
Setengah bulan kemudian...
“Minah, masak semua makanan
favorit mas Andra, hari ini dia pulang. Aku sudah sangat merindukannya, rasanya
sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Aku ingin semuanya spesial. Tolong nanti ganti sprai, selimut di kamar dengan
yang baru juga ya, Minah. Sebelumnya terima kasih banyak,” Sila hari itu sangat
bahagia karena barusaja mendapatkan pesan bahwa Andra sudah berada di bandara
Indonesia.
“Baik, Nyonya. Semuanya akan
segera Minah laksanakan. Saat tuan
sampai ke rumah, semuanya sudah beres.” Minah memastikan kalau hasil kerjanya
tidak akan mengecewakan majikannya yang sedang bahagia itu.
“Terima kasih. Saya mau pergi ke
salon dulu, saya ingin suamiku itu terpesona saat bertemu denganku,’’ Sila
segera pergi ke kamarnya, mengambil tasnya dan pergi ke salon, Minah yang
melihat Sila seperti orang yang sedang kasmaran, membuatnya tersenyum. Ia turut
bahagia atas kebahagiaan majikannya itu.
Sila melajukan perlahan mobilnya
perlahan ke salon. Ia memang sedang sangat bahagia karena setelah setengah
bulan berpisah akhirnya ia bertemu kembali dengan Andra. Dia tidak akan
membiarkan pertemuan ini biasa saja.
Sepanjang perjalanan ia
bermonolog.
“Rasanya aku sangat bahagia
sekali masku pulang hari ini, bagaimana dia nanti ya? Makin kurus atau gemuk?
Yang pasti dia makin tampan. Aku rindu sekali senyumannya yang manis,
tatapannya yang lembut, saat dia sampai rumah nanti, aku akan langsung
memeluknya erat-erat,”
“Ya tuhan, kenapa aku ini? Aku
seperti orang yang sedang jatuh cinta saja, sila, kau tak ingat usia. Menyambut
suami pulang saja sampai heboh seperti mau berkencan pertama kali. Sungguh
memalukan, apa mungkin karena aku terlalu merindukannya ya?”
“Sepertinya aku harus beli baju
tidur baru, semua yang di rumah sudah pernah ku pakai, baiklah fix, aku beli
yang baru dan tentunya yang seksi. Aku juga harus beli parfum baru, wanginya
yang di rumah biasa saja, aku mau beli yang spesial, yang lebih semerbak.”
“Model rambutku juga sepertinya
kutang bagus lagi, aku au ganti gaya rambut yang lebih bagus, yang terbaru.
Apalagi ya yang perlu di ubah? Ah, iya... wewangian kamar, harus di ganti. Semuanya harus sempurna saat mas Andra sampai
rumah, aku tidak mau biasa-biasa saja.”
Sila erus melajukan mobilnya
perlahan sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya yang membuatnya terkenang pada sosok Andra. Rasa rindunya
pada suaminya telah menumpuk, menggunung, sampai menjulang tinggi. Sila ingin
segera menumpahkan rasa rindunya yang teramat sangat itu.
Untuk memenuhi semua yang ia
butuhkan, Sila terpaksa harus bolak-balik kesana-kemari. Ke salon, butik, supermarket, dan beberapa
tempat yang lain. Ia pulang dengan banyak belanjaan, gaya rambut baru, warna
kuku baru, wajah lebih segar, semua serba beda.
“Bagaimana penamilan baru saya, Minah? Apakah terlihat
lebih cantik? Cocok nggak gaya rambut baruku?” Sila memamerkan penampilan
barunya padaminah untuk meminta pendapatnya.
“Bagus, Nyonya. Sangat cocok
sekali dengan Nyonya. Lebih terlihat segar juga,” komentar Minah
__ADS_1
membuat Sila semakin yakin kalau ia telah berusaha menyambut Andra dengan
sangat sempurna.
‘Kalau begitu saya ke atas dulu,
sprei sudah di ganti yang baru kan?”
“Sudah Nyonya,”
“Terima kasih,”
Sila bergegas ke kamarnya untuk
mencoba bau-baju yang sudah di belinya,”
Beberapa saat kemudian ia
mendapatkan pesan, bahwa Andra sudah ada di ruang tamu, menunggunya untuk
turun. Tanpa berpikir panjang, Sila segera melempar ponselnya dan segera keluar
untuk turun menemui suaminya.
“Mas...” Sila memanggil Andra
dengan lembut
“Sayang...” Andra segera berdiri
dari tempat duduknya dan memeluk Sila, lelaki itu menangis tersedu, ia mengeratkan dekapannya pada wanita itu.
“Kamu kenapa, Mas?’’ Sila
mengelus rambut Andra perlahan.
“Aku pikir, aku tidak akan bisa
bertemu kamu lagi. Tapi aku senang, masih di beri kesempatan untuk bertemu
dengan kamu, Sayang.” Suara Andra parau, ia benar-benar merasa pilu.
Sila mendorong perlahan badan
Andra agar ada jarak di antara mereka. Ia mentap Andra, mata di balik kacamata
itu benar-benar berair, Sila menghapusnya dengan ibu jarinya sambil memegang
wajah yang ia rindukan itu.
“Mas, bekas lukamu...
“Aku melakukan oplas, apakah aku
“Iya, mas, kamu kembali seperti
dulu. Mas kembali memiliki wajah super tampan. Biasanya kan hanya tampan saja,”
puji Sila. Ia benar-benar senang Andra
kembali seperti dulu lagi.
“Terima kasih, Sayang. Kamu baik-baik saja? Anak-anak?” Andra
menanyakan kabar sila dan anak-anaknya. Bukan menjawab, Sila justru memeluk Andra.
“Kami semua baik-baik saja, mas.
Aku kangen banget sama kamu, Mas,” Sila
mengeratkan pelukannya pada pria kesayangannya itu.
“Baru di tinggal setengah bulan,
kan? Ma manjanya istriku,” Andra
mengacak rambut Sila.
“Mas. Aku baru dari salon, loh.
Ini rambutku jangan di acakin , ih.” Sila sedikit kesal, Andra justru tertawa
melihat ekspresi Sila yang sedikit merengut.
“Maaf, sayang. “ Andra mengecup
rambut Sila sekilas.
“Ayo, istirahat. Mas pasti capek
kan, abis jalan jauh,” Sila menarik
tangan Andra dan mengajaknya naik ke
atas, ke kamar mereka.
Andra sangat kagum dengan cara
penyambutan Sila yang sangat spesial
terhadap dirinya. Harum ruangan itu merelaksasi dirinya hingg membuatnya
semakin mengantuk. Dia pun merebahkan diriya ke atas kasur, Sila melepas
__ADS_1
sepatunya dan membiarkan kaos kakinya untuk tetap di pakai. Ia lalu memijit
kaki suaminya perlahan.
“Mas..”
“Ya...”
“Kamu pasti capek, di sana sibuk
ya? Bahas apa sama kakak?”
“Kamu benar, aku capek. Di sana bahas perusahaan kakek,”
“Kenapa memangnya dengan
perusahaan kakek?”
“Ada kendala sedikit, jadi kakak
memintaku untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Sila, aku
“Tidurlah, Mas. Mau di gantiin
bajunya?’
“Nggak perlu, biar nanti aku
sendiri yang menggantinya,”
“Oke, Mas. Istirahatlah,” Sila merasa
kalau Andra sedikit lebih dingin padanya, mungkin karena terlalu lelah, lelaki
itu seperti sedikit mengabaikannya. Ia naik
ke atas ranjang, di lihatnya Andra telah terlelap. Ia mendekatinya dan
mengangkat kepalanya, lalu mendekapnya.
Sila menciumi rambut Andra,
meskipun yang punya tidak bergming sama sekali karena telah memasuki dimensi
mimpinya. Kehadiran lelaki itu adalah
sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Perlahan
Sila menyetarakan dirinya dengan Andra dan memeluk lelakinya itu erat.
Setiap berjauhan darinya, Sila
selalu di hantui perasaan takut kehilangan. Rasa trauma kehilangan Andra selalu
mendera pikirannya. Itu semua mungkin karena ia terlalu mencintai pria dalam
pelukannya itu. Meskipun ada yang bilang, segala yang berlebihan itu tidak
baik, namun Sila sangat sulit mgengontrol perasaannya untuk tidak terlalu
mencintai suaminya. Namanya mungkin
telah membekas di dalam hatinya.
“Sila, kamu mencintaiku?”
pertanyaan konyol itu muncul begitu saja dari bibir Andra.
“Kenapa kamu menanyakan hal itu,
Mas? Kamu meragukan perasaanku?” Sila yang hampir terlelap membuka matanya
kembali.
“Aku ingin mendengar jawabanmu,
tolong jawab sekarang,” Andra memaksa
agar Sila menjawab pertanyaannya.
“Aku sangat mencintai kamu, Andra
Wijaya, so much.”
“Really?”
“Mau bukti apa?” Tanpa aba-aba, Sila mendekatkan wajahnya sangat
dekat dengan wajah Andra, hingga nafas mereka beradu.
“Ka-kamu mau apa?” Andra mendorong
Sila menjauh karena kaget.”
“Aku mau apa, memangnya kenapa?
Aku kan istri kamu, kenapa kaget begitu?” Sila tertawa karena ekspresi Andra
yang sedikit aneh.
Seketika, Andra memeluk Sila, ia
tidak ingin istrinya sampai salah paham.
__ADS_1