Perfect Husband 2

Perfect Husband 2
Episode 42


__ADS_3

Setengah bulan kemudian...


“Minah, masak semua makanan


favorit mas Andra, hari ini dia pulang. Aku sudah sangat merindukannya, rasanya


sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Aku ingin semuanya spesial.  Tolong nanti ganti sprai, selimut di kamar dengan


yang baru juga ya, Minah. Sebelumnya terima kasih banyak,” Sila hari itu sangat


bahagia karena barusaja mendapatkan pesan bahwa Andra sudah berada di bandara


Indonesia.


“Baik, Nyonya. Semuanya akan


segera Minah laksanakan.  Saat tuan


sampai ke rumah, semuanya sudah beres.” Minah memastikan kalau hasil kerjanya


tidak akan mengecewakan majikannya yang sedang bahagia itu.


“Terima kasih. Saya mau pergi ke


salon dulu, saya ingin suamiku itu terpesona saat bertemu denganku,’’ Sila


segera pergi ke kamarnya, mengambil tasnya dan pergi ke salon, Minah yang


melihat Sila seperti orang yang sedang kasmaran, membuatnya tersenyum. Ia turut


bahagia atas kebahagiaan majikannya itu.


Sila melajukan perlahan mobilnya


perlahan ke salon. Ia memang sedang sangat bahagia karena setelah setengah


bulan berpisah akhirnya ia bertemu kembali dengan Andra. Dia tidak akan


membiarkan pertemuan ini biasa saja.


Sepanjang perjalanan ia


bermonolog.


“Rasanya aku sangat bahagia


sekali masku pulang hari ini, bagaimana dia nanti ya? Makin kurus atau gemuk?


Yang pasti dia makin tampan. Aku rindu sekali senyumannya yang manis,


tatapannya yang lembut, saat dia sampai rumah nanti, aku akan langsung


memeluknya erat-erat,”


“Ya tuhan, kenapa aku ini? Aku


seperti orang yang sedang jatuh cinta saja, sila, kau tak ingat usia. Menyambut


suami pulang saja sampai heboh seperti mau berkencan pertama kali. Sungguh


memalukan, apa mungkin karena aku terlalu merindukannya ya?”


“Sepertinya aku harus beli baju


tidur baru, semua yang di rumah sudah pernah ku pakai, baiklah fix, aku beli


yang baru dan tentunya yang seksi. Aku juga harus beli parfum baru, wanginya


yang di rumah biasa saja, aku mau beli yang spesial, yang lebih semerbak.”


“Model rambutku juga sepertinya


kutang bagus lagi, aku au ganti gaya rambut yang lebih bagus, yang terbaru.


Apalagi ya yang perlu di ubah? Ah, iya... wewangian kamar, harus di ganti.  Semuanya harus sempurna saat mas Andra sampai


rumah, aku tidak mau biasa-biasa saja.”


Sila erus melajukan mobilnya


perlahan sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya yang membuatnya  terkenang pada sosok Andra. Rasa rindunya


pada suaminya telah menumpuk, menggunung, sampai menjulang tinggi. Sila ingin


segera menumpahkan rasa rindunya yang teramat sangat itu.


Untuk memenuhi semua yang ia


butuhkan, Sila terpaksa harus bolak-balik kesana-kemari.  Ke salon, butik, supermarket, dan beberapa


tempat yang lain. Ia pulang dengan banyak belanjaan, gaya rambut baru, warna


kuku baru, wajah lebih segar, semua serba beda.


“Bagaimana  penamilan baru saya, Minah? Apakah terlihat


lebih cantik? Cocok nggak gaya rambut baruku?” Sila memamerkan penampilan


barunya padaminah untuk meminta pendapatnya.


“Bagus, Nyonya. Sangat cocok


sekali dengan  Nyonya.  Lebih terlihat segar juga,” komentar Minah

__ADS_1


membuat Sila semakin yakin kalau ia telah berusaha menyambut Andra dengan


sangat sempurna.


‘Kalau begitu saya ke atas dulu,


sprei sudah di ganti yang baru kan?”


“Sudah Nyonya,”


“Terima kasih,”


Sila bergegas ke kamarnya untuk


mencoba bau-baju yang sudah di belinya,”


Beberapa saat kemudian ia


mendapatkan pesan, bahwa Andra sudah ada di ruang tamu, menunggunya untuk


turun. Tanpa berpikir panjang, Sila segera melempar ponselnya dan segera keluar


untuk turun menemui suaminya.


“Mas...” Sila memanggil Andra


dengan lembut


“Sayang...” Andra segera berdiri


dari tempat duduknya dan memeluk Sila, lelaki itu menangis tersedu,  ia mengeratkan dekapannya pada wanita itu.


“Kamu kenapa, Mas?’’ Sila


mengelus rambut Andra perlahan.


“Aku pikir, aku tidak akan bisa


bertemu kamu lagi. Tapi aku senang, masih di beri kesempatan untuk bertemu


dengan kamu, Sayang.” Suara Andra parau, ia benar-benar merasa pilu.


Sila mendorong perlahan badan


Andra agar ada jarak di antara mereka. Ia mentap Andra, mata di balik kacamata


itu benar-benar berair, Sila menghapusnya dengan ibu jarinya sambil memegang


wajah yang ia rindukan itu.


“Mas, bekas lukamu...


“Aku melakukan oplas, apakah aku


“Iya, mas, kamu kembali seperti


dulu. Mas kembali memiliki wajah super tampan. Biasanya kan hanya tampan saja,”


puji Sila. Ia benar-benar senang  Andra


kembali seperti dulu lagi.


“Terima kasih, Sayang.  Kamu baik-baik saja? Anak-anak?” Andra


menanyakan kabar sila dan anak-anaknya.  Bukan menjawab, Sila justru memeluk Andra.


“Kami semua baik-baik saja, mas.


Aku kangen banget sama kamu,  Mas,” Sila


mengeratkan pelukannya pada pria kesayangannya itu.


“Baru di tinggal setengah bulan,


kan? Ma manjanya istriku,”  Andra


mengacak rambut Sila.


“Mas. Aku baru dari salon, loh.


Ini rambutku jangan di acakin , ih.” Sila sedikit kesal, Andra justru tertawa


melihat ekspresi Sila yang sedikit merengut.


“Maaf, sayang. “ Andra mengecup


rambut Sila sekilas.


“Ayo, istirahat. Mas pasti capek


kan, abis jalan jauh,”  Sila menarik


tangan Andra  dan mengajaknya naik ke


atas, ke kamar  mereka.


Andra sangat kagum dengan cara


penyambutan Sila  yang sangat spesial


terhadap dirinya. Harum ruangan itu merelaksasi dirinya hingg membuatnya


semakin mengantuk. Dia pun merebahkan diriya ke atas kasur, Sila melepas

__ADS_1


sepatunya dan membiarkan kaos kakinya untuk tetap di pakai. Ia lalu memijit


kaki suaminya perlahan.


“Mas..”


“Ya...”


“Kamu pasti capek, di sana sibuk


ya? Bahas apa sama kakak?”


“Kamu benar,  aku capek. Di sana bahas perusahaan kakek,”


“Kenapa memangnya dengan


perusahaan kakek?”


“Ada kendala sedikit, jadi kakak


memintaku untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Sila, aku


“Tidurlah, Mas. Mau di gantiin


bajunya?’


“Nggak perlu, biar nanti aku


sendiri yang menggantinya,”


“Oke, Mas. Istirahatlah,” Sila merasa


kalau Andra sedikit lebih dingin padanya, mungkin karena terlalu lelah, lelaki


itu seperti sedikit  mengabaikannya. Ia naik


ke atas ranjang, di lihatnya Andra telah terlelap. Ia mendekatinya dan


mengangkat kepalanya, lalu mendekapnya.


Sila menciumi rambut Andra,


meskipun yang punya tidak bergming sama sekali karena telah memasuki dimensi


mimpinya.  Kehadiran lelaki itu adalah


sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.  Perlahan


Sila menyetarakan dirinya dengan Andra dan memeluk lelakinya itu erat.


Setiap berjauhan darinya, Sila


selalu di hantui perasaan takut kehilangan. Rasa trauma kehilangan Andra selalu


mendera pikirannya. Itu semua mungkin karena ia terlalu mencintai pria dalam


pelukannya itu. Meskipun ada yang bilang, segala yang berlebihan itu tidak


baik, namun Sila sangat sulit mgengontrol perasaannya untuk tidak terlalu


mencintai  suaminya. Namanya mungkin


telah membekas di dalam hatinya.


“Sila, kamu mencintaiku?”


pertanyaan konyol itu muncul begitu saja dari bibir Andra.


“Kenapa kamu menanyakan hal itu,


Mas? Kamu meragukan perasaanku?” Sila yang hampir terlelap membuka matanya


kembali.


“Aku ingin mendengar jawabanmu,


tolong jawab sekarang,”  Andra memaksa


agar Sila menjawab pertanyaannya.


“Aku sangat mencintai kamu, Andra


Wijaya, so much.”


“Really?”


“Mau bukti apa?” Tanpa aba-aba, Sila mendekatkan wajahnya sangat


dekat dengan wajah Andra, hingga nafas mereka beradu.


“Ka-kamu mau apa?” Andra mendorong


Sila menjauh karena kaget.”


“Aku mau apa, memangnya kenapa?


Aku kan istri kamu, kenapa kaget begitu?” Sila tertawa karena ekspresi Andra


yang sedikit aneh.


Seketika, Andra memeluk Sila, ia


tidak ingin istrinya sampai salah paham.

__ADS_1


__ADS_2