Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 70


__ADS_3

Pgi yang cerah, matahari masih belum terlalu tinggi. Embun masih berada di ataa daun, memantulkan cahaya matahari hingga membuat mata menjadi sedikit silau.


Sila duduk di bangku taman seorang diri. Ia memikirkan banyak hal di dalam pikirannya. Acara pernikahan yang di gelar secara rahasia di sebuah gedung luar kota akan segera dilaksanakan. hanya keluarga inti yang menghadiri.


Undangan telah di sebar, hanya relasi dan karyawan yang di izinkan hadir, mengingat acara hanya sederhana. Awalnya Sila juga menolak untuk di adakan pesta. Tetapi mamanya berhasil membujuk wanita itu agar mau mengadakan pesta kecil-kecilan.


"Ehm.." kode Andre sebelum akhirnya duduk di bangku yang sama dengan Sila. Andre mengikuti arah pandangan Sila yang terpaku pada seekor kupu-kupu yang tengah hinggap pada beberapa kuntum bunga.


"Kupu-kupu yang indah, sama dengan yang memandang," Andre mengawali pembicaraannya dengan Sila. Wanita itu menggeser duduknya dan memberikan tempat untung calon suaminya itu.


"Kakak baru datang? Sudah sarapan?" Sila mencoba memberikan satu perhatian kecil untuk Andre, ia menuruti perkataan ibu mertuanya untuk belajar mencintai Andre perlahan-lahan.


"Ya, aku baru saja sampai, saat bertanya pada Bibi, kamu ada di mana, ternyata dia bilang kamu sedang ada dimari, jadi aku memutuskan untuk menyusulmu. Aku tentu saja sudah sarapan, kamu sudah minum susunya?" Andre balik bertanya pada Sila. Harusnya di jam seperti ini, Sila sudah meminum susunya.


"Sudah, Kak. Aku sudah meminum susu yang kamu belikan. Aku akan bwrusaha yang terbaik untuk anak ini, bagaimanapun aku adalah ibunya." Sila memaksakan diri untuk tersenyum. Ia ingin tampak sedikit manis di hadapan Andre.


"Terima kasih. Aku percaya, kamu ibu yang baik. Kamu tidak akan mungkin mengecewakanku dan menjaga bayimu dengan baik,"Andre mengacak erambut Sila seperti dulu, saat wanita di sampingnya itu masih SMA.


"Aku tidak menyangka, kita akan menikah, Kak. Aku pikir, setelah apa yang terjadi, kita tidak akan pernah bersama lagi. Hanya saja, perasaanku yang belum kembali seperti dulu," Sila berusaha menjelaskan pada Andre tentang perasaannya yang sekarang.


"Aku juga berpikir yang sama denganmu Sila, Aku kira kita tidak akan pernah bersama selamanya. Aku bahagia, dapat memilikimu. Meskipun kamu mungkin tidak mencintaiku seperti dulu, seiring waktu pasti akan tumbuh perasaan di antara kita berdua. Aku akan bersabar, menunggu perasaanmu kembali bersemi untukku." Andre menyilangkan kedua tangannya di dada dan memandang ke arah daunçdaun yang berguguran di tiup angin.


"Terima kasih, Kak. Karena kita akan menikah, bolehkah aku menanyakan tentang masalalu kita? Aku ingin mendengarkannya dari kakak," Sila memandang Andre perlahan. Ia ingin banyak tahu tentang beberapa hal yang menyangkut mereka berdua.


"Boleh, tanya saja sebanyak mungkin. Aku siap menjawab semua pertanyaan kamu, Sila." Andre melemparkan senyumnya pertanda ia siap dengan semua pertanyaan ynag akan di ajukan oleh Sila.


"Sejak kapan kakak jatuh cinta padaku?" pertanyaan pertama Sila membyat Andre tersenyum dan mengingat masalalu mereka dulu.


"Sejak kapan tepatnya aku tidak tahu, yang jelas beberapa saat setelah kita sering bertemu karena acara-acara yang di buat oleh orang tua kita," jawab Andre dengan begity yakin, Sila tahu, lelaki itu jujur.


"Kalau begitu, aku yang tidak peka terhadap perasaan kakak. Tapi kenapa, kakak tidak mengungkapkannya? Padahal setelah itu aku selalu menunggu pernyataan cinta darimu," Sila mengingat kembali saat ia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Aku hanya menunggu waktu yang tepat, tapi saat aku mau mengungkapkan perasaanku, kata Anita, kamu justru sudah jadian dengan Fian. Jadi aku batalkan," semuanya masih tergambar jrlas dalam ingatan Andre, dan ia tidak pernah lupa satu kejadian pun.


Di masalalu, banyak sekali kenangan yang selalu membayang dalam ingatan Andre. Tentu saja tentang dirinya dan juga Sila, wanita yang selama bertahun-tahun ia cintai tanpa balasan.


"Aku pikir, kakak tidak pernah menyukaiku. Jujur, dulu sejak awal aku juga sudah mencintai kakak, karena kakak selain tampan juga baik, periang, lucu, aku bahkan selalu tertawa setiap dekat dwngan kakak. Aku sangat mengagumi kakak."


Bagaimanapun, Sila tidak pernah lupa jika dirinya pernah mencintai Andre. Ada banyak hal, yang membuat hatinya luluh dengan pria tampan di sampingnya itu. Dia begitu mempesona, hingga membuat Sila terpukau.


"Kamu kurang peka Sila, kamu tidak bisa melihat, bagaimana aku selalu menjagamu, selalu berusaha membuatmu tertawa, itu semua karena aku sangat mencintai kamu," kali ini Andre menatap Sila, getaran cintanya pada wanita itu masih sangat kuat. Sesaat saja bersamanya, cimtanya yang pupus mulai bwraemi kembali.


Di mata Andre, Sila tidak pernah berubah. Dia tetap Sila cantik yang dia kenal dan dia cintai dulu. Kesempatan kedua untuk memiliki wanita itu tidak akan ia sia-siakan begitu saja. Andre akan mencurahkan semua kasih sayangnya untuk menyayangi Sila dan anak-anaknya. Andre tidak pernah memusingkan, Allana dan Alandra anak siapa, baginya, ia telah lama menganggap kedua anak itu sebagai anaknya sendiri. Dia sangat sayang mereka berdua layaknya darah dagingnya.

__ADS_1


"Ya, kakak benar . Aku kurang peka. Maafkan aku kakak. Tapi, saat itu aku waktu itu sempat mencintai kakak. Bahkan, saat aku menikah pun, perasaanku maaih ada pada kakak. Kak, maukah kakak membantuku kembali mencintai kakak?" Sila memperlambat intonasi bicaranya saat berada di kalimat terakhir sebagai penekanan. Ia ingin belajar untuk mencintai Andre lagi.


"Pasti, aku akan membawamu mencintaiku lagi dengan cintaku. Meskipun kemarin aku sempat mencoba membuka perasaanku untuk wanita lain, tapi tetap saja, Sila yang menjadi ratu do dalam hatiku, tidak semudah itu terganti." Apa yang dikatakan Andre benar adanya. Belum ada satupun wanita yang mampu menggeser kedudukan Sila di hatinya, meskipun itu Vallen, istrinya yang sudah meninggal.


"Jadi sepanjang perpisahan kita karena pernikahanku, kakak tidak pernah sekalipun melupakanku?" sebenarnya Sila sudah tahu itu, tetapi ia ingin jawaban pasti dari lelaki yang ada di dekatnya itu, bagaimana perasaanya selama ini.


"Tidak pernah. Perasaanku abadi, sampai aku merasa seperti orang gila. Bagaimana aku selalu terbayang wajah istri adikku setiap malam. Kamu selalu menghantuiku, sampai aku tidak tahu lagi, bagaimana cara agar dapat melupakanmu. Kalau kamu pikir aku tidak berusaha, kamu salah Sila. Aku selalu berusaha, tapi usahaku selalu gagal, karena pesonamu yang tidak mampu untuk aku tolak."


Semua yang di ungkapkan Andre adalah kejujuran. Bagaimana lelaki itu menderita karena cintanya yang hilang, bagaimana setiap hari ia selalu terbayang memiliki wanita itu. Dia seperti gila karena tiap detik dalam hidupnya menginginkan wanita itu kembali ke dalam pelukannya.


Andre sangat bahagia, ketika ia mendapatkan kesempatan kedua ini, meskipun ia juga sedih karena harus kehilangan saudara kembarnya. Andre tidak bisa menampik, ia merasakan kebahagiaan yang teramat sangat karena bisa memiliki wanita dambaan hatinya itu.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak tahu bagaimana kakak berjuang selama ini. Aku juga berjuang melupakan kakak, hingga aku berhasil benar-benar lupa. Aku pikir kakak juga mampu melupakan aku, karena aku lihat kakak sudah biasa saja terhadapku," ujar Sila pelan dan perlahan.


Ia mengingat kembali, bagaimana Andre sampai depresi berat karenanya. Iq bisa membayangkan bagaimana lelaki ity tersiksa sepanjang hidupnya karena mencintai orang yang tidak bisa ia miliki.


"Aku tentu akan sangat bahagia ketika aku bisa melakukan itu, tapi kenyataannya aku tidak bisa. Bahkan ketika aku menikahi sahabatmu, perasaanku padanya lama sekali tumbuh. Ketika aku mulai menyukainya, dia justru pergi meninggalkanku selamanya, itu semakin membuatku terpukul." Andre mencurahkan isi hatinya, tentang perasaannya yang membuat ia merasa terluka tapi tak terlihat.


Telah berbagai cara ia lakukan, untuk melupakan wanita itu, tapi ternyata ia hanya kembali terjatuh dan terjatuh lagi ke dalam perasaan yang sama, sampai ia tidak bisa lagi bangkit. Hingga ia bertemu dengan Febbi, yang ia pikir akan mampu mengalihkan perasaannya terhadap Sila, tapi ternyata, ia justru di hadapkan kenyataan dimana akhirnya ia bisa memiliki wanita yang ia cintai itu.


"Kakak sekarang sudah memilikiku, aku akan berusaha untuk menyayangi kakak. Aku akan mencoba mengobati luka hatimu, Kak. Jangan pernah lelah mengajariku untuk mencintaimu." hati nurani Sila terbuka, ia ingin berusaha mengobati luka hati lelaki yang selama bertahun-tahun mencintainya itu.


Semua kesalahan yang ia lakukan inu, mungkin memang adalah takdir, dimana ia harus mengobati luka hati lelaki yang selalu mencintainya seperti tak bertepi itu. Tidak ada yang tahu, bagaimana perasaan seseorang bisa begitu kuat sampai tidak mampu di alihkan.


"Terima kasih, Sila. Aku sangat senang dapat memiliki kesempatan kedua memilikimu. Meskipun aku juga sedih karena harus kehilangan saudara kembarku, tapi semua ini adalah takdir," Andre memberanikan diri menggenggam dan mengecup punggung tangan wanita itu. Sila tidak berusaha menghindar, ia mencoba memberikan kesempatan untuk Andre melakukan apa yang ia mau.


"Baiklah. Hmm.. rencananya hari ini aku mau mengajakmu dan anak-anak pergi ke pantai, apa kamu bersedia?" Itulah tujuan utama kedatangan Andre, ia ingin mewujudkan keinginan Andra sebelum meninggal, yaitu membawa Sila dan anak-anak ke pantai.


"Boleh, Kak. Anak-anak pasti senang, selama ini mereka belum pernah ke pantai." Sila menyambut baik keinginan Andre membawa mereka ke pantai.


Saat Andra hilang selama bertahun-tahun, mana sempat Sila membawa anak-anak ke pantai atau sekedar jalan-jalan. Hari-harinya di habiskan untuk bekerja dan bekerja. Bahkan Sila sampai lupa mengurus dirinya sendiri.


"Ya udah, yuk..." Andre tanpa sadar menggandeng Sila. Sila yang terkejut justru mematung saat Andre berusaha mengajaknya jalan beriringan.


"Maaf, aku tidak sengaja," Andre segera melepas tangan Sila dan memilih berjalan terlebih dahulu.


Sila tersenyum saat melihat Andre yang salah tingkah. Ia seperti melihat Andre di masalalu. Semuanya bagai dejavu bagi Sila.


Wanita itu berjalan cepat. Mengejar ketertinggalannya dari Andre, ia segera menempatkan diri di samping lelaki itu, di raihnya tangan Andre dan menggenggamnya. Ya, ia membiarkan lelaki itu menggandengnya.


Andre tersentak, tapi senyumnya akhirnya mengembang saat mendapati tangan Sila menggenggam tangannya. Pria itu kembali merasa seperti remaja, ia jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada wanita cantik yang kini berada di sampingnya itu.


"Terima kasih, " lirihnya sambil memandang lembut ke arah Sila. Wanita itu hanya mengangguk dan membalas senyum padanya.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar anak-anak. Sila dan Andre ingin menjadikan momen kepergian mereka sebagai kenangan manis untuk anak-anak.


"Ayaaaah!" Allana dan Alandra berteriak bersamaan sambil berlari menyongsong kedatangan Andre, mereka memeluk kaki Andre kanan dan kiri.


Andre berisiatif jongkok agar dapat menciumi kedua bocah itu. mereka berdua membalas cium dan memeluk Andre erat. Sila terharu sampai menitikkan air mata. Ia bersyukur, Allana dan Alandra akan memiliki ayah sebaik Andre, yang tulus sayang pada mereka berdua.


"Anak ayah sudah makan?" tanyanya pada kedua anak itu.


"Sudah Ayah," jawab Allana.


"Sudah Ayah, Ayah sudah makan?" Alandra balik bertanya.


"Pinter anak-anak ayah sudah makan. Ayah juga sudah makan, Nak." Andre mengelus kepala Alandra perlahan.


"Jadi kalian hanya perduli sama ayah, nih? Tidak perduli pada bunda?" Sila pura-pura merajuk, anak-anak seketika berlari memeluk Sila yang juga sudah menantikan pelukan mereka.


"Sayang Bunda..." ucap mereka hampir bersamaan.


"Bunda juga sayang kalian berdua," Sila menciumi kedua anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Hari ini, Ayah sama Bunda, mau ajak kalian jalan-jalan. Bagaimana? Kalian senang?" Andre memberitahu anak-anak tentang rencana mereka akan berjalan-jalan.


"Hore! kita jalan-jalan..." Anak-anak berlari mengitari kamar mereka dengan wajah ceria. Sila sangat senang melihat semuanya. Andre adalah ayah pengganti yang sangat cocok untuk merek Berdua.


"Mbak, bantu saya siapkan keperluan anak-anak, ya. Bawa beberapa baju, karena kami akan ke pantai," pesan Sila oada pengasuh anak-anaknya..


"Baik, Bu Sila. Kami akan segera menyiapkan keperluan anak-anak.


Kedua pengasuh itu segera menyiapkan apa-apa yang di butuhkan Allana dan Alandra, sementara Sila dan Andre, keduanya kompak mengganti baju anak mereka.


"Ayah, pantai itu apa?" tanya Alandra yang tidak sengaja mendengar perkataan mereka.


"Pantai itu, pinggiran laut," jawab Andre singkat sambil membenarkan baju Alandra.


"Laut itu apa Ayah?" tanya Alandra lagi.


"Laut itu sekumpulan air yang sangat luas dan seperti tidak bertepi," jawab Andre lagi dengan sabar.


"Berarti airnya banyak banget ya, Yah? Bisa di minum nggak?" tanya bocah iti dengan polosnya, Andre tersenyum lembut padanya.


"Iya sayang, airnya banyak sekali, tetapi tidak bisa di minum, karena rasanya asin," jelas Andre, Alandra tampak berpikir beberapa saat.


"Asin seperti susu Alandra, Yah?" celetuk anak itu hinggaa membuat Sila ikut tersenyum.

__ADS_1


"Nanti kita coba, ya. Biar Alandra tahu rasanya aor laut itu seperti apa. Oke, Nak?" Andre meraih kedua pipi Alandra dengan lembut.


"Oke Ayah," bocah lelaki itu mengembangkan senyumnya, Andra memeluknya erat. Ia sangat menyayangi kedua anak itu.


__ADS_2