
“Mana Andra?” Andre langsung menanyakan adiknya saat tiba
di hotel tempat adiknya menginap.
“Ada di dalam, Bos,’’ jawab si
pengawal tegas. Andre segera menerobos
masuk ke kamar Andre dan mendapati adiknya itu tidur dengan posisi tengkurap.
Ia tidak memakai baju, ada perban yang membalut luka di punggungnya.
“Andra, apa yang terjadi?” Andre
panik melihat kondisi adiknya yang lemah.
“Kakak, akhirnya kau datang. Kak,
aku di tusuk oleh wanita yang menyukaiku, seorang ketua penculik yang menahanku
selama ini. Dulunya dia mengaku sebagai tunanganku. Sialnya, pisau itu beracun,
Kak. Sebenarnya aku barusaja di rawat sebelum berangkat ke sini, aku nekat
pergi dalam kondisi sedikit lemah, hingga aku drop. Sekarang racun ini
menyebar, kak. Hidupku mungkin tidak lama lagi,” Andra menangis di depan
kakaknya, untuk pertama kalinya ia manja
seperti anak TK pada saudara kembarnya.
“Kamu bicara apa, sudah, jangan
berpikir yang tidak-tidak. Kakak akan mencarikanmu dokter yang terbaik, kamu
pasti akan sembuh dan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Percaya pada kakakmu
ini,” selesai mengucapkan kalimat itu, Andra mmemeluknya. Andre hanya
membiarkan adiknya bermanja, selama ini dia juga ingin memanjakan adiknya hanya
saja mereka seperti berseberangan karena perasaan mereka pada satu wanita yang
sama.
“Kak, kalau aku tidak selamat,
aku menyerahkan tanggung jawabku terhadap Sila dan anak-anak padamu, aku
percaya kamu bisa menjaga mereka. Jangan pernah sia-siakan istri dan
anak-anakku kak, kau harus janji padaku.” Andra tersedu, daripada sakit di
punggungnya ia lebih sakit saat melihat Sila menangis.
“Kamu ini bicara apa? kamu tidak
akan kemana-mana, kamu jagoan kakak, kamu tidak boleh meninggalkan kakak. Kakak sudah memberikan orang yang kakak
sangat cintai untukmu, jadi kamu harus bertanggung jawab sendiri, kau paham?!
Tunggu sebentar, kakak akan menelepon seseorang yang tahu dokter terbaik di
sini.” Andre menjauh dari Andra, ia menghubungi temannya yang kemarin
membantunya untuk kasus kakek. Ia memintanya untuk mencari dokter terbaik yang
dapat mengatasi racun yang telah menyebar dalam tubuh Andra.
Meskipun hubungannya dengan Andra
di masalalu sedikit tidak baik, untuk kali ini, dia akan mengupayakan apapun
untuk kesembuhan sang adik. Ia yakin, Andra akan sembuh. Saat dia di
vonis meninggalpun, Andre selalu
berharap itu hanya mimpi buruknya dan dia sangat senang saat adiknya itu
ditemukan kembali. Untuk kali ini, ia
akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan Andra.
“Andra, kau sudah makan?” Andre
__ADS_1
kembali menghampiri adiknya yang tengah memainkan ponselnya, seperti sedang
mengirim pesan kepada seseorang.
“Aku tak ingin makan, Kak...”
jawab Andra singkat dan tanpa gairah.
“Kenapa? Kau harus makan, biar
kakak carikan makanan untukmu,”
“Sebentar, Kak, jangan pergi dulu. Tandatangani ini, tapi kakak tidak boleh baca
isinya,” Andra menyodorkan kertas putih pada kakaknya.
“Mana bisa, aku harus baca dulu
sebelum tanda tangan. Sini, biar ku baca.” Andre berniat merebut kertas itu,
tapi Andra lebih sigap.
“Tandatangan, atau aku tidak akan
makan, pilihannya hanya itu.” ancam Andra, ia tidak akan memberikan pilihan
yang lain.
Andre ragu, ia harus berbuat apa.
kalau ia tandatangani berkas itu, ia takut isinya hal yang tidak-tidak, tapi
jika tidak di tandatangani, adiknya tidak akan makan dan itu akan mempercepat
penyebaran racun di dalam tubuhnya.
“Bawa sini.” Andre akhirnya
menyetujui pilihan satu. Ia tidak
mungkin membiarkan Andra untuk tidak makan dlam kondisi seperti itu.
“Aku tahu, kakak pasti akan memilih pilihan pertama.”
“Apa isinya? Kenapa aku tidak
“Rahasia kak. Suatu saat kalau
sudah jadi hak kakak, pasti akan kakak baca, kok. Sekarang boleh minta tolong
carikan aku makan?”
“Manja seperti anak cewek! Tadi
katanya tidak mau makan, dasar pembohong,” omel Andre saat tahu adiknya hanya
berpura-pura.
“Kak, ayolah. Sekali seumur hidupku, aku ingin bermanja
denganmu, kali ini saja...” kata Andra
asal tapi membuat kakaknya kesal.
“Sekali lagi kamu bicara
seolah-olah orang mau mati, aku kuncir bibirmu pakai karet gelang!” Andra mendengus kesal. Ia tidak suka
membicarakan hal itu.
“Baiklah-baiklah, maaf, Kak.
Cepatlah carikan aku makan, jangan membuatku menunggu,” omel Andra
yang sudah tidak bisa menahan lapar.
“Baiklah, baiklah, memalukan
sekali saudara kembar sepertimu, seperti anak perempuan. Tidurlah, aku akan
segera kembali,” Andre segera keluar dari kamar hotel menuju bagian resto untuk
mencarikan makan untuk adiknya, dirinya sendiri dan dua pengawal yang menjaga
Andra. Pikiran Andre saat itu kacau, beberapa waktu belakangan ini, banyak
__ADS_1
sekali hal yang menguras emosinya.
Kalau keadaannya seperti ini,
kemungkinan ia akan sedikit lama bersama Andra dan tidak bisa menemui Febbi
sementara waktu. Ia juga harus memindahkan Andra dari hotel ke rumah kakeknya.
Semakin lama biaya hotel akan semakin banyak.
Ia segera kembali ke kamar
adiknya untuk memberikan makanan yang di mintanya. Entah kenapa perasaannya jadi sedih,
sebelumnya ia baik-baik saja. Ia hanya berharap yang terbaik untuknya dan
keluarganya. Andra tidak akan pernah meninggalkannya, dia adalah adiknya yang
terhebat. Andra coba memotivasi dirinya sediri.
“Biarkan aku yang menyuapimu
makan,” Andre berkata pada adiknya
dengan ketus. Ia bukan sedang marah, tapi sedang berusaha menyembunyikan
kesedihannya dari Andra. Ia tidak ingin
adiknya tahu kalau dia ingin menangis melihat Andra terluka seperti ini.
“Aku bisa makan sendiri, Kak.” Andra menolak untuk di suapi oleh kakaknya. Ia merasa canggung kepada saudara kandungnya itu.
“Kamu pikir aku tidak tahu kalau untuk makan punggungmu juga sakit.
Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Aku bisa melakukannya untukmu,” oceh Andre kesal.
“Baiklah, silahkan saja menjadi susterku, terima kasih kak,” Andra malah mencoba untuk melucu.
“Buka mulutmu. Cepat,”
“Kak, jangan kasar-kasar, aku adukan Sila.”
“Kau pikir aku tidak tahu, kau sembunyikan kejadian ini dari istrimu,”
“Bagus kalau kamu sudah tahu kak, jangan bilang
apapun pada Sila. Aku tidak ingin dia tahu keadaanku seperti ini, kak. Aku tidak
ingin membiarkan dia menangis karena aku
kak. Aku ingin membiarkan dia bahagia, selalu tersenyum. Dia sudah menderita
selama bertahun-tahun karena aku,” Andra
mulai melahap suapan dari Andre.
“Iya bawel. Sekarang makan yang banyak, biar kau cepat sembuh, cepat pulang, ketemu sama anak-anakmu, sama istrimu,” Andre
benar-benar mengkhawatirkan kedaan Andra saat ini.
“Siap, Bos. Kak, terima kasih untuk semuanya. Aku berhutang banyak padamu, bahkan sisa umurku saja tidak akan mampu untuk
membayarnya. Maafkan aku kalau selama ini aku menyakiti hatimu, kak,”
“Sudah, jangan bicara lagi bawel, atau aku adukan pada Sila semuanya,” Andre hanya bisa
berdo’a semoga airmatanya tidak merembes atau menetes di hadapan Andra
sekarang. Ia harus terlihat sebagai kakak
yang kuat.
“saat pulang nanti, aku mau megajak anak-anak liburan
ke pantai, Kak. Allana dan Alandra pasti
senang. Kemarin saat aku dan Sila mengajak mereka main ke padang ilalang,
mereka bahagia sekali, Kak, senyuman mereka membuat aku selalu rindu,” curhat
Andra tanpa sadar.
“Kalau begitu, kau harus lekas sembuh supaya dapat segera bertemu dengan mereka. Mereka juga
pasti sangat merindukan ayahnya,”
__ADS_1
Andre terus memotivasi Andra.