanya


berpura-pura.


“Kak, ayolah.  Sekali seumur hidupku, aku ingin bermanja


denganmu, kali ini saja...”  kata Andra


asal tapi membuat kakaknya kesal.


“Sekali lagi kamu bicara


seolah-olah orang mau mati, aku kuncir bibirmu pakai karet gelang!”  Andra mendengus kesal. Ia tidak suka


membicarakan hal itu.


“Baiklah-baiklah, maaf, Kak.


Cepatlah carikan aku makan, jangan  membuatku menunggu,”  omel Andra


yang sudah tidak bisa menahan lapar.


“Baiklah, baiklah, memalukan


sekali saudara kembar sepertimu, seperti anak perempuan. Tidurlah, aku akan


segera kembali,” Andre segera keluar dari kamar hotel menuju bagian resto untuk


mencarikan makan untuk adiknya, dirinya sendiri dan dua pengawal yang menjaga


Andra. Pikiran Andre saat itu kacau, beberapa waktu belakangan ini, banyak

__ADS_1


sekali hal yang menguras emosinya.


Kalau keadaannya seperti ini,


kemungkinan ia akan sedikit lama bersama Andra dan tidak bisa menemui Febbi


sementara waktu. Ia juga harus memindahkan Andra dari hotel ke rumah kakeknya.


Semakin lama biaya hotel akan semakin banyak.


Ia segera kembali ke kamar


adiknya untuk memberikan makanan yang di mintanya.  Entah kenapa perasaannya jadi sedih,


sebelumnya ia baik-baik saja. Ia hanya berharap yang terbaik untuknya dan


keluarganya. Andra tidak akan pernah meninggalkannya, dia adalah adiknya yang


terhebat. Andra coba memotivasi dirinya sediri.


“Biarkan aku yang menyuapimu


makan,”  Andre berkata pada adiknya


dengan ketus. Ia bukan sedang marah, tapi sedang berusaha menyembunyikan


kesedihannya dari  Andra. Ia tidak ingin


adiknya tahu kalau dia ingin menangis melihat Andra terluka seperti ini.


“Aku bisa makan sendiri, Kak.” Andra menolak untuk di suapi oleh kakaknya. Ia merasa  canggung kepada saudara kandungnya itu.


“Kamu pikir aku tidak tahu kalau  untuk makan punggungmu juga sakit.


Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Aku bisa melakukannya untukmu,”  oceh Andre kesal.


“Baiklah, silahkan saja menjadi susterku, terima kasih kak,” Andra malah mencoba untuk melucu.


“Buka mulutmu. Cepat,”


“Kak, jangan kasar-kasar, aku adukan Sila.”


“Kau pikir aku tidak tahu, kau sembunyikan kejadian ini dari istrimu,”


“Bagus kalau kamu sudah tahu kak,  jangan bilang


apapun pada Sila. Aku tidak ingin dia tahu keadaanku seperti ini, kak. Aku tidak


ingin membiarkan  dia menangis karena aku


kak. Aku ingin membiarkan dia bahagia, selalu tersenyum. Dia sudah menderita


selama bertahun-tahun karena aku,”  Andra


mulai melahap suapan dari Andre.


“Iya bawel. Sekarang makan yang banyak, biar kau cepat sembuh, cepat pulang,  ketemu sama anak-anakmu, sama istrimu,” Andre


benar-benar mengkhawatirkan kedaan Andra saat ini.


“Siap, Bos.  Kak, terima kasih untuk semuanya. Aku berhutang banyak padamu, bahkan sisa umurku saja tidak akan mampu untuk


membayarnya. Maafkan aku kalau selama ini aku menyakiti hatimu, kak,”


“Sudah, jangan bicara lagi bawel, atau aku adukan pada Sila semuanya,” Andre hanya bisa


berdo’a semoga airmatanya tidak merembes atau menetes di hadapan Andra


sekarang. Ia  harus terlihat sebagai kakak


yang kuat.


“saat pulang nanti, aku mau megajak  anak-anak liburan


ke pantai, Kak.  Allana dan Alandra pasti


senang. Kemarin saat aku dan Sila mengajak mereka main ke padang ilalang,


mereka bahagia sekali, Kak, senyuman mereka membuat aku selalu rindu,” curhat


Andra tanpa sadar.


“Kalau begitu, kau harus lekas sembuh supaya dapat segera bertemu dengan mereka. Mereka juga


pasti sangat merindukan ayahnya,”

__ADS_1


Andre terus  memotivasi Andra.


__ADS_2